Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya"
:
10 Documents
clear
KEMAJUAN INDUSTRI DAN DAMPAK LINGKUNGANNYA DI JEPANG SEBELUM TAHUN 1950
Pangeran Leko Krisno
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3115
Tulisan in bertujuan mengetahui perkembangan industri di Jepang dan dampak lingkungan yang disebabkan olehnya. Di sini diungkapkan bahwa perkembangan indusrti di Jepang yang dimulai pada tahun 1880-an sampai 1950-an menyebabkan terjadinya perusakan lingkungan di Jepang. Perusakan lingkungan ini dapat kita lihat dari dua bencana yakni peristiwa pertambangan tembaga Ashio dan tragedi Minamata. Peristiwa pertambangan tembaga Ashio menyebabkan kerusakan pada hutan di sekitar pertambangan akibat dari asam belerang yang dihasilkan dari proses pemurnian bijih dan debu yang mengandung logam dari asap kilang. Tragedi minamata disebabkan oleh perusahaan industri bernama Chisso, yang membuang hasil limbah industrinya ke Teluk Minamata.
BEBERAPA CATATAN TENTANG SEJARAH NEGARA INDONESIA TIMUR
Bambang Sulistyo
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3109
Sejarah Sulawesi Selatan antara tahun 1945-1950 telah banyak diulas oleh para sejarawan. Namun membaca sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa tidak dengan sendirinya memperkuat integrasi bangsa. Dengan melihat penulisan sejarah tentang Negara Indonesia Timur karya-karya Anak Agung Gde Agung dan karya R.Z. Leirissa menunjukkan adanya beragam penafsiran. Mencerdaskan masyarakat dengan menulis sejarahnya boleh jadi akan memicu disintegrasi bangsa. Oeh karena itu pembelajaran sejarah belum cukup tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran. Makalah ini berupaya membahas karya-karya sejarah Sulawesi Selatan utamanya deskripsi dan pendekatannya, serta pembelajaran sejarah Indonesia, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Atas, agar dapat memperkuat proses integrasi bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
PENTINGNYA MEMAHAMI BENTUK AJAKAN DALAM BAHASA JEPANG BAGI PRAMUWISATA BERBAHASA JEPANG
Kasmawati Kasmawati
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3116
Pemandu wisatawan memilik peranan yang sangat penting dalam memperkenalkan suatu tempat wisata. Seorang pemandu wisata harus memiliki beberapa kemampuan, salah satunya kemampuan di bidang bahasa. Setiap bahasa memilki tata bahasa yang berbeda di tiap negara. Begitu juga dengan bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, bentuk ajakan memiliki bentuk yang berbeda dan makna yang berbeda. Kesulitan dalam menggunakan danĀ memahaminya menjadi masalah yang dihadapi para pemandu wisata berbahasa Jepang utamanya yang memiliki aspek budaya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menggambarkan bentuk-bentuk ajakan yang harus diketahui dan dipahami oleh pemandu wisata berbahasa Jepang yang akan dibagi dalam 3 bentuk yakni shiyou yang berarti mengajak secara bersama-sama dan memaksa, shiyouka yang merupakan ajakan atas dasar keingi nan penutur, dan shinaika yang berfungsi menanyakan apakah petutur mau atau tidak melaksana-kan perbuatan yang diinginkan penutur.
BUDIDAYA DAN PRODUKSI KOPI DI SULAWESI BAGIAN SELATAN PADA ABAD KE-19
Ashabul Kahpi
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3110
Coffee has been known as a commodity by the inhabitants of southern Sulawesi since the 17th century, but its commercial cultivation was only done by the encouragement Dutch colonial government in the upland areas in the directly ruled Governments lands (bergregentschappen) since 1860. Coffee was cultivated in the upland Northern Districts, Bantaeng in the Southern Districts, Bulukumba and Sinjai in Eastern Districts, Selayar Island where coffee was cultivated by the inhabitants in cooperation with the governments officials and village-heads. The cultivated cofffe was exported overseas to countries such as The Netherlands, Singapore, United States, France, Papua Nuginea, Dili Timor, and areas around the Dutch Indies
PROSES PEMAJEMUKAN KATA BENDA DALAM BAHASA JEPANG
Harisal Harisal
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3117
Pemajemukan merupakan proses penggabungan dua buah bentuk dasar atau lebih yang berbeda untuk menghasilkan sebuah kata baru. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pemajemukan kata N+N, N+V, V+N, N+A, dan A+N dalam Bahasa Jepang, dan menuliskan kaedah pemajemukannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Populasi dari penelitian ini adalah kata majemuk Bahasa Jepang yang mengalami pemajemukan dalam koran online AsahiShinbun. Pengambilan sampel dilakukan secara puposive untuk menunjang analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) jika dua kata benda mengalami pemajemukan, akan terjadi dua kemungkinan, yaitu kedua kata benda dapat berupa morfem bebas dan salah satunya dapat berupa morfem terikat, jika terjadi perubahan bunyi alomorf; (2) Saat proses pemajemukan kata benda dan kata kerja terjadi, kata kerja akan mengalami perubahan dan terindikasi menjadi kata benda baik saat berada pada posisi depan maupun posisi belajang; (3) dalam proses pemajemukan kata benda dan kata sifat, jika kata sifat berada di depan kata benda, maka kata sifat akan menjadi morfem bebas, sedangkan jika berada di belakang kata benda, maka akan manjadi morfem terikat.
LAUT YANG MENYATUKAN: MENGUNGKAP RUANG-JEJARING LAUT NUSANTARA
Alex John Ulaen
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3111
Maritime transportation has a role in unifying one coastal area with another and allowing population mobility. The arrivals of various communities, both Indonesians and from overseas in the coastal cities of Sulawesi and Maluku have taken place since five centuries ago. One thing can be noted is that the maritime networks did not only facilitate population mobility but also allowing them to be closer to their new host communities. The concept of merantau (migrating) that is still strong is one reason for national integration. In principle, migrants would not forget their origins even though they adiminstratively registered as citizens of their migration destination areas. The returning-home traditon in every religious holidays would activate shipping and would benefit shipping enterprises which connect one island (port) with another.
BOYCOT JEPANG!: NASIONALISME CINA PERANTAUAN DI MAKASSAR 1915-1937
Heri Kusuma Tarupay
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3118
Gerakan boikot di Makassar tidak lagi menjadi hanya semacam penolakan terhadap tindakan Jepang di Cina, tetapi lebih jauh telah memperlihatkan bentuk pembayangan akan bagian dari kesatuan bangsa Cina yang dibayangkan, dalam ruang lingkup geografis yang berbeda. Jalannya gerakan ini menunjukkan bahwa demi terwujudnya masyarakat yang satu, apapun akan dilakukan untuk membelanya. Sejauh efektifitasnya, gerakan boikot terbilang tidak berjalan dengan efektif, dikarenakan tidak bisa merangkul semua masyarakat Cina di Makassar untuk turut serta. Pengawasan dari pemerintah colonial telah turut memberikan sumbangsih tidak berjalan efektifnya gerakan ini. Gerakan boikot di wilayah koloni, telah menunjukkan bahwa masyarakat Cina dalam kurun waktu tertentu juga melakukan kegiatan politik. Bersamaannya waktu gerakan boikot dan gerakan nasionalis Indonesia bisa saja saling memberikan pengaruh.
BERLOMBA DI DAERAH BERGOLAK: PENYELENGGARAAN PEKAN OLAHRAGA NASIONAL (PON) IV DI KOTA MAKASSAR
Leni Ponne
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3114
Penyelenggaraan PON I yang dilaksanakan di Solo menjadi satu langkah pemerintah Indonesia untuk menyatukan semua wilayah Republik Indonesia. Penunjukan Kota Makassar sebaga tuan rumah PON IV di tahun 1957 bukan hal mudah sebab wilayah ini masih dalam keadaan belum aman. Pemerintah pusat menjadikan Makassar sebagai tuan rumah pelaksana PON IV dengan tujuan untuk menarik perhatian pemuda agar tidak terlibat ke dalam pemberontakan. Perayaan PON IV dilaksanakan di Kota Makassar juga untuk melebur suasana ketegangan di kalangan penduduk. Penyelenggaraan PON IV di Kota Makassar telah diklaim sebagai perayaan olah raga terakbar sepanjang periode tahun 1950an dimana tidak kurang dari delapan belas cabang olahraga dipertandingkan serta sembilan belas daerah ikut serta berlomba. Pada PON IV ini Jakarta Raya tampil sebagi juara umum sedangkan Sulawesi sebagai tuan rumah hanya mampu meraih posisi ke tujuh
PERAN AGAMA DALAM MEMPERKUAT INTEGRASI NASIONAL (DALAM PRESPEKTIF SEJARAH)
Abd. Rasyid Rahman
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3049
Tulisan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peran agam dalam menjaga integritas bangsa, dan menjadi solusi berbagai konflik struktural dan horizontal di berbagai daerah di Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah; penerapan kandungan emosional keagamaan yang melampaui batas, serta meningkatnya pengagungan terhadap suku dan etnik. Tantangan yang harus kita pikirkan bersama adalah merumuskan secara sadar dan tulus mengenai peran nilai-nilai keaga-maan, moral dan etik dalam membina kerukunan, persatuan, kohesi sosial, integrasi nasional, serta ketahanan nasional dalam era globalisasi. Kemitraan umat beragama antar bangsa dan negara perlu dibina dalam kerangka membina ketahanan regional, sebab dengan terciptanya, ketahanan nasional dan ketahanan regional, dalam upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang tertuan dalam pembukaan UUD 1945.
PERSEBARAN KAIN DI INDONESIA BAGIAN TIMUR 1850-1870
Hidayatullah Hidayatullah
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3108
Perdagangan kain di Indonesia bagian timur pada 1850-1870 terbilang sangat ramai untuk beberapa pelabuhan seperti Makassar, Ambon, Banda, Ternate, Manado dan Kupang. Kain datang ke Indonesia bagian timur dibawa oleh pedagang-pedagang dari Kepulauan Timur, India bagian barat, Bengal, Eropa, Amerika dan juga dari Cina, Manila, Siam. Daerah-daerah ini memasokkain dalam jumlah yang sangat besar di setiap pelabuhan. Sementara untuk daerah tujuan ekspor, kain-kain ini ternyata dikirim kembali ke daerah yang mengimpor tadi, namun telah melalui pertu karan komoditas dari daerah lainnya. Kain selama periode perdagangan abad 19 digunakan sebagai alat barter yang paling efektif untuk menukarnya dengan rempah-rempah. Hal lainnya yang menjadikan kain populer di paruh kedua abad 19 adalah kegunaan dari kain itu sendiri yang sangatpenting untuk kelangsungan hidup masyarakat.