cover
Contact Name
Markus T. Lasut
Contact Email
lasut.markus@unsrat.ac.id
Phone
+6285298070889
Journal Mail Official
jurnal.asm@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jurnal Aquatic Science & Management, Gedung A Lantai 1, Pascasarjana, Universitas Sam Ratulangi, Jln. Kampus UNSRAT Bahu, Manado 95115, INDONESIA
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT
ISSN : 23374403     EISSN : 23375000     DOI : https://doi.org/10.35800/jasm.v10i1.37485
Journal of AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT publishes scientific articles of original research based on in-depth scientific study in the field of aquatic science and management, covering aspects of limnology, oceanography, aquatic ecotoxicology, geomorphology, fisheries, and coastal management, as well as interactions among them.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Edisi Khusus 1 (2013): Mei" : 15 Documents clear
The effect of rinsing and storage period in low temperature on the quality of scad fish sausage (Decapterus sp.) fortified with Moringa leaves (Moringa olifera) Sahnita, Dewi; Suwetja, I Ketut; Onibala, Hens
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2283

Abstract

A research on sausage scad fish (Decapterus sp) using 4 treatments with 3 replications with complete randomized design. Washing is done 0 to 3 times and storage for 0 to 9 days. The results of the study addressed the interaction of storage time washing meat and kite fish sausage (Decapterus sp) are fortified with Moringa leaves an effect on levels of protein, fat and water content. Organoleptic quality sausages from the value in 9 days can still be accepted by the panelists. During storage protein value reduction from 0 days (16.38%) decreased (14.40%) on day 9. The water content increased from 0 days up to 61.22% 66.96% on day 9. Fat in fish sausage 0.64% down 0.19% on day 9. Good quality sausage was taken 9 days because of the old fish sausage stored beyond 9 days is not liked by the panelists, because the texture and taste was not good© Penelitian pembuatan sosis ikan layang (Decapterus sp) menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL). Pencucian dilakukan 0 sampai 3 kali dan penyimpanan selama 0 sampai 9 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi pencucian daging dan lama penyimpanan sosis ikan layang (Decapterus sp) yang difortifikasi dengan daun kelor berpengaruh terhadap kadar protein, lemak dan kadar air. Mutu sosis dari nilai organoleptik dalam 9 hari masih bisa diterima oleh panelis. Selama penyimpanan nilai protein terjadi penurunan dari 0 hari (16,38%) menurun (14,40%) pada hari ke-9. Kadar air mengalami kenaikan dari 0 hari 61,22 % naik menjadi 66,96% pada hari ke-9. Lemak pada sosis ikan 0,64 % turun 0,19% pada hari ke-9. Sosis yang baik mutunya adalah dibawa 9 hari karena sosis ikan yang lama penyimpanannya melebihi dari 9 hari sudah tidak disukai oleh panelis, karena tekstur dan rasa sudah kurang baik©
A study on potential development of fisheries resources in the coastal area of Tolitoli Regency ., Yuliani; Mantjoro, Eddy; Wantasen, Adnan; Lasut, Markus T
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2272

Abstract

Tolitoli is one of regencies in Central Sulawesi province that has fisheries and marine resources which are potentially exploited and developed. The total area of Tolitoli regency is 4079.77 km² land and 3008.59 oceans km² area with a long range 453.98 km coastline. Administratively, Tolitoli consists of 10 districts (9 of which are districts that have coastal areas), 104 villages (60 of which are coastal villages) and 43 islands (13 inhabited islands and 30 uninhabited islands) which are small islands scattered along the coastal areas. In addition, Tolitoli have 3 outer islands bordering neighboring country: Lingayan Island, Island Salando and Dolangan Island. Resource potential and development of coastal fisheries Tolitoli has an area of ​​707 ha of mangrove and coral 11568.5 ha. For mariculture potential is around 2011, 10.800 ha with a total production 702.4 tonnes, inland aquaculture 4250 ha with a total production of 499 tonnes. Cathing fisheries was exploited in 2011 for approximately 30009.21 tonnes/year by the number of RTP 2500 households. As for the potential location of fish processing is 29 000 M² with a production of 210.3 tonnes. For tourism potential there are 14 potential tourism attractions that can be favored by local governments to be developed© Kabupaten Tolitoli merupakan salah satu  kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah yang memiliki sumberdaya perikanan dan kelautan yang potensial untuk dimanfaatkan dan dikembangkan. Luas Kabupaten Tolitoli yaitu 4.079,77 km² daratan dan 3.008,59  km² wilayah lautan dengan panjang  garis pantai berkisar 453,98 km. Secara administratif, Kabupaten Tolitoli terdiri dari 10 kecamatan (9 di antaranya merupakan kecamatan yang mempunyai wilayah pesisir) dan jumlah desa sebanyak 104 (jumlah desa pesisir sebanyak 60) serta mempunyai 43 pulau (13 pulau berpenghuni dan 30 pulau tidak berpenghuni) yang merupakan pulau-pulau kecil yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir. Selain itu, Kabupaten Tolitoli memiliki 3 pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia, yaitu Pulau Lingayan, Pulau Salando, dan Pulau Dolangan.Potensi sumberdaya dan pengembangan perikanan pesisir Kabupaten Tolitoli memiliki ekosistem mangrove seluas 707 Ha, Karang 11.568,5 Ha.Untuk potensi budidaya laut tahun 2011 seluas10.800 Ha dengan jumlah produksi 702,4 ton,budidaya perikanan darat/tambak  4.250 Ha dengan jumlah produksi 499 ton. Potensi perikanan tangkap yang termanfaatkan pada tahun 2011 sekitar 30.009,21 ton/tahun dengan jumlah RTP 2.500 KK. Sedangkan untuk luas lokasi potensi pengolahan hasil perikanan yaitu 29.000 M² dengan produksi 210,3 ton. Untuk potensi pariwisata terdapat 14 objek wisata yang dapat diunggulkan oleh pemerintah daerah untuk dikembangkan©
Isolation and identification of lactic acid bacteria in Bakasang as fermented microbe starter Ingratubun, J Aquarista; Ijong, Frans G; Onibala, Hens
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2278

Abstract

Food fermentation is one of various food processing techniques that has sufficient benefits of nutrition values, and also contains lactic acid bacteria which potentially inhibit pathogenic bacteria, thus prolong shelf life of  products. Bakasang is a traditional fermented food from North Sulawesi since many years ago. Reported research of bakasang previously had described that lactic acid bacteria was the dominant isolates and therefore current research  aimed to isolate and identify the lactic acid bacteria which associated during fermentation day 1 and day 15, respectively. Raw materials used were 5 kg intestine and liver of skipjack brought from local market Bersehati Manado. The intestine and liver of skipjack were washed and smashed and mixed with 10% salt  and 5% rice  from weight of the samples and then filled into bottle to be fermented for 15 days. Every 3 days (1,3,6,9,12,15), the samples were collected and analyzed for total lactic acid bacteria by using Total Plate Count Method on de Mann Rogosa Sharpe Agar after incubation at 37°C for 24 h. The colonies  grown were transferred to Tryptic Soy Broth and followed by streaking them on Tryptic Soy Agar and the free growing colony on agar medium were isolated into slant agar which were used for biochemical test such as Gram’s staining, motility test, catalase test, oksidase test, H2S test, IMVIC test (Indole, Methyl Red, Voges Proskauer, Citrate) and carbohydrate fermentation. The results showed that Lactobacillus sp., Bacillus sp., Eubacterium sp., and Bifidobacterium sp. All these four bacteria were distributed from day 1 to day 15 of the fermentation process© Fermentasi bahan pangan merupakan salah satu dari sekian banyak teknik pengolahan makanan yang mempunyai banyak manfaat dari kualitas gizi, mengandung bakteri asam laktat sehingga menghambat bakteri patogen sehingga daya simpan lebih panjang. Bakasang merupakan makanan fermentasi tradisional masyarakat Sulawesi Utara yang sudah ada sejak lama. Penelitian yang telah dilakukan terhadap bakasang menghasilkan informasi bahwa terdapat bakteri asam laktat pada bakasang sehingga menjadi tujuan untuk mengisolasi dan identifikasi bakteri asam laktat selama proses fermentasi 1-15 hari. Bahan baku bakasang ialah jeroan (usus dan hati) ikan cakalang Katsuwonis pelamis sebanyak 5 kg yang diambil dari pasar Bersehati Manado. Sampel jeroan dibersihkan kemudian dihancurkan, ditambahkan garam 10% dan nasi 5% kemudian difermentasi selama 15 hari dengan mengambil tiap-tiap sampel setiap 1, 3, 6, 9, 12, dan 15 untuk dihitung jumlah bakteri asam laktat dengan menggunakkan metode Total Plate Count pada media de Mann Rogosa Sharpe Agar dan koloni yang tumbuh di tumbuhkan  kembali pada media Tryptic Soy Broth  dan digores kembali pada media Tryptic Soy Agar, koloni yang tumbuh digores pada media slant agar yang selanjutnya diidentifikasi bakteri asam laktat berdasarkan uji biokimia yaitu uji pewarnaan Gram, uji motility, uji katalase, uji oksidase, uji H2S dan uji IMVIC (Indole, MethylRed, Voges Proskauer, Citrate). Hasil menunjukkan bahwa selama proses fermentasi berlangsung terdapat 4 genera bakteri asam laktat sesuai yaitu Lactobacillus sp., Bacillus sp., Eubacterium sp., dan Bifidobacterium sp., ke 4 genera ini tersebar pada fermentasi hari 1 sampai hari ke 15©
Mapping of tsunami prone areas in coastal region of Kema, North Sulawesi Raharjo, Slamet S; Mamuaya, Gybert E; Lumingas, Lawrence J.L
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2275

Abstract

Kema coastal region is a coastal tourist area quite a lot of visitors especially during the holidays. Most of the population in this region is fishing. This region had experienced 4 meter tsunami on 6 September 1889 by an earthquake with a magnitude of 8.0 on the Richter scale in the Moluccas Sea epicenter position ± 72 km southeast of Kema. The earthquake caused a tsunami that has the potential to re-occur in the future. The purpose of this study was to calculate how much the maximum magnitude earthquakes likely to occur in the Moluccas Sea and map the run-up tsunami caused by the earthquake in Coastal Areas of Kema. Calculation of maximum magnitude and tsunami run-up using the relationship between the frequency and magnitude of the Guttenberg-Richter earthquake and Imamura tsunami software, then run up the tsunami mapped using GIS software. Generated that could potentially occur in the Moluccas Sea earthquake with a magnitude of 8.5 on the Richter scale can cause a tsunami to hit the coast Kema Beach area on 10 minutes after the earthquake, the tsunami run-up heights reached 13.9 meters. Mapping the tsunami run-up showed that the entire coastal region of Kema is tsunami prone areas© Wilayah pesisir Kema merupakan kawasan wisata pantai yang cukup banyak pengunjungnya terutama pada saat hari libur. Sebagian besar penduduk di wilayah ini adalah nelayan. Wilayah ini pernah mengalami tsunami 4 meter pada tanggal 6 September 1889 akibat gempa bumi dengan magnitudo 8,0 Skala Richter di Laut Maluku dengan posisi pusat gempa ± 72 km tenggara Kema. Gempa bumi yang menimbulkan tsunami ini berpotensi terulang kembali pada waktu yang akan datang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menghitung berapa besar magnitudo maksimum gempa bumi yang berpeluang terjadi di Laut Maluku dan memetakan run up tsunami akibat gempa bumi tersebut di wilayah pesisir Kema. Perhitungan magnitudo maksimum dan run up tsunami menggunakan hubungan antara frekuensi dan magnitudo gempa bumi Guttenberg-Richter, serta software tsunami Imamura, yang kemudian run up tsunami dipetakan dengan menggunakan software GIS. Dihasilkan bahwa di Laut Maluku berpotensi terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8,5 Skala Richter yang dapat menimbulkan tsunami hingga melanda di pantai wilayah pesisir Kema pada menit ke 10 setelah kejadian gempa bumi, dengan ketinggian run up tsunami mencapai 13,9 meter. Pemetaan run up tsunami tersebut menunjukkan bahwa seluruh wilayah pesisir Kema adalah daerah rawan tsunami©
The use of β-glucan extracted from baker’s yeast (Saccharomyces cerevisiae) to increase non-specific immune system and resistence of tilapia (Oreochromis niloticus) to Aeromonas hydrophila Jamal, Ida N; Tumbol, Reiny A; Mangindaan, Remy E.P
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2288

Abstract

Motile Aeromonas Septicaemia disease (MAS) attacking tilapia has increased in recent years as a consequence of intensive aquaculture activities, which led to losses in aquaculture industry. The agent causing MAS disease is Aeromonas hydrophila. The disease can be controlled with the β-glucan. As immunostimulants, β-glucans can also increase resistance in farmed tilapia. Studies on the use of β-glucan extracted from baker's yeast Saccharomyces cerevisiae was intended to evaluate the non-specific immune system of tilapia that were challenged with Aeromonas hydrophila. The method used was an experimental method with a completely randomized design consisting of four treatments with three replicats. The dose of β-glucan used as treatments were 0 mg.kg-1 fish (Control), 5 mg.kg-1 fish (B), 10 mg.kg-1 fish (C) and 20 mg.kg-1 fish (D), each treatment as injected three times at intervals of 3 days, the injection volume of 0.5 ml/fish for nine days and resistance surveillance for seven days. The results showed that the difference in the amount of β-glucan and the frequency of the injected real influence on total leukocytes, phagocytic activity and resistance. Total leukocytes, phagocytic activity and resistance to treatment was best achieved by the administration of C a dose of  10 mg.kg-1 of the fish© Penyakit Motil Aeromonas Septicaemia (MAS) yang menyerang ikan nila mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir sebagai konsekuensi dari kegiatan akuakultur intensif, yang menyebabkan kerugian dalam industri budidaya. Agen utama penyebab penyakit MAS adalah Aeromonas hydrophila. Untuk mengendalikan penyakit tersebut dapat dilakukan dengan pemberian β-glukan. Sebagai imunostimulan, β-glukan juga dapat  meningkatkan resistensi pada ikan nila yang dibudidayakan. Pengkajian mengenai pemanfaatan β-glukan yang diekstrak dari ragi roti Saccharomyces cerevisiae dimaksudkan untuk menguji sistem imun non spesifik ikan nila yang diuji tantang dengan bakteri Aeromonas hydrophila. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Dosis β-glukan  yang digunakan sebagai perlakuan sebesar 0 mg.kg-1 ikan (Kontrol), 5 mg.kg-1 ikan (B), 10 mg.kg-1 ikan (C) dan 20 mg.kg-1 ikan (D), masing-masing perlakuan diinjeksi sebanyak 3 kali dengan interval waktu 3 hari selama 9 hari, volume injeksi 0,5 mL/ekor ikan dan pengamatan resistensi selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan jumlah β-glukan dan frekuensi pemberian yang diinjeksikan memberikan pengaruh nyata terhadap total leukosit, aktivitas fagositosis dan resistensi. Total leukosit, aktivitas fagositosis dan resistensi terbaik dicapai pada perlakuan C dengan dosis 10 mg.kg-1 ikan©
Determination of core zone of marine sanctuary in Bahoi Village, North Minahasa Regency Tasidjawa, Sonny; Mandagi, Stephanus V; Lasabuda, Ridwan
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2271

Abstract

Bahoi village is located in West Likupang District of North Minahasa Regency. It is one of the villages that is included in the conservation network of North Sulawesi Province. A marine sanctuary has been established in this village in 2003 and it has been managed by local community, known as community-based marine sanctuary management, since then, this sanctuary has been in operation. As a small community-based marine protected area with lots of users, it requires an appropriate method to determine the Core Zone that allows an effective preservation of the marine biota. This is the driving factor of this study.  The purpose of this study is to examine the processes and output of determining the core zone of a Marine Sanctuary using a conventional method and Marxan Method. The conventional method is a simple method in determining a core zone such as using manta tow technique. While Marxan, it only requires input of data such as spatial and figures to generate information for determining the core zone. After comparing the processes of these two methods in the study site, it was found that Marxan method was more effective and more accurate with lower costs than the conventional one. In addition, the final decision of the core zone depended on the outcome of the village meetings when the conventional method was applied. This long process could be avoided when Marxan method was used. Therefore, it is highly recommended to use Marxan in determining core zones© Desa Bahoi terletak di Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Desa ini merupakan salah satu desa yang masuk dalam jejaringan kawasan konservasi di Provinsi Sulawesi Utara. Sebuah Daerah Perlindungan Laut telah didirikan di desa ini pada tahun 2003 dan dikelolah oleh masyarakat setempat, yang dikenal sebagai pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat, sejak saat itu Daerah Perlindungan Laut ini telah beroperasi. Sebagai Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat yang kecil namun memiliki banyak pengguna, diperlukan metode tepat yang akan menentukan Zona Inti yang memungkinkan pelestarian biota laut menjadi sangat efektif. Ini adalah faktor pendorong dari penelitian. Selanjutnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji proses dan hasil penentuan zona inti Daerah Perlindungan Laut dengan menggunakan metode konvensional seperti survei manta tow dan marxan. Metode konvensional adalah metode sederhana dalam menentukan zona inti seperti teknik manta tow. Sedangkan marxan, hanya perlu memasukan data seperti spasial dan angka untuk menghasilkan informasi penentuan zona inti. Setelah membandingkan proses dari dua metode di lokasi penelitian, ditemukan bahwa metode marxan jauh lebih baik dari pada metode konvensional, karena lebih efektif, lebih akurat dengan biaya yang lebih rendah. Selain itu, keputusan akhir dari zona inti tergantung pada hasil rapat desa ketika metode konvensional diterapkan, proses panjang ini dapat dihindari jika metode marxan digunakan©
Analysis of bioeconomical and effectiveness of capture tuna fishery in coastal area of Sendang Biru, Malang, East Java Province Fanani, M Zainal; Jamil, Khairul
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2280

Abstract

Tuna (Thunnus sp.) need to be managed well by maintaining balance between economic aspect (profits) and ecological aspect (sustainability of fish resources). To maintain balance these aspect to do with bioeconomical analysis. With these analysis be expected can be obtained maximum economic profits without any damage fish resources so that environmental conservation stay awake. In order to analyze the bioeconomical is needed to estimate the stock assessment. The first step is standardization of fishing gear, this need to be done because each of fishing gear not only catch the target fish but also catch the non target fish (multi gear multi spesies). Of the research be obtained standard gear for tuna fishery in Sendang Biru water are trolling line, with maximum value between payang, hand line and gillnet. Status of tuna fishery from biological aspect in Sendang Biru water by Schaefer model in general medium fishing condition. Whereas status of tuna fishery from economic aspect by Schaefer model in over exploited. Of the research by multi criteria decision making (MCDM) analysis with simple multi attribute rating technique (SMART) and visual interactive sensitivity analysis (VISA) obtainable that the main priority in election of tuna fishing gear evectively and efficient are trolling line, paying, hand line and gillnet© Perikanan tuna perlu dikelola dengan baik dengan cara menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi (keuntungan) dan aspek ekologi (kelestarian sumberdaya ikan). Untuk menjaga keseimbangan aspek-aspek tersebut, dapat dilakukan dengan analisis bioekonomi. Dengan analisis ini diharapkan dapat diperoleh keuntungan ekonomi yang maksimum tanpa disertai kerusakan sumberdaya ikan sehingga konservasi lingkungan tetap terjaga. Dalam rangka menganalisa bioekonomi perlu dilakukan pendugaan stok ikan (‘stock assessment’). Langkah awal adalah standarisasi alat tangkap, hal ini perlu dilakukan karena setiap alat tangkap tidak hanya menangkap ikan target tapi juga menangkap ikan non target (‘multi gear multi spesies’). Dari hasil penelitian didapat alat tangkap standar untuk perikanan tuna di perairan Sendang Biru adalah pancing tonda dengan nilai porsi terbesar diantara alat tangkap payang, pancing tangan dan ‘gillnet’. Status perikanan tuna dari aspek biologi di perairan Sendang Biru menurut model Schaefer secara umum dalam kondisi ‘medium fishing’. Sedangkan status perikanan tuna secara ekonomi menurut model Schaefer dalam kondisi ‘over exploited’. Dari hasil analisis multi ‘criteria decision making’ (MCDM) dengan teknik ‘simple multi attribute rating technique’ (SMART) dan teknik ‘visual interactive sensitivity analysis’ (VISA) diperoleh bahwa prioritas yang utama dalam pemilihan alat tangkap tuna secara efektif dan efisien adalah pancing tonda, payang, pancing tangan dan gillnet©
Wind speed data analysis for predictions of sea waves in Bitung Coastal Waters Koagouw, Joanes E; Mamuaya, Gybert E; Tarumingkeng, Adrie A; Angmalisang, P A
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2274

Abstract

Coastal area of Bitung Municipality is one of the economical activities centers in North Sulawesi Province such as for land-uses and the exploitation of natural resources. Those activities are exaggerating day bay day and tended to be uncontrollable. The excess of those conditions, it has been recorded the change of waves in Bitung waters that has impacts to coastal areas and can affect the utilization of coastal and marine resources. This research was aimed to observe waves altitude variations in Bitung waters with Svedrup Munk and Bretchsneider (SMB) method that had been used to predict waves altitudes. The results showed that the wind speed during West Season was 0.33 m and were dominant to the East, while during East season was 0.91m from South-East to North-West, and then on transition period (March to May) was 1.08m from South-East to East. The results of those wind speed to the waves altitudes in Bitung waters is discussed in this paper© Pesisir pantai Kota Bitung merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi (misalnya pemanfaatan lahan dan eksploitasi sumberdaya) di Provinsi Sulawesi Utara. Aktivitas tersebut semakin hari semakin meningkat dan memiliki kecenderungan tidak terkontrol. Akibat dari keadaan tersebut, telah terjadi perubahan fenomena gelombang di perairan Bitung yang berdampak pada keberadaan daerah pesisir pantai di mana hal ini dapat mengganggu aktivitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi tinggi gelombang di perairan Bitung dengan menggunakan metode Svedrup Munk and Bretchsneider (SMB) yang biasa digunakan untuk peramalan tinggi gelombang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin pada Musim Barat sebesar 0,33 meter dan dominan ke arah Timur, sementara pada Musim Timur sebesar 0,91 meter dari arah Tenggara ke Barat Laut, serta pada Musim Peralihan (antara bulan Maret-Mei) adalah sebesar 1,08 meter dari arah Tenggara dan Timur. Pengaruh kecepatan angin tersebut terhadap gelombang laut di perairan Bitung dibahas dalam tulisan ini©
Community structure of mangrove at Marine Tourism Park of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Bessie, Donny M; Schaduw, Joshian N; Reppie, Emil; Lasut, Markus T
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2270

Abstract

Mangrove gives major contributions to fishery production; however, due to an increasing demand of space for human activities, mangrove area is changed to many forms, such as settlement, industry, and recreation; beside lack of data and information available (biophysics, socio-economic, and culture). These may cause economical and ecological conflicts. This condition is currently happened in Marine Tourism Park of Kupang Bay (MTPKB). Accordingly, this study aims to analyze community structure of mangrove at MTPKB using survey method to observe mangrove vegetation and exploitation impact by community. In this study, 16 species of 9 families were found with categorized density from “rare” (20 individual/hectare) to “dense” (5.450 individual/hectare). The ecosystem was found has low diversity; it was due to high dominant index. Rhyzophora apiculata and Sonneratia alba were found two species which have big role in the marine park© Mangrove memberikan kontribusi yang besar terhadap produksi perikanan; namun, oleh karena kebutuhan manusia yang semakin meningkat, daerah mangrove dirubah menjadi daerah pemukiman, industri, dan rekreasi; di samping kurangnya data dan informasi yang tersedia. Hal ini dapat menimbulkan konflik secara ekonomi dan ekologi. Kondisi ini sedang terjadi di Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang (TWALTK). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di mana bertujuan menganalisis struktur komunitas mangrove di TWALTK dengan menggunakan metode survei untuk melakukan pengamatan terhadap vegetasi mangrove dan aktifitas masyarakat dalam memanfaatkannya. Dalam penelitian ini ditemukan 16 jenis mangrove dari 9 famili dengan kerapatan terkategori dari ‘jarang’ (20 pohon/hektar) hingga ‘padat’ (5.450 pohon/hektar). Keanekaragaman ekosistem tersebut rendah karena tingginya nilai dominasi. Jenis Rhyzophora apiculata dan Sonneratia alba merupakan jenis yang memberikan pengaruh besar terhadap komunitas mangrove di taman wisata alam laut tersebut©
GOVERNMENT PROGRAM IMPACT ANALYSIS ON EMPOWERMENT OF COASTAL WOMEN TOWARD ENHANCING THEIR FAMILY INCOMES IN THE CITY OF MANADO Rondonuwu, Deyne
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2281

Abstract

The research was conducted in the city of Manado which has received independent direct assistance (Bantuan Langsung Mandiri) from government in 2008 through the coastal women's groups (3 groups) at 3 sub-districts, such as Bunaken Island, East Malalayang I, and Tumumpa II, which aimed to analyze the impact of government support to the activities of coastal women toward enhancing their family incomes. Descriptive method was applied using survey and interview techniques. The data used are primary and secondary data. The data were analyzed by using the formula of the proportion of the income of coastal women. The number of samples was 30; the data was analyzed before getting the assistance (> 2008), after the assistance (2009-2011), and in the period of 2012-2013. The results showed that the total family income increased (30.20-46.21%) after receiving the assistance, in period of 2012-2013 was decreased to 37.36%. This was due to lack of knowledge and skills in the use of coastal women's group capital and lack of technical personnel in assisting the groups. So, the impact of government assistance in the form of independent direct assistance in 2008 was not give any result in enhancing the family income in 2013, since the assistance was not used in a sustainable manner and lack of supervision from technical personnels© Penelitian ini dilakukan di Wilayah Pesisir Kota Manado yang telah menerima Bantuan Langsung Mandiri (BLM) dari pemerintah pada Tahun 2008, melalui 3 kelompok perempuan pesisir, yaitu: Kelurahan Bunaken Kepulauan, Kelurahan Malalayang I Timur, dan Kelurahan Tumumpa II. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak bantuan tersebut terhadap kegiatan perempuan pesisir dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif menggunakan teknik survei dan wawancara. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data dianalisis menggunakan rumus proporsi pendapatan perempuan pesisir. Sampel yang diambil adalah sebanyak 30; data yang dianalisis adalah periode sebelum menerima bantuan BLM (>2008), sesudah mendapatkan bantuan BLM (2009-20011), dan periode Tahun 2012-2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara total, terjadi peningkatan pendapatan keluarga (30,20-46,21%) setelah menerimah bantuan; periode Tahun 2012-2013 menurun menjadi 37,36 %. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketrampilan kelompok perempuan pesisir dalam penggunaan modal, serta kurangnya tenaga teknis dalam mendampingi kelompok perempuan pesisir . Sehingga pada tahun 2008, bantuan pemerintah tersebut tidak berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga masyarakat pesisir pada tahun 2013, karena pemberian bantuan tersebut tidak dilakukan secara berkelanjutan dan kurangnya pengawasan oleh tenaga teknis©

Page 1 of 2 | Total Record : 15