cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12 (2) 2023" : 12 Documents clear
Laporan Kasus: Suspect Gagal Jantung Kongestif Kiri disertai Edema Pulmunom pada Anjing Ras Labrador
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.212

Abstract

Gagal jantung kongestif merupakan keadaan patofisiologi jantung berupa sindrom klinik akibat ketidakmampuan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Anjing jantan ras labrador umur 15 tahun dibawa ke klinik Anom Vet dengan keluhan lesu, nafsu makan dan minum menurun, batuk, dan intoleransi latihan. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gangguan respirasi berupa takipnea, dispnea, batuk, suara krepitasi, dan aritmia. Pada auskultasi thorak terdengar suara krepitasi dari paru dan suara bising disertai aritmia dari jantung. Anjing kasus menunjukkan tanda klinis batuk sekitar lima bulan dan semakin parah seminggu sebelum dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan radiografi dengan posisi lateral menunjukkan terjadinya kardiomegali dengan VHS (vertebral heart size): 11,2. Sedangkan pada posisi ventrodorsal menunjukkan perubahan ukuran dan bentuk jantung terutama pembesaran pada ventrikel kiri, peningkatan opasitas (radiopasitas cairan) terutama pada lobus kranial paru, dan arteri pulmonalis lobus kaudal paru lebih hiperekhoik. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiografi anjing kasus diduga mengalami gagal jantung kongestif kiri dengan prognosis infausta. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan furosemide (4 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari), digoxin (0,25 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari), dan captopril (0,25 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari). Setelah delapan hari pengobatan, anjing kasus menunjukkan perbaikan kondisi menjadi lebih responsif, berkurangnya frekuensi batuk, dan auskultasi pada jantung membaik tetapi masih terdengar aritmia, sehingga terapi furosemide dihentikan dan hanya dilanjutkan captopril.
Laporan Kasus: Koinfeksi Anaplasmosis, Erhlichiosis, dan Malasezia pada Anjing Golden Retriever
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.273

Abstract

Seekor anjing ras golden retriever berjenis kelamin jantan, berumur tiga bulan, dengan bobot badan 6 kg datang ke klinik Sunset Vet Kuta dengan keluhan anjing tersebut tidak mau makan dan muntah dua kali selama di rumah. Pada pemeriksaan fisik, telinga anjing kasus terlihat kotor dengan warna serumen telinga cokelat kegelapan dan ditemukan caplak Rhipicephalus sp. Pada pemeriksaan hematologi rutin, anjing kasus mengalami anemia hipokromik mikrositik, trombositopenia, limfositopenia, dan leukositopenia. Pada pemeriksaan sitologi sampel serumen telinga ditemukan adanya infeksi Malasezia spp. dan infeksi bakteri berbentuk kokus. Untuk membantu penegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan rapid test dan uji Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil rapid test pada darah anjing kasus terdeteksi antibodi Anaplasma sp. serta untuk mencegah adanya positif palsu dilakukan pemeriksaan berdasarkan genetik DNA melalui uji PCR, didapatkan hasil positif yang ditunjukan oleh adanya garis pita pada sumur uji Anaplasma sp. dan E. canis serta pada sumur kontrol. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (laboratorium), anjing kasus didiagnosis mengalami anaplasmosis, ehrlichiosis, dan malaseziosis dengan prognosis fausta. Selama 10 hari, pengobatan yang diberikan yaitu antibiotik doxycycline, obat tetes telinga, vitamin, dan zat besi penambah darah yaitu sangobion dan Chinese Fu Fang Jiao. Pemberian antibiotik doxycycline tetap dilanjutkan sampai hari ke-28 untuk mengatasi inklusi intracytoplasmic. Setelah pengobatan anjing kasus secara klinis tampak sehat.
Laporan Kasus: Ascites Disertai Distensi Vena Abdominalis Akibat Gangguan Fungsi Hati pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.223

Abstract

Gangguan fungsi hati merupakan salah satu penyebab yang sering ditemukan pada kasus ascites. Seekor anjing ras campuran betina berumur delapan tahun, dengan bobot badan 6,25 kg mengalami distensi abdomen selama empat bulan dan kesulitan bernapas. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan capillary refill time (CRT) normal, suhu tubuh 39,3°C, frekuensi napas tinggi, dan terdapat distensi vena abdominalis. Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya akumulasi cairan pada abdomen. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan penurunan hemoglobin, mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC), dan platelet. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin, serta penurunan nilai albumin serum. Pemeriksaan cairan abdomen dengan teknik abdominocentesis dan pemeriksaan X-ray diketahui bahwa cairan ascites yang diperiksa tergolong jenis ascites transudatif, yaitu tidak berwarna dan bening. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang yang dilakukan, anjing kasus disimpulkan mengalami gangguan fungsi hati dengan prognosis dubius. Terapi yang dilakukan adalah terapi simptomatik dengan memberikan obat diuretik furosemid 3,2 mg/kg BB dua kali sehari selama tujuh hari dan terapi suportif dengan multivitamin sebanyak 1 tablet sehari selama tujuh hari serta penggantian pakan dengan dog food Bolt®. Setelah satu minggu perawatan, distensi abdomen berkurang dan frekuensi napas anjing membaik. Walaupun demikian, distensi pada vena abdominalis masih terlihat.
Laporan Kasus: Penanganan Peritonitis Menular Tipe Basah pada Ras Kucing Inggris Berambut Pendek Menggunakan Antivirus Remdesivir
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.285

Abstract

ABSTRAK Seekor kucing ras British shorthair bernama Sultan, umur empat tahun, jenis kelamin jantan, bobot badan 4,41 kg, warna rambut abu-abu dibawa ke klinik Estimo dengan keluhan perut tiba-tiba membesar. Hasil pemeriksaan fisik kucing kasus terlihat lemas, turgor kulit sedikit lambat, sedikit flu, mukosa mata pucat kekuningan dan suhu tubuh mencapai 40,6°C. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi (USG) menunjukkan akumulasi cairan dirongga abdomen dan pembesaran ukuran ginjal. Pemeriksaan abdominocentesis menunjukkan akumulasi cairan berwarna kuning keruh dirongga abdomen. dan uji Rivalta menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan CBC kucing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik, anemia makrositik, penurunan jumlah limfosit, eosinofil dan basophil, meningkatnya kadar neutrofil dan monosit. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan kadar glukosa, globulin, dan AST, serta penurunan kadar kreatinin, presentase albumin/globulin dan ALKP. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, dan pemeriksaan penunjang kucing kasus didiagnosa mengalami feline infectious peritonitis (FIP). Pengobatan yang diberikan adalah sodium chloride 0,9% (IV; selama tiga hari pertama). Hematodin 0,5 mL (IV; q24h; tiga hari pertama). Milk thistle ½ tablet (PO; q24h; 10 hari). Ornipural 1,5 mL (IM; seminggu sekali). Remdensivir 10 mg/kg BB (SC; q24h; 10 hari). mefloquine HCL 10 mg/kg BB (PO; dua kali seminggu). Tolfedin 4 mg/kg BB (IM; q24h; sekali pemberian). Transfer factor plus satu kapsul (PO; q24h; 10 hari). Viusid 0,5 mL (IM; q24h; tujuh hari). Sangobion 0,3 mL (PO; q24h; enam hari). Setelah 11 hari pengobatan, kucing kasus menunjukkan kemajuan kondisi kesehatan yang baik yang ditandai dengan cairan asites semakin berkurang, suhu tubuh kembali normal, makan dengan lahap, minum dengan baik dan kembali aktif. Pengobatan terus dilanjutkan sampai 12 minggu (84 hari) untuk mencegah resiko FIP kembali kambuh.
Laporan Kasus: Skabiosis oleh Notoedres cati dan Otitis Eksterna oleh Otodectes cynotis pada Seekor Kucing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.233

Abstract

Skabiosis pada kucing merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Notoedres cati, sedangkan otitis eksterna merupakan penyakit telinga pada kucing yang disebabkan oleh Otodectes cynotis. Kucing kasus merupakan kucing domestik bernama Joni, berjenis kelamin jantan, berumur kurang lebih tiga bulan, warna rambut putih dengan bobot badan 0,52 kg. Kucing dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami gatal yang sudah berlangsung kurang lebih tiga minggu. Kucing kasus mengalami takipnea, hipotermia, serta adanya alopesia dan keropeng di seluruh tubuhnya. Hasil pemeriksaan laboratorium dengan kerokan kulit dan swab telinga menunjukkan adanya N.cati dan O.cynotis. Kucing kasus didiagnosis menderita skabiosis dan otitis eksterna. Terapi yang diberikan pada kucing kasus di antaranya yaitu ivermectin secara injeksi dengan dosis 0,4 mg/kg BB, injeksi diphenhydramine HCl dengan dosis 1mg/kg BB dalam sekali pemberian dan dilanjutkan pemberian cetirizine 2,5 mg/ekor dua kali sehari selama 10 hari per oral yang berfungsi sebagai antihistamin, lalu diberikan amitraz (1 mL dilarutkan dalam 100 mL air) dengan cara dimandikan dengan interval sekali seminggu, obat tetes telinga dengan kandungan ivermectin dan chloramphenicol diberikan sebanyak dua tetes dua kali sehari selama tujuh hari pada telinga yang terinfeksi. Cephalexin 35 mg/kg BB diberikan dua kali sehari selama 10 hari per oral, multivitamin diberikan sebanyak 0,5 mL dua kali sehari selama tujuh hari per oral, dan minyak ikan satu kapsul sekali sehari selama 15 hari per oral sebagai terapi suportif.
Laporan Kasus: Pyometra Pasca Pemberian Pil Kontrasepsi pada Anjing Peranakan Pomeranian Setengah Baya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.245

Abstract

Anjing betina dengan usia tua sangat rentan terserang penyakit pada saluran reproduksi, salah satunya adalah pyometra. Pyometra adalah akumulasi sekresi purulen pada rongga uterus. Seekor anjing dengan ras campuran pomeranian berwarna hitam dan cokelat, jenis kelamin betina berusia 5 tahun, memiliki bobot badan 7 kg datang dengan keluhan keluarnya leleran purulen dari vagina dan tidak dapat berdiri pada malam sebelumnya. Anjing tidak mau makan dan tidak dapat defekasi sejak satu hari sebelumnya. Anjing pernah diberikan pil kontrasepsi Mycrogynon® dengan kandungan levonorgestrel (hormon progesterone) 0,15 mg dan Ethinylestradiol (hormon estrogen) 0,03 mg per oral sebanyak satu tablet, diberikan satu bulan sebelum diperiksakan. Anjing pernah melahirkan sebanyak dua kali. Pemeriksaan darah rutin menunjukkan anemia non regenerative mikrositik normokromik. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan ekogenesitas hipoecoic pada uterus anjing. Dari hasil pemeriksaan fisik dan ultrasonografi, anjing didiagnosis mengalami pyometra terbuka. Histopatologi jaringan uterus dan ovarium setelah dilakukan tindakan pembedahan ovariohysterectomy (OH) menunjukkan adanya hiperemi dan infiltrasi sel-sel neutrofil. Terapi pascaoperasi OH diberikan antibiotik amoksisilin 20 mg/kg BB selama 5 hari secara oral, dexamethason 0.15 mg/kg BB diberikan sebagai antiinflamasi selama 5 hari secara oral. Untuk mengatasi anemia diberikan Sangobion® selama 7 hari secara per oral. Setelah perawatan selama 7 hari, kondisi anjing kasus membaik dan nafsu makan kembali normal.
Laporan Kasus: Scabiosis pada Anjing Lokal yang Disertai Anemia Defisiensi Zat Besi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.199

Abstract

Seekor anjing lokal berjenis kelamin betina, bernama Layla, berumur 6 bulan memiliki keluhan gatal-gatal pada seluruh tubuh yang telah berlangsung selama dua bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya alopesia, eritema, dan krusta pada bagian kaki belakang, kaki depan, kedua telinga, abdomen, dan ekor. Pada pemeriksaan superficial skin scrapping ditemukan tungau Sarcoptes sp. Pemeriksaan hematologi menunjukkan hewan kasus mengalami penurunan pada komponen darah yakni RBC, HGB, HCT, MCV, MCH, dan PLT. Pemeriksaan apusan darah ditemukan adanya inklusi intracytoplasmic pada eritrosit. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, hewan kasus didiagnosis menderita scabiosis yang disertai anemia defisiensi zat besi dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan berupa ivermectin dengan dosis 300 mcg/kg BB diberikan 0,15 mL (7 hari sekali) selama 28 hari, chlorpheniramine maleate dengan dosis anjuran 2-8 mg/kg BB diberikan satu tablet (dua kali sehari), multivitamin B-kompleks satu tablet (sehari sekali) selama 21 hari, minyak ikan satu tablet (sehari sekali) selama 28 hari, serta dimandikan dengan sampo yang memiliki kandungan sulfur (dua kali seminggu) selama 28 hari. Setelah 4 minggu terapi, hewan kasus menunjukkan perkembangan yang baik ditandai dengan kondisi hilangnya lesi berupa papula, krusta, eritema, dan adanya pertumbuhan rambut halus pada bagian yang mengalami alopesia.
Laporan Kasus: Invasi Lambung oleh Cacing Toxocara canis dan Infeksi Skabies pada Anjing Kacang Berusia Dua Bulan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.258

Abstract

Seekor anak anjing lokal jantan berusia dua bulan dengan bobot badan 2,5 kg diperiksa dengan keluhan pruritus intensitas tinggi pada daerah telinga, ekor, ventral abdomen, dan perianal; alopesia dan eritema bilateral pada daerah telinga, dorsal abdomen sinistra serta dextra, ekstremitas kranial dan kaudal, serta bagian ekor; terdapat papula pada daerah ventral abdomen dan leher; terdapat keropeng pada kedua telinga; bagian dalam kedua telinga kotor; sering menggesek perianal; kulit tubuh berminyak; defekasi dua hari sekali dengan konsistensi tinja padat dan berwarna gelap; dan distensi abdomen. Pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit dan natif feses menunjukkan adanya tungau Sarcoptes scabiei dan telur cacing Toxocara canis. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan anjing kasus mengalami leukositosis dan anemia mikrositik hipokromik. Anjing didiagnosis skabies dan toksokariosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan adalah terapi kausatif secara topikal dengan sabun sulfur yang dimandikan dua kali seminggu selama satu bulan, salep sulfur dan asam salisilat yang dioleskan sebanyak dua kali sehari, serta obat cacing pyrantel pamoate (70 mg/kg BB) per oral diulang setelah dua minggu pemberian. Terapi simtomatik berupa antihistamin chlorpheniramine maleate (0,8 mg/kg BB) per oral dua kali sehari selama 10 hari dan antikonstipasi sorbitol (5 mL) dengan metode enema, lalu terapi suportif dengan multivitamin dan multimineral (0,5 tablet) per oral satu kali sehari selama 30 hari. Hasil penanganan selama empat minggu menunjukkan perkembangan kondisi yang sangat baik pada anjing kasus yang ditandai hilangnya eritema, keropeng pada kedua telinga dan intensitas pruritis, terjadinya pertumbuhan rambut, menurunnya jumlah papula pada ventral abdomen, tidak terjadinya distensi abdomen, dan defekasi kembali normal. Selain itu, tidak adanya tungau Sarcoptes scabiei pada kerokan kulit, telur cacing Toxocara canis pada uji natif feses, dan peningkatan hasil hematologi.
Kajian Pustaka: Kasus Intususepsi Ganda pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.311

Abstract

Intususepsi ganda adalah invaginasi sebagian usus (intususceptum) ke dalam lumen segmen usus yang berdekatan (intussuscipiens) searah dengan aliran ingesta normal atau kadang-kadang dalam arah yang berlawanan (retrograde). Intususepsi lebih sering terjadi sebagai intususepsi ileokolika, meskipun gastroduodenal, duodenojejunal, jejunojejunal, intususepsi ileoileal dan kolokolika telah dilaporkan kejadiannya pada anjing dan anjing muda. Metode yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah penelusuran literatur. Disajikan 10 kasus anjing yang mengalami muntah akut-kronis, anoreksia, takipnea, diare berdarah, penurunan berat badan, teraba massa abdomen, dan nyeri abdomen. Pada pemeriksaan penunjang seperti USG dan radiografi ditemukan ada massa hipoekoik vaskularisasi usus. Diagnosis intususepsi ganda ditegakkan berdasarkan tanda klinis dan pemeriksaan penunjang. Setelah stabilisasi awal pasien, penanganan bedah dilakukan dengan laparatomi, pada kebanyakan kasus hewan yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda gastrointestinal yang abnormal ataupun mengalami kenaikan berat badan, mengkonfirmasikan keberhasilan pengobatan. Laparotomi eksplorasi yang ditarik mengungkapkan intususepsi. Setelah eksplorasi, diagnosis intususepsi ganda ditegakkan. Pada beberapa kasus setelah 24 jam kemudian anjing meninggal. Pada kasus lain beberapa hari setelah perawatan kondisi anjing membaik ditandai dengan nafsu makan normal, buang air normal serta tidak ada muntah, maka anjing dapat dipulangkan. Pembedahan adalah tindakan yang tepat untuk penanganan intususepsi usus. Dilakukan pencegahan untuk menghindari kejadian penyakit ini yaitu dengan tidak membiarkan hewan makan sembarangan dan selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal hewan.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis pada Anjing Pomeranian Betina dengan Minyak Mimba dan Zat Keratolitik
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.298

Abstract

Demodekosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex sp.. Demodekosis pada kasus ini teramati pada anjing pomeranian betina, berumur dua tahun, dengan bobot tubuh 5,2 kg. Anjing memiliki tanda klinis berupa alopesia, eritema dan scale pada bagian wajah, leher, punggung, dan kaki. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anjing kasus untuk menegakkan diagnosis. Hasil pemeriksaan kerokan kulit yang dalam dan tape skin test ditemukan tungau Demodex sp.. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, leukositosis, dan limfositosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian topikal minyak mimba (Azadirachta indica) dan sampo benzoil peroksida. Minyak mimba diberikan dua kali sehari. Setelah diberikan terapi selama satu bulan, anjing kasus menunjukkan kondisi membaik dengan mulai tumbuh rambut pada lokasi lesi dan luka pada bagian tubuh sudah mengering.

Page 1 of 2 | Total Record : 12