cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Community Health
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Community Health terbit empat kali setahun, yaitu bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Jurnal CH menerbitkan hasil penelitian mahasiswa yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti kebijakan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masayarakat, kesehatan kerja, promosi kesehatan, ekonomi kesehatan, manajemen kesehatan serta ilmu ilmu dasar yang berkaitan seperti bioteknologi kesehatan, biologi molekuler, bioinformatik dan genetik, tanaman, hewan, serta sel yang terkait dengan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 3" : 10 Documents clear
Hubungan Faktor-Faktor Motivasi Dengan Motivasi Kerja Karyawan Di Rumah Sakit Umum Puri Raharja Kota Denpasar Tahun 2013 Pratama, Noviyanti
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.89 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih banyaknya karyawan di RSU Puri Raharja yang melakukan tindakan yang melanggar kedisiplinan seperti tingginya tingkat absensi karyawan yang tidak memenuhi standar yaitu kurang dari 160 jam setiap bulan. Hal ini dapat mengakibatkan motivasi kerja dan kinerja karyawan tersebut menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi kerja yaitu faktor kepuasan kerja, faktor kepemimpinan, faktor kompensasi, dan faktor lingkungan kerja serta mencari hubungan antara variabel tersebut terhadap motivasi kerja karyawan. Penelitian ini dilakukan secara Cross Sectional dengan metode analisis menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif yaitu Analisis Univariat dan Analisis Bivariat. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 orang karyawan, yang terdiri dari tenaga medis, paramedis keperawatan, paramedis non keperawatan dan non medis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 60,6% responden merasa tidak puas terhadap pekerjaannya, sebesar 50,7% responden menyatakan kepemimpinan dalam kategori baik, sebesar 56,3% responden berpendapat bahwa kompensasi dalam kategori tidak baik, sebesar 52,1% responden berpendapat bahwa lingkungan kerja dalam kategori baik, dan sebesar 52,1% responden memiliki motivasi kerja yang rendah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kepuasan kerja dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.941, p = 0.007), kepemimpinan dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.875, p = 0.019), kompensasi dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.377, p = 0.014), dan lingkungan kerja dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.435, p = 0.012). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kepemimpinan dan lingkungan kerja dalam kategori baik, sedangkan kepuasan kerja dan kompensasi dalam kategori tidak baik dan seluruh variabel memiliki hubungan yang bermakna dengan motivasi kerja karyawan. Saran untuk penelitian ini agar pihak RSU Puri Raharja lebih memperhatikan kepuasan kerja karyawan serta pemberian kompensasi khususnya penghargaan non financial.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Bersalin Pengguna Jampersal Dengan Sikap Tentang Program Jampersal Di Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I Puspadewi, Ni Nyoman
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.34 KB)

Abstract

Dalam upaya mendukung penurunan AKI dan AKB dan untuk mempercepat pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs). Kementerian Kesehatan Indonesia telah meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal) pada tahun 2011. Dalam pelaksanaannya masih banyak masyarakat khususnya ibu yang ingin bersalin belum mengerti tentang program Jampersal. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya yang dilakukan di wilayah Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I melalui bidan desa dan tenaga kesehatan yang lain dan salah satu faktor yang menyebabkan adalah tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat itu sendiri mengenai program Jampersal. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I pada bulan April – Mei 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu bersalin pengguna Jampersal di Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin dengan kriteria inklusif dan eksekusi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling, sehingga jumlah sampel menjadi 64 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pada kelompok umur 20 sampai 35 tahun memiliki persentase tertinggi pada tingkat pengetahuan baik yaitu sebesar 21,43 %. Berdasarkan distribusi tingkat pengetahuan responden menurut tingkat pendidikan terakhir, persentase tingkat pengetahuan baik terdapat pada ibu bersalin yang berpendidikan diploma/sarjana sebesar 85,71 %. Persentase pengetahuan dengan kategori baik cenderung dimiliki oleh responden yang bekerja sebesar 28,57%. Ditinjau dari tingkat penghasilan responden diperoleh data persentase tertinggi dengan kategori pengetahuan baik adalah responden yang memiliki penghasilan Rp. 1.500.000,- sampai dengan Rp. 2.500.000,- yaitu sebesar 34,38 %. Ibu bersalin yang mempunyai sikap cukup sebesar 78,13 %, sikap kurang sebesar 21,88 % serta tidak ada yang memenuhi kriteria sikap baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu bersalin pengguna Jampersal dengan sikap tentang program Jampersal. Dari hasil penelitian diharapkan ada sosialisasi lebih lanjut dan peningkatan persuasif tentang pelaksanaan program Jampersal dari Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I kepada masyarakat khususnya ibu bersalin, sehingga peserta merasa nyaman dan puas jika memanfaatkan Jampersal.
Analisis Kemampuan Dan Kemauan Membayar Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Karangasem Tahun 2013 Juliasih, I Gusti Ayu
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.671 KB)

Abstract

Penetapan  tarif  di  RSUD  Karangasem  terdapat  pada  Peraturan  Bupati Karangasem  berdasarkan studi penghitungan biaya satuan,  survey  kemampuan    dan kemauan  membayar  pada  instalasi  rawat  inap  tahun  2008.  Adanya  inflasi  setiap tahun  serta  perubahan  selera  masyarakat   maka  studi  ini  perlu  diperbaharui  lagi dengan  menganalisis  kemampuan  dan  kemauan  membayar  pasien  rawat  inap  di RSUD Karangasem. Studi   ini  juga  bermanfaat untuk melihat  masyarakat pengguna jaminan  kesehatan  dalam  hal  kepesertaannya  Penelitian  ini  bertujuan  mengetahui kemampuan dan kemauan membayar pasien rawat inap di RSUD Karangasem. Metode  pengambilan  sampel  dalam  penelitian  ini  menggunakan  teknik proportionate stratified random  sampling  dan consecutive  sampling  dengan sampel 106  orang.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  deskriptif  kuantitatif  dengan rancangan penelitian cross sectional. Hasil  penelitian menunjukkan  kemampuan membayar pasien rawat inap kelas VIP  A  untuk  tiga  hari  rawat  inap  hampir  separuhnya  pada  kisaran  di  atas  Rp.700.000 – Rp. 1.200.000 dan  lebih dari Rp. 1.200.000 – Rp. 2.000.000 yaitu masingmasing  5  orang  (33,3%),  kemampuan  membayar  pasien  kelas  VIP  B  adalah  Rp.854.800,  kemampuan  membayar  pasien  di  kelas  II  adalah  Rp.  1.809.000, kemampuan  membayar  pasien  kelas  III  hampir  separuhnya  pada  kisaran  Rp.300.000-Rp 700.000 yaitu 41 orang (46,1%). Kemauan membayar pasien  rawat inap kelas  VIP  A  hampir  separuhnya   memilih  pilihan  B  (Rp.  178.000)  yaitu  7  orang (46,7%),  pasien  kelas  VIP  B  memilih  pilihan  B  (Rp.  126.000),  pasien  kelas  II memilih  pilihan  B  (Rp.  45.000)  dan  kemauan  membayar  pasien  kelas  III  hampir seluruhnya memilih pilihan C (Rp. 23.000) yaitu 75 orang (84,3%). Simpulan  penelitian  ini  adalah  sebagian  besar  pasien  rawat  inap  memiliki kemampuan membayar lebih tinggi dari kemauan membayar serta tarif yang berlaku saat ini. Saran yang dapat diberikan adalah p ihak  rumah sakit sebaiknya  melakukan survey kemampuan dan kemauan membayar secara berkala sebagai masukan dalam penetapan  tarif  selanjutnya  sesuai  dengan  fluktuasi  inflasi  biaya  kesehatan.  Bagi pihak  penyelenggara  jaminan  kesehatan  dapat  mempertimbangkan  sistem  premi sebagai upaya untuk mengikutsertakan masyarakat berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan.
Hubungan Faktor Internal Dengan Kinerja Pegawai Di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar Pande, Kadek Dwi Maryanti
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.903 KB)

Abstract

Kinerja adalah suatu bentuk hasil kerja yang dapat dicapai oleh seorang pegawai demi mencapai tujuan organisasi atau perusahaan yang dapat diukur melalui indikator-indikator pengukuran kinerja. Faktor internal pegawai sangat penting diperhatikan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara optimal diantaranya faktor pendidikan, pengalaman kerja, disiplin serta motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor internal dengan kinerja pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 90 orang yang dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Berdasarkan gambaran karakteristik responden, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan D.III dan berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur kemudian dianalisis melalui uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95% atau ?=0,05. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan kinerja pegawai di RSUD Wangaya dengan nilai p = 0.000. Faktor pengalaman kerja memiliki hubungan bermakna dengan kinerja pegawai dengan nilai p = 0.000. Ada hubungan bermakna antara disiplin dengan kinerja pegawai di RSUD Wangaya dengan nilai p = 0.000. Serta ada hubungan bermakna antara motivasi dengan kinerja pegawai di RSUD Wangaya (p = 0.000). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu faktor pendidikan, pengalaman kerja, disiplin serta kinerja memiliki hubungan yang bermakna dengan kinerja pegawai di RSUD Wangaya. Saran pada penelitian ini adalah sebaiknya pihak RSUD Wangaya lebih meningkatkan dan mengantisipasi terjadinya pelanggaran disiplin yang menyebabkan penurunan kinerja dengan melakukan pengawasan dan evaluasi kinerja secara teratur dan berkesinambungan.
Kebiasaan Makan, Status Gizi Dan Kesehatan Pekerja Anak Di Pasar Badung Kota Denpasar Mawarni, Ni Putu Indah
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.113 KB)

Abstract

Jumlah pekerja anak cenderung mengalami peningkatan setiap harinya, sedangkan penghasilan pekerja anak yang rendah akan mengakibatkan kebiasaan makan yang tidak beragam, bergizi dan berimbang, hal ini berdampak bagi status gizi dan kesehatan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan makan, status gizi dan kesehatan pekerja anak di Pasar Badung Kota Denpasar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 42 orang pekerja anak dengan usia 5-18 tahun yang diambil secara purposive di Pasar Badung Kota Denpasar. Kebiasaan makan diperoleh dengan wawancara menggunakan Food Frequency Questionaire (FFQ). Status gizi diukur secara anthropometri dengan indeks TB/U dan IMT/U yang dinilai menggunakan z-score kemudian diklasifikasikan menurut WHO Reference 2007. Data status kesehatan diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sampel mempunyai kebiasaan makan 3 kali sehari dengan nasi sebagai makanan pokok. Status gizi sampel menurut TB/U terdiri dari 54,8% normal dan 45,2% stunting, sedangkan menurut IMT/U 88,1% normal, 7,1% gemuk dan 4,8% kurus. Sebanyak 64,3% sampel pernah sakit dalam 1 bulan terakhir dengan frekuensi terbanyak 1-2 kali dan 66,7% sampel pernah mengalami kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil penelitian terhadap pekerja anak di Pasar Badung Kota Denpasar, maka dapat disarankan agar pemerintah melakukan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala terhadap pekerja di Pasar Badung khususnya pada pekerja anak yang paling berisiko mengalami masalah kesehatan.
Evaluasi Pelaksanaan Program Jaminan Persalinan Ditinjau Dari Persepsi Pengguna Dan Penyedia Layanan Di Puskesmas Mengwi I Tahun 2012 Adiputra, I Gusti Bagus Wisma
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.863 KB)

Abstract

Program Jampersal diselenggarakan untuk mencapai target MDGs 2015 yakni menurunkan kejadian kematian ibu melahirkan dan kematian bayi. Puskesmas Mengwi I sebagai salah satu unit pelaksana tingkat dasar yang melaksanakan program Jampersal mendapatkan jumlah kunjungan dan penggunaan layanan persalinan berfluktuatif. Karena itu dibutuhkan perhatian lebih terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai persepsi pengguna yang dilihat dari kelima dimensi mutu pelayanan kesehatan, serta persepsi penyedia layanan dilihat dari pelaksanaan program, hambatan, dan dukungan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif crossectional dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitiannya 65 orang penggunayang sedang memanfaatkan pelayanan Jampersal selama waktu penelitianserta 3 orang dari pihak Puskesmasdipilih dengan mengikuti asas kecukupan dan kesesuaian, yang diambil dengan teknik non probability sampling dengan jenis convenience sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam yang kemudian ditranskrip dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima dimensi mutu memiliki persepsi ‘kurang baik’ dengan persentase masing-masing sebesar, penampilan pelayanan 8 orang (12,3%),  dimensi kehandalan 19 orang (29,2%) dimensi ketanggapan 9 orang (13,8%), dimensi kepercayaan 11 orang (16,9%), dan dimensi perhatiansebesar 16 orang (24,6%).Pelayanan Jampersal di Puskesmas Mengwi I merupakan program yang mendapatkan respon yang baik dari segi pengguna maupun tenaga kesehatan.  Dukungan terhadap keberlangsungan program motivasi internal dari petugas dalam bentuk komitmen  untuk memberikan pelayanan yang professional. Hambatan yang muncul kekurangan tenaga non medis untuk mengoptimalisasi program Persepsi baik yang paling rendah adalah kehandalan kinerja petugas yaitu 70,8% dan persepsi baik yang paling tinggi adalah perwujudan pelayanan kesehatan yaitu 87,7%. Pelaksanaan program Jampersal hendaknya dibarengi dengan sosialisasi yang baik dan dilakukan secara menyeluruh kepada pihak manajemen, petugas kesehatan, serta kepada masyarakat/ibu hamil.Harapannya adalah agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi sehingga terjadi kesesuaian antara pelaksanaan di lapangan dengan perencanaan program Jampersal. Dengan demikian tujuan diselenggarakannya program Jampersal dalam upaya menurunkan angka kematian ibu akibat melahirkan dan bayi baru lahir dapat terwujud.
Evaluasi Program Vaksinasi Kanker Serviks Di Kabupaten Badung Tahun 2012 Yuliana, Made Somantari
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.105 KB)

Abstract

Kanker Serviks merupakan jenis kanker terbanyak nomor tiga di kalangan perempuan di dunia setelah kanker payudara. Kanker serviks disebut juga “silent killer” karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 10-20 tahun. Pada tahun 2005, jumlah wanita berusia 15-64 tahun di Indonesia sebanyak 65 juta dan prevalensi kanker serviks adalah 50 per 100.000 perempuan. Di Bali setiap 2 hari ada 3 perempuan meninggal karena kanker serviks. Dengan memperhatikan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Badung melaksanakan tindakan pencegahan penyakit kanker serviks dengan melakukan Vaksinasi HPV sebanyak 1534  siswi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Badung Tahun 2012. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program vaksinasi kanker serviks di Kabupaten Badung tahun 2012. Penelitian ini  adalah suatu evaluasi program dan pengumpulan data dilakukan di seluruh instansi kesehatan dan organisasi profesi serta SMA Negeri terkait program dengan menggunakan kuisioner terstruktur.Hasil penelitian menyatakan bahwa input program vaksinasi kanker serviks telah berjalan dengan baik 69,6% diantaranya adalah baik 100% pada metode, baik 56,5% pada dana, baik 87,0% pada orang yang terlibat dalam program dan sarana dinyatakan baik 60,9%. Proses dinyatakan baik sebesar 52,2% diantaranya baik 91,3% pada Penentuan Sasaran dan tidak baik 56,5% pada Sosialisasi. Output dinyatakan baik sebanyak 87,0%. Secara keseluruhan Program Vaksinasi Kanker Serviks di Kabupaten Badung Tahun 2012 dinyatakan “Baik” sebanyak 69,6 % dan “Tidak Baik” sebanyak 21,7 %. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Badung untuk melakukan pengembangan program pencegahan kanker serviks selanjutnya, khususnya meningkatkan persiapan dalam hal sosialisasi dengan mempertimbangkan penggunaan media sosial dan media elektronik untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks dan cara pencegahannya kaitannya dengan  peningkatan derajat kesehatan dan mengurangi risiko terkena kanker serviks.
Tingkat Pengetahuan Dan Upaya Pencegahan Petugas Kesehatan Terhadap Infeksi Toxoplasmosis Di Kabupaten Badung Prawita, I Gusti Ayu Tia Dewi
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.974 KB)

Abstract

Toxoplasmosis dapat terinfeksi ke manusia dan menimbulkan dampak yang berat pada manusia bahkan dapat menimbulkan kematian. Di wilayah endemik infeksi ini dilaporkan masih ada 55,6% petugas kesehatan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai infeksi toxoplasmosis. Tidak adanya program khusus infeksi toxoplasmosis dari Pemerintah, menyebabkan belum diketahui sejauh mana tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan infeksi toxoplasmosis pada petugas kesehatan. Berdasarkan hal tersebut di Kabupaten Badung dilaporkan prevalensi toxoplasmosis cukup tinggi 41,3% dan di Kabupaten Badung belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan toxoplasmosis pada petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis di Kabupaten Badung. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif crossectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pemegang program P2M, KIA dan PROMKES di puskesmas se Kabupaten Badung sebanyak 36 petugas yang diambil secara Total Sampling Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar petugas kesehatan memiliki tingkat pengetahuan yang kurang terhadap infeksi toxoplasmosis yaitu sebanyak 27 (75%), sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 9 (25%.), sama halnya dengan pengetahuan, upaya pencegahan petugas kesehatan sebagian besar tergolong kurang yaitu sebanyak 20 (55,6%) sedangkan petugas kesehatan yang memiliki upaya pencegahan baik sebanyak 16 (44,4%). Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan petugas kesehatan dengan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis di Kabupaten Badung Disarankan bagi pemerintah diharapkan mengadakan pelatihan kinerja petugas kesehatan mengenai infeksi toxoplasmosis, dan untuk petugas kesehatan diharapkan untuk melakukan upaya pencegahan toxoplasmosis ke masyarakat lebih intensif, serta untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis
Evaluasi Tingkat Kepuasan Masyarakat Pengguna Layanan Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Selatan Tahun 2013 Widartini, Ni Gusti Ayu Putri
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.6 KB)

Abstract

Tingkat partisipasi masyarakat pengguna  Posyandu di Puskesmas I Denpasar Selatan menunjukkan tren menurun pada tahun 2012 bahkan belum memenuhi target cakupan D/S sebesar 75% pada trimester akhir  (September – Desember tahun 2012).  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kepuasan masyarakat pengguna layanan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Selatan. Rancangan penelitian ini adalah  deskriptif cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive sampling terhadap 70 orang yang menggunakan pelayanan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Selatan dari bulan April sampai Mei 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner tingkat kinerja dan tingkat kepentingan dan hasilnya ditabulasi serta dianalisis menggunakan metode analisis tingkat kesesuaian/kepuasan dan analisa diagram kartesius. Dalam penelitian terhadap lima dimensi mutu yaitu penampilan, kehandalan, daya tanggap, jaminan dan perhatian pelayanan, didapatkan hasil rata-rata total persentase tingkat kesesuaian dari lima dimensi mutu sebesar 89,97%.  Item-item di kuadran A atau prioritas utama adalah ketersediaan media penyuluhan, kebersihan Posyandu, tindakan cepat petugas, pengetahuan dan kemampuan petugas memberikan  penyuluhan, serta pengetahuan dan kemampuan petugas memberikan pelayanan kesehatan. Kuadran B atau yang perlu dipertahankan kinerjanya adalah  ketelitian petugas Posyandu melakukan penimbangan balita, memberikan informasi hasil penimbangan, kejelasan informasi yang diberikan, menimbang  balita dengan aman, keramahan, kesabaran petugas,  kader memberikan pelayanan tanpa memandang status sosial.  Kuadran C atau prioritas rendah adalah  kelengkapan alat-alat Posyandu, petugas melaksanakan kegiatan penyuluhan, memberikan informasi jadwal Posyandu, serta pengetahuan dan kemampuan petugas dalam pengisian KMS. Kuadran D atau pelaksanaanya sangat memuaskan dan jauh melampaui harapan pengguna layanan adalah kebersihan penampilan petugas, prosedur penerimaan balita, jadwal pelaksanaan Posyandu dilaksanakan dengan  tepat , dan petugas dalam menyampaikan penghargaan kepada pengguna Posyandu. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengguna layanan sangat puas terhadap kualitas layanan Posyandu namun  masih terdapat item-item dimensi mutu yang perlu ditingkatkan pada pelayanan Posyandu terutama adalah   kemampuan  petugas dalam melakukan  penyuluhan dan ketersediaan  media penyuluhan. Oleh karena itu  Puskesmas I Denpasar Selatan perlu memberikan pelatihan kepada kader dalam  penyuluhan dan  serta meningkatkan ketersediaan media penyuluhan.
Pengetahuan, Sikap Ibu Rumah Tangga Mengenai Infeksi Menular Seksual Termasuk Hiv/Aids Serta Perilaku Pencegahannya Di Kelurahan Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar Tahun 2013 Abhinaja, I G Wiswasa
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.918 KB)

Abstract

Sexual transmitted infections (STIs) and HIV/AIDS is one of health problems worldwide particularly in Indonesia. The case of STIs and HIV/AIDS among housewives is related with the knowledge, attitude, and behavior for prevention. This study aims to gain an overview about housewives’ knowledge, their attitude and behavior for prevention of STIs and HIV/AIDS in Sanur village, South Denpasar 2013. This study used descriptive quantitative technique with a cross-sectional approach. Samples of 87 housewives were selected using systematic random sampling. Data was collected from interviews via questionnaire and then analyzed statistically. The results shows that housewives who have high knowledge were 20.7%, moderate 54% and low 25,3%. Knowledge of STIs is related with education; occupation; respondent spouse’s occupation; and number of information resources with p value of each variables was less than 0,05. The respondents who have good attitude were 32.2% and moderate 67.8%. The attitude about STIs and HIV/AIDS is related with occupation, respondent spouse occupation, and number of source information with p value of each was less than 0,05. In addition, behaviors of prevention were 70.5% of wives had sought the treatment in community health center and 40.9% of wives had invited their husband to do medical checkup. Moreover, the other results show that 61.4% of wives had sex with their husband without condom while they experienced STIs symptoms, 13.8% respondents took antibiotics which were purchased without prescriptions and 10.3% respondents took herbal medicine. Respondents who had conducted medical check up to prevent HIV transmission during pregnancy were 29.4%. It can be concluded that knowledge and attitude of housewives are moderate. It is recommended to increase the education about STIs and HIV/AIDS to housewives and their husbands. Moreover, the content of education should be more focuses on knowledge, types, symptom and prevention of STIs and HIV/AIDS.

Page 1 of 1 | Total Record : 10