cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021" : 7 Documents clear
KEANEKARAGAMAN JENIS REPTIL DAN AMFIBI DI KAWASAN LINDUNG SUNGAI LESAN, KALIMANTAN TIMUR Arief Tajalli; Mirza Dikari Kusrini; Rahmat Abdiansyah; Agus Priyono Kartono
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4134

Abstract

Kalimantan merupakan salah satu pulau yang memiliki kekayaan hayati tinggi di Indonesia, namun kebanyakan laporan mengenai kekayaaan jenis reptil dan amfibi berada di dalam kawasan konservasi seperti Taman Nasional. Penelitian mengenai keanekaragaman reptil dan amfibi dilakukan di habitat akuatik dan terestrial dalam kawasan lindung Sungai Lesan di Berau, Kalimantan Timur pada bulan Juli-Agustus 2010. Pengumpulan data reptil dan amfibi dilakukan dengan metode Visual Ecounter Survey (VES) dimodifikasi dengan Time Search dan Line Transect (400 meter). Jumlah keseluruhan reptil dan amfibi yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu 31 reptil dan 31 jenis amfibi. Dari 31 jenis reptil yang diperoleh, terdiri dari dua ordo yaitu squamata dan testudines serta 9 famili dengan 2 jenis yang termasuk dalam kategori rentan (VU: Vulnerable) daftar merah IUCN dan appendix II CITES yaitu kura-kura punggung datar (Notochelys platynota) dan bulus (Amyda cartilaginea). Pada amfibi, diperoleh lima famili dua jenis masuk kategori hampir terancam (NT: Near Threatened) dalam daftar merah IUCN. Keberadaan herpetofauna ini didukung oleh adanya berbagai mikrohabitat karena berkaitan dengan pola aktivitas dan sebaran ekologis. Perlindungan kawasan ini sangat penting mengingat makin meningkatnya desakan perubahan kawasan hutan untuk peruntukan lain.Kata kunci: Herpetofauna, Kalimantan, kekayaan jenis, hutan lindung.
PAHATAN CANGKANG MOLUSKA PADA RELIEF CANDI BOROBUDUR Nova Mujiono
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4105

Abstract

Panel relief di Candi Borobudur dapat ditemukan pada lantai dasar (Kamadhatu) yang sekarang tertutup undagi dan juga di lantai tengah (Rupadhatu). Dua dari enam macam motif ornamen relief ialah flora fauna. Kajian identifikasi keduanya telah banyak dilakukan, namun informasi fauna invertebrata masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan mengkaji keberadaan relief fauna invertebrata (khususnya moluska), mengidentifikasi, dan menginterpretasikannya dalam aspek visualisasi, biologi, dan religi. Hasilnya ditemukan 11 pahatan relief cangkang gastropoda yang dikenal sebagai shankha. Shankha dipahat dalam posisi vertikal/horizontal, tunggal/berpasangan, serta dengan/tanpa sayap. Shankha atau gastropoda yang diwujudkan adalah jenis Turbinella pyrum maupun T. fusus. Shankha digunakan sebagai jambangan air atau juga terompet. Shankha merupakan perlambang unsur air dan dipahatkan dengan harapan lokasi sekitar candi akan menjadi subur. Penemuan relief shankha di Candi Borobudur menjadi informasi baru karena belum pernah disebutkan dalam studi terdahulu.Kata kunci: Borobudur, relief, shankha, Hindu-Buddha, gastropoda.
TRIPS (THYSANOPTERA) PADA TUMBUHAN CENTRO (Centrosema pubescens Benth.) DAN PUTRI MALU (Mimosa pudica Linn.) Vani Nur Oktaviany Subagyo; Niken Eka Agustina; Wara Asfiya; Fatimah Fatimah; Rina Rachmatiyah
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4218

Abstract

Trips memiliki beragam peranan dalam ekosistem pertanian dan dapat berasosiasi dengan tanaman budidaya maupun tumbuhan liar (gulma). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan jenis trips yang berasosiasi dengan tumbuhan centro (Centrosema pubescens Benth.) dan gulma putri malu (Mimosa pudica Linn.) di Kawasan Pusat Sains Cibinong. Kedua jenis tumbuhan yang diamati disimpulkan dapat menjadi inang alternatif bagi trips yang berperan sebagai hama. Megalurothrips usitatus (Bagnall) berasosiasi dengan kedua tumbuhan inang, sedangkan Ceratothripoides brunneus (Bagnall) hanya berasosiasi dengan tumbuhan centro. Catatan inang baru bagi C. brunneus dan M. usitatus di Indonesia juga dilaporkan dalam penelitian ini, yaitu pada tumbuhan centro suku Fabaceae.
KARAKTERISTIK SPERMATOZOA PADA KUSKUS WAIGEO (Spilocuscus papuensis) DAN KUSKUS ABU-ABU (Phalanger orientalis) Yulianto Yulianto; Syaiful Rizal; Edy Sophian; Nanang Supriatna
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4116

Abstract

Kuskus merupakan hewan yang mempunyai status konservasi rentan (vulnerable) dan informasi ilmiahnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil reproduksi jantan Phalanger orientalis dan Spilocuscus papuensis. Testis dan epididimis dikoleksi dan dilakukan pengukuran, kemudian dimaserasi pada bagian cauda epididimis. Pengamatan makroskopis meliputi pengukuran panjang, lebar, berat testis dan epididimis, sedangkan pengamatan mikroskopis meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, panjang ekor, panjang total, konsentrasi, dan abnormalitas spermatozoa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa P. orientalis meliputi panjang kepala 3,37 ± 0,32 μm; lebar kepala 1,42 ± 0,20 μm; panjang ekor 56,37 ± 5,24 μm; dengan panjang total spermatozoa 59,75 ± 5,20 μm. Sementara itu, morfometri spermatozoa S. papuensis meliputi panjang kepala 3,92 ± 0,91 μm; lebar kepala 3,02 ± 0,65 μm; panjang ekor 54,37 ± 12,12 μm; dan panjang total spermatozoa 58,29 ± 12,14 μm. Tingkat konsentrasi spermatozoa S. papuensis mencapai 51 x 105/mL lebih tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi spermatozoa P. orientalis yang hanya 8,5 x 105/mL. Abnormalitas spermatozoa kedua sampel hampir sama, yaitu pada S. papuensis sebesar 35,82% dan pada S. papuensis 37,36%. Di samping itu, S. papuensis memiliki ukuran testis yang lebih besar jika dibandingkan dengan P. orientalis.Kata kunci: Kuskus, Phalanger orientalis, reproduksi, spermatozoa, Spilocuscus papuensis.
IS FORAGING BEHAVIOR A DAILY ACTIVITY IN Hemidactylus platyurus? Huda Wiradarma; Auni Ade Putri; Tri Heru Widarto
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4133

Abstract

To understand the role of the flat-tailed gecko on pest control in urbanized areas, we observed the foraging behavior and daily activity of H. platyurus. It is one of the house geckos easily found but more studies on their behavior are still lacking. The observation was conducted between 14−27 May 2021, for 18 hours starting from 09.00 to 03.00 WIB using the ad libitum sampling method. Our result suggests that the foraging behavior was found almost every hour of observation, which is strongly influenced by relative humidity and insect abundance. This gecko was observed as a sit-and-wait predator or passively searching for prey. Our observation also indicated that this species has potential to control one of the household pests, the adult ants (alates). Hopefully, this study contributed to the understanding of the foraging behavior of the flat-tailed gecko. However, more studies are needed for better understanding of foraging behavior in the flat-tailed gecko.Keywords: foraging, daily activity, Hemidactylus platyurus.
PENAPISAN SENYAWA AKTIF DAN UJI TOKSISITAS LC50 LENDIR DUA SPESIES KEONG DARAT: Hemiplecta humphyreysiana Lea, 1840 DAN Amphidromus palaceus Mousson, 1849 SEBAGAI SEDIAAN NUTRIKOSMESETIKAL POTENSIAL Fuji Anandi; Pamungkas Rizki Ferdian; Jesima Pratiwi; Raden Lia Rahadian Amalia; Haerul Haerul; Narti Fitriana; Ayu Savitri Nurinsiyah
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4223

Abstract

Perkembangan industri nutrikosmesetikal global semakin meningkat. Salah satu sumber hayati yang menjadi bahan baku dari nutrikosmesetikal adalah lendir keong darat, namun penggunaan lendir keong masih terbatas pada beberapa spesies. Pemanfaatan keong darat yang keberagamannya cukup melimpah di Indonesia belum sampai pada sediaan nutrikosmesetikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakter farmakologi dasar dua spesies keong darat Indonesia Hemiplecta humphreysiana dan Amphidromus palaceus meliputi penapisan senyawa aktif dan analisis toksisitas LC50. Penapisan senyawa aktif dilakukan secara kualitatif sedangkan analisis toksisitas LC50 dilakukan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test. Hasil penapisan senyawa aktif menunjukkan bahwa lendir H. humphreysiana dan A. palaceus positif mengandung senyawa steroid-triterpenoid dan peptida. Nilai LC50 dari lendir H. humphreysiana dan A. palaceus secara berurutan yaitu 38278,745 ppm dan 10985,405 ppm sehingga keduanya dikategorikan sebagai bahan non-toksik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya dalam pengungkapan potensi lendir keong darat Indonesia sebagai sediaan nutrikosmesetikal.Kata kunci: A. palaceus, H. humphreysiana, lendir keong darat, penampisan senyawa aktif, toksisitas.
ARE WAWO WORMS (Polychaeta, Annelida) UNIQUE TO MALUKU WATERS? Joko Pamungkas; Alfiah Alfiah; Riena Prihandini
ZOO INDONESIA Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v30i2.4104

Abstract

The natives of Ambon believe that wawo worms are unique to Maluku waters. The present study aimed to prove the presence of the animals outside of those areas. Samples were collected from the intertidal area of Barrang Lompo (South Sulawesi) and Bitung (North Sulawesi). We found two nereidid species identical to wawo species used to swarming in Maluku waters, i.e., Perinereis helleri (Grube, 1878) and P. nigropunctata (Horst, 1889), suggesting that the animals are not unique to Maluku waters and have a wider geographic distribution around the tropics. More taxonomic investigations are required to reveal the biodiversity of these poorly-studied marine creatures.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue