Articles
30 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3 No 2 (2014)"
:
30 Documents
clear
SINTESIS BIOMASSA BULU AYAM TERAKTIVASI NaOH/Na2SO3 APLIKASINYA PENURUN KADAR TEMBAGA LIMBAH ELEKTROPLATING
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3497
Bulu ayam merupakan limbah yang dapat dimanfaatkan keberadaannya karena adanya kandungan keratin. Penelitian ini dilakukan karena ion logam tembaga bersifat karsinogenik sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan serta bertujuan untuk mengetahui bahwa adsorben bulu ayam yang diaktivasi dengan menggunakan NaOH/Na2SO3 dapat digunakan untuk menurunkan kadar ion logam tembaga, mengetahui kapasitas adsorpsinya serta mengetahui pengaruh pH, konsentrasi tembaga, massa adsorben dan waktu kontak jumlah tembaga yang terserap. Variasi pH dilakukan pada pH 3, 5, 7, 9 dan diperoleh hasil pada kondisi pH optimum 5 dengan massa adsorben 0,5 gram yang divariasi dari 0,1; 0,3; 0,5 dan 0,7 gram dengan waktu kontak 80 menit. Kapasitas adsorpsi bulu ayam dalam menyerap ion logam tembaga adalah 38,43 mg/g pada kondisi optimum. Konsentrasi awal limbah setelah dianalisis dengan SSA sebesar 2384,1 ppm. Setelah diadsorpsi menunjukkan hasil konsentrasi akhir logam tembaga sebesar 95,48 ppm dengan presentase hasil adsorpsi sebesar 95%. Bulu ayam yang telah digunakan didesorpsi dengan melarutkannya dalam larutan HCl. Presentase tembaga hasil desorpsi sebesar 98%.
PENGARUH KATALIS H-ZA DAN TCA-ZA DALAM REAKSI HIDRASI α-PINENA MENJADI α-TERPINEOL
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3498
Minyak terpentin Indonesia mengandung 65-85% α-pinena, kurang 1% kamfena, 1-3% β-pinena, 10-18% 3-carena dan 1-3% limonena. Untuk meningkatkan nilai ekonomisnya, α-pinena dapat dihidrasi menggunakan katalis asam menjadi α-terpineol yang dapat digunakan sebagai bahan parfum, anti serangga, anti jamur, dan desinfektan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jumLah katalis zeolit alam teraktivasi dan TCA-ZA yang diperlukan dalam reaksi hidrasi α-pinena. Reaksi hidrasi dilakukan menggunakan dua jenis katalis yaitu zeolit alam teraktivasi (H-ZA) dan H-ZA yang diemban dengan asam trikloroasetat (TCA-ZA) dan melakukan variasi jumLah katalis sebesar 200 mg, 400 mg, dan 600 mg. Reaksi ini dilakukan dalam labu alas bulat leher tiga dilengkapi dengan pemanas, termometer, dan pengaduk magnet selama 120 menit pada suhu 70-750C. Senyawa hasil reaksi diuji menggunakan IR, GC, dan GC-MS. Kondisi paling maksimum terjadi pada reaksi dengan katalis TCA-ZA sebanyak 600 mg yang menghasilkan senyawa α-terpineol sebesar 58,27%.
SINTESIS α-TERPINEOL MELALUI REAKSI HIDRASI α-PINENA MENGGUNAKAN KATALIS ZEOLIT ALAM TERAKTIVASI
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3499
Studi tentang pengaruh waktu reaksi hidrasi α-pinena dan variasi penambahan volume air telah dipelajari dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu hidrasi yang paling baik dan penambahan volume air yang paling baik dalam reaksi hidrasi α-pinena menghasilkan α-terpineol. Katalis yang digunakan yaitu H-zeolit. Aktivasi katalis dilakukan dengan metode penambahan larutan asam dan kalsinasi. Tujuan dari penambahan larutan asam antara lain untuk menghilangkan pengotor, dealuminasi, dan memasukkan NH4 sebagai pengganti mineral dalam zeolit. Sedangkan kalsinasi bertujuan untuk menguapkan NH3 sehingga hanya menyisakan H-zeolit. Angka asam zeolit alam yang diperoleh adalah 0,1166 mol/gram diperoleh dengan mengaliri dengan gas piridin.Reaksi hidrasi α-pinena menggunakan katalis zeolit alam dengan suhu 70-75oC dan volume air 2,5 mL. Diambil cuplikannya pada 30, 60, dan 90 menit. Kemudian, pada waktu 90 menit, dilakukan variasi penambahan air 1,25 mL dan 5 mL. Hasil akhir diuji dengan spektrofotometer Inframerah (IR), kromatografi gas (GC) dan GC-MS, kadar α-terpineol paling banyak pada waktu 90 menit dan penambahan 2,5 mL air yakni sebesar 59,49%.
UJI STABILITAS PIGMEN DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK ZAT WARNA ALAMI KULIT BUAH NAGA
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3500
Zat pewarna alami yang berpotensi untuk diekstrak adalah kulit buah naga (Hylocereus undatus). Ekstraksi antosianin dilakukan menggunakan pelarut air, asam asetat, dan asam sitrat. Penelitian ini bertujuan mencari pelarut yang tepat untuk ekstraksi dan mengetahui stabilitas pigmen antosianin, yang meliputi tiga tahap. Tahap I adalah ekstraksi zat warna merah kulit buah naga dengan pelarut air, asam asetat 10%, dan asam sitrat 10%. Tahap II, stabilitas pigmen antosianin terhadap pengaruh pH, suhu, lama penyinaran dan aplikasi sirup buah naga putih. Tahap III, penghitungan aktivitas antioksidan dalam ekstrak antosianin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah pada ekstraksi menggunakan pelarut asam sitrat 10% menghasilkan ekstrak warna merah dengan kadar antosianin 8,3556 mg/100gr dan stabilitas tertinggi selama 7 hari. Ekstrak warna stabil pada kondisi pH 2 – 5, namun terjadi penurunan pada pemanasan sampai suhu 80 ˚C dan penyinaran suhu tinggi. Aplikasi sirup buah naga menghasilkan pH 3,89 dan aktivitas antioksidan sebesar 76,71%.
PENGGUNAAN AIR LAUT SEBAGAI KOAGULAN UNTUK MENURUNKAN KADAR Pb DAN INTENSITAS WARNA
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3501
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menurunkan kadar Pb dan intensitas warna dalam air sumur gali di sekitar TPA Jatibarang Semarang menggunakan air laut sebagai koagulan. Air sumur gali yang mengandung Pb dicampur dengan air laut sebagai koagulan dengan volume 10, 12, 14, 16, 18 mL masing-masing dikondisikan pada pH 2, 6, dan 8, sedangkan intensitas warna, air sumur yang berwarna dicampur air laut dengan volume 10, 20, 30 ,40 ,50 mL. Kemudian diaduk menggunakan flokulator jar test dengan kecepatan 100 rpm selama 25 menit dan membentuk dua bagian yaitu endapan dan filtrat. Filtrat yang didapat dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer AAS dengan panjang gelombang 283, 3 nm untuk kadar Pb dan colourimeter untuk intensitas warna. Kondisi terbaik untuk menurunkan kadar Pb adalah pada volume air laut sebanyak 16 mL pada pH 8 dan untuk menurunkan intensitas warna pada air sumur gali adalah pada volume air laut sebanyak 50 mL.
PENGOLAHAN LIMBAH SERBUK GERGAJI KAYU SENGON LAUT MENJADI BIOETANOL MENGGUNAKAN Saccharomycess cerevisiae
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3502
Kayu sengon laut merupakan komoditi kayu yang luaspenggunaannya. Hanya sekitar 60-70% kayu yang diolah menjadi produk pada proses pengolahannya.Limbah berupa serbuk gergaji merupakan salah satu limbah lignoselulosa yangmengandung 67,94% selulosa. Selulosa berpotensi sebagai bahan baku produksi bioetanol melalui proses delignifikasi, hidrolisis dan biokonversi oleh mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu terbaik pada hidrolisis dan fermentasi selulosa serbuk gergaji kayu sengon laut. Proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 0,01M dan proses hidrolisis selulosa dilakukan dengan HCl 12% pada suhu 110ºC selama variasi waktu 30, 60, 90 dan120 menit, serta fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan variasi waktu 7, 9, 11 dan 13 hari. Waktu terbaik pada proses hidrolisis adalah 60 menit dengan glukosa yang dihasilkan sebesar 12,3125 ppm. Kadar bioetanol tertinggi dicapai pada waktu fermentasi 9 hari yaitu sebesar 2,9990%. Kadar bioetanol meningkat dengan penambahan sukrosa sebanyak 1 g/l yaitu menjadi 7,3644%.
PEMANFAATAN ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN ECENG GONDOK UNTUK MENURUNKAN KADAR BOD DAN COD
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3503
Salah satu metode penurunan nilai BOD dan COD pada air sumur gali adalah dengan adsorpsi menggunakan arang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan optimal komposisi arang tempurung kelapa dan eceng gondok, optimasi waktu aktivasi arang dan kecepatan pengadukan terhadap penurunan nilai BOD dan COD dalam air sumur gali di Desa Panjangan Kecamatan Ngaliyan, Semarang Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variasi waktu aktivasi arang terjadi penurunan nilai BOD dan COD maksimal sebesar 98,74% dan 98,61% yakni pada waktu aktivasi 48 jam. Penurunan maksimal nilai BOD dan COD pada variasi berat campuran aktivasi arang sebesar 98,81% yakni pada perbandingan arang aktif tempurung kelapa dan eceng gondok sebesar (2 gram : 4 gram), sedangkan penurunan maksimal nilai BOD dan COD pada variasi kecepatan pengadukan sebesar 97,93% dan 97,97% yakni pada kecepatan pengadukan 250 rpm. Penurunan maksimal nilai BOD dan COD pada variasi waktu pengadukan sebesar 98,98% dan 98,86% yakni pada waktu pengadukan 5 jam.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK LIMBAH BIJI MANGGA DENGAN PENAMBAHAN SELULOSA DAN GLISEROL
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3504
Meningkatnya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari mengakibatkan pencemaran lingkungan. Plastik sintetis sulit terdegradasi di alam sehingga diperlukan bahan utama pembuatan plastik ramah lingkungan yaitu pati. Pati diperoleh dari biji mangga dibuat plastik biodegradable ditambahkan selulosa alami dan gliserol untuk memperbaiki sifat fisik dan mekanik plastik. Bioplastik dibuat dari pati-aquades 1:20 ditambahkan gliserol 15%, 20%, 25%, 30% dan 35%. Lalu bioplastik ditambahkan selulosa pada komposisi pati:selulosa 8:2 dan gliserol 15%, 20%, 25%, 30% dan 35%. Sampel dilakukan uji kuat tarik sehingga diperoleh hasil optimal pada komposisi pati:selulosa 8:2 dengan penambahan gliserol 15%. Kemudian dilakukan variasi komposisi pati:selulosa 6:4, 7:3 dan 9:1 ditambah gliserol 15%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan plastik biodegradable berupa lembaran berwarna kecoklatan. Bioplastik pati-selulosa (8:2) pada penambahan gliserol 15% menghasilkan plastik terbaik nilai kuat tarik sebesar 6,2551 MPa, elongasi 13,433%, hidrofobisitas 81,766% dan perkiraan waktu terdegradasi 26 hari 1 jam. Lalu dilakukan pengujian gugus fungsi menggunakan FTIR pada sampel.
SINTESIS PLASTIK BIODEGRADABLE DARI KULIT PISANG DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN PLASTICIZER GLISEROL
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3505
Limbah plastik merupakan masalah lingkungan dikarenakan plastik sulit terdegradasi. Plastik biodegradable menjadi salah satu solusinya. Pati merupakan polimer alami yang dapat digunakan untuk produksi plastik biodegradable karena sumbernya melimpah, dapat diperbaharui dan mudah terdegradasi misalnya kulit pisang raja. Namun plastik biodegradable dari pati memiliki sifat yang kurang elastis dan bersifat hidrofilik sehingga perlu ditambahkan bahan tambahan lain untuk meningkatkan karakteristik mekaniknya. Penambahan plasticizer dengan maksud meningkatkan elastisitas untuk memperlemah kekakuan dari polimer, misalnya gliserol. Serta penambahan aditif lain seperti kitosan, karena kitosan yang memiliki sifat hidrofob sehingga dapat mengurangi sifat hidrofiliknya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mensintesis platik biodegradable dari limbah kulit pisang raja dengan penambahan gliserol dan kitosan serta karakteristiknya.Dari hasil penelitian diperoleh plastik berupa lembaran tipis berwarna cokelat (film plastik) yang telah diuji sifat mekaniknya sehingga didapatkan kondisi terbaik yaitu formulasi pati-kitosan 6:4 g/g  adalah pada konsentrasi plasticizer gliserol 15 % dengan kekuatan tarik 12,36 Mpa, persen elongasi 2,3 % dan persen air terserap 20,75%.
PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK PLASTIK BIODEGRADABLE PEKTIN LIDAH BUAYA
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/ijcs.v3i2.3506
Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan plastik biodegradable dari pektin lidah buaya dan gliserol sebagai plasticizer dengan bahan tambahan kitosan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat tarik plastik biodegradable dengan gliserol sebagai plasticizer dan mengetahui karakteristik plastik biodegradable dari pektin lidah buaya dengan penambahan kitosan. Gliserol yang ditambahkan divariasi 20, 25, 30Â dan 35% dari massa pektin yang digunakan. Hasil kuat tarik terbaik pada penambahan gliserol 20% sebesar 5,88 Mpa. Hasil tersebut kemudian digunakan untuk formulasi plastik dengan penambahan kitosan. Pada formulasi selanjutnya ditambahkan kitosan 2%Â dengan variasi tanpa penambahan kitosan, 5, 10,15 dan 20 mL. Penambahan kitosan 20 mLÂ yang memiliki kuat tarik terbaik sebesar 12,06 Mpa, uji ketahanan air sebesar 11,05% , elongasi terbaik pada plastik yang tidak ditambahkan kitosan sebesar 11,43%, uji biodegrability terbaik pada plastik yang tidak ditambahkan kitosan sebesar 77,28%. Plastik biodegradable yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi gugus fungsi menggunakan FT-IR terdapat O-H karboksil, gugus N-H amina sekunder, C-H alkana, C=O karbonil dan C-O ester sehingga bahan bioplastik merupakan bahan yang mudah terdegradasi karena bahan penyusunnya merupakan senyawa organik.