cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AKULTURASI (JURNAL ILMIAH AGROBISNIS PERIKANAN)
ISSN : 23374195     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 11 (2018): April (2018)" : 12 Documents clear
KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM KEGIATAN EKOWISATA PANTAI TERHADAP KESEJAHTERAAN KELUARGA DI DESA PULISAN KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA Ngangi, Aldiano F.S; Manoppo, Victoria E.N.; Jusuf, Alvon
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25074

Abstract

Bentuk-bentuk kegiatan perempuan dalam kegiatan ekowisata Pantai terhadap kesejahteraan keluarga di Desa Pulisan Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara adalah: Warung makan (40%); warung, menyewakan kamar mandi/toilet (10%); warung makan, pembersih pantai (5%); warung di rumah dan di pantai (5%); warung, menyewakan gasebo, menyewakan kamar mandi/toilet (5%); warung, menyewakan gasebo (10%); menyewakan gasebo (5%); menyewakan gasebo, menyewakan ban/pelampung dan menyewakan meja/kursi (5%); menyewakan gasebo, menyewakan kamar mandi/toilet (5%) dan menyewakan meja/kursi (10%).Kontribusi perempuan terhadap kesejahteraan keluarga di Pantai Pulisan rata-rata 38.55%. Perempuan dengan kontribusi tertinggi adalah mereka yang memiliki pekerjaa/usaha warung di rumah dan di pantai sebanyak 83,33% dan perempuan yang memiliki kontribusi terendah adalah yang memiliki pekerjaan menyewakan meja dan kursi sebanyak 33.33%.Kesejahteraan subjektif perempuan dalam keluarga diukur dengan kepuasan mereka terhadap kondisi fisik, ekonomi, sosial dan psikologis. Kepuasan responden tertinggi adalah terhadap kesejahteraan psikologis (93,90%, diikuti oleh kesejahteraan sosial (90,40%), kesejahteraan fisik (87,13%) dan yang terendah adalah kesejahteraan ekonomi (77,93%). Kata Kunci: Kontribusi perempuan, kesejahteraan keluarga, Pantai Pulisan
PERAN PEREMPUAN TERHADAP RUMAH TANGGA NELAYAN BURUH YANG BERAKTIVITAS DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) TILAMUTA, KABUPATEN BOALEMO Diyata, Nolfin; Manoppo, Victoria E.N.; Durand, Swenekhe S.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.19534

Abstract

AbstractBoalemo's waters contain a variety of marine fish that have high economic value such as tuna, fish and mouse grouper. Realizing the potential of fishery owned, Fish Auction Place (TPI) which organizes fish sale with auction system is a place where Boalemo fishermen sell their fish catch.The purpose of this study is to determine the general condition of women in households of fishermen who work at Tilamuta Fishing Place (TPI), Boalemo Regency and what are the roles of women in the household economy of fishermen who are active in the Fish Auction Site (TPI) Tilamuta, Kabupaten Boalemo.The method used in this study used census method. Technique of data collecting is done by observation, interview, and literature study.From the result of the research, most of the respondents have elementary school (SD) education as many as 14 people (70%), productive age of respondent (15-45 years) as many as 18 people (90%) and 4 families %). The role of hunting women fishermen to meet the needs of family life consists of: Domestic role; 1) cooking, respondents doing cooking activities between 2-3 times in one day; 2) Washing clothes, respondents generally wash clothes 2 to 3 times and washed clothes are all family members; 3) Cleaning and tidying the house, in one day only done between 2 to 3 times; 4) Taking care of the children, respondents no longer prepare children's clothes and no longer deliver to school because the distance of school from home is close enough; 5) Helping the husband, the respondent to prepare the equipment to go to husband husband, market the catch of husband. Social Role: 1) Majelis Ta'lim, attending meetings 1-2 times a month, benefiting respondents; 2) Arisan, respondents do lott arisan 2 - 3 times a month, used to cover household needs; 3) Dasawisma and PKK, respondents have attended the meeting; 4) Kube, respondents have participated about 3 years, the result is used for family expenditure.Productive Role: 1) Laborers, who work as laborers 3 to 4 days a week, earned wages ranging from Rp500,000 - Rp1,000,000; 2) Private employees / civil servants, there is 1 person (5%) with gajin only about> Rp1.000.000, -; 3) washcloth, there are 3 people (15%) about <2 years, with wages <Rp500.000, -. Keywords: Role of women, Fish Auction Place, Tilamuta AbstrakPerairan yang dimiliki Boalemo menyimpan berbagai ikan laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti tuna, ikan layang dan kerapu tikus. Menyadari akan potensi perikanan yang dimiliki, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menyelenggarakan jual beli ikan dengan sistem lelang ini menjadi tempat nelayan-nelayan Boalemo menjual hasil ikan tangkapan mereka.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan umum perempuan pada rumah tangga nelayan buruh yang beraktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tilamuta, Kabupaten Boalemo dan apa saja peran perempuan dalam perekonomian rumah tangga nelayan buruh yang beraktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tilamuta, Kabupaten Boalemo.Metode yang dipakai dalam penelitian ini dipakai metode sensus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi literatur.Dari hasil penelitian yang diperoleh kebanyakan responden memiliki pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 14 orang (70%), umur produktif responden (15-45 tahun) sebanyak 18 orang (90%) serta jumlah tanggungan keluarga <4 orang sebanyak 16 orang (80%).Peran perempuan nelayan buru untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga terdiri dari: Peran domestik; 1) memasak, responden melakukan kegiatan memasak antara 2 - 3 kali dalam satu hari; 2) Mencuci pakaian, responden umumnya mencuci pakaian 2 sampai 3 kali dan pakaian yang dicuci adalah semua anggota keluarga; 3) Membersihkan dan merapikan rumah, dalam satu hari hanya dilakukan antara 2 sampai 3 kali; 4) Mengurus anak, responden sudah tidak lagi menyiapkan pakaian anak dan tidak lagi mengantar ke sekolah karena jarak sekolah dari rumah cukup dekat; 5) Membantu suami, responden menyiapkan perlengkapan melaut suami, memasarkan hasil tangkapan suami.Peran Sosial: 1) Majelis Ta’lim, mengikuti pertemuan 1 - 2 kali dalam sebulan, memberikan manfaat bagi responden; 2) Arisan, responden melakukan lott arisan 2 - 3 kali sebulan, digunakan untuk menutupi keperluan rumah tangga; 3) Dasawisma dan PKK, responden sudah mengikuti pertemuan yang diadakan; 4) Kube, responden sudah ikut sekitar 3 tahun, hasilnya digunakana untuk belanja keperluan keluarga.Peran Produktif : 1) Buruh, responden yang berkerja sebagai buruh 3 orang sampai 4 hari dalam satu minggu, upah yang diperoleh berkisar Rp500.000 – Rp1.000.000; 2) Pegawai Swasta/PNS, terdapat 1 orang (5%) dengan gajin hanya sekitar >Rp1.000.000,-; 3) Tukas cuci, terdapat 3 orang (15%) sekitar <2 tahun, dengan upah <Rp500.000,-. Kata Kunci : Peranan perempuan, Tempat Pelelangan Ikan, Tilamuta
KARAKTERISTIK KELOMPOK NELAYAN DI DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Daleno, Serli; Durand, Swenekhe S.; Wasak, Martha P.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25020

Abstract

AbstrakKelompok nelayan merupakan kumpulan nelayan yang didasarkan atas kesamaan, keselarasian, yang didasarkan atas satu lingkungan sosial budaya untuk mencapai tujuan yang sama.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan keadaan  kelompok nelayan dalam menggunakan alat tangkap tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.  Penggunaan data menggunakan random sampling.  Pengambilan data memakai data primer dan sekunder yang kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.  Karakteristik penduduk Desa Arakan yaitu hampir semua penduduknya berasal dari berbagai Suku yaitu Bajo, Sanger, Jawa, Bugis, Makasar, Mangondow, Madura dan suku Kaili yang aslinya berasal  dari Palu Sulawesi Tengah.  Dari masing-masing suku tersebut mereka selalu hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya, apa bila ada masalah mereka menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan.  Kehidupan masyarakat pesisir terjalin begitu baik antara satu dengan yang lain, hal ini dapat dilihat pada musim-musim penangkapan ikan Teri yang ada di wilayah Desa Arakan mereka saling bekerja sama ketika ada yang pergi menangkap ikan yang lain menunggu di pinggir pantai untuk mengambil hasil tangkapan dan diolah (dijemur) oleh ibu-ibu bersama anak-anak dan bapak-bapak yang tidak pergi melaut.  Upah yang didapat nanti setelah ikan yang diolah terjual baru mereka membayar kepada nelayan yang mereka ambil hasil tangkapannya.Kata kunci: karakteristik, tradisional, alat tangkap, kelompok nelayan
MANAJEMEN USAHA PERIKANAN DENGAN ALAT TANGKAP BAGAN APUNG DI DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROPINSI SULAWESI UTARA Kabanulu, Ludia; Rantung, Steelma V.; Suhaeni, Siti
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25075

Abstract

A decent standard of living can only be enjoyed if it has high income and to obtain high income productivity is also high. High productivity can only be achieved through business improvement. Improvements can be made through various approaches, but the most widely used is management or management. Management approach is widely used because it can run and control the business.The village of Arakan is one of the coastal villages whose average population works as fisherman and most are traditional fishermen. Traditional catching tools commonly used such as arrows (jubi), fishing rods, nets and charts. The chart capture tool used in Arakan Village is a floating chart. Based on the information obtained on the state of the fishery business with the existing fishing gear in Arakan Village shows that, there were 12 floating bussiness business that was run, but now only 6 units are able to survive and develop. Such information raises the intention to conduct research to see, learn and know the existing management of the business.The purpose of this research is to study the management of fishery business with the catching tool chart in Arakan Village, viewed from: a. aspects of production, b. financial aspects, c. aspects of marketing.The basic method used in this research is case study method. Data collection technique is done by census. The data collected in this research consist of primary data and secondary data. Data analysis used is descriptive qualitative and quantitative analysis.The result of the research shows that fishery business management with floating fishing gear in Arakan Village is seen from 3 aspect, that is production, finance and marketing run well, seen with the implementation of management functions such as planning, organizing, movement, and supervision. Viewed from the financial aspect of the business is also very profitable. This is seen from the investment payback period of only 3.1 months. Implementation of all management functions on floating business in Arakan Village is controlled by the owner.Keywords: management, fishery business, floating chart, business owner
Cover, Kata Pengantar, dan Daftar Isi Andaki, Jardie A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.19535

Abstract

..
MANAJEMEN USAHA PERIKANAN TANGKAP PANCING ULUR DI DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Antarani, Desiy; Jusuf, Nurdin; Kotambunan, Olvie V.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25021

Abstract

Usaha dengan memanfaatkan hasil perikanan dapat dilakukan melalui berbagai cara pendekatan salah satunya yaitu pendekatan manajemen. Pancing ulur merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang sering digunakan.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui manejemen usaha perikanan tangkap pancing ulur. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus data yang dikupumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder serta analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. hasil menunjukan bahwa jenis usaha penangkapan yang ada berfokus pada pancing. Usaha tersebut terdiri dari usaha pancing ulur, bagan, jubi dan jaring.Sistem bagi hasil yang dilakukan dari hasil tangkapaan di bagi menjadi dua bagian yaitu 50% untuk nelayan pemilik dan 50% untuk nelayan pekerja.Kata kunci: manajemen, hand line, desa Arakan
MAIROKANG BEACH GAME (MBG) SEBAGAI POTENSI PARIWISATA PESISIR DI DESA BENTUNG, KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Tatali, Aldi
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.21517

Abstract

AbstractSangihe Islands Regency which is a maritime district has several Tourism Strategic Areas which have the main function of tourism or have the potential for tourism development and have an important influence in one or more aspects such as economic, social and cultural growth, empowerment of natural resources, environmental carrying capacity, defense and security. Bentung Village in South Tabukan is one of the villages in the Sangihe Islands Regency which has potential in coastal tourism. Mairokang Beach Game (MBG) is a traditional boat race that is one of the potential of coastal tourism in Bentung Village. This research focuses on tourism potential embedded in the attractions of Mairokang Beach Game (MBG). The study was conducted in conjunction with the time of the MBG implementation, on 20 – 26 October 2016. General public of Sangihe has conducted the MBG competition as a regular local cultural activity and has become an attraction for coastal tourism in the Sangihe Islands Regency but comprehensive planning needs to be made that is not only focused on tourists but also to stakeholders, local government and the general public. Therefore, government support in the development of coastal tourism in MBG is very necessary. The inclusion of MBG activities in the Pesona Sangihe tourism calendar is one of the steps taken by the Government of the Sangihe Islands Regency.Keyword : Mairokang Beach Game, Bentung, Coastal Tourism AbstrakKabupaten Kepulauan Sangihe yang merupakan kabupaten bahari memiliki beberapa Kawasan Strategis Pariwisata yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata dan berpengaruh penting dalam satu atau lebih aspek seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan. Desa Bentung di Kecamatan Tabukan Selatan adalah salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang mempunyai potensi dalam pariwisata pesisir. Atraksi wisata Mairokang Beach Game (MBG) merupakan lomba perahu tradisonal yang menjadi salah satu potensi pariwisata pesisir di Desa Bentung. Penelitian ini terfokus pada potensi pariwisata yang tersemat pada atraksi – atraksi yang ada di Mairokang Beach Game (MBG). Penelitian dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan MBG yaitu pada tanggal 20 – 26 Oktober 2016. Masyarakat Sangihe telah melakukan lomba MBG sebagai kegiatan - kegiatan budaya lokal yang teratur dan menjadi daya tarik pariwisata pesisir di Kabupaten Kepulauan Sangihe namun perlu dibuat perencanaan menyeluruh yang tidak hanya terfokus pada turis tetapi juga pada stakeholder, pemerintah daerah dan masyarakat umum. Oleh karena itu, dukungan pemerintah dalam pengembangan pariwisata pesisir lomba MBG sangat diperlukan. Pemasukan kegiatan MBG dalam kalender pariwisata Pesona Sangihe merupakan salah satu langkah yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe.Kata Kunci : Mairokang Beach Game, Bentung, Pariswisata Pesisir
ANALISIS NILAI TAMBAH PADA RANTAI PASOK PRODUK TUNA SEGAR ANTAR PULAU DI KECAMATAN ESSANG SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA Naung, Pelia; Andaki, Jardie A.; Pangemanan, Jeannette F.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25022

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini, yaitu: 1) mengidentifikasi nilai tambah pada rantai pasok produk tuna segar antar pulau di Kecamatan Essang Selatan Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara, dan 2) mengetahui nilai tambah pada rantai pasok produk tuna segar antar pulau di Kecamatan Essang Selatan Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara.Berdasarkan bentuk dan metode penelitiannya, penelitian ini menggunakan teknik survei. Ciri khas penelitian ini adalah data dikumpulkan dari responden yang banyak jumlahnya dengan menggunakan kuesioner. Salah satu keuntungan utama dari penelitian ini ialah memungkinkan pembuatan generalisasi untuk populasi yang besar (Masri dan Sofian, 2006). Menurut Hasan (2010), penelitian survei adalah penelitian yang tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel-­variabel yang diteliti. Penelitian ini membahas tentang nilai tambah pada rantai pasok tuna segar antar pulau. Rantai pasok dimaksud, yaitu Rantai Pasok I (R1) (Desa Sambuara dan Ambia), Rantai Pasok II (R2) (Pasar Bersehati), dan Rantai Pasok III (R3) (PT. Nutrindo dan PT. SIG Asia di Bitung).Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan: 1) nilai tambah pada rantai pasok produk tuna segar antar pulau, berupa nilai tambah pada margin pemasaran dan keuntungan, jumlah tenaga kerja dan upah tenaga kerja; dan 2) nilai tambah paling besar pada margin penjualan tuna antar pulau berada pada R2, terutama pada penjualan tuna segar grade A/B, sedangkan nilai tambah keuntungan terbesar berada pada R3. Nilai tambah tenaga kerja paling besar berada pada R3, demikian juga untuk upah tenaga kerja.Saran dalam penelitian ini, yaitu : 1)        perlunya peningkatan kemampuan nelayan dalam mempertahankan kualitas tuna, terutama pada saat penangkapan, dan 2)      penjualan tuna segar melalui mekanisme penjualan menggunakan grade perlu diadakan bukan hanya menetapkan tuna dengan harga lokal saja terutama pada rantai pasok R1.
ANALISIS TINGKAT PENDAPATAN MASYARAKAT NELAYAN SOMA PAJEKO DI KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD SULAWESI UTARA Salatan, Siska; Manoppo, Victoria E.N.; Darwisito, Suria
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.21523

Abstract

AbstractTalaud Islands Regency includes maritime territory, 94.6% of which is waters directly adjacent to the Philippines and holds a variety of high economic living resources. In North Sulawesi Provincial Regulation Numbered 1/2017, article 12 concerning Zoning Plan of Coastal Zone and Small Islands of North Sulawesi Province 2017-2037, Talaud Islands Regency is designated as Integrated Marine and Fisheries Center Location of Talaud. It is located in Salibabu district, where Regional Regulation of Spatial Plan Numbered 1/2014 concerning Spatial Plan of Talaud Islands Regency for 2014-2034, Salibabu District is prioritized for Fishing Fisheries Regional Development and Management since its unutilized fisheries potential is still about 23,104 tons/year. In 2017, Salibabu district occupies the highest order for total fisheries production in Talaud Islands District. It was 702.3 tons or 11.79% of that in Talaud Islands Regency, 46.23% of which were gained from purse seines. Majority of the purse seine fishermen are those whose main livelihoods are fishermen and do not have other jobs. Fishing community is, in general, a relatively lagging community group socially, economically and culturally when compared with other community groups. The purse seine fishermen community in Salibabu district, in fact, still has mean income far below the minimum wage of Kabupaten Talaud, IDR. 1,500,000, -. The purse seine fisherman community in Salibabu district is still chained with poverty and backwardness. Therefore, there are needs for external intervention as an incentive to empower them in order to get out of the situation. This study used descriptive method, a method of studying the recent status of human groups, an object, a set of condition, a system of thinking or a class of events. Data collection consisted of primary and secondary data. It was done through in-depth interviews, filling questionnaires and literature studies. Respondents were purse seine fishermen communities in Salibabu district. Data analysis used descriptive method to know the socio-economic life of the communities and income formula to analyze the income level of fishermen purse seine. Results showed that mean net income in Salibabu district was approximately IDR 86,784,000/year for the purse seine owner and IDR.10,608,840/year for fishing crews, respectively, with main catches of skipjack tuna, mackerels, and scads. Keywords: Purse seine fisherman, Salibabu District and Income level of Fisherman AbstrakKabupaten Kepulauan Talaud termasuk wilayah bahari dimana 94,6% wilayahnya adalah perairan yang berbatasan langsung dengan negara Philipina dan memiliki sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis tinggi. Dalam Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Utara No. 1 tahun 2017 pasal 12 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Sulawesi Utara tahun 2017-2037, Kabupaten Kepulauan Talaud ditetapkan sebagai lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu. Lokasi tersebut terletak di Kecamatan Salibabu, dimana pada Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Kepulauan Talaud Tahun 2014-2034, Kecamatan Salibabu diprioritaskan untuk Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan Perikanan Tangkap karena potensi perikanan yang belum termanfaatkan ± 23.104 Ton/Tahun. Tahun 2017, Kecamatan Salibabu menempati urutan tertinggi untuk total produksi perikanan di Kabupaten Kepulauan Talaud. Total produksi perikanan Kecamatan Salibabu sebesar 702,3 ton atau 11,79 % dari keseluruhan produksi perikanan di Kabupaten Talaud. Dari total produksi tesebut 46,23 merupakan hasil produksi usaha soma pajeko. Mayoritas nelayan soma pajeko merupakan nelayan penuh yang mata pencaharian utamanya sebagai nelayan dan tidak memiliki pekerjaan lain. Masyarakat nelayan pada umumnya merupakan kelompok masyarakat yang relatif tertinggal secara sosial, ekonomi dan budaya bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Demikian juga berlaku untuk masyarakat nelayan soma pajeko di Kecamatan Salibabu dimana penghasilan nelayan dibawah upah minimum Kabupaten kepulauan Talaud sebesar Rp. 1.500.000,-. Masyarkat nelayan soma pajeko di Kecamatan Salibabu masih terbelenggu oleh kemiskinan. Oleh karena itu dengan maksud bisa keluar dari kondisi tersebut perlu ada intervensi ekternal sebagai suatu dorongan untuk memberdayakan mereka.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara mendalam terhadap responden, pengisian kuesioner dan studi kepustakaan. Responden terdiri dari masyarakat nelayan soma pajeko di Kecamatan Salibabu. Analisis data menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan analisis mengunakan rumus pendapatan digunakan untuk menganalisis tingkat pendapatan masyarakat nelayan soma pajeko.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan bersih juragan soma pajeko di Kecamatan Salibabu rata- rata berkisar Rp86.784.000,-/tahun dan Rp. 10.608.840,-/tahun untuk pendapatan bersih masanae dengan hasil tangkapan utama berupa ikan Cakalang, Ikan Layang dan Ikan Tongkol.Kata kunci: Nelayan Soma Pajeko , Kecamatan Salibabu dan Tingkat Pendapatan
STUDI ASPEK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN DI DESA KEMA TIGA KECAMATAN KEMA KABUPATEN MINAHASA UTARA Daud, Christo; Mantjoro, Eddy; Pontoh, Otniel
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.25019

Abstract

AbstrakAspek sosial merupakan hasil dari hubungan sosial antar manusia dan manusia dengan alam. Aspek sosial dalam penelitian ini hanya dibatasi sesuai variabel yang telah ditentukan yaitu ukuran keluarga, keadaan rumah, agama, umur dan pengalaman kerja, kesehatan, tingkat pendidikan, dan sarana hiburan.Aspek ekonomi adalah aspek yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup atau berkaitan dengan uang. Aspek ekonomi dalam penelitian ini hanya dibatasi sesuai variabel yang telah ditentukan yaitu tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, dan tingkat tabungan.Pendapatan adalah hasil usaha yang nelayan peroleh dan dinyatakan dalam bentuk uang. Untuk mengetahui tingkat pendapatan para nelayan dihitung berdasarkan penghasilan sebagai nelayan dan penghasilan usaha lain. Pendapatan usaha lain yang dimaksudkan disini adalah penghasilan nelayan dari usaha lain atau penghasilan dari istri nelayan atau keluarga nelayan. Pendapatan nelayan purse seine adalah Rp2.500.000,- untuk ABK yang bekerja di ukuran kapal <30 GT dan Rp4.000.000,- untuk ABK yang bekerja di ukuran kapal >30 GT, Sedangkan pendapatan nelayan perahu lampu adalah Rp6.000.000,-.Tingkat pengeluaran tergantung dari tingkat pendapatan semakin tinggi pendapatan semakin tinggi pula pengeluaran. Pengeluaran rumah tangga nelayan untuk bahan makanan disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, karena semakin banyak anggota keluarga maka pengeluaran untuk bahan makanan semakin tinggi.Tabungan merupakan sisa dari pendapatan yang telah digunakan dalam berbagai keperluan atau pengeluaran. Tabungan yang dimiliki nelayan purse seine berkisar antara Rp60.000,- hingga Rp3.200.000,- dari setiap responden, sedangkan untuk nelayan perahu lampu berkisar antara Rp1.700.000,- hingga Rp2.800.000,- dari setiap responden. Tabungan dihitung dengan jumlah pendapatan dikurangkan dengan jumlah pengeluaran. Hasil wawancara dengan responden, tabungan tersebut tidak disimpan setiap bulan, karena ada beberapa kebutuhan yang tidak terduga yang harus dipenuhi oleh responden. Kebutuhan tidak terduga misalnya untuk perbaikan rumah, kursi, meja, dan lain-lain.Kata kunci: sosial, ekonomi, nelayan, kesejahteraan

Page 1 of 2 | Total Record : 12