cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 11 (5) 2022" : 13 Documents clear
Laporan Kasus: Penanganan Urolithiasis Hemoragi pada Kucing Domestik Rambut Pendek dengan Pemberian Ekstrak Desmodium styracifolium
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.744

Abstract

Urolithiasis adalah pembentukan batu ginjal atau kristal dalam sistem urinari. Penyakit ini terjadi karena komposisi pakan yang tidak sehat dan ketidakseimbangan nutrisi. Tujuan pemeriksaan pada kucing kasus adalah untuk mengetahui gangguan saluran kemih yang menyebabkan kesulitan urinasi pada kucing kasus. Temuan klinis dari pemeriksaan yaitu kucing kesulitan dalam urinasi dengan volume urin yang sedikit serta rasa nyeri dan tidak nyaman saat dilakukan palpasi di bagian hipogastrium medial (vesika urinaria). Saat diperhatikan, kucing mengalami hematuria saat berkemih. Pemeriksaan laboratorium berupa uji sedimentasi urin dan uji dipstick untuk mengetahui endapan kristal pada urin kucing kasus ditemukan endapan kristal struvit dan nilai pH urin sebesar 8,0 serta positif ada darah. Pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan USG dilakukan untuk melihat gambaran vesika urinaria ditemukan tampakan hyperechoic. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, dapat disimpulkan bahwa kucing kasus didiagnosis urolithiasis hemoragi. Terapi kausatif dilakukan dengan pemberian ekstrak Desmodium styracifolium 3 mg/kg BB PO q48h, terapi simtomatik dengan pemberian antiradang dan antinyeri Meloxicam 0,3 mg/kg BB PO q12h, dan terapi antibiotik dengan pemberian Ciprofloxacin 5 mg/kg BB q12h serta anjuran pemberian pakan untuk kucing penderita gangguan saluran kemih. Kucing kasus menjalani rawat jalan sesuai permintaan pemilik dan sebelum dipulangkan dipastikan kucing dalam keadaan baik dan dalam kondisi sadar setelah anestesi untuk keperluan pemasangan kateter.
Kajian Pustaka: Gastric Dilatation Volvulus pada Berbagai Anjing Ras
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.821

Abstract

Gastric Dilatation Volvulus (GDV) adalah salah satu kasus darurat medis pada anjing yang ditandai dengan akumulasi udara pada lambung, malposisi perut, tekanan intragastrik meningkat, dan syok kardiogenik. Beberapa faktor predisposisi GDV termasuk genetik, jenis anjing, tekstur, kuantitas dan kualitas bahan pakan, keadaan emosi, usia, dan ada atau tidaknya benda asing. Anjing ras besar seperti Great dane (GD), German shepherd (GS), Mastiffs, Labrador retriever (LR), Doberman pinscher (DP), dan Akita memiliki risiko lebih tinggi mengalami GDV karena anatominya yang berdada dalam. Gejala klinis yang biasanya ditemukan meliputi kembung, muntah, kesulitan bernapas, perut yang terlalu membesar, dan adanya ketidaknyamanan secara keseluruhan pada anjing. Jika segera ditangani, kasus akut biasanya memiliki prognosis yang lebih baik. Pada kasus kronis, pasien biasanya tidak menunjukkan gejala dan secara keseluruhan mungkin lebih sulit untuk mendiagnosisnya. Dalam penggunaan radiografi gastrointestinal (GI) bagian atas dan computed tomography pun kini telah digunakan. Seperti dalam kedokteran hewan, tindakan bedah adalah pengobatan pilihan yang direkomendasikan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan terkait gejala klinis yang umum teramati di lapangan, teknik diagnosis, dan pemilihan terapi efektif yang dapat diberikan pada anjing dengan GDV yang bersumber dari beberapa jurnal laporan kasus.
Laporan Kasus: Kolaps Trakea Tingkat I pada Anjing Yorkshire Terrier
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.701

Abstract

Anjing Yorkshire terrier bernama Nunu, berjenis kelamin betina, berumur lima tahun, diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, dengan keluhan anjing kasus mengalami batuk kering dan keras, terdengar seperti suara bengek “goose-honking” selama lebih dari 30 hari, mulut lebih sering dibuka dengan lidah dijulurkan keluar, napas terlihat berat dan terdengar bunyi, anjing terkadang tampak lemas dan tidak bersemangat, serta terkadang sering mondar mandir. Anjing kasus memiliki riwayat batuk yang sebelumnya berlangsung sekitar satu minggu dan sembuh tanpa dilakukan pengobatan. Anjing kasus sering terlihat gelisah dan membuka mulut dengan lidah menjulur keluar, frekuensi makan dan minum berkurang. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan meliputi sinyalemen, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa anjing kasus mengalami kolaps trakea tingkat I, yang ditandai dengan adanya obstruksi pada trakea. Kolaps trakea merupakan salah satu penyakit yang sering ditemui pada anjing ras kecil seperti Chihuahua, Lhasa apso, Maltese, Pomeranian, Pug, Shih tzu, Toy poodle dan Yorkshire. Penyakit ini mengganggu saluran pernapasan karena adanya penyempitan pada trakea. Manajemen medis yang dilakukan, terdiri dari penggantian penggunaan collar anjing dengan harness, pemberian dexamethasone sebagai obat kortikosteroid anti-inflamasi, theophylline sebagai bronkodilator, dan antibiotik doxycicline memberikan peningkatan pada tanda-tanda klinis anjing. Kondisi anjing kasus mengalami pemulihan satu minggu pasca terapi.
Kajian Pustaka: Intususepsi Pilorogastrik pada Berbagai Ras Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.808

Abstract

Intususepsi pilorogastrik merupakan prolapsus bagian usus ke dalam lumen usus yang berdampingan dengan bagian yang prolapsus tersebut. Intususepsi pada anjing biasanya paling sering terjadi di persambungan ileocecocolic dan invaginasi biasanya sesuai dengan arah peristaltik. Bentuk lain dari yang pernah terjadi dan dilaporkan dari instususepsi terjadi pada anjing muda, termasuk gastroduodenal, duodenojejunal, ileoileal, dan colocolic. Intesusepsi sering terjadi pada anjing muda dan bersifat idiopatik, kejadian tersebut disebabkan oleh infeksi parasit usus, terdapat benda asing, dan enteritis akibat virus. Tanda dan gejala klinis biasanya berbeda-beda pada individu yang menderita kasus instususepsi pilorogastrik, namun gejala klinis yang sering ditemukan ialah muntah akut hingga kronis, diare, lesu, dehidrasi, depresi, takikardia, dan nyeri perut. Pada anjing dengan intususepsi pilorogastrik, penyebab atau faktor etiologi yang mendasarinya tidak diketahui. Sebagian besar kasus intususepsi terjadi di dalam usus kecil ke arah aboral. Dari lima kasus yang ditelaah, dilaporkan peneguhan diagnosis penyakit intususepsi pylorogastric dilakukan dengan menggunakan alat penunjang antara lain menggunakan radiografi, ultrasonografi/USG, Color Doppler, dan biokimia darah. Diagnosis penunjang ultrasonografi sangat membatu dalam kejadian kasus instususepsi untuk mengetahui bentuk dan perubahan abnormalitas yang terjadi di dalam abdomen. Penanganan kasus anjing yang menderita kasus intussusepsi dilakukan dengan bedah laparotomi. Berdasarkan hasil peneguhan diagnosa dari lima kasus tersebut maka anjing didiagnosis mengalami intusepsi pilorogastrik.
Laporan Kasus: Identifikasi Demodex canis Berdasarkan Morfometri pada Anjing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.758

Abstract

Demodekosis atau Red Mange, Follicular Mange, Acarus Mange adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex canis, bersifat kronis, dan berulang. Demodekosis general biasanya terjadi pada anjing berumur antara tiga sampai enam bulan. Anjing kasus teramati dengan tanda klinis berupa kulit alopesia general, scale, dan krusta yang dijumpai pada bagian perut hingga kaki belakang, terlihat juga adanya eritema pada bagian dada, hiperkeratosis pada bagian kaki, dan terdapat luka pada kaki belakang sebelah kiri. Demodekosis dinyatakan lokal jika tempat lesi berdiameter maksimal 2,5 cm. Kejadian ini tidak tergantung pada ras atau jenis kelamin. Demodekosis general menyerang pada semua umur, lesi terdapat hampir di seluruh tubuh dan biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anjing kasus untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan deep skin scraping dilakukan pada tiga lapang pandang, per lapang pandang ditemukan dua sampai enam tungau Demodex canis. Pada pemeriksaan diferensiasi leukosit didapatkan hasil neutropenia, basopenia, serta eosinofilia yang menunjukkan adanya stres dan pembengkakan karena infeksi parasit. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, difenhidramin HCl, dan longamox. Setelah dilakukan terapi selama 28 hari, anjing kasus menunjukkan kondisi membaik dengan mulai tumbuhnya rambut pada lokasi lesi, tidak mengalami pruritus, dan dari evaluasi deep skin scraping didapatkan bahwa jumlah Demodex canis berkurang setiap minggunya.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Karena Infeksi Kapang Curvularia pada Anjing Persilangan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.710

Abstract

Anjing domestik bernama Pino, jenis kelamin jantan, berumur enam tahun, bobot badan 3,9 kg, dan rambut berwarna cokelat, dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan tanda klinis yang terlihat, anjing mengalami eritema pada kulit, krusta, alopesia pada daerah daun telinga, leher, kaki depan, dan kaki belakang. Status praesens menunjukkan suhu tubuh mengalami peningkatan yaitu 40,5°C. Pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan adanya parasit atau spora jamur. Sedangkan hasil dari pemeriksaan sitologi didapatkan Curvularia. Hasil pemeriksaan darah yaitu limfositosis dan anemia mikrositik normokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis dan laboratoris, dapat disimpulkan bahwa anjing kasus didiagnosis mengalami dermatofitosis. Diberikan terapi kausatif dengan ketoconazole 10-12 mg/kg BB PO q12h, dan terapi suportif pemberian vitamin B kompleks. Kondisi anjing kasus semakin membaik dengan ditandai tumbuhnya rambut pada bagian tubuh yang mengalami alopesia setelah dilakukan terapi selama lima hari. Curvularia adalah genus Pleosporalean monophyletic dengan banyak jenis spesies, termasuk jenis fitopatogenik, jamur patogen pada hewan dan manusia. Curvularia juga menyebabkan phaeohyphomycosis yang mana ditemukan pada invertebrata, vertebrata berdarah dingin, burung, dan spesies mamalia termasuk ruminansia, kuda, anjing, kucing dan manusia. Tujuan dilakukan pemeriksaan pada anjing kasus adalah untuk mengetahui agen penyakit yang menyebabkan terjadinya banyak lesi pada kulit anjing tersebut.
Laporan Kasus: Penanganan Anaplasmosis dan Babesiosis dengan Antibiotik Doxycycline, Obat Tonikum, dan Hemapoitikum Herbal Tiongkok pada Anjing Kacang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.770

Abstract

Anaplasmosis dan babesiosis pada anjing merupakan penyakit yang ditularkan oleh caplak atau tick-borne disease seperti Rhipicephalus sanguineus. Anaplasma pada anjing disebabkan oleh spesies Anaplasma platys dan A. phagocytophilum. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh spesies Babesia canis dan B. gibsoni. Seekor anjing jantan berumur delapan bulan dengan berat badan 12,2 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan dengan keluhan tidak nafsu makan sejak dua hari, mata merah, dan epistaksis. Pada pemeriksaan klinis ditemukan demam, kemerahan pada mata, darah yang sudah kering pada hidung, dan hewan muntah pada saat pemeriksaan. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing mengalami anemia normositik hiperkromik, hemoglobinemia, dan trombositopenia. Pemeriksaan dengan rapid test kit menunjukkan hasil positif Anaplasma dan Babesia. Pada pemeriksaan ulas darah ditemukan adanya parasit intraeritrositik. Berdasarkan temuan tersebut maka anjing tersebut didiagnosis menderita anaplasmosis dan babesiosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan yaitu Hemostop® K 1,2 mL intramuskular, doksisiklin (10 mg/kg, q.24 jam, per oral) selama dua minggu, obat tonikum dan hemapoitikum herbal tiongkok Fu Fang Ejiao Jiang® 5 mL dua kali sehari per oral selama 10 hari, hemapoitikum kimiawi Sangobion® satu tablet per hari per oral selama 10 hari, vitamin B kompleks dan B12 satu tablet per hari per oral selama 10 hari, dan asam traneksamat (10 mg/kg, q.12 jam, per oral) diberikan jika epistaksis kambuh. Terapi yang diberikan menunjukkan hasil yang baik. Hewan dipulangkan setelah empat hari rawat inap. Pada hari ke-14 hewan terlihat sehat secara klinis.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Kronis Akibat Infeksi Kapang Curvularia spp. pada Anjing Peranakan Pomeranian
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.720

Abstract

Curvularia adalah famili Pleosporaceae dengan banyak jenis atau spesies termasuk jenis fitopatogenik, yaitu jamur patogen pada hewan dan manusia. Hewan kasus adalah anjing peranakan Pomeranian berjenis kelamin jantan, berumur enam tahun, dan memiliki bobot badan 4,96 kg. Berdasarkan hasil anamnesis, anjing mengalami gatal-gatal dan rambut rontok yang telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Pada pemeriksaan fisik, anjing mengalami alopesia hampir pada seluruh tubuh dan eritema pada bagian kaki. Pemeriksaan sitologi dengan metode tape skin test ditemukan Curvularia spp., sedangkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hiperkromik, leukositosis, dan limfositosis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa anjing kasus didiagnosis menderita dermatofitosis akibat infeksi Curvularia spp. Terapi yang diberikan yaitu terapi kausatif dengan antijamur griseofulvin dengan dosis 25 mg/kg BB secara per oral satu kali sehari selama 14 hari dan pemberian sabun sulfur yang dimandikan dua kali seminggu selama satu bulan. Kemudian pemberian antibiotik cephalexin dengan dosis 22 mg/kg BB secara per oral dua kali sehari selama enam hari dan terapi suportif diberikan minyak ikan secara per oral satu kapsul sehari selama 30 hari. Anjing kasus setelah diterapi 30 hari menunjukkan hasil yang baik, sebagian besar tubuh anjing sudah ditumbuhi rambut, serta kulit anjing sudah tidak mengalami eritema dan pruritus.
Laporan Kasus dan Kajian Pustaka: Menangani Kejadian Megaesofagus Idiopatik pada Anjing Kacang dengan Bantuan Kursi Bailey
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.781

Abstract

Megaesofagus merupakan kondisi yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya motilitas esofagus. Kejadian tersebut menyebabkan akumulasi ingesta, dilatasi lumen esofagus, regurgitasi pakan (yang sering disalahartikan sebagai muntah oleh pemilik anjing). Anjing kacang berjenis kelamin betina, berumur 2 tahun 2 bulan, dengan berat 15 kg didiagnosis mengalami megaesofagus idiopatik. Anjing dibawa oleh pemiliknya ke Bali Veterinary Clinic dengan keluhan tidak nafsu makan, muntah beberapa kali dalam sehari dan kaki belakang terlihat lemas. Pemeriksaan fisik anjing menunjukkan tanda klinis regurgitasi, batuk, disfagia, terengah-engah dan peningkatan frekuensi napas. Pada pemeriksaan darah lengkap diperoleh hasil semua parameter dalam rentang normal. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan pada beberapa parameter yaitu pada alanin aminotransferase (ALT), kreatinin, dan aspartat amino transferase (AST). Pemeriksaan radiografi dengan bahan kontras barium sulfat menunjukkan adanya pelebaran pada esofagus. Anjing ditangani dengan cara ditopang dengan tangan agar tetap berdiri tegak saat makan dan minum. Pengobatan dilakukan dengan pemberian cairan infus ringer laktat 30 mL/kg BB/jam, hematodin 0,1 mL/kg BB IM SID, biodin 0,1 mL/kg BB IM SID, ranitidin hidroklorida 2 mg/kg BB IV TID, dan sildenafil sitrat 2 mg/kg BB PO BID, cefotaxime sodium 50 mg/kg BB IV BID, dan furosemid 2 mg/kg BB IV BID. Setelah tiga minggu perawatan, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang berarti. Pasien dipulangkan dengan saran dibuatkan kursi khusus Bailey Chair.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Konstipasi pada Kucing Peliharaan dengan Pemberian Pakan Tinggi Serat
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (5) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.5.682

Abstract

Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan adanya tinja yang keras yang menyebabkan defekasi atau buang air besar menjadi jarang bahkan tidak ada. Kucing ras domestik bernama Fino berjenis kelamin jantan, berumur satu tahun, bobot badan 3,98 kg dan warna rambut hitam loreng dibawa oleh pemilik ke klinik hewan Sahabat Satwa Celebes (SSC) Makassar. Kucing kasus sudah tiga hari tidak defekasi sebelum dilakukan pemeriksaan dan sehari sebelum diperiksa nafsu makannya menurun. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi di atas rentang normal, palpasi pada saluran pencernaan menunjukkan adanya reaksi rasa sakit, bagian abdomen terasa tegang, dan adanya massa padat pada saluran pencernaan. Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) ditemukan adanya beberapa massa bulat padat pada usus dengan gambaran hyperechoic. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan USG dapat disimpulkan bahwa kucing kasus didiagnosis mengalami konstipasi dengan prognosis fausta. Terapi simptomatik dilakukan dengan memberikan gliserin sejumlah 3 mL dengan cara memasukkannya ke dalam rektum, terapi kausatif dilakukan dengan penggantian pakan dengan memberikan pakan tinggi serat (Royal Canin®) dan pengobatan suportif dengan pemberian vitamin penambah nafsu makan (Nutri Plus Gel®) satu ruas jari sekali sehari. Kondisi kucing kasus setelah seminggu menjalani perawatan menunjukkan perkembangan yang sangat baik ditandai dengan defekasi lancar, kondisi feses normal dan tidak adanya konstipasi berulang.

Page 1 of 2 | Total Record : 13