Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3 No 1 (2014)"
:
8 Documents
clear
PONDOK PESANTREN MODERN BERBASIS AGROEDUKASI DI KABUPATEN DEMAK
Hartono, Dwi Tri
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
 Pondok pesantren hingga sekarang masih dikenal oleh masyarakat sebagai tempat belajar para santri yang mempelajari atau memahami ilmu pengetahuan agama. Dalam era globalisasi saat ini pondok pesantren seharusnya memiliki trobosan-trobosan baru agar para santrinya mampu bersaing dengan para lulusan umumnya terutama dalam hal akademik. Kabupaten Demak merupakan kota wali, terdapat sekitar 152 pondok pesantren yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Demak yang kebanyakan masih menggunakan cara tradisional dalam sistem pembelajarannya. Untuk meringankan beban orang tua santri, pondok pesantren modern berbasis agroedukasi di Demak melatih para santrinya dengan cara melakukan pelatihan agroedukasi kepada para santri. Pelatihan agroedukasi yang ada antara lain ; pertanian dan peternakan. Metode yang digunakan dalam pembahasan adalah diskriptif analisis yaitu dengan mengumpulkan, menganalisis dan menyimpulkan data yang diperlukan yang berkaitan dengan permasalahan. Pengumpulan data yang dilakukan meliputi data primer dan data sekunder. Konsep yang diambil dalam perancangan pondok pesantren modern berbasis agroedukasi yakni bentuk bangunan yang mencitrakan Demak sebagai kota wali, penampilan bangunan yang memenuhi segi fungsi dan filosofis serta keterkaitan dengan keadaan lingkungan sekitar serta mampu di jual dan bahannya mudah di dapat. Boarding school until now is still known by the public as a place of learning of the students who study or understand the science of religion. In this globalization era boarding school should have a breakthrough-a new breakthrough that his students are able to compete with graduates generally, especially in terms of academic. Demak is a town trustee, there were approximately 152 boarding schools spread across several districts in Demak that most still use the traditional way of learning the system. To ease the burden of parents of students, modern boarding school based in Demak agroedukasi train his students in a way agroedukasi training to the students. Agroedukasi existing training, among others; agriculture and livestock. The method used in the descriptive analysis of the discussion is to collect, analyze and conclude the necessary data related to the problem. The data collection was conducted on the primary data and secondary data. The concept is taken in the design of modern boarding school based agroedukasi portray the shape of the building as a city guardian Demak, the appearance of a building that meets the functionality and philosophical terms as well as linkages with the state of the environment and be able to easily sell and the material in the can.Â
BATIK CENTER DI KOTA SOLO Dengan Penakanan Desain Arsitektur Vernakular
Khamzani, Dani Norma
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat menuju ke era modernisasi, banyak kalangan masyarakat Indonesia khususnya kaum muda bahkan desainer-desainer seni beralih gaya hingga kebudayaan sehari-hari. Muncul fakta bahwa beberapa desainer luar negeri mengagumi hasil asli budaya Indonesia, yaitu tentang âbatikâ. Oleh sebab itu lambat laun khalayak lokal ingin membangun dan melestarikan budaya aslinya sendiri yaitu batik. Didukung apresiasi dari pihak mancanegara berarti kesempatan bagi Negara Indonesia untuk tampil didunia. Oleh karena itu batik harus dilestarikan dengan cara edukasi, memamerkan, dan penjualan eksklusif dengan membangun Batik Center. Membuat batik tidak begitu sulit bagi orang yang memiliki jiwa seni/desainer. Membatik merupakan kegiatan yang memerlukan ketelitian dan imajinasi. Banyak ahli pembatik bersedia memberikan ilmunya bagi mereka yang ingin belajar batik. Oleh karena itu dibutuhkan tempat yang representatif untuk kegiatan belajar membatik. Setelah belajar kemudian hasil akan dipamerkan dan terakhir kegiatan penjualan. Dengan langkah tersebut akan mengangkat derajat bangsa dan negara serta memberikan sisi positif bagi kebudayaan asli bangsa Indonesia. Solo merupakan tempat awal sejarah perkembangan batik yang hingga kini masih terlihat eksistensinya. As the times are so rapidly headed into an era of modernization, many Indonesian society, especially young designers even art style switch to everyday culture. Appears fact that some foreign designers admire native Indonesian culture, which is about "batik". Therefore the local audience wants to slowly build and preserve their indigenous culture itself is batik. Powered appreciation of the foreign country means an opportunity for Indonesia to perform in the world. Therefore batik should be preserved by means of education, exhibit, and exclusive sales by building Batik Center. Making batik is not so difficult for people who have a sense of art / designer. Batik is an activity that requires precision and imagination. Many experts batik willing to give his knowledge to those who want to learn batik. Therefore, it needs a representative to learn batik activities. After learning then the results will be exhibited and last sales activities. With the move would raise the degree of the state and nation as well as providing a positive side to the original culture of Indonesia. Solo is the beginning of the historical development of batik which is still visible existence.Â
YOUTH CENTER DI KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT KEGIATAN PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT KOMUNITAS DI YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN
Saputri, Desi Retnowati
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang terkenal dengan pariwisata, dan seni budayanya. Di dukung dengan adanya sebutan kota pelajar menjadikan provinsi DIY semakin banyak para pendatang yang bertujuan untuk belajar di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Selain bermanfaat untuk pengembangan diri remaja, kegiatan mengisi waktu luang merupakan salah satu cara untuk menghindarkan remaja dari pengaruh buruk yang menjadi sumber masalah kenakalan remaja seperti tawuran, penggunaan obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas. Belum ada tempat khusus bagi para remaja untuk bisa berkreasi dan menggali potensi dalam diri mereka, ada beberapa fasilitas di kota Jogja yang sekarang terbuka untuk umum dan fasilitas yang ada sekarang ini masih terpisah-pisah dan keberadaanya masih kurang memadai dalam menyediakan sarana prasarana untuk menampung kegiatan remaja sesuai bakat dan minat, serta sarana untuk komunitas yang diminati. Perlu adanya sebuah fasilitas bangunan Youth Center dengan berbagai macam fungsi di dalamnya sebagai sarana pembinaan dan pengembangan diri remaja yang beragam sesuai dengan bakat dan minat yang tumbuh dan berkembang di kalangan remaja kota Yogyakarta. Yogyakarta Province is a province famous for its tourism, culture and arts. Boosted by the student city designation makes more DIY provincial migrants aiming to study in the city of Yogyakarta and surrounding areas. Helpful addition to the development of adolescents, spare time activities is one way to prevent teens from bad influences that lead to problems such as fights juvenile delinquency, drug use and promiscuity. There is no special place for the youth to be creative and explore the potential within them, there are few facilities in the city of Yogyakarta is now open to the public and the existing facility is still fragmentary and its existence is still inadequate in providing infrastructure to accommodate activities adolescents according talents and interests, as well as a means for communities of interest. There needs to be a Youth Center building facility with a variety of functions in it as a means of fostering and development of adolescent self that vary according to their talents and interests that grow and develop in teenagers Yogyakarta.Â
MUSEUM SENI KONTEMPORER DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG
Ariefiansyah, Aggi
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kawasan kota lama Semarang adalah salah satu kawasan bersejarah yang mempunyai ruh bangunan bangsa Eropa di kota Semarang. Seni mengalami perubahan pola yang secara kontekstual cenderung bebas dalam berekspresi. Sehingga dinamika tersebut terbentuk dalam format karya seni kontemporer atau kekinian yang senada dengan derap kehidupan aktual masyarakat Indonesia. Semangat pembaharuan sejalan dengan semangat seniman â seniman muda Semarang untuk berkembang di tengah ketiadaan area berekspresi yang dapat dipublikasikan secara luas ke masyarakat awam untuk mendukung perkembangan kawasan kota lama Semarang. Dalam hal ini, museum sebagai generator dan fasilitator dalam usaha-usaha pelestarian kesenian dan sejarah kota lama Semarang dapat menjadi salah satu alternatif bagi usaha peningkatan citra kota Semarang khususnya pada kawasan kota lama Semarang. Meskipun museum lazimnya hanya dikenal sebagai tempat penyimpanan artefak-artefak yang bersifat konkrit dan tangible, bukan tidak mungkin museum juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyimpanan sebuah karya atau ekspresi manusia dan warisan-warisan sejarah yang bersifat intangible. Dengan keunikan sifat ini, museum seni kontemporer dapat menjadi sarana untuk mengenalkan seni yang kekinian (update). Dengan demikian, diharapkan kegiatan seni masyarakat dapat diwadahi lebih dari sekedar sarana komunikasi semata. The old city area of Semarang is one of the historical district that has the spirit of building the European nations in Semarang. Art changes contextually patterns tend to freedom of expression. So that the dynamics of the form in the format of contemporary art or contemporary matching the pace of the actual life of the people of Indonesia. The spirit of renewal in line with the spirit of artists - young artists Semarang to evolve in the absence of an area of expression that can be widely publicized to the general public to support the development of the area of ââthe old city of Semarang. In this case, the museum as a generator and facilitator in the preservation efforts of art and history of the old city of Semarang can be an alternative to efforts to improve the image of the city of Semarang, especially in the old city area of Semarang. Although the museum is usually just known as a storage artifacts that are concrete and tangible, it is not possible museum can also be used as a storage facility or a work of human expression and historical legacies that is intangible. With the uniqueness of this nature, contemporary art museum can be a means to introduce contemporary art (updated). Thus, the expected activities of public art can be contained more than just a mere communication tool.Â
PONDOK PESANTREN MODERN BERBASIS AGROEDUKASI DI KABUPATEN DEMAK
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
 Pondok pesantren hingga sekarang masih dikenal oleh masyarakat sebagai tempat belajar para santri yang mempelajari atau memahami ilmu pengetahuan agama. Dalam era globalisasi saat ini pondok pesantren seharusnya memiliki trobosan-trobosan baru agar para santrinya mampu bersaing dengan para lulusan umumnya terutama dalam hal akademik. Kabupaten Demak merupakan kota wali, terdapat sekitar 152 pondok pesantren yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Demak yang kebanyakan masih menggunakan cara tradisional dalam sistem pembelajarannya. Untuk meringankan beban orang tua santri, pondok pesantren modern berbasis agroedukasi di Demak melatih para santrinya dengan cara melakukan pelatihan agroedukasi kepada para santri. Pelatihan agroedukasi yang ada antara lain ; pertanian dan peternakan. Metode yang digunakan dalam pembahasan adalah diskriptif analisis yaitu dengan mengumpulkan, menganalisis dan menyimpulkan data yang diperlukan yang berkaitan dengan permasalahan. Pengumpulan data yang dilakukan meliputi data primer dan data sekunder. Konsep yang diambil dalam perancangan pondok pesantren modern berbasis agroedukasi yakni bentuk bangunan yang mencitrakan Demak sebagai kota wali, penampilan bangunan yang memenuhi segi fungsi dan filosofis serta keterkaitan dengan keadaan lingkungan sekitar serta mampu di jual dan bahannya mudah di dapat. Boarding school until now is still known by the public as a place of learning of the students who study or understand the science of religion. In this globalization era boarding school should have a breakthrough-a new breakthrough that his students are able to compete with graduates generally, especially in terms of academic. Demak is a town trustee, there were approximately 152 boarding schools spread across several districts in Demak that most still use the traditional way of learning the system. To ease the burden of parents of students, modern boarding school based in Demak agroedukasi train his students in a way agroedukasi training to the students. Agroedukasi existing training, among others; agriculture and livestock. The method used in the descriptive analysis of the discussion is to collect, analyze and conclude the necessary data related to the problem. The data collection was conducted on the primary data and secondary data. The concept is taken in the design of modern boarding school based agroedukasi portray the shape of the building as a city guardian Demak, the appearance of a building that meets the functionality and philosophical terms as well as linkages with the state of the environment and be able to easily sell and the material in the can.Â
BATIK CENTER DI KOTA SOLO Dengan Penakanan Desain Arsitektur Vernakular
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat menuju ke era modernisasi, banyak kalangan masyarakat Indonesia khususnya kaum muda bahkan desainer-desainer seni beralih gaya hingga kebudayaan sehari-hari. Muncul fakta bahwa beberapa desainer luar negeri mengagumi hasil asli budaya Indonesia, yaitu tentang “batikâ€. Oleh sebab itu lambat laun khalayak lokal ingin membangun dan melestarikan budaya aslinya sendiri yaitu batik. Didukung apresiasi dari pihak mancanegara berarti kesempatan bagi Negara Indonesia untuk tampil didunia. Oleh karena itu batik harus dilestarikan dengan cara edukasi, memamerkan, dan penjualan eksklusif dengan membangun Batik Center. Membuat batik tidak begitu sulit bagi orang yang memiliki jiwa seni/desainer. Membatik merupakan kegiatan yang memerlukan ketelitian dan imajinasi. Banyak ahli pembatik bersedia memberikan ilmunya bagi mereka yang ingin belajar batik. Oleh karena itu dibutuhkan tempat yang representatif untuk kegiatan belajar membatik. Setelah belajar kemudian hasil akan dipamerkan dan terakhir kegiatan penjualan. Dengan langkah tersebut akan mengangkat derajat bangsa dan negara serta memberikan sisi positif bagi kebudayaan asli bangsa Indonesia. Solo merupakan tempat awal sejarah perkembangan batik yang hingga kini masih terlihat eksistensinya. As the times are so rapidly headed into an era of modernization, many Indonesian society, especially young designers even art style switch to everyday culture. Appears fact that some foreign designers admire native Indonesian culture, which is about "batik". Therefore the local audience wants to slowly build and preserve their indigenous culture itself is batik. Powered appreciation of the foreign country means an opportunity for Indonesia to perform in the world. Therefore batik should be preserved by means of education, exhibit, and exclusive sales by building Batik Center. Making batik is not so difficult for people who have a sense of art / designer. Batik is an activity that requires precision and imagination. Many experts batik willing to give his knowledge to those who want to learn batik. Therefore, it needs a representative to learn batik activities. After learning then the results will be exhibited and last sales activities. With the move would raise the degree of the state and nation as well as providing a positive side to the original culture of Indonesia. Solo is the beginning of the historical development of batik which is still visible existence.Â
MUSEUM SENI KONTEMPORER DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kawasan kota lama Semarang adalah salah satu kawasan bersejarah yang mempunyai ruh bangunan bangsa Eropa di kota Semarang. Seni mengalami perubahan pola yang secara kontekstual cenderung bebas dalam berekspresi. Sehingga dinamika tersebut terbentuk dalam format karya seni kontemporer atau kekinian yang senada dengan derap kehidupan aktual masyarakat Indonesia. Semangat pembaharuan sejalan dengan semangat seniman – seniman muda Semarang untuk berkembang di tengah ketiadaan area berekspresi yang dapat dipublikasikan secara luas ke masyarakat awam untuk mendukung perkembangan kawasan kota lama Semarang. Dalam hal ini, museum sebagai generator dan fasilitator dalam usaha-usaha pelestarian kesenian dan sejarah kota lama Semarang dapat menjadi salah satu alternatif bagi usaha peningkatan citra kota Semarang khususnya pada kawasan kota lama Semarang. Meskipun museum lazimnya hanya dikenal sebagai tempat penyimpanan artefak-artefak yang bersifat konkrit dan tangible, bukan tidak mungkin museum juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyimpanan sebuah karya atau ekspresi manusia dan warisan-warisan sejarah yang bersifat intangible. Dengan keunikan sifat ini, museum seni kontemporer dapat menjadi sarana untuk mengenalkan seni yang kekinian (update). Dengan demikian, diharapkan kegiatan seni masyarakat dapat diwadahi lebih dari sekedar sarana komunikasi semata. The old city area of Semarang is one of the historical district that has the spirit of building the European nations in Semarang. Art changes contextually patterns tend to freedom of expression. So that the dynamics of the form in the format of contemporary art or contemporary matching the pace of the actual life of the people of Indonesia. The spirit of renewal in line with the spirit of artists - young artists Semarang to evolve in the absence of an area of expression that can be widely publicized to the general public to support the development of the area of ​​the old city of Semarang. In this case, the museum as a generator and facilitator in the preservation efforts of art and history of the old city of Semarang can be an alternative to efforts to improve the image of the city of Semarang, especially in the old city area of Semarang. Although the museum is usually just known as a storage artifacts that are concrete and tangible, it is not possible museum can also be used as a storage facility or a work of human expression and historical legacies that is intangible. With the uniqueness of this nature, contemporary art museum can be a means to introduce contemporary art (updated). Thus, the expected activities of public art can be contained more than just a mere communication tool.Â
YOUTH CENTER DI KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT KEGIATAN PENGEMBANGAN BAKAT DAN MINAT KOMUNITAS DI YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN
Canopy: Journal of Architecture Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Canopy: Journal of Architecture
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang terkenal dengan pariwisata, dan seni budayanya. Di dukung dengan adanya sebutan kota pelajar menjadikan provinsi DIY semakin banyak para pendatang yang bertujuan untuk belajar di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Selain bermanfaat untuk pengembangan diri remaja, kegiatan mengisi waktu luang merupakan salah satu cara untuk menghindarkan remaja dari pengaruh buruk yang menjadi sumber masalah kenakalan remaja seperti tawuran, penggunaan obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas. Belum ada tempat khusus bagi para remaja untuk bisa berkreasi dan menggali potensi dalam diri mereka, ada beberapa fasilitas di kota Jogja yang sekarang terbuka untuk umum dan fasilitas yang ada sekarang ini masih terpisah-pisah dan keberadaanya masih kurang memadai dalam menyediakan sarana prasarana untuk menampung kegiatan remaja sesuai bakat dan minat, serta sarana untuk komunitas yang diminati. Perlu adanya sebuah fasilitas bangunan Youth Center dengan berbagai macam fungsi di dalamnya sebagai sarana pembinaan dan pengembangan diri remaja yang beragam sesuai dengan bakat dan minat yang tumbuh dan berkembang di kalangan remaja kota Yogyakarta. Yogyakarta Province is a province famous for its tourism, culture and arts. Boosted by the student city designation makes more DIY provincial migrants aiming to study in the city of Yogyakarta and surrounding areas. Helpful addition to the development of adolescents, spare time activities is one way to prevent teens from bad influences that lead to problems such as fights juvenile delinquency, drug use and promiscuity. There is no special place for the youth to be creative and explore the potential within them, there are few facilities in the city of Yogyakarta is now open to the public and the existing facility is still fragmentary and its existence is still inadequate in providing infrastructure to accommodate activities adolescents according talents and interests, as well as a means for communities of interest. There needs to be a Youth Center building facility with a variety of functions in it as a means of fostering and development of adolescent self that vary according to their talents and interests that grow and develop in teenagers Yogyakarta.Â