cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AKULTURASI (JURNAL ILMIAH AGROBISNIS PERIKANAN)
ISSN : 23374195     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)" : 7 Documents clear
DAMPAK KEBIJAKAN MORATORIUM TERHADAP INDUSTRI PERIKANAN (STUDI KASUS KOTA BITUNG) Pangemanan, Ovin Valentia Liana; Mantjoro, Eddy; Jusuf, Nurdin
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13401

Abstract

Abstract Bitung city has been long recognized as the largest fishing base in North Sulawesi. It means that the marine natural resources are available enough to support the economic activities of the fishing base. At the on of 2014, the Ministry of Marine Affair and Fisheries enacted several regulation which is called Moratorium Policy. In general, the content of such policy is to suspend several fishing industry activities such as to prohibit fishing vessels beyond 30 GT to fish and the transshipment of catch from fishing boat to transport vessel. The enactment of this policy causing social disorder in several area of Indonesia including North Sulawesi Province. About 9.000 people whose working on fishing boat and fish processing factories. This was thought as the problem which demanding scientific study to clarify whether the economical disharmony in this area is truly caused by the moratorium policy or any other causes. The research has been performed on Bitung fishing base along the period of May to July 2015. The results indicated that the moratorium policy become the major cause of disharmony of fishing industry in the area. In other words, the policy cause social disorder at least within the fishing industry community. Keywords : Moratorium Policy, Fishing Industry, Social Disorder. Abstrak Kota Bitung telah sejak lama diakui sebagai kota industri perikanan terbesar di Provinsi Sulawesi Utara. Ini berarti bahwa sumber daya alam kelautan cukup tersedia untuk mendukung kegiatan ekonomi pada industri perikanan. Pada akhir tahun 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberlakukan beberapa peraturan yang disebut Kebijakan Moratorium. Secara umum isi dari kebijakan tersebut adalah memberhentikan beberapa kegiatan industri perikanan seperti melarang kapal – kapal asing di atas 30 GT, pelarangan alih muatan dari kapal penangkap ke kapal pengangkut. Diberlakukannya kebijakan ini menyebabkan masalah sosial di beberapa wilayah Indonesia termasuk Provinsi Sulawesi Utara. Sekitar 9.000 pekerja baik di kapal maupun pegawai pabrik perikanan dirumahkan. Hal ini dianggap sebagai masalah yang menuntut penelitian ilmiah untuk mengklarifikasi apakah ketidakharmonisan ekonomi di Kota Bitung disebabkan oleh kebijakan moratorium atau ada penyebab lain. Penelitian ini dilakukan di Kota Bitung pada bulan Mei – Juli 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan moratorium menjadi penyebab utama industri perikanan di Kota Bitung goyah. Dengan kata lain, kebijakan ini menyebabkan masalah sosial dalam masyarkat industri perikanan. Kata kunci : Kebijakan Moratorium, Industri Perikanan, Masalah Sosial
IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI USAHA BUDIDAYA JARING APUNG DI KECAMATAN TONDANO SELATAN KABUPATEN MINAHASA Sasue, Wiratama M.; Mantjoro, Eddy; Kotambunan, Olvie V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13313

Abstract

Abstract Traditionally, Pond Fish Culture are common found in several area of North Sulawesi. However, floating net fish culture still rare and just developing in 4 recent years. It is therefore, attracting attention to make a study on its way of management. The first step is to perform identification and classification of business, whether remain subsistence or developed to be an industrial ways of management. Fieldwork based on case study have been performed in two villages respectively Paleloan and Urongo of South Tondano District, Minahasa regency. It is identified that the floating net fish culture were managed on commercial artisanal basis rater than of subsistence. The business of fish culture was identified as of household unit of management and classified as of small scale fishery. It is seems however there is a possibility will develop towards industrial system of management. This is because the business activity was motivated by commercial needs rather than of subsistence one. Keywords: Floating net, Fish culture, Identification, Classification Abstrak Secara tradisional, kolam budaya ikan yang umum ditemukan di beberapa daerah Sulawesi Utara. Namun budidaya ikan jaring apung masih jarang dan hanya berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, menarik perhatian untuk membuat sebuah studi dalam perjalanan manajemen. Langkah pertama adalah untuk melakukan identifikasi dan klasifikasi bisnis, apakah tetap subsisten atau dikembangkan oleh industri manajemen. Kerja lapangan studi kasus telah dilakukan di dua Kelurahan masing-masing Paleloan dan Urongo Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa. Hal ini di identifikasi bahwa budidaya ikan jaring apung yang dikelola berdasarkan usaha komersial dari pada subsistensi. Usaha budidaya ikan dalam jaring apung di identifikasi sebagai unit rumah tangga dan di klasifikasikan sebagai perikanan skala kecil. Ada kemungkinan usaha ini bisa dikembangkan ke arah sistem industri manajemen. Hal ini kelihatan karena kegiatan usaha didorong oleh kebutuhan komersial dan bukan dari satu subsistensi. Kata kunci: Jaring apung, budaya Ikan, Identifikasi, Klasifikasi
ANALISIS KEBERHASILAN USAHA KELOMPOK NELAYAN PENERIMA BANTUAN JARING PAJEKO (PURSE SEINE) DI DESA DALUM KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULUAN TALAUD Dalope, Merlianti; Rarung, Lexy K.; Pontoh, Otniel
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13402

Abstract

Abstract This study analizes the success of the fishermen group’s venture as purse seine (pajeko) aid recipient in Dalum village salibabu sub district talaud island regency. This research is intended to study how this fishermen group, which is situated in Dalum village, and as purse seine aid recipient could success in their venture and looking at it from social and economic condition of the members of this fishermen group before before and after receiving the aid package, also about their organizational structure business management, capital, manpower, the yield of fish caught, marketing and product-sharing system. Based on the results of this studi, the social and economic condition of the above mentioned fishermen group’s members before and after receiving the aid package were already good. Since accordiny to engel index is 78,84% for food and fishermen rate of exchange (NTN) is around figure one (NTN=1), that is, 1,5 as still having remainder of income and the spending per month as much as 423,375 IDR. While after receiving the aid package, the member of the fishermen group as aid recipient having 59,59% of engel index for food and fisherman rate of exchange (NTN) around figure one (NTN=1), that is 1,8. This has been categorized as having quite good level of prosperity because one has been able to meet his/her daily livelihood and will have the potential of consuming secondary needs or even to save money with the rest of his income and monthly spending as much as 1.395.000 IDR Key words : fishermen group, the aid of purse seine (pajeko), Dalum village Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang analisis keberhasilan usaha kelompok nelayan penerima bantuan jaring pajeko (purse seine) di Desa Dalum Kecamatan Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana keberhasilan kelompok nelayan penerima bantuan jaring pajeko (purse seine) di Desa Dalum yang dilihat dari kondisi sosial dan ekonomi anggota kelompok nelayan sebelum dan sesudah menerima paket bantuan, struktur organisasi, manajemen usaha, modal, tenaga kerja, hasil tangkapan, pemasaran dan sistim bagi hasil. Berdasarkan hasil penelitian kondisi sosial dan ekonomi anggota kelompok nelayan sebelum dan sesudah menerima paket bantuan sudah baik karena dari hasil analisis Indeks Engel sebelumnya adalah 78,84% untuk makanan dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada disekitar angka satu (NTN=1), yaitu 1,5 dan mempunyai sisa pendapatan dan pengeluaran per bulan sebesar Rp. 423.375, sedangkan setelah menerima paket bantuan anggota kelompok nelayan penerima bantuan memiliki Indeks Engel 49,59% untuk makanan dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada disekitar angka satu (NTN=1), yaitu 1,8, ini sudah tergolong mempunyai tingkat kesejahteraan yang cukup baik karena mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan subsistensinya dan mempunyai potensi untuk mengkonsumsi kebutuhan sekunder atau bahkan menabung (saving) dengan sisa pendapatan dan pengeluaran per bulan sebesar Rp. 1.395.000. Kata kunci : Kelompok Nelayan, Bantuan Jaring Pajeko, Desa Dalum
KAJIAN MATA PENCAHARIAN PENDUDUK DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEBERADAAN SUMBER DAYA LAUT DI KELURAHAN BUNAKEN KECAMATAN BUNAKEN KOTA MANADO Pontoh, Otniel
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13381

Abstract

Abstract This study was conducted to determine the level of use of marine resources in the waters of Bunaken by residents of the surrounding villages. The occupation of the village has been exploiting the natural resources of the sea as a source of livelihood for their survival. This study uses a case study to illustrate (collect, describe, express, to explain in detail the activities of the community in exploiting marine resources). Bunaken villagers numbering 2598 inhabitants come from 531 households. The number of fishermen 695 people (70.7%). Fishing gear they use are different types of nets or soma pajeko (small puse seine), paka-paka, landra (gill-net) and rarape (beach seine). Likewise, trolling equipment, Noru, Funae, kites and darts (Jubi-Jubi). Outboard motor is a type of transport used to go to sea, but some are not. Results obtained from the fish traditional fishing businesses that still only enough to meet their daily needs and if there are fewer, sold to buy other necessities. Besides fishing, fishermen and other residents are farmers, artisans, small traders, construction workers, selling services, and so forth. Fishing effort is still traditional because the level of resource utilization is still low. It can be concluded that the occupation of the village of Bunaken low utilization rate, so that a positive effect on the condition of a sustainable resource. Keyword: livelihood, residents, fishermen, marine resources, Bunaken Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menentukan tingkat pemanfaatan sumber daya laut di perairan desa Bunaken oleh penduduk sekitarnya. Pendudukan desa selama ini mengeksploitasi sumber daya alam dari laut sebagai sumber mata pencaharian untuk kelangsungan hidup mereka. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus guna menggambarkan (mengumpulkan, mendeskripsikan, mengungkapkan, untuk menjelaskan secara detail aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya laut). Penduduk desa Bunaken berjumlah 2598 penduduk berasal dari 531 kepala keluarga. Jumlah nelayan 695 orang (70,7%). Alat penangkapan ikan yang mereka gunakan ialah berbagai jenis jaring atau soma pajeko (small puse seine), paka-paka, landra (gill-net) dan rarape (pukat pantai). Demikian juga peralatan trolling, noru, funae, layang-layang dan panah (jubi-Jubi). Motor tempel merupakan jenis transportasi yang digunakan untuk melaut, namun ada juga yang tidak. Hasil yang diperoleh dari ikan hasil tangkapan usaha perikanan yang masih tradisional hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan jika ada lebih sedikit, dijual untuk membeli kebutuhan lainnya. Selain memancing, nelayan dan warga lainnya adalah petani, pengrajin, pedagang kecil, pekerja konstruksi, menjual jasa, dan sebagainya. Usaha penangkapan ikan yang masih tradisional menyebabkan tingkat pemanfaatan sumber daya masih rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendudukan Desa Bunaken rendah tingkat pemanfaatan, sehingga berpengaruh positif pada kondisi sumber daya lestari. Kata kunci: mata pencaharian, penduduk desa, nelayan, sumber daya kelautan, Bunaken
MANAJEMEN USAHA IKAN CAKALANG ASAP DI KELURAHAN GIRIAN BAWAH KECAMATAN GIRIAN KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA Kairupan, Dewinta; Jusuf, Nurdin; Londong, Florence V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13403

Abstract

Abstract Bitung city consists of 8 sub-districts and 69 villages, Girian Bawah Satu village under some people have a job that is entrepreneurship. Business activities are producing smoked tuna; these efforts are made to develop the processing of fish that meets the needs of the family, and create additional jobs for the local community. This study aims to determine the business management of tuna smoked, knowing the marketing chain, workforce and how the remuneration, and analyzing the feasibility of smoked tuna. Data collection techniques used in this study is the Census is a business owner smoked tuna in the Girian Bawah village totaled 10 business owners. Results showed generally smoked tuna business in the Lower Girian Bawah village still in the stage of "home industry". Management used to be very simple. Marketing in traditional markets and supermarkets. The processing of tuna smoked an average of seven times a month the number of the fish is processed daily 300 kg to 500 kg. This can be said to be well worth the effort because of the acquisition value of the benefit cost ratio of 1.34 times. Keywords: management, marketing, business. Abstrak Kota Bitung terdiri dari 8 Kecamatan dan 69 Kelurahan, salah satunya Kelurahan Girian Bawah beberapa masyarakatnya memiliki pekerjaan yaitu berwirausaha. Kegiatan usahanya adalah memproduksi ikan cakalang asap, usaha ini dilakukan untuk mengembangkan proses pengolahan ikan sehingga memenuhi kebutuhan keluarga, dan menciptakan lapangan kerja tambahan bagi masyarakat sekitar.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui manajemen usaha ikan cakalang asap, mengetahui rantai pemasaran, tenaga kerja dan cara pengupahan, dan menganalisis kelayakan usaha ikan cakalang asap.Teknik pengambilan data digunakan dalam penelitian ini adalah Sensus yaitu pemilik usaha ikan cakalang asap di Kelurahan Girian Bawah berjumlah 10 pemilik usaha. Hasil menunjukkan bahwa usaha ikan cakalang asap di Kelurahan Girian Bawah masih dalam tahap “Home Industry”. Manajemen yang digunakan masih sangat sederhana. Pemasarannya di pasar tradisional dan supermarket. Proses pengolahan ikan cakalang asap yang dilakukan oleh pemilik usaha rata-rata 7 kali sebulan, dimana dalam sehari banyaknya ikan yang diolah oleh pemilik usaha bervariasi antara 300 kg sampai 500 kg. Usaha ini dapat dikatakan layak karena perolehan nilai benefit cost ratio1,34 kali. Kata kunci: Manajemen, Pemasaran, Usaha
ANALISIS SENSITIVITAS USAHA BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI DESA TATELU KECAMATAN DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA Japsamsah, Christy Indrisuwarni; Dien, Christian R.; Andaki, Jardie A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13400

Abstract

Abstract This research and study aims to identify and analyze the constraints on farming Tilapia fish. With this study, fish farmers in Tatelu village are expected to be able to avoid obstacles that could occur in the future and be able to know how feasible the Tilapia fish farming in Tatelu village when confronted with such obstacles. The feasibility analysis results of the Tilapia fish farming in the Tatelu village with NPV value (185.492.052,61), IRR (109,99%), and B/C Ratio (1,49), which means the business is feasible to run. The sensitivity analysis results on the component cost reduction and decrease in production at a rate of 5; 10; 15% have not affected the eligible value of NPV, IRR and B/C Ratio. The decline in prices as well as production at a rate of 34% led to the cultivation of Tilapia fish in the Tatelu village is not feasible. While the sensitivity analysis on the increase in fixed costs and variable costs at a rate of 5; 10; 15% have not affected the eligible value of NPV, IRR, and B/C Ratio. Increased fixed costs do not have a significant impact on business continuity and the increase in variable costs 54% could affect the continuity of farming. Key words : constraint, fish farmer, eligible value, sensitivity analysis Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala-kendala pada usaha budidaya ikan nila dan menganalisis kendala-kendala pada usaha budidaya ikan nila. Penelitian ini diharapkan para petani ikan di desa Tatelu dapat menghindari kendala-kendala yang dapat terjadi dikemudian hari dan dapat mengetahui budidaya ikan nila di desa Tatelu seberapa layak untuk tetap dilaksanakan saat dihadapkan pada kendala-kendala usaha budidaya. Hasil analisis kelayakan usaha budidaya ikan nila di desa Tatelu dengan nilai NPV (185.492.052,61), IRR (109,99%), dan B/C Ratio (1,49) sehingga usaha ini layak untuk dijalankan. Hasil analisis sensitivitas pada komponen penurunan biaya dan penurunan produksi pada tingkat 5 ; 10 ; 15% belum mempengaruhi nilai NPV, IRR dan B/C Ratio yang layak. Penurunan harga dan penurunan produksi pada tingkat 34% menyebabkan usaha budidaya ikan nila di desa Tatelu menjadi tidak layak untuk dijalankan. Sedangkan analisis sensitivitas pada kenaikan biaya tetap dan biaya variabel pada tingkat 5 ; 10 ; 15% belum mempengaruhi nilai NPV, IRR dan B/C Ratio yang layak. Peningkatan biaya tetap tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap kelangsungan usaha dan peningkatan biaya variabel 54% dapat mempengaruhi kelangsungan usaha budidaya. Kata Kunci : kendala, petani ikan, nilai kelayakan, analisis sensitivitas
AKTIVITAS NELAYAN DI KELURAHAN SARIO TUMPAAN KECAMATAN SARIO KOTA MANADO Jojobo, Jefri; Manoppo, Victoria E.N.; Londong, Florence V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 4 (2014): (Oktober 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.4.2014.13399

Abstract

Abstract This study aims to describe how the fishing activities in the Village Sario Tumpaan and what factors are affecting the fishing activities. This study used survey methods, sampling techniques are used, ie purposive sampling. The population in this study is the fishing community Village Tumpaan Sario Manado City totaling 17 people. Sampling was done by distributing questionnaires, interviews with informants and field observations. Model analysis of the data used in this study is a descriptive analysis of quantitative and qualitative descriptive analysis. The results indicate the fishing activities consist of fishing activities and social activities and the factors that affect the fishing activities of the Village Sario Tumpaan are age, length of work, education, family responsibilities distance of the sea, the skills and the season. Keywords: fishing activity, factors influencing   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana aktivitas nelayan di Kelurahan Sario Tumpaan dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aktivitas nelayan. Penelitian ini menggunakan metode survei, teknik pengambilan sampel digunakan, yaitu purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan Kelurahan Sario Tumpaan Kota Manado berjumlah 17 Orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner, wawancara langsung dengan nara sumber dan observasi lapangan. Model analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan aktivitas nelayan terdiri atas aktivitas penangkapan dan aktifitas sosial dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas nelayan Kelurahan Sario Tumpaan adalah umur, lama bekerja, pendidikan, tanggungan keluarga jarak tempat melaut, keterampilan dan musim. Kata kunci: aktivitas nelayan, faktor-faktor yang mempengaruhi

Page 1 of 1 | Total Record : 7