cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Geo-Image Journal
ISSN : 22526285     EISSN : 25490362     DOI : -
Core Subject : Science,
This journal publishes original research and conceptual analysis of geography, geographical mapping science and technology and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2013)" : 19 Documents clear
PERSEPSI MASYARAKAT PENAMBANG TRADISIONAL TERHADAP SUMBER DAYA MINYAK BUMI DI KAWASAN CEPU
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2191

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat penambang tradisional terhadap sumber daya minyak bumi dan dampak penambangan tradisional terhadap kualitas air tanah. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan tambang minyak kawasan Cepu, terutama di Desa Ledok, disebabkan produksi Pertamina dinilai tidak ekonomis. Penambangan tradisional juga mengakibatkan dampak negatif terhadap kualitas air disebabkan oleh residu penambangan. Hasil Penelitian menggambarkan bahwa sebelum adanya penambangan tradisional, masyarakat Desa Ledok cenderung mempertahankan tradisi budayanya. Cara pandang dan pola kehidupan mereka menyesuaikan kondisi sosial budaya dan lingkungan alam. Setelah sumber daya minyak milik Pertamina dikelola secara tradisional masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Proses produksi dilakukan secara gotong royong baik tenaga maupun modal. Kegiatan ini memberikan penghasilan kepada para penambang minimal Rp 350.000 setiap bulan. Kegiatan penambangan minyak tradisional juga menimbulkan pencemaran pada sumur penduduk yang jaraknya dekat dengan sungai. Pencemaran tersebut terlihat dari air sumur yang berbau, berasa, dan berwarna keruh serta nilai TDS, DO, BOD, dan COD air yang melebihi ambang batas pencemaran. This study aims to know the public perception of the traditional miners  about petroleum resources and the impact of traditional mining towards the groundwater quality. Community involvement in the management of the Cepu oil fields, especially in the village of Ledok, caused by the production of Pertamina which not economically. Traditional mining also caused a negative impact on water quality, as residues mining. Research result explains that before the traditional mining, Ledok society tend their cultural traditions. Perspective and life pattern accordance of sociocultural and natural environment. After Pertamina oil resources traditionally managed, community were involved in it. The production process is mutual cooperation with energy as well as financial. These activities provide income to the miners at least Rp 350.000 each month.Traditional oil mining activities also caused contamination the wells that were located close to the river. Contamination is evident from the well water smell, taste, and disturbed color and value of TDS, DO, BOD and COD exceed of the limit contamination.
PENENTUAN LAJU EROSI DAERAH TANGKAPAN HUJAN WADUK WADASLINTANG TAHUN 2004 DAN 2008
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2193

Abstract

Erosi adalah proses terlepasnya material batuan pada lapisan permukaan tanah oleh tenaga kinetik air, angin, es, dan aktivitas manusia. Daerah tangkapan hujan (DTH) Waduk Wadaslintang mengalami perubahan yang relatif dinamis ditinjau dari kondisi penutup lahan dan kondisi iklimnya, sementara pada musim tertentu wilayah tersebut dapat menimbulkan aktivitas erosi yang besar mengingat kondisi fisiografis dan jenis tanah DTH Waduk Wadaslintang peka terhadap erosi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju erosi didaerah tangkapan hujan (DTH) Waduk Wadaslintang tahun 2004 dan 2008. Metode analisis yang digunakan adalah metode gabungan antar Analisis Universal Soile Lose Equations (USLE) dengan Sistem 1nformasi Geografis (SIG). Hasil penelitan menunjukan pada tahun 2004 telah terjadi erosi yang cukup besar dengan nilai erosi sebesar 2.452,93 Ton dengan laju erosi mencapai 0,12 Ton/Ha/Th, sedangkan pada tahun 2008 jumla erosi lebih kecil yaitu sebesar 1.419,47 Ton pada laju erosi 0,07 Ton/Ha/Th. secara umum laju erosi tersebut menghasilkan tingkat erosi mulai dari sangat ringan hingga sangat berat yang tersebar dalam area seluas 19198,05 Ha. Dapat disimpulkan bahwa laju erosi DTH Waduk Wadaslintang mengalami penurunan sebesar 1.033,46 Ton/Ha/Th dalam laju erosi 0,12 dan 0,07 Ton/Ha/Th pada tahun 2004 dan 2008.Erosion is the process of the release of the rock material in the surface layer of the soil by the kinetic energy of water, wind, ice, and human activities. Rain catchment Reservoir Wadaslintang relatively dynamic changes in the review of the condition of land cover and climate conditions, while in certain seasons the region could lead to a major erosion events considering Physiographic conditions and soil types Reservoir Wadaslintang sensitive soil erosion. This study aimed to determine the rate of erosion of the rain catchment area Wadaslintang Reservoir in 2004 and 2008. The method of analysis used is the combination between Universal Analysis Soile Lose Equations (USLE) by Geographic 1nformasi Systems (GIS). Research results in 2004 showed there has been a substantial erosion of the value of 2452.93 tons erosion rate reached 0.12 tons / ha / Th, while in 2008 the quantity of erosion smaller the amount of 1419.47 tons on the erosion rate 0 , 07 tons / ha / Th. general erosion resulted in erosion rates ranging from very mild to very severe, spread in an area of ​​19198.05 ha. It can be concluded that the rate of erosion Wadaslintang reservoir decreased by 1033.46 tons / ha / Th in the erosion rate 0.12 and 0.07 tons / ha / Year in 2004 and 2008.
IDENTIFIKASI TINGKAT KERENTANAN PETANI DI KAWASAN RAWAN GENANGAN BANJIR MELALUI PENDEKATAN SUSTANABLE LIVELIHOODS
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2194

Abstract

Petani merupakan bentuk mata pencaharian yang digeluti oleh mayoritas masyarakat di Desa Bulung Cangkring Kabupaten Kudus. Bencana alam berupa banjir membuat petani di desa tersebut mengalami kondisi krisis, dimana mereka tidak dapat bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menjawab rumusan masalah yang muncul yaitu untuk mengetahui tingkat kerentanan petani dan upaya pemenuhan kebutuhan oleh petani di kawasan rawan genangan banjir. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah semua komponen yang berada di Desa Bulung Cangkring Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Informan dalam penelitian ini adalah petani di Desa Bulung Cangkring. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis secara analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertanian di daerah penelitian masih dalam bentuk pertanian budaya. Kerentanan sumber daya alam yang disebabkan langsung oleh datangnya banjir yang menggenangi lahan pertanian. Pada sumber daya manusia, tingkat pendidikan petani rata-rata masih rendah, yang berdampak pada sifat petani yang sulit diarahkan. Sumber daya keuangan mempunyai kerentanan berupa kurangnya modal yang dimiliki petani untuk menggarap lahan pertanian. Sumber daya fisik tidak terlalu memberikan sumbangan kerentanan kepada petani karena baik aset pribadi maupun umum dinilai baik. Farmers is a form of livelihood cultivated by the majority of the people in the village Bulung Cangkring Kudus District. Natural disasters such as floods make the peasants in the village is experiencing a crisis, where they can not grow crops to make ends meet. The purpose of this study was to answer the research question will be to test the vulnerability of farmers and addressing the needs of farmers in areas prone to flood inundation. The scope of this research is all the components are in the Village District Bulung Cangkring Jekulo Kudus District. Informants in this study is a farmer in the village of Bulung Cangkring. Data were collected through interviews, observation, and documentation. Data were analyzed by analysis of the domain and taxonomic analysis. The results of this study indicate that agriculture in the study area is in the form of agricultural culture. Vulnerability of natural resources caused directly by the flood that inundated farmland. In human resources, the level of education of farmers on average is low, the impact on farmers' properties that are difficult directed. Financial resources in the form of lack of capital has vulnerabilities growers to cultivate agricultural land. Physical resources contributed less susceptibility to farmers because both private and public assets rated as good.
DETEKSI POTENSI KEKERINGAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN KLATEN
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2195

Abstract

Bencana kekeringan di Kabupaten Klaten dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Kurangnya data peta yang menyediakan informasi daerah potensial dilanda kekeringan turut berperan sebagai salah satu faktor penghambat penyelesaian masalah kekeringan. Penggunaan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk mendeteksi daerah berpotensi kekeringan. Data penginderaan jauh berupa citra Landsat 7ETM+ dapat mengidentifikasi kondisi kerpatan vegetasi dan kelembaban permukaan. Kerpatan vegetasi dapat diidentifikasi menggunakan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), sedangkan kelembaban permukaan dapat diidentifikasi menggunakan transformasi Tasseled Cap yang menghasilkan Indeks Kecerahan dan Indeks Kebasahan. Parameter lain seperti curah hujan, kondisi akuifer serta jenis penggunaan lahan merupakan kondisi fisiografis yang berpengaruh terhadap keringan. Data-data tersebut dilakukan penggabungan, pengharkatan dan pembobotan sesuai tingkat pengaruhnya terhadap kekeringan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah berpotensi kekeringan terbesar terdapat di Kabupaten Klaten bagian selatan dan bagian tengah di antaranya: Kecamatan Bayat, Cawas, Wedi, Klaten Utara, Klaten selatan, Klaten Tengah, Kebonarum, Jogonalan dan Prambanan.Drought in Klaten from year to year continues to increase. Lack of data maps that provide information of potential drought-stricken areas contribute as one of the factors inhibiting the drought problem solving. The use of remote sensing data and GIS can be used to detect potential areas of drought. Remote sensing data such as Landsat 7ETM + kerpatan can identify the condition of vegetation and surface moisture. Kerpatan vegetation can be identified using the transformation of NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), while the surface moisture can be identified using the Tasseled Cap transformation that produces brightness index and wetness index. Other parameters such as rainfall, aquifer conditions and the type of land use is a condition affecting Physiographic drought. These data the merger, pengharkatan and weighting appropriate level of influence on the drought. The results of this study indicate that there are potential areas biggest drought in Klaten southern and central parts of which: Sub-Bayat, Cawas, Wedi, Klaten northern, southern Klaten, Central Klaten, Kebonarum, Jogonalan and Prambanan.
UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR PENDUDUK AKIBAT PENURUNAN MUKA AIR SUMUR DI DESA BANJARANYAR KECAMATAN BALAPULANG KABUPATEN TEGAL
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2196

Abstract

Tujuan penelitian ini meliputi: (1) mengetahui kondisi penurunan muka air sumur Desa Banjaranyar; dan (2) mengetahui upaya penduduk dalam memenuhi kebutuhan air akibat penurunan muka air sumur di Desa Banjaranyar. Berdasarkan hasil pengukuran muka air sumur pada bulan Februari dan bulan Agustus, dapat disimpulkan permasalahan penurunan muka air sumur di Desa Banjaranyar disebabkan kondisi kedalaman dasar sumur dari permukaan tanah terlalu dangkal yaitu 2-8 m. Kondisi tersebut menyebabkan penduduk kesulitan mencari air bersih pada musim kemarau. Adapun indikator penurunan muka air sumur Desa Banjaranyar disebabkan penggunaan air penduduk yang sangat tinggi yaitu 144,86 Liter/hari/orang, penggunaan tersebut berada di atas rata-rata kebutuhan air rumahtangga menurut Nurlaela (2010: 26) yaitu 60-70 liter/hari/orang. Apabila hal ini terus dilakukan maka lama kelamaan air sumur di Desa Banjaranyar akan habis pada musim kemarau. Upaya yang dilakukan penduduk dalam memenuhi kebutuhan air akibat penurunan muka air sumur dengan cara membeli air PDAM dengan harga 130.000,00, menguras sumur dengan biaya 50.000,00 sehingga akan menambah beban pengeluaran penduduk ditiap tahunnya, dan penduduk memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air tiap hari dengan resiko terkena penyakit gatal.The purpose of this study include: (1) knowing conditions subsidence face of water wells Banjaranyar Viillage; and (2) knowing community effort in water needs subsidence to water wells effect in Banjaranyar Village. Result by measurement face water wells in Februari month and Agustus month, it can be concluded problem subsidence face of water weels in Banjaranyar Village because condition depth of the weel from ground level very shallows namely 2-8 m. The condition causes people trouble finding water in the dry season. Indicator as for subsidence face water wells Banjaranyar Village cause water consumption of high society namely 144,86 Liter/day/person. The use of is above the average household water demand 60-70 liter/day/person by Nurlaela (2010: 26). If this continues them water wells over exhausted in dry season. Community efforts to meet water needs of water wells effects is buy water taps with prices 130.000,00,drain wells with cost 50.000,00, so it will add to the burden of the expenditure in annually, and people utilize the river water to meet the water needswith the risk of disease itch
EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 – 2031 (UNTUK KECAMATAN GENUK, PEDURUNGAN, DAN GAYAMSARI)
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2198

Abstract

Semarang, salah satu kota perdagangan dan pusat kegiatan perindustrian menengah di Indonesia yang mengalami perkembangan secara signifikan, salah satunya adalah penggunaan lahan pada wilayah kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari. Perlu dilakukan evaluasi penggunaan lahan untuk mengetahui tingkat kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031. Evaluasi penggunaan lahan dilakukan dengan metode analisis data dengan penginderaan jauh, klasifikasi hasil interpretasi penggunaan lahan, analisis kebenaran interpretasi, metode deskriptif untuk memahami dasar-dasar interpretasi meliputi rona, warna, tekstur, bentuk, ukuran, pola, bayangan, situs dan asosiasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan lahan di Kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari masih di dominasi permukiman dengan luas secara berurutan 1053,5059 ha (38,59%), 1456,5470 ha (66,25%), 350,1566 ha (54,41%). Tingkat kebenaran citra Quickbird tahun 2010 diperoleh kebenaran 95,29 % dari 85 titik survei lapangan yang diadakan pada tahun 2012. Dari hasil overlay peta penggunaan lahan tiga Kecamatan tahun 2012 dengan peta RTRW Kota Semarang tahun 2011 – 2031, menghasilkan peta kesesuaian penggunaan lahan tahun 2012 dengan nilai klasifikasi sebagai berikut : lahan sesuai sebesar 3865,930 ha (69,39%), dan lahan tidak sesuai sebesar 1705,616 ha (30,61%).Semarang, a city of trade and industrial center in the middle of Indonesia has developed significantly, one of which is the land use in the districts Genuk, Pedurungan, and Gayamsari. So that the evaluation needs to be done to determine the level of land use suitability of land use on the Spatial Plan of Semarang in 2011 to 2031. The evaluation carried out by the method of land use by remote sensing data analysis, interpretation of classification results of land use analysis, interpretation of truth, descriptive method to understanding the basics of interpretation include hue, color, texture, shape, size, pattern, shadow, site and association. Based on the survey results revealed that the land use in the District Genuk, Pedurungan, and Gayamsari still dominated by the vast settlement 1053.5059 hectares respectively (38.59%), 1456.5470 hectares (66.25%), 350.1566 hectares (54.41%). The degree of truth in 2010 Quickbird image acquired 95.29% correctness of the 85 point field survey conducted in 2012. From the results of the three land-use map overlay district in 2012 with a map of Spatial Plan of Semarang years 2011 to 2031, land use suitability maps produced in 2012 with the value of the following classifications: land suitable for 3865.930 hectares (69.39%), and the land is not suitable for 1705.616 hectares (30.61%).
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG BENCANA ABRASI DENGAN PENANGGULANGANNYA DI DESA BULAKBARU KECAMATAN KEDUNG KABUPATEN JEPARA
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2199

Abstract

Desa Bulakbaru merupakan salah satu desa yang terkena bencana abrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui persepsi masyarakat tentang bencana abrasi Desa Bulakbarau, (2) mengetahui penanggulangan bencana abrasi di Desa Bulakbaru, (3) mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat tentang bencana abrasi dengan penanggulangan bencana abrasi masyarakat Desa Bulakbaru. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Bulakbaru. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, angket, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara persepsi masyarakat tentang bencana abrasi dengan penanggulangannya di Desa Bulakbaru dengan skor persepsi rata-rata 70 (kategori) tinggi dan skor penanggulangan rata-rata 73 (kategori baik). Itu terbukti bahwa tingkat persepsi ikut menentukan penanggulangan masyarakat pada bencana abrasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa: (1) persepsi masyarakat tentang bencana abrasi tinggi, (2) penanggulangan bencana abrasi tergolong baik, (3) antara persepsi tentang bencana abrasi dengan penanggulangan bencana abrasi memiliki hubungan yang kuat.Desa Bulakbaru merupakan salah satu desa yang terkena bencana abrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui persepsi masyarakat tentang bencana abrasi Desa Bulakbarau, (2) mengetahui penanggulangan bencana abrasi di Desa Bulakbaru, (3) mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat tentang bencana abrasi dengan penanggulangan bencana abrasi masyarakat Desa Bulakbaru. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Bulakbaru. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, angket, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara persepsi masyarakat tentang bencana abrasi dengan penanggulangannya di Desa Bulakbaru dengan skor persepsi rata-rata 70 (kategori) tinggi dan skor penanggulangan  rata-rata 73 (kategori baik). Itu terbukti bahwa tingkat persepsi ikut menentukan penanggulangan masyarakat pada bencana abrasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa: (1) persepsi masyarakat tentang bencana abrasi tinggi, (2) penanggulangan bencana abrasi tergolong baik, (3) antara persepsi tentang bencana abrasi dengan penanggulangan bencana abrasi memiliki hubungan yang kuat.Bulakbaru village is one of the affected villages abrasion . The purpose of this study was ( 1 ) to know about the public perception of disaster abrasion Bulakbarau village , ( 2 ) determine the abrasion in the village disaster management Bulakbaru , ( 3 ) determine the relationship between the public perception of the disaster to disaster management abrasion abrasion Bulakbaru villagers . The subjects were Bulakbaru villagers . The sampling technique used is proportional random sampling . Data collection techniques in this study is the observation , questionnaires , and documentation . Methods of data analysis techniques used are correlation analysis . The results showed no association between people's perceptions of disaster mitigation in the village of abrasion with Bulakbaru with perception score an average of 70 ( category ) and high response score an average of 73 ( both categories ) . It was proved that the perceived level of public response will determine the abrasion disaster . So it can be concluded that : ( 1 ) the public perception of high abrasion disaster , ( 2 ) relatively good abrasion disaster management , ( 3 ) the perception of catastrophic disaster abrasion abrasion to have a strong relationship
KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2201

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri. Sebagai pendukung kehidupan terpenting di wilayah pesisir dan kelautan, ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologis, biologis dan ekonomis. Oleh karena itu pengelolaan ekosistem mangrove tersebut tidak lepas dari keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu pengelolaan ekosistem mangrove tersebut tidak lepas dari keterlibatan masyarakat. Populasi dalam penelitian ini yaitu Kepala Keluarga (KK) di Desa Mojo yaitu sebanyak 1963 jiwa dengan sampel sejumlah 97 KK yang dihitung menggunakan metode Slovin. Hasil penelitian menunjukkan 69,7% masyarakat Desa Mojo memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai ekosistem mangrove, untuk persepsi masyarakat mengenai ekosistem mangrove 95% masyarakat memiliki persepsi yang sangat baik, dan 42,5% masyarakat memiliki keterlibatan yang rendah dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Pengetahuan dan persepsi masyarakat yang tinggi pada umumnya dimiliki oleh masyarakat yang tinggal dekat dengan ekosistem mangrove tersebut sehingga berpengaruh pada tingkat keterlibatannya.Mangrove ecosystem is a natural system in place that reflect the ongoing life of the interrelationships between living things with their environment and living beings among themselves. As a supporter of life's most important coastal and marine areas, mangrove ecosystem has the function of ecological, biological and economical. Therefore mangrove ecosystem management can not be separated from community involvement. Therefore mangrove ecosystem management can not be separated from community involvement. The population in this study is the Head of Family (KK) in the village of Mojo as many souls with a sample of 1963 a total of 97 households were calculated using Slovin. The results showed 69.7% villagers Mojo has a high knowledge of the mangrove ecosystem, to the perception of the public about 95% of the mangrove ecosystem has a very good perception, and 42.5% of people have a low involvement in the management of mangrove ecosystems. Knowledge and perception of high society generally owned by people who live close to the mangrove ecosystem that influence the level of involvement.
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN POLA SEBARAN SPASIAL FASILITAS KESEHATAN TERHADAP TINGKAT KEPUASAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KECAMATAN REMBANG
Geo-Image Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v2i2.2211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) ketersediaan fasilitas kesehatan di Kecamatan Rembang?; (2) pola persebaran spasial fasilitas kesehatan di Kecamatan Rembang?; (3) fungsi pelayanan (daya layan) fasilitas kesehatan kepada masyarakat di Kecamatan Rembang?; (4) besar tingkat kepuasan masyarakat di Kecamatan Rembang terhadap pelayanan fasilitas kesehatan yang tersedia?. Hasil penelitian menunjukkan Kecamatan Rembang mempunyai 12 jenis fasilitas kesehatan terdiri dari  Rumah Sakit, Puskesmas, Apotek, Puskesmas Pembantu (PUSTU), Praktek Bidan, Klinik dan BKIA,Praktek Dokter, Toko obat/jamu, dan Posyandu. Desa yang mempunyai fasilitas kesehatan lengkap yaitu Desa Kabongan Kidul sebanyak 8 jenis fasilitas kesehatan atau 7% dari seluruh jenis fasilitas kesehatan per desa, sedangkan desa yang minim fasilitas kesehatannya yaitu Desa Kasreman dengan 1 fasilitas kesehatan 1% dari seluruh jenis fasilitas kesehatan per desa. Sebaran spasial fasilitas kesehatan yang mempunyai pola mengelompok dengan nilai T = 0,00 – 0,70 yaitu praktek dokter, apotek, klinik, dan toko obat/jamu. This study aimed to determine: (1) the availability of health facilities in the District of Rembang?, (2) the pattern of spatial distribution of health facilities in the District of Rembang?, (3) service functions (power serviceability) to the public health facilities in the District of Rembang?, (4 ) the level of community satisfaction in the District of Rembang to health care facilities are available?. Results showed sub ​​Rembang has 12 types of health facilities consist of hospitals, health centers, pharmacies, (pustu), Midwife Practice, Clinical and BKIA, Practice Doctor, Drugstore / herbs, and IHC. Villages have medical facilities complete the Kabongan kidul village as much as 8 types of health facilities or 7% of all health facilities, while rural health facilities lack the Village Kasreman with 1% of health facilities of all types of health facilities. Spatial distribution of health facilities that have a clustered pattern with a value of T = 0.00 to 0.70 which is the practice of physicians, pharmacies, clinics, and drug stores / herbs. Spatial distribution patterns of health facilities that have spread to the value of T = 0.71 to 1.40 ie (pustu), and the Maternal Child Center (BKIA)​​. Spatial distribution of health facilities that have a uniform distribution pattern / spread to the value of T = 1.41 to 2.13 ie hospitals and clinics.

Page 2 of 2 | Total Record : 19