cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 11 (3) 2022" : 15 Documents clear
Tingkat Pencemaran Berdasarkan Angka Lempeng Total Bakteri pada Limbah Peternakan Babi di Kabupaten Badung, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.332

Abstract

Usaha peternakan babi telah menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pedesaan. Limbah kotoran ternak babi dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Kontaminasi mikroba pada lingkungan ternak merupakan salah satu ancaman bagi kesehatan dan kehidupan hewan yang paling besar selama periode pemeliharaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Angka Lempeng Total Bakteri (ALTB) yang terdapat pada limbah babi di wilayah Kabupaten Badung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional serta pemilihan lokasi peternakan dilakukan secara purposive sampling. Lokasi pengambilan sampel di Kabupaten Badung terdiri atas Kecamatan Mengwi, Kecamatan Petang, Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Kuta Utara. Jumlah peternakan yang disampling di setiap kecamatan adalah tiga peternakan. Volume sampel yang diambil di setiap peternakan sebanyak 500 mL, kemudian dari tiga peternakan tersebut dilakukan komposit menjadi satu sampel. Metode yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri pencemar yaitu menggunakan metode tuang (pour plate method). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Angka Lempeng Total Bakteri dalam limbah peternakan babi di Kabupaten Badung dengan jumlah bakteri pada peternakan babi di Kecamatan Mengwi sebesar 290 x 109 CFU/mL, Kecamatan Petang 282 x 109 CFU/mL, Kecamatan Abiansemal 245 x 109 CFU/mL dan Kecamatan Kuta Utara 186 x 109 CFU/mL. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa air limbah peternakan babi di empat kecamatan di Kabupaten Badung mengandung bakteri pencemar dalam jumlah besar.
Laporan Kasus: Penanganan Ancylostomiosis pada Anjing Pomeranian Betina Berumur Tujuh Bulan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.386

Abstract

Ancylostomiosis adalah penyakit parasit yang menyebar luas pada anjing yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma spp. Parasit ini umumnya terdapat pada usus halus anjing. Seekor anjing pomeranian betina berumur tujuh bulan memiliki keluhan adanya diare berdarah, muntah, penurunan nafsu makan dan penurunan aktivitas fisik. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi anjing lemas, membran mukosa dan konjungtiva mata pucat, pemeriksaan turgor kulit lambat serta waktu pengisian kapiler (capillary refill time) yang bertambah lama. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anemia mikrositik hipokromik, trombositopenia dan granulositosis. Hasil pemeriksaan mikroskopis feses secara natif menunjukkan adanya telur cacing Ancylostoma spp diidentifikasi dengan bentuk lonjong, bercangkang tipis dengan empat morula. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, anjing kasus didiagnosis mengalami ancylostomiosis. Terapi yang diberikan yaitu antelmintik dengan pyrantel pamoate 5 mg/kg BB q24 jam selama tiga hari berturut-turut per oral (PO) dan diulangi pada hari ke-7 dan hari ke-10. Injeksi antibiotik cefotaxime 20 mg/kg BB q12 jam secara intravena (IV) selama tujuh hari. Injeksi metronidazole 10 mg/kg BB q12 jam selama tujuh hari secara IV. Terapi simptomatis dengan pemberian antiemetik yaitu ondansetron 0,5 mg/kg BB q12 jam selama lima hari secara IV. Pemberian kaolin pektin sebagai gastrointestinal protectant 2,5 mL q12 jam selama lima hari PO. Pemberian terapi cairan dengan ringer laktat 30 mL/kg/jam secara IV untuk mengganti kekurangan cairan akibat muntah dan diare. Pada hari ke-5 pengobatan anjing kasus menunjukkan perbaikan kondisi berupa perubahan tingkah laku menjadi lebih aktif dan peningkatan nafsu makan.
Kajian Pustaka: Disfagia Krikofaringealis pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.450

Abstract

Disfagia krikofaring adalah gangguan menelan yang jarang terjadi. Gejala yang tampak adalah usaha menelan berulang, tersedak, muntah, regurgitasi, dan aspirasi. Penyebab dari gangguan ini masih belum diketahui, dan dianggap sebagai kelainan neuromuskuler bawaan yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengangkut bolus faring yang didorong secara normal melalui sfingter esofagus bagian atas. Anjing yang terkena memiliki prehension makanan normal dan bagian bolus ke faring, tetapi tidak dapat mengendurkan otot esofagus bagian atas, terutama otot krikofaring. Akibatnya, makanan tetap berada di bagian ekor faring daripada masuk ke kerongkongan dan mengakibatkan aspirasi atau regurgitasi trakea. Gangguan ini dibedakan menjadi cricopharyngeal achalasia atau cricopharyngeal asynchrony. Diagnosis ditegakan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan fluoroskopi. Tanda klinis utama yang di amati pada pemeriksaan klinis, yaitu anjing susah menelan. Penanganan dapat dilakukan dengan tindakan bedah miotomi krikofaring atau miektomi tunggal maupun dikombinasikan dengan miotomi tirofaring atau miektomi unilateral dan bilateral.
Prevalensi dan Intensitas Infeksi Eimeria spp April-Mei 2021 pada Ayam Petelur Lebih Tinggi daripada Ayam Pedaging di Tembuku, Bangli, Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.343

Abstract

Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa, filum apikomplexa, famili Eimeridae, genus Eimeria. Penyakit ini merupakan penyakit intestinal yang secara ekonomi banyak mendatangkan masalah dan kerugian pada peternakan ayam, Kerugian yang ditimbulkan dapat menghambat perkembangan peternakan ayam dan menurunkan produksi protein hewani. Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian Eimeria spp yaitu, manajemen pemeliharaan, kelembapan udara, besarnya dosis infeksi ookista, umur ayam, status gizi, stres, waktu terinfeksi dan derajat imunitas inang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur dan ayam pedaging yang dipelihara di Tembuku, Bangi. Objek penelitian yang digunakan adalah feses yang diambil secara langsung dari ayam petelur sebanyak 380 ekor dan pada ayam pedaging sebanyak 380 ekor, total sampel yang diambil pada penilitian ini adalah 760 sampel. Metode pemeriksaan yang digunakan adalah secara kualitatif dengan menggunakan metode apung dan secara kuantitatif dengan menggunakan metode McMaster. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa prevalensi infeksi Eimeria spp pada ayam petelur di Desa Undisan sebesar 13,4% sedangkan pada ayam pedaging di Desa Peninjoan sebesar 30,26%. Intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur didapat dengan rata-rata 296 ± 305 ookista per gram (opg), sedangkan pada ayam pedaging didapatkan rata-rata 1.786 ± 6.511 ookista per gram (opg). Hasil analisis data menunjukan terdapat perbedaan yang sangat nyata antara jenis ayam dengan prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam yang dipelihara di Tembuku, Bangli, Bali. Prevalensi dan intensitas infeksi Eimeria spp pada ayam petelur lebih tinggi dibandikan dengan ayam petelur yang yang dipelihara di Tembuku, Bangli, Bali.
Laporan Kasus: Pyometra Tertutup pada Kucing Himalaya Umur Empat Tahun
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (3) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.3.398

Abstract

Seekor kucing ras himalaya bernama Lely berumur empat tahun dengan bobot 3,9 kg dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Udayana, dengan keluhan perut membesar, lemas, kucing tidak defekasi sejak dua hari terakhir, dan tanpa adanya leleran atau vagina discharge. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukan leukositosis, dan anemia normositik hipokromik. Pemeriksaan radiografi terlihat perbesaran uterus dengan gambaran radiopaque pada semua bagian uterus. Berdasarkan hasil pemeriksaan meliputi anamnesis, gejala klinis, dan laboratoris kucing didiagnosis mengalami pyometra tertutup dengan prognosis fausta. Penanganan yang dilakukan dengan ovariohisterektomi. Pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis pascaoperasi terhadap uterus nampak terlihat pembesaran uterus terisi cairan keruh kental kemerahan. Mukosa endometrium mengalami hiperplasia hemoragi dengan sejumlah kecil kista. Histopatologi jaringan uterus menunjukan hasil adanya kista pada mukosa endometrium, infiltrasi sel-sel neutrofil dan mukosa endometrium mengalami sedikit nekrosis. Pengobatan pascaoperasi dilakukan dengan antibiotik amoxicillin sirup dengan dosis pemberian 1,5 mL per oral sebanyak dua kali sehari selama tujuh hari, antiinflamasi dexamethasone dosis 0,25 mg/kg secara per oral dua kali sehari selama lima hari dan terapi suportif dengan vitamin B komplek satu tablet per oral sehari sebanyak tujuh hari. Kucing mengalami perbaikan secara klinis lima hari setelah operasi dan dinyatakan sembuh pada hari ketujuh setelah operasi.

Page 2 of 2 | Total Record : 15