cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021" : 12 Documents clear
Aktivitas antibakteri ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap bakteri Prevotella intermediaAntibacterial activity of lime (Citrus aurantifolia) peel extract towards Prevotella intermedia Velia Agatha; Calvin Kurnia; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.33226

Abstract

Pendahuluan: Prevotella intermedia merupakan salah satu bakteri utama pada penyakit periimplantitis. Periimplantitis merupakan inflamasi jaringan lunak dan keras disekitar implan yang dapat dicegah menggunakan ekstrak tanaman antibakteri. Salah satunya yaitu kulit jeruk nipis, yang dapat menghambat proses inflamasi karena mengandung alkaloid, steroid, saponin, flavonoid, tanin sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan antibakteri kulit jeruk nipis dengan mengukur Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM) ekstrak kulit jeruk nipis terhadap pertumbuhan bakteri Prevotella intermedia. Metode: Eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post test only control group design. Pengujian KHM dan KBM dilakukan dengan metode dilusi, kulit jeruk nipis dimaserasi menggunakan pelarut etanol 70% sehingga didapatkan ekstrak kulit jeruk nipis dengan konsentrasi 0,78, 1,56, 3,125, 6,25, 12,5, 25, 50, dan 100% dengan chlorhexidine sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Media kultur bakteri menggunakan Tripton Soya Agar. Hasil: Berdasarkan analisis statistik menggunakan Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan penurunan jumlah koloni bakteri yang signifikan (p=0,0001) pada KBM dan KHM dari berbagai konsentrasi ekstrak kulit jeruk nipis terhadap pertumbuhan bakteri Prevotella intermedia, uji lanjutan Mann Whitney  menunjukkan perbedaan penurunan jumlah koloni bakteri yang signifikan (p=0,021) antar masing-masing konsentrasi dan kelompok kontrol. Simpulan: Konsentrasi hambat minimal ekstrak kulit jeruk nipis terhadap bakteri Prevotella intermedia 12,5%, konsentrasi bunuh minimalnya 25%. Kata kunci: agen antibakteri; ekstrak jeruk nipis; Prevotella intermediaABSTRACTIntroduction: Prevotella intermedia is one of the main bacteria in periimplantitis. Periimplantitis is inflammation of the soft and hard tissues around the implant that can be prevented using antibacterial plant extracts. One of them is lime peel, which can inhibit the inflammatory process due to its alkaloids, steroids, saponins, flavonoids, and tannins as antibacterial compounds. This study was aimed to determine the antibacterial activity of lime peel by measuring the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of lime peel extract on the growth of Prevotella intermedia. Methods: Experimental laboratory with post-test only control group design. The MIC and MBC tests were performed by the dilution method. The lime peel was macerated using 70% ethanol solvent to obtain lime peel extract with concentrations of 0.78, 1.56, 3.125, 6.25, 12.5, 25, 50, and 100% with chlorhexidine as a positive control and aquadest as a negative control. Bacterial culture media using Tripton Soy Agar. Results: Based on statistical analysis using Kruskal Wallis showed a significant difference in the decrease of the number of bacterial colonies (p=0.0001) in MBC and MIC from various concentrations of lime peel extract on the growth of Prevotella intermedia bacteria. Furthermore, the Mann Whitney follow-up test showed differences in the decrease of the number of bacterial colonies, which was significant (p=0.021) between each concentration and control group. Conclusions: The minimum inhibitory concentration of lime peel extract towards the growth of Prevotella intermedia was 12.5%, with the minimum bactericidal concentration of 25%. Keywords: antibacterial agent; citrus extracts; Prevotella intermedia
Translasi dan validasi kuesioner Psychosocial Impact of Dental Aesthetic Questionnaire versi Indonesiaranslation and validation of the Indonesian version of the Psychosocial Impact of Dental Aesthetics Questionnaire to measure the psychosocial impact of dental aesthetics Akhyar Dyni Zakyah; Avi Laviana
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.32721

Abstract

Pendahuluan: Maloklusi dapat menimbulkan gangguan psikologis dan sosial (psikososial) akibat susunan gigi yang tidak estetik. Gangguan psikososial tersebut dapat mengukur kebutuhan dan keberhasilan perawatan dari sudut pandang pasien dengan lebih akurat. Pengukuran dampak psikososial akibat maloklusi dapat dilakukan dengan kuesioner Psychosocial Impact of Dental Aesthetic Questionnaire (PIDAQ). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan translasi dan memvalidasi kuesioner PIDAQ dalam Bahasa Indonesia. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Prosedur penelitian diadaptasi dari pedoman yang dibuat oleh International Research Diagnostic Criteria for Temporomandibular Disorders (RDC/TMD) Consortium Network. Tahap pertama adalah tahapan linguistik, yaitu penerjemahan PIDAQ yang dibuat oleh Klages, et al., ke Bahasa Indonesia, evaluasi terjemahan PIDAQ Bahasa Indonesia, penerjemahan kembali PIDAQ Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, kemudian evaluasi akhir terjemahan PIDAQ Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Tahap kedua adalah tahapan uji validitas dan reliabilitas. PIDAQ dalam Bahasa Indonesia diberikan kepada 32 orang responden untuk melihat validitas dan reliabilitas PIDAQ dalam Bahasa Indonesia. Tahap ketiga adalah tahapan analisis. Hasil uji validitas dan reliabilitas dianalisis menggunakan analisis Pearson Product Moment, Intra-Class Correlation (ICC), Cronbach Alpha, dan analisis faktor menurut Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan Bartlett’s Test of Sphericity. Hasil: Penelitian ini menghasilkan kuesioner PIDAQ Bahasa Indonesia yang valid dan reliabel berdasarkan analisis Pearson Product Moment, ICC, Cronbach Alpha, analisis faktor menurut KMO, dan Bartlett’s Test of Sphericity. Nilai-nilai analisis tersebut telah menyamai nilai asli pada PIDAQ.  Translasi tersebut terdiri dari 23 pernyataan yang dibagi dalam empat dimensi. Simpulan: Kuesioner Psychosocial Impact of Dental Aesthetic Questionnaire mengukur dampak psikososial dari estetika gigi pada subjek di Indonesia dan setiap item dalam kuisioner valid dan reliabel. ABSTRACTIntroduction: Malocclusion will lead to psychological and social (psychosocial) disorders due to unaesthetic dental arrangement. These disorders can measure the need and success of treatment from the patient’s point of view more accurately. The psychosocial impact of malocclusion can be measured using the Psychosocial Impact of Dental Aesthetic Questionnaire (PIDAQ). This study was aimed to translate and validate the PIDAQ questionnaire in Indonesian. Methods: A cross-sectional study was performed with the procedure adapted from guidelines developed by the International Research Diagnostic Criteria for Temporomandibular Disorders (RDC/TMD) Consortium Network. The first stage was the linguistic stage, which was the Indonesian translation of PIDAQ by Klages et al., evaluation of the Indonesian translation, retranslation of the Indonesian version of PIDAQ to the original version, and final evaluation of the Indonesian to English translation of PIDAQ. The second stage was the stage of validity and reliability testing. The Indonesian version of PIDAQ was given to 32 respondents to test its validity and reliability. The third stage was the analysis stage. The validity and reliability tests results were analysed using Pearson Product Moment, Intra-Class Correlation (ICC), Cronbach Alpha, and factor analysis according to Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) and Bartlett’s Test of Sphericity. Results: A valid and reliable Indonesian version of the PIDAQ questionnaire was able to be created based on the Pearson Product Moment, ICC, Cronbach Alpha, KMO factor analysis, and Bartlett’s Test of Sphericity results. The analysis values of the Indonesian version of the PIDAQ questionnaire were close to the original version’s values. The translation consisted of 23 statements divided into four dimensions. Conclusions: The Psychosocial Impact of Dental Aesthetic Questionnaire measures the psychosocial impact of dental aesthetics on Indo-nesian subjects, and each item in the questionnaire is valid and reliable.
Efektivitas ekstrak kulit kayu rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap Candida albicansThe effectiveness of rambutan (Nephelium lappaceum L.) bark extract on the growth of Candida albicans Minasari Nasution; Sri Amelia; Masdelina Nasution
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.32223

Abstract

Pendahuluan: Ekstrak kulit kayu rambutan memiliki senyawa aktif yang digunakan sebagai  antijamur terutama pada Candida albicans. Candida albicans pada rongga mulut dapat menyebabkan kandidiasis lidah. Salah satu faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut atau perubahan mikrobiologi mulut karena pemakaian antibiotika dalam waktu yang lama oleh karena itu diperlukan antibiotik berbahan herbal yang dapat digunakan secara topikal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas daya hambat ekstrak kulit kayu rambutan terhadap pertumbuhan Candida albicans pada konsentrasi 80%, 40%, 20%,10%, konsentrasi minimum daya hambat (KHM) dan daya bunuh (KBM) ekstrak kulit kayu rambutan terhadap Candida albicans. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test only control group design. Sampel yang digunakan adalah Candida albicans yang diisolasi dari penderita kandidiasis lidah dan dibiakkan di Laboratorium Mikrobiologi RS USU. Pengujian efektivitas ekstrak kulit kayu rambutan terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan metode dilusi dan difusi, ekstrak kulit kayu rambutan dibuat dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dengan berbagai konsentrasi (80%, 40%, 20% dan 10%). Hasil: uji Kruskal- Wallis menunjukkan perbedaan zona hambat yang signifikan pada beberapa konsentrasi. KHM Ekstrak kulit kayu rambutan diperoleh 20%, dan KBM 40%. Simpulan: bahwa ekstrak kulit kayu rambutan memiliki efektivitas antijamur terhadap Candida albicans.Kata kunci: kulit kayu rambutan, KHM, KBM, Zona hambat, Candida albicans.
Serial kasus berbagai metode perawatan dislokasi sendi temporomandibula berdasarkan jenis dislokasinyaCase series of various temporomandibular joint dislocation treatment methods based on the dislocation type Dina Novianti; Endang Syamsudin; Winarno Priyanto
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.29712

Abstract

Pendahuluan: Dislokasi sendi temporomandibula (TMJ) merupakan suatu keadaan dimana kondilus keluar dari fosa glenoidalis ke arah superior, posterior atau anterior melewati eminentia artikularis dan seringkali disertai dengan spasme otot-otot pengunyahan. Penanganan yang terlambat dapat menimbulkan komplikasi berupa asimetri wajah dan menggangu pengunyahan. Tujuan penulisan kasus ini adalah menyampaikan serial kasus perawatan dislokasi sendi temporomandibular berdasarkan jenis dislokasinya. Laporan kasus: Empat tipe kasus dislokasi TMJ datang ke IGD dan Poli Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan riwayat dislokasi yang berbeda. Pasien berjenis kelamin dua laki-laki dan dua perempuan, berusia 33 hingga 66 tahun dengan faktor predisposisi menguap. Klasifikasi dislokasi yaitu akut dan kronis. Perawatan keempat kasus berupa reduksi manual, menggunakan metode Hippocrates dan wrist pivot, hingga pembedahan dengan miotomi. Simpulan: Keadaan dislokasi yang berbeda memerlukan perawatan yang berbeda. Kasus akut dapat segera dilakukan reduksi manual, sedangkan kasus kronis memerlukan pembedahan. Keterlambatan penanganan yang tepat dapat membuat keadaan menjadi lebih berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih kompleks dan biaya yang lebih besar. ABSTRACTIntroduction: Temporomandibular joint (TMJ) dislocation is a condition in which the condyle exits the glenoid fossa superiorly, posteriorly, or anteriorly through the articular eminence and is often accompanied by mastication muscle spasm. Delayed treatment can cause complications in the form of facial asymmetry, thus interfere with mastication. The purpose of the case series was to present a case series of temporomandibular joint dislocations treatment based on the dislocation type. Case reports: Four different patients with four types of TMJ dislocation cases came to the ER and the Oral and Maxillofacial Surgery Clinic of Hasan Sadikin Hospital Bandung, with different dislocation histories. The patients were two males and two females, aged 33 to 66 years, with predisposing factors of yawning. Classifications of dislocations were acute and chronic. The four cases’ treatments were manual reduction, each using the Hippocrates method and wrist pivot, up to surgery with myotomy. Conclusions: Different dislocation conditions require different treatments. Acute cases can be directly reduced manually, while chronic cases require surgery. Delay in proper handling will severe the situation, requiring more complex treatment with higher costs.
Efektivitas getah batang betadine (Jatropha multifida L.) terhadap penyembuhan luka pasca pencabutan gigi pada tikus Sprague-DawleyEffectiveness of betadine (Jatropha multifida L.) stem sap on the wound healing after tooth extraction in Sprague-Dawley rats Hendry Rusdy; Astri Suryani Pasaribu Saruksuk; Rahmi Syaflida Dalimunte; Gostry Aldica Dohude
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.32563

Abstract

Pendahuluan: Pencabutan gigi merupakan prosedur yang sering dilakukan di kedokteran gigi. Setelah pencabutan gigi akan dihasilkan suatu perlukaan. Proses penyembuhan luka dapat dipercepat pada kondisi tertentu. Salah satu bahan alami yang dapat membantu proses penyembuhan luka adalah getah tanaman betadine (Jatropha multifida L.). Penelitian bertujuan untuk menganalisis efektivitas getah tanaman betadine terhadap penyembuhan luka dan terhadap tanda-tanda infeksi pasca pencabutan gigi Metode: Desain penelitian studi eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post-test only control group design menggunakan 30 ekor tikus Sprague-Dawley. Teknik pengambilan sampel yaitu convenience sampling. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan getah tanaman betadine dan kelompok kontrol diberikan asam traneksamat secara oral menggunakan sonde lambung. Tunggu selama 4 jam setelah pemberian getah tanaman betadine dan asam traneksamat. Anestesi pada tikus menggunakan ketamin 50 mg/kg berat badan secara intramuskular kemudian dilakukan pencabutan pada gigi tikus. Pengamatan dilakukan dengan melihat kriteria klinis pada hari 1,3,7 dan diperhatikan sampai luka sembuh serta lihat tanda-tanda infeksi. Analisis data dilakukan dengan uji normalitasShapiro Wilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi tidak normal. Analisis data dilanjutkan menggunakan uji statistik mann whitney. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan penyembuhan luka soket pasca pencabutan gigi setelah diberikan getah betadine dan asam traneksamat dengan nilai p=0,037 (p<0,005). Simpulan: Pemberian getah tanaman betadine terbukti lebih efektif terhadap proses penyembuhan luka soket pasca pencabutan gigi dibandingkan dengan pemberian asam traneksamat. Kata kunci: tikus Sprague-Dawley; penyembuhan luka; pencabutan gigi; getah batang betadine ABSTRACTIntroduction: Tooth extraction is a procedure often performed in dentistry. Tooth extraction will always cause injuries. However, the wound healing process can be accelerated under certain conditions. One of the natural ingredients that can accelerate the wound healing process is betadine (Jatropha multifida L.) plant sap. The study was aimed to analyzed the effect of betadine plant sap on wound healing and signs of infection after tooth extraction. Methods: Experimental laboratory study design with post-test only control group design was conducted towards 30 Sprague-Dawley rats. The sampling technique was convenience sampling. The sample was divided into two groups, the treatment group and the control group. The treatment group was administered with betadine plant sap, and the control group was administered with tranexamic acid orally using a gastric probe, then waited 4 hours after. The anaesthesia was then performed using 50 mg/kg body weight of ketamine intramuscularly. The extraction was performed after. Observations was conducted at the clinical criteria on days 1, 3, and 7 and continue to be monitored until the wound heals. Then, the signs of infection were observed. Data analysis was carried out using the Shapiro Wilk normality test. The results showed that the data was not normally distributed. Thus, data analysis was continued using the Mann Whitney statistical test. Results: The results showed a significant difference in the healing of socket wounds after tooth extraction after being administered with betadine sap and tranexamic acid with a value of p=0.037 (p<0.005). Conclusions: Administration of betadine plant sap is proven to be more effective in accelerating the healing process of socket wounds after tooth extraction than tranexamic acid. Keywords: Sprague-Dawley rats; wound healing; pencabutan gigi; getah batang betadine 
Pre endodontik build-up dengan teknik canal projection pada gigi insisif lateral rahang atas disertai kerusakan mahkota yang sangat luasPre endodontic build-up with canal projection technique on maxillary lateral incisors with extensive crown damage Maria Faizarani; Diani Prisinda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.29521

Abstract

Pendahuluan: Gigi dengan kerusakan mahkota yang sangat luas sering menimbulkan masalah dalam perawatan endodontik seperti kesulitan dalam penempatan klem rubber dam sehingga isolasi yang kurang memadai serta kemungkinan terjadinya kebocoran koronal yang mengakibatkan risiko kegagalan perawatan endodontik. Gigi dengan keadaan tersebut  membutuhkan restorasi sementara pre endodontic agar dapat dilakukan isolasi yang memadai, penempatan klem yang efektif selama perawatan dan pemulihan estetik sementara selama perawatan saluran akar. Tujuan laporan kasus ini untuk menjelaskan pembuatan pre endodontic build-up menggunakan alat tip plastik sekali pakai selama perawatan saluran akar pada gigi insisif rahang atas dengan kerusakan mahkota yang sangat luas. Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 53 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Unpad dengan keluhan gigi seri rahang atas kiri patah saat makan. Gigi tersebut pernah dirawat saluran akar satu tahun yang lalu namun tidak selesai.  Pemeriksaan klinis menunjukkan kehilangan mahkota sampai batas servikal, dan terdapat gambaran radiolusen yang difus di area periapikal. Diagnosis berdasarkan American Association of Endodontics   (AAE) adalah previously initiated therapy disertai periodontitis apikalis asimptomatik. Pembuatan pre endodontic build-up dengan teknik canal projection dilakukan untuk mendapatkan isolasi sekaligus sebagai restorasi sementara dan dilanjutkan dengan perawatan saluran akar dan pembuatan mahkota all porcelain dengan fiber post. Simpulan: Pembuatan pre endodontic build-up menggunakan teknik canal projection  berhasil dilakukan selama perawatan saluran akar gigi insisif lateral kiri atas dengan kerusakan mahkota yang sangat luas. Pre endodontic build-up dengan teknik canal projection pada kasus ini dapat memberikan isolasi yang memadai, memudahkan penempatan klem rubber dam serta memberikan pemulihan estetik yang baik selama periode antar kunjungan. ABSTRACTIntroduction: Extensive crown damage often causes problems in endodontic treatment, such as difficulty placing rubber dam clamps, resulting in inadequate isolation and the possibility of coronal leakage, which results in treatment failure risk. This condition requires pre-endodontic temporary restorations to provide adequate isolation, effective clamping during treatment, and temporary aesthetic restoration during root canal treatment. The purpose of this case report was to describe the fabrication of a pre-endodontic build-up using a disposable plastic tip device during root canal treatment of a maxillary incisor with extensive crown damage. Case report: A 53-year-old female patient came to the Conservative Dentistry Clinic of Universitas Padjadjaran Dental Hospital to complain of a fractured left maxillary incisor that occurred while eating. The tooth had a root canal treatment one year prior but was not completed. Clinical examination revealed crown loss to the cervical margin and a diffuse radiolucent appearance in the periapical area. According to the American Association of Endodontics (AAE), the diagnosis was previously initiated therapy with asymptomatic apical periodontitis. Therefore, the pre-endodontic build-up using the canal projection technique was performed to obtain isolation and temporary restoration, continued with root canal treatment and the manufacture of an all-porcelain crown with fibre post. Conclusions: The pre-endodontic build-up with canal projection technique has been successfully performed during root canal treatment of the maxillary left lateral incisor with extensive crown damage. Pre-endodontic build-up with canal projection technique can provide adequate isolation, facilitate the placement of rubber dam clamps, and provide good aesthetic recovery during the period between visits.
Hubungan pengetahuan serta dukungan keluarga dengan dental anxiety pada usia dewasa muda Relationship of knowledge and family support with dental anxiety in young adulthood Tira Hamdillah Skripsa; Haniifa Yusiani Mumtaz; Ira Anggar Kusuma; Yoghi Bagus Prabowo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.33253

Abstract

Pendahuluan: Dental anxiety merupakan respon psikologis dan fisiologis terhadap tindakan perawatan gigi. Penyebab timbulnya dental anxiety diantaranya adalah pengetahuan dan dukungan keluarga, kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut dapat menjadi pemicu munculnya anxiety, sedangkan dukungan keluarga dipercaya dapat meningkatkan semangat individu, tingkat keberhasilan dalam perawatan, serta mengurangi anxiety. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pengetahuan serta dukungan keluarga dengan dental anxiety pada usia dewasa muda. Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian golongan usia dewasa adalah mahasiswa Universitas Diponegoro program studi kesehatan dan non kesehatan berjumlah 603 mahasiswa. Berdasarkan perhitungan besar sampel menggunakan rumus lameshow, didapatkan jumlah sampel 234 dengan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan dan dukungan keluarga, serta kuesioner Modified Dental Anxiety Scale dengan skala ordinal. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Mild anxiety lebih banyak dialami responden dengan pengetahuan kurang baik. Persentase mild anxiety hampir sama bagi responden yang mendapat dukungan (56,9%) atau tidak (61,2%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan dental anxiety (p=0,012) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan keluarga dengan dental anxiety (p=0,471). Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan dental anxiety dan tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan dental anxiety. Kata kunci: Dental anxiety; pengetahuan; dewasa muda ABSTRACTIntroduction: Dental anxiety is a psychological and physiological response to dental treatment. The causes of dental anxiety include family knowledge and support, lack of knowledge about dental and oral health can trigger anxiety, while family support is believed to increase individual enthusiasm and success rates in treatment, thus reducing anxiety. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and family support with dental anxiety in young adulthood. Methods: This research was analytic observational with a cross-sectional design. The research population was the young adult age group, 603 students of Diponegoro University from the health and non-health study programs. Based on the sample size calculation with the lameshow formula, the number of samples obtained was 234 with consecutive sampling technique. The research instrument used was the knowledge and family support questionnaire and a Modified Dental Anxiety Scale questionnaire with an ordinal scale. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. Results: Mild anxiety was more experienced by respondents with poor knowledge. The percentage of mild anxiety was almost similar for respondents who received support (56.9%) or not (61.2%). The analysis results showed a significant relationship between knowledge and dental anxiety (p=0.012), and there was no significant relationship between family support and dental anxiety (p=0.471). Conclusions: There is a relationship between knowledge and dental anxiety. However, there is no relationship between family support and dental anxiety. Keywords: dental anxiety; knowledge; young adults
Perbedaan perilaku lansia sebelum dan sesudah diberikan instruksi pembersihan gigi tiruan lengkap secara lisan dan tulisanDifferences in the behaviour of the elderly before and after educated with verbal and non-verbal complete denture cleaning instructions Niko Falatehan; Nikita Theodorus
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.31962

Abstract

Pendahuluan: Lansia adalah kelompok masyarakat berusia di atas 60 tahun dan mengalami proses penuaan seperti perubahan fisik, kognitif, psikososial, maupun rongga mulut. Salah satu perubahan rongga mulut yang terjadi adalah kehilangan seluruh gigi yang dapat ditatalaksana dengan menggunakan Gigi Tiruan Lengkap (GTL) yang berfungsi untuk memperbaiki fungsi estetik, fonetik, dan mastikasi. Salah satu faktor penting dalam menjaga kebersihan GTL yaitu pemberian instruksi secara lisan dan tulisan untuk membentuk perilaku pasien ke arah yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan perilaku lansia sebelum dan sesudah diberikan instruksi pembersihan GTL secara lisan dan tulisan. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental dengan rancangan one group pre and post test menggunakan kuesioner berisikan 15 pertanyaan dan total responden sebanyak 25 lansia di Panti Wredha Wisma Mulia dengan 16 wanita dan 9 pria. Pengambilan data dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan dengan individu yang sama yaitu hari pertama kunjungan dan 2 minggu setelah kunjungan pertama. Perilaku lansia dinilai dari kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil: Perilaku awal pasien GTL lansia termasuk kategori buruk dan mengalami peningkatan ke kategori baik setelah diberikan instruksi lisan dan tulisan berupa leaflet dengan nilai uji Wilcoxon Signed Rank didapatkan nilai p=0,000. Simpulan: Terdapat perbedaan perilaku lansia sebelum dan sesudah pemberian instruksi instruksi lisan dan tulisan dalam bentuk leaflet pembersihan gigi tiruan lengkap, dimana perilaku pasien berubah ke arah yang lebih baik yang dinilai dari data sebelum dan sesudah diberikan. ABSTRACTIntroduction: Elderly are a group of people aged over 60 years and experiencing the ageing process in the physical, cognitive, psychosocial, and oral aspects. One of the changes in the oral cavity is teeth loss, which can be managed using a complete denture to improve aesthetic, phonetic, and masticatory functions. One of the essential factors in maintaining complete denture hygiene is delivering proper verbal and non-verbal instructions to improve the patient’s behaviour. This study was aimed to analyse the differences in the behaviour of the elderly before and after educated with verbal and non-verbal complete denture cleaning instructions. Methods: Experimental research with a one group pre- and post-test design using a questionnaire containing 15 questions was conducted towards 25 elderly respondents in Wisma Mulia Nursing Home, 16 females and 9 males. Data collection was carried out in 2 meetings with the same individual—the first day of the visit and two weeks after. The behaviour of the elderly was assessed from a questionnaire and analysed using the Wilcoxon Signed-Rank test. Results: The initial behaviour of the elderly with complete denture was in the poor category and increased to the good category after being educated with verbal and non-verbal instructions in the form of leaflets with a Wilcoxon Signed Rank test value, p=0.000. Conclusions: There are differences in the behaviour of the elderly before and after being educated with verbal and non-verbal instructions in the form of complete denture cleaning leaflets, where the patient’s behaviour changes for the better, which is assessed from the data before and after education.
Analisis morfologi dan dimensi sella tursika pada pasien celah bibir langit-langit dan tanpa celah bibir langit-langit non sindromik usia 6-15 tahunAnalysis of morphology and dimensions of the sella turcica in patients with cleft palate and non-syndromic cleft palate aged 6-15 years Rudi Satria Darwis; Rifdah Triswidiyanti Zaahidah Abroor
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.31960

Abstract

Pendahuluan: Sella tursika adalah cekungan berbentuk pelana (saddle shaped) tulang sphenoid yang terletak pada fosa kranium media dan merupakan referensi anatomis yang penting pada analisis sefalometri. Morfologi dan dimensi sella tursika dapat dipengaruhi oleh kelenjar pituitari yang mengakibatkan gangguan regulasi sekresi kelenjar hormon,  dan/atau gangguan celah bibir dan langit-langit. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan morfologi dan dimensi sella tursika pada pasien celah bibir langit-langit dan tanpa celah bibir langit-langit non sindromik usia 6-15 tahun. Metode: Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan purposive sampling pada 46 radiografi sefalometri lateral terstandarisasi yang terdiri dari 23 sampel pada masing-masing kelompok. Data dianalisis secara statistik menggunakan Kolmogorov Smirnov Z dan independent sample t-test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan morfologi dinding anterior oblique lebih banyak ditemukan pada pasien celah bibir langit-langit non sindromik, sedangkan morfologi normal lebih banyak ditemukan pada pasien tanpa celah bibir langit-langit (p=0,026). Terdapat perbedaan diameter dan kedalaman sella tursika antara kedua subjek, dan ditemukan bahwa pasien celah bibir langit-langit non sindromik memiliki rerata dimensi yang lebih kecil dibandingkan pasien tanpa celah bibir langit-langit (p=0,043 dan p=0,001). Simpulan: Terdapat perbedaan morfologi dan dimensi sela tursika berupa diameter dan kedalaman sela tursika yang lebih kecil pada pasien celah bibir langit-langit dibandingkan pasien tanpa celah bibir langit-langit non sindromik usia 6-15 tahun. ABSTRACTIntroduction: The sella turcica is a saddle-shaped depression of the sphenoid bone in the middle of the cranial fossa and is an essential anatomical reference in cephalometric analysis. The morphology and dimensions of the sella turcica can be influenced by the pituitary gland, impaired regulation of hormone secretion and cleft lip and palate disorders. This study was aimed to analyse the differences in the morphology and dimensions of the sella turcica in patients with cleft palate and non-syndromic cleft palate aged 6-15 years. Methods: This study was cross-sectional with purposive sampling on 46 standardised lateral cephalometric radiographs consisting of 23 samples in each group. Data were analysed statistically using Kolmogorov Smirnov Z and an independent sample t-test. Results: The results showed that the morphology of the anterior oblique wall was more commonly found in non-syndromic cleft lip and palate patients, while normal morphology was found more in patients without cleft palate (p=0.026). There were differences in the diameter and depth of the sella turcica between the two subjects, and it was found that non-syndromic cleft lip and palate patients had a smaller mean dimension than patients without cleft palate (p=0.043 and p=0.001). Conclusions: There are morphological differences and dimensions of the sella turcica in the form of a smaller diameter and depth of the cleft palate in patients with cleft palate compared to patients without non-syndromic cleft palate aged 6-15 years.
Profil lesi jaringan lunak rongga mulut anak stunting kategori pendek dan sangat pendekProfile of oral soft tissue lesions in stunted and severely stunted children Salsabila Hasbullah; Roedy Budirahardjo; Niken Probosari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i2.33134

Abstract

Pendahuluan: Stunting adalah keadaan kekurangan gizi kronis yang dipresentasikan secara antropometri berdasarkan nilai Z-score tinggi badan kurang dari -2 standar deviasi (SD) WHO Child Growth Standards pada kelompok umur dan jenis kelamin yang sama. Salah satu faktor utama penyebab stunting adalah defisiensi mikronutrien kronis pada 1000 hari pertama kehidupan secara spesifik pada vitamin B2, vitamin B6, zinc, dan zat besi Di sisi lain, defisiensi tersebut pun dapat menyebabkan berbagai lesi pada rongga mulut. Anak stunting memiliki risiko lebih tinggi pada lesi, penyakit bahkan kematian terutama pada anak stunting kategori sangat pendek.  Tujuan penelitian untuk mengetahui profil lesi jaringan lunak rongga mulut pada anak stunting kategori pendek dan sangat pendek. Metode: Jenis penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data rekap bulanan status gizi berdasarkan Z-score oleh Puskesmas Jelbuk dan data primer berupa hasil pemeriksaan rongga mulut pada anak stunting. Hasil: Lesi jaringan lunak rongga mulut pada anak stunting kategori pendek adalah; Glositis (41,9%), Angular cheilitis (16,1%), Ulser (9,6%), Recurrent Apthous Stomatitis (6,4%), Oral Candidiasis (3,3%). Anak stunting kategori sangat pendek: Glositis (53,5%), Angular cheilitis (17,8%), Ulser (3,5%), Recurrent Apthous Stomatitis  (7,1%), Oral Candidiasis (3,5%). Simpulan: Lesi jaringan lunak rongga mulut dengan prevalensi terbesar pada kedua kelompok kategori stunting adalah Athropic glossitis. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus oleh praktisi kesehatan maupun pemerintah setempat karena kesehatan rongga mulut secara utuh akan memengaruhi asupan nutrisi bagi anak dan sebaliknya.Kata kunci: stunting; jaringan lunak rongga mulut; anak; lesiABSTRACTIntroduction: Stunting is a condition of chronic malnutrition presented anthropometrically based on the Z-score of height less than -2 standard deviations (SD) of the WHO Child Growth Standards in the same age and sex group. One of the main factors of stunting is chronic micronutrient deficiency in the first 1000 days of life, specifically of vitamin B2, vitamin B6, zinc, and iron. On the other hand, these deficiencies can also cause various lesions in the oral cavity. Stunting children have a higher lesion risk, disease, and even death, especially in severely stunted children. This study was aimed to examine the profile of oral soft tissue lesions in stunted and severely stunted children. Methods: The type of research used was descriptive observational research with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling. This study uses secondary data in the form of monthly recap data on the nutritional status based on Z-score by Jelbuk Health Center and primary data in oral cavity examination results in stunted children. Results: Oral soft tissue lesions in stunted children were glossitis (41.9%), angular cheilitis (16.1%), ulcer (9.6%), recurrent aphthous stomatitis (6.4%), and oral candidiasis (3.3%). Severely stunted children: Glossitis (53.5%), angular cheilitis (17.8%), ulcer (3.5%), recurrent aphthous stomatitis (7.1%), oral candidiasis (3.5%). Conclusions: The oral soft tissue lesion with the highest prevalence in both groups of stunting children was atrophic glossitis. This condition needs special attention from health practitioners and local governments because oral health will affect nutritional intake for children and vice versa.Keywords: stunting, oral soft tissue; children; lesion

Page 1 of 2 | Total Record : 12