cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 1 (2022): April 2022" : 12 Documents clear
Perbandingan daya antibakteri serat selulosa sabut kelapa (Cocos nucifera L.) pada konsentrasi berbeda terhadap Streptococcus mutansComparison of the antibacterial power of coconut cellulose fiber (Cocos nucifera L.) at different concentrations against Streptococcus mutans Sinta Puspita; Diana Soesilo; Linda Rochyani; Twi Agnita Cevanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.35076

Abstract

Pendahuluan: Kelemahan dari komposit konvensional adalah terjadinya shrinkage dan stress polimerisasi. Penggunaan serat sebagai bahan pengisi pada resin komposit dapat menurunkan kontraksi polimerisasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya serat sabut kelapa memiliki daya antibakteri yang cukup baik karena mengandung golongan senyawa metabolit sekunder yaitu tanin, flavonoid, dan polifenol. Selain itu juga memiliki beberapa senyawa, antara lain asam elagat, asam galat, epikatekin, dan katekin yang juga diperkirakan memiliki aktivitas sebagai anti bakteri. Serat sabut kelapa tidak dapat digunakan secara langsung dalam bentuk aslinya sehingga dibutuhkan modifikasi untuk membersihkan serat. Tujuan penelitian menganalisis perbandingan daya antibakteri serat selulosa sabut kelapa (Cocos nucifera L.) pada konsentrasi berbeda terhadap S. mutans. Metode: Jenis penelitian true experimental dengan desain penelitian posttest only control design. Ekstraksi serat selulosa dari sabut kelapa melalui proses bleaching kemudian sintesis selulosa menggunakan NaOH dan urea selanjutnya di nukleasi dengan etanol sebagai anti solvent organik dan dikeringkan dengan proses sublimasi. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode sumur difusi dengan dua konsentrasi uji yaitu kelompok 1 menggunakan anti solvent etanol 70% dan, pada kelompok 2 menggunakan etanol 96%. Kontrol negatif menggunakan aquadest steril. Selanjutnya diamati dan diukur diameter zona hambat dengan jangka sorong. Data yang diperoleh diuji statistik menggunakan independent t-test. Hasil: Daya antibakteri kelompok sampel yang diberi perlakuan etanol 96% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok sampel etanol 70%.  Hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa nilai p yang signifikan p=0,000<0,05, Simpulan: Serat sabut kelapa yang diberi etanol dengan konsentrasi 96% terbukti memiliki daya antibakteri yang lebih tinggi daripada yang diberi etanol dengan konsentrasi 70%.Kata kunci: daya antibakteri; serat sabut kelapa; Streptococcus mutans ABSTRACTIntroduction: The weakness of conventional composites is the occurrence of shrinkage and polymerisation stress. The use of fiber as a filler in composite resins can reduce polymerisation contraction. Based on previous research, coconut fiber has good antibacterial properties because it contains a class of secondary metabolites, namely tannins, flavonoids, and polyphenols. In addition, it also has several compounds, including ellagic acid, gallic acid, epicatechins and catechins which are also thought to have antibacterial activity. However, coconut fiber cannot be used directly in its original form so modifications are needed to clean the fiber. This study aimed to compare the antibacterial power of coconut cellulose (Cocos nucifera L.) fibers at different concentrations against S. mutans. Methods: This type of research is true experimental with posttest only control design. Extraction of cellulose fiber from coconut fiber through a bleaching process and then synthesis of cellulose using NaOH and urea then nucleated with ethanol as an organic anti-solvent and dried by sublimation process. The antibacterial activity was tested using the diffusion well method with two test concentrations, namely group 1 using 70% ethanol anti-solvent and, in group 2 using 96% ethanol. Negative control using sterile distilled water. Then observed and measured the diameter of the inhibition zone with a caliper. The data obtained were statistically tested using independent t-test. Results: The antibacterial power of the sample group that was treated with ethanol was 96% higher than that of the 70% ethanol sample group. The results of the independent t-test obtained the p-value of p=0.000; p<0.05. Conclusion: Coconut fiber which was given ethanol with a concentration of 96%, proved to have higher antibacterial power than that given ethanol with a concentration of 70%.Keywords: antibacterial activity; coconut fiber; Streptococcus mutans
Faktor risiko dan tatalaksana kandidiasis oral pada pasien dengan drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS)Risk factors and management of oral candidiasis in drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS) patients Embun Manja Sari; Nuri Fitriasari; Nanan Nur&#039;aeny
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.33531

Abstract

Pendahuluan: Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) adalah reaksi obat yang jarang terjadi, tetapi menimbulkan reaksi klinis yang berat, berupa demam, erupsi kulit, dan keterlibatan organ internal. Terapi medikasi untuk pasien DRESS berupa pemberian kortikosteroid high potent memiliki faktor risiko terjadinya kandidiasis oral selain faktor gangguan imunitas secara sistemik akibat DRESS. Penulisan laporan kasus bertujuan untuk memaparkan faktor risiko dan tatalaksana kandidiasis oral pada pasien DRESS. Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 51 tahun dirawat selama 14 hari dengan diagnosis DRESS oleh bagian Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Terapi intravena yang diberikan adalah Deksametason 20 gram/hari, Vitamin K 3x1 ampul/hari, Omeprazole 1x40 gram/hari, dan Siprofloksasin 2x400 gram/hari. Terapi per oral yang diberikan adalah: Cetirizine 1x10 gram/hari, Curcuma 3x1 kapsul/hari, Asam folat 1x1 tab/hari, Asetilsistein 2x2 mg/hari, serta Callos 1x500 mg/hari. Pasien kemudian dikonsulkan ke bagian Ilmu Penyakit Mulut karena memiliki keluhan sakit pada rongga mulut, tenggorokan, dan bibir sejak 3 hari di RS. Riwayat sariawan berulang disangkal. Pasien tidak pernah menyikat gigi selama rawat inap. Tatalaksana kandidiasis oral diberikan Nystatin in oral suspension 4x200.000 IU/hari, Chlorhexidine digluconate 0,12%, asam hialuronat, NaCl 0,9%, serta Mikonazol krim 2% dan racikan deksametason salep 0,002% diberikan terkait lesi pada bibir dan dioleskan pada sudut mulut. Simpulan: Faktor risiko kandidiasis oral pada pasien DRESS adalah penggunaan kortikosteroid secara sistemik, gangguan imun terkait DRESS, dan kebersihan rongga mulut yang buruk. Tatalaksana kandidiasis oral diberikan adalah antifungal dan antiseptik.Kata kunci: drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms; faktor risiko; kandidiasis oral ABSTRACTIntroduction: Drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS) is a rare drug reaction but causes severe clinical reactions in the form of fever, skin eruptions, and involvement of internal organs. Medical therapy for DRESS patients in the form of high potent corticosteroids has a risk factor for oral candidiasis and systemic immune disorders. This case report aimed to describe the risk factors and management of oral candidiasis in DRESS patients. Case report: A 51-year-old male was treated for 14 days with a diagnosis of DRESS by the Department of Dermatology and Venereology of Hasan Sadikin Hospital, Bandung. Intravenous therapy administered was 20 grams/day of Dexamethasone, 3x1 ampoules/day of Vitamin K, 1x40 grams/day of Omeprazole, and 2x400 grams/day of Ciprofloxacin. Oral therapy was 1x10 grams/day of Cetirizine, 3x1 capsules/day of Curcuma, 1x1 tab/day of folic acid, 2x2 mg/day of Acetylcysteine, and 1x500 mg/day of Callos. The patient was then referred to the Department of Oral Medicine because of complaints of pain in the oral cavity, throat, and lips after hospitalisation for three days. History of recurrent thrush was denied. The patient never brushed his teeth during hospitalisation. The management of oral candidiasis was the administration of Nystatin in oral suspension with the dose of 4x200,000 IU/day, 0.12% Chlorhexidine digluconate, hyaluronic acid, 0.9% NaCl, and 2% topical Miconazole,  and a mixture of 0.002% dexamethasone ointment, which was given related to lesions on the lips, and topically administered in the corner of the lips. Conclusion: The risk factors for oral candidiasis in DRESS patients are systemic use of corticosteroids, DRESS-related immune disorders, and poor oral hygiene. The management of oral candidiasis is antifungal and antiseptic.Keywords: drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms; oral candidiasis, risk factors
Perbandingan tingkat kepuasan pasien terhadap hasil perawatan ortodonti ekstraksi dan non ekstraksi berdasarkan modifikasi Boston Orthodontic SocietyComparison of the patient satisfaction level with the results of the extracted and non-extracted orthodontic treatment according to the modification of the Boston Orthodontic Society Harris Pramono Wardojo; Avi Laviana; Ida Ayu Evangelina; Endah Mardiati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.35812

Abstract

Pendahuluan: Perawatan ortodonti untuk memperbaiki maloklusi terus meningkat merupakan perawatan yang paling banyak diminati oleh pasien. Perawatan ortodonti dapat dilakukan dengan ekstraksi ataupun non-ekstraksi yang dapat memengaruhi kepuasan pasien seperti perubahan dentofasial, fungsi dental dan psikososial yang dapat diukur salah satunya menggunakan modifikasi  Boston Orthodontic Society (BOS). Tujuan penelitian membandingkan tingkat kepuasan pasien terhadap hasil perawatan ortodonti ekstraksi dan non ekstraksi menggunakan kuesioner BOSS. Metode: Jenis penelitian observasional analitik rancangan cross sectional untuk membandingkan tingkat kepuasan kelompok pasien dengan perawatan ortodonti ekstraksi dibandingkan dengan kelompok non ekstraksi. Sampel berjumlah 60 subjek maloklusi skeletal kelas I, II, III yang terbagi atas 30 subjek ekstraksi dan 30 subjek non ekstraksi. Masing-masing subjek diberi kuesioner Bos dalam Bahasa Indonesia yang telah dimodifikasi dan telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Kuesioner Bos modifikasi terdiri dari 22 pernyataan yang terbagi atas 3 subskala yaitu perubahan dentofasial (9 pernyataan), perubahan psikososial (9 pernyataan), dan fungsi dental (4 pernyataan). Hasil: Tingkat kepuasan pasien ekstraksi terhadap hasil perawatan ortodonti menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan non ekstraksi, namun berdasarkan analisis Mann Whitney tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok ekstraksi dengan non ekstraksi pada seluruh sampel; kelompok ekstraksi kasus borderline dengan non ekstraksi kasus borderline; kelompok ekstraksi kasus severe dengan non ekstraksi kasus borderline; kelompok kelas I skeletal ekstraksi dengan non ekstraksi (nilai p>0.05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan tingkat kepuasan pasien terhadap hasil perawatan ortodonti antara kelompok ekstraksi dibandingkan dengan kelompok non ekstraksi.Kata kunci: alat ortodonti cekat; ekstraksi, kuesioner BOS; perawatan maloklusi; tingkat kepuasan pasien ABSTRACTIntroduction: Orthodontic treatment to improve malocclusion is the most popular treatment for patients. Orthodontic treatment can be done by extraction or non-extraction that can affect patient satisfaction such as dentofacial changes, dental and psychosocial functions that can be measured, one of which is using a modification of the Boston Orthodontic Society (BOS). The purpose of the study was to compare patient satisfaction level with the results of the extracted and non-extracted orthodontic treatment using the BOSS questionnaire. Methods: This type of research was an analytical observational cross-sectional design to compare the level of satisfaction of the patient group with extraction orthodontic treatment compared to the non-extraction group. The sample consisted of 60 subjects with skeletal malocclusion class I, II, and III divided into 30 extraction subjects and 30 non-extracted subjects. Each subject was given a BOSS questionnaire in Indonesian, modified and tested for validity and reliability. The Modified BOSS Questionnaire consisted of 22 statements which were divided into three subscales, namely dentofacial changes (9 statements), psychosocial changes (9 statements), and dental function (4 statements). Results: The level of satisfaction of extraction patients with orthodontic treatment results showed higher results than non-extraction but based on Mann-Whitney analysis, there was no significant difference between the extraction and non-extraction groups in all samples; borderline case extraction group with non-borderline case extraction; severe case extraction group with non-borderline case extraction; class I skeletal extraction group with non-extraction (p value>0.05). Conclusion: There was no difference in the level of patient satisfaction with the results of orthodontic treatment between the extraction group and the non-extraction group.Keywords: fixed orthodontics; extraction; BOSS questionnaire; malocclusion treatment; patient satisfaction level
Manajemen pendarahan gingiva akibat pansitopenia pada pasien dengan suspek anemia aplastikManagement of pancytopenia gingival bleeding in patients with suspected aplastic anaemia Fika Faradillah Drakel; Dewi Zakiawati; Nanan Nur&#039;aeny
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.33530

Abstract

Pendahuluan: Pansitopenia merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh adanya anemia, leukopenia serta trombositopenia akibat gangguan pada sumsum tulang yang menyebabkan proses produksi sel hematopoietik menjadi tidak normal. Salah satu manifestasi rongga mulut pada pansitopenia adalah pendarahan gingiva. Perawatan pendarahan gingiva telah banyak dilakukan dengan pemberian obat kumur feracrylum 1%, atau dengan cara mengompres lokasi pendarahan menggunakan kain kasa yang ditetes dengan lidokain. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan manajemen perawatan pendarahan gingiva pada pasien pansitopenia dengan suspek anemia aplastik. Laporan kasus: Seorang pria berusia 50 tahun dengan keluhan lemah badan, demam, melena dan gingiva berdarah sejak dua tahun yang lalu, tidak disertai rasa sakit pada gingiva dan area lainnya dalam rongga mulut. Pasien ini dirawat bersama oleh bagian Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Penyakit Mulut. Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan adanya pendarahan pada gingiva regio rahang atas kiri dan bawah kiri. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan hemoglobin: 7,1g/dL, hematokrit: 18%, eritrosit 1,46x104/μL, leukosit 2,5x103/μL, trombosit 7,2x104/μL. Hasil pemeriksaan sumsum tulang yang pertama sulit dinilai. Transfusi darah diberikan dua labu perhari selama enam hari, area pendarahan pada gingiva dilakukan  kompres menggunakan asam traneksamat selama satu sampai tiga menit kemudian dilanjutkan kumur asam traneksamat selama satu menit. Hasil setelah terapi selama 6 hari, tidak ditemukan lagi pendarahan pada gingiva. Simpulan: Terapi lokal kompres dan kumur asam traneksamat dapat menjadi pilihan perawatan yang sangat efektif untuk menghentikan pendarahan gingiva pada pasien pansitopenia, selain terapi transfusi darah tetap dilakukan untuk mengembalikan kadar normal komponen dalam darah.Kata kunci: anemia aplastik; asam traneksamat; pansitopenia; pendarahan gingiva ABSTRACTIntroduction: Pancytopenia is a condition characterised by anaemia, leukopenia and thrombocytopenia due to disorders of the bone marrow that cause the production process of hematopoietic cells to become abnormal. One of the oral manifestations of pancytopenia is gingival bleeding. Gingival bleeding treatment has been mainly carried out by administering 1% Feracrylum mouthwash or compressing the bleeding site using gauze dripped with lidocaine. This case report aimed to describe the management of pancytopenia gingival bleeding in patients with suspected aplastic anaemia. Case report: A 50-year-old male with the chief complaint of weakness, fever, melena, and gingival bleeding two years prior, without gingival pain and other oral cavity areas. This patient was treated simultaneously by the Department of Internal Medicine and Oral Medicine. Examination of the oral cavity revealed bleeding in the left maxillary and left mandibular gingiva. Investigation results showed haemoglobin level was 7.1g/dL, hematocrit 18%, erythrocytes 1.46x104/μL, leukocytes 2.5x103/μL, and platelets 7.2x10⁴/μL. However, the first bone marrow examination result was still challenging to assess. Therefore, two flasks of blood transfusions were given per day for six days. The bleeding gingival area was compressed using tranexamic acid for one to three minutes, followed by tranexamic acid gargling for one minute. After six days of therapy, no more gingival bleeding was detected. Conclusion: Local compress therapy and tranexamic acid gargling can be effective treatment options to stop gingival bleeding in pancytopenia patients; blood transfusion therapy needs to remain carried out to restore normal levels of blood components.Keywords: aplastic anaemia; tranexamic acid; pancytopenia; gingival bleeding
Perbandingan efektivitas enzim bromelain dan enzim papain terhadap degradasi jaringan karies dentin sebagai agen chemo-mechanical caries removalComparison of the effectiveness of bromelain and papain enzymes on the degradation of dentinal caries tissue as chemo-mechanical caries removal agents Johan Al-Falah; Berlian Prihatiningrum; Raditya Nugroho
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.34457

Abstract

Pendahuluan: Metode pembersihan karies menggunakan handpiece dan bur terbukti masih memiliki banyak kekurangan menyangkut kecemasan dan rasa takut terutama pada anak-anak. Chemo-mechanical caries removal (CMCR) berbasis enzim protease merupakan metode alternatif dalam mengatasi kekurangan dari metode sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbandingan efektivitas pemberian gel enzim bromelain konsentrasi 10% dan pemberian enzim papain selama 2 menit terhadap degradasi jaringan karies, bahwa diharapkan gel enzim bromelain dapat menjadi pertimbangan sebagai alternatif bahan CMCR. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dalam desain pre-test and post-test control group, dengan aplikasi gel bromelain konsentrasi 10% pada kelompok B dan enzim papain (BRIX3000®)pada kelompok P, pada sampel gigi premolar permanen rahang atas dengan karies dentin kelas I G.V. Black selama 2 menit, dengan kelompok K sebagai kontrol. Hasil: Hasil didapatkan berupa gambaran scanning electron microscope (SEM) dari permukaan jaringan karies akibat aplikasi kedua gel enzim protease. Rata-rata kedalaman degradasi jaringan karies dentin pada kelompok kontrol, kelompok enzim bromelain konsentrasi 10%, dan kelompok enzim papain berurutan 28,25 µm, 42,08 µm, dan 40,82 µm. Berdasarkan uji statistik perbedaan antara dua kelompok, kelompok perlakuan enzim protease memiliki perbedaan terhadap kelompok kontrol dengan nilai Sig.(2-tailed) kurang dari 0,05, sedangkan antara kelompok enzim bromelain dan kelompok enzim papain dengan nilai 0,856, yang berarti keduanya tidak berbeda secara signifikan. Simpulan: Aplikasi enzim bromelain ekstrak buah nanas konsentrasi 10% dalam penelitian ini memiliki efektivitas yang setara dengan aplikasi enzim papain (BRIX3000®) selama 2 menit dalam menghasilkan degradasi jaringan karies pada dentin, sehingga bisa menjadi alternatif bahan CMCR.Kata kunci: enzim bromelain konsentrasi 10%; enzim papain; Chemo-mechanical Caries Removal (CMCR); degradasi jaringan karies dentin; scanning electron microscope ABSTRACTIntroduction: The caries removal method using a handpiece and bur is proven to have many shortcomings regarding anxiety and fear, especially in children. Chemo-mechanical caries removal (CMCR) based on protease enzymes is an alternative method to overcome the shortcomings of the previous method. The purpose of this study was to analyse the effectiveness of 10% concentration of bromelain and papain enzyme application for 2 minutes on the caries tissue degradation. It is hoped that bromelain enzyme gel can be considered as an alternative CMCR material. Methods: This research was a laboratory experimental study in pre-test and post-test control group design, with application of 10% bromelain gel in group B and papain enzyme (BRIX3000®) in group P, on samples of maxillary permanent premolars with dentinal caries class I G.V. Black for 2 minutes, with group K as control. Results: The results were obtained in the form of a scanning electron microscope image of the carious tissue surface due to the application of the two protease enzyme gels. The average depth of dentin caries degradation in the control group, the 10% bromelain enzyme group, and the papain enzyme group were 28.25 µm, 42.08 µm, and 40.82 µm. Based on the statistical test of the difference between the two groups, the protease enzyme treatment groups had a significant difference compared to the control group with a Sig. (2-tailed) value of less than 0.05, while between the bromelain enzyme group and the papain enzyme group had a value of 0.856, which means the two were not different significantly. Conclusion: The application of the 10% concentration of bromelain enzyme in pineapple extract for 2 minutes in this study had an effectiveness equivalent to the application of the papain enzyme (BRIX3000® product) for 2 minutes in producing the degradation of carious tissue in dentin, so it could be an alternative material for CMCR.Keywords: 10% concentration of bromelain enzyme; papain enzyme; Chemo-mechanical Caries Removal (CMCR); dentin caries tissue degradation, scanning electron microscope
Pengaruh pelapisan edible coating dan perendaman larutan teh hijau pada basis gigi tiruan nilon termoplastik terhadap kekasaran permukaanEffect of edible coating and green tea solution immersion on the surface roughness of thermoplastic nylon denture base Tessya Indah Ekaputri; Siti Wahyuni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.35351

Abstract

Pendahuluan: Kekasaran permukaan merupakan salah satu faktor penentu ketahanan klinis dari bahan basis gigi tiruan. Pencegahan terhadap tingkat kekasaran permukaan dapat diatasi dengan pengaplikasian edible coating dan perendaman larutan teh hijau. Teh hijau mengandung banyak katekin yang bersifat sebagai desinfektan, antiseptik, serta mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Edible coating berfungsi sebagai penahan (barrier) perpindahan massa dan atau sebagai pembawa (carrier) bahan tambahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelapisan edible coating dan perendaman larutan teh hijau pada basis gigi tiruan nilon termoplastik terhadap kekasaran permukaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel nilon termoplastik berbentuk persegi dengan ukuran 20x20x3 mm (ADA no 16) sebanyak 27 sampel yang dibagi tiga kelompok perlakuan masing-masing kelompok berjumlah sebanyak 9 sampel. Kelompok perlakuan: dilapisi dengan edible coating dan direndam teh hijau (A), tidak dilapisi edible coating dan direndam teh hijau (B), dan dilapisi edible coating dan direndam aquades (C). Pengukuran nilai kekasaran permukaan basis gigi tiruan nilon termoplastik menggunakan Profilometer. Hasil: Nilai rerata kekasaran permukaan pada kelompok A adalah 0,020,008 μm, kelompok B 0,040,009 μm, dan kelompok C 0,020,009 μm. Berdasarkan uji ANAVA satu arah menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dengan nilai p = 0,001 dan LSD menunjukkan terdapatnya perbedaan yang signifikan antara kelompok A dan B (p = 0,0001), B dan C (p = 0,002) tetapi tidak terdapat perbedaan antara A dan C (p = 0,533). Simpulan: Pelapisan edible coating dan perendaman larutan teh hijau pada basis gigi tiruan nilon termoplastik dapat mengurangi tingkat kekasaran permukaan.Kata kunci: nilon termoplastik; kekasaran permukaan; edible coating; teh hijau ABSTRACTIntroduction: Surface roughness is one of the determinants of clinical resistance of denture base materials. The level of surface roughness can be prevented by applying the edible coating and green tea solution immersion. Green tea contains many catechins, which act as disinfectants and antiseptics, and can inhibit the growth of microorganisms. Edible coating functions as a barrier for mass transfer and as a carrier for food additives. This study aims to analyse the effect of edible coating and green tea solution immersion on the surface roughness of the thermoplastic nylon denture base. Methods: This research was conducted in an experimental laboratory with a sample of thermoplastic nylon square sized 20x20x3 mm (ADA no 16). As many as 27 samples were divided into three treatment groups, each totalling nine. Treatment group: coated with edible coating and soaked in green tea (A), not coated with edible coating and soaked in green tea (B), and coated with edible coating and soaked in distilled water (C). Measurement of the surface roughness value of thermoplastic nylon denture base using a Profilometer. Results: The average surface roughness value in group A was 0.020.008 m, group B was 0.040.009 m, and group C was 0.020.009 m. Based on the one-way ANOVA test, it showed a significant effect with p=0.001, and LSD showed a significant difference between groups A and B (p=0.0001), B and C (p=0.002), but there was no difference between A, B, and C (p=0.533). Conclusion: Edible coating and green tea solution immersion of thermoplastic nylon denture base can reduce surface roughness.Keywords: thermoplastic nylon; surface roughness; edible coating; green tea
Pengaruh pelapisan edible coating terhadap stabilitas dimensi basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas Erika Monalisa Ginting; Slamat Tarigan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.36154

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas (RAPP) merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan tetapi memilliki kelemahan, diantaranya penyerapan air yang dapat menurunkan stabilitas dimensi. kelemahan tersebut dapat dicegah dengan bahan pelapis seperti edible coating dari kitosan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh pelapisan edible coating terhadap stabilitas dimensi basis gigi tiruan RAPP. Metode: Sampel yang diteliti yaitu 32 buah RAPP berukuran 65x10x2,5mm dibagi menjadi 16 sampel. Sampel direndam aquades selama 24 jam terlebih dahulu untuk mengurangi monomer sisa kemudian dikeringkan di desikator lalu sampel diukur. Kelompok A dilapis edible coating dan kelompok B tidak dilapis edible coating. Sampel direndam ke dalam aquades selama 7 hari dan stabilitas dimensi di uji pada hari 1,3,5,7 menggunakan digital microscope kemudian dihitung dengan rumus vector. Hasil: Berdasarkan hasil uji ANOVA terdapat adanya pengaruh lama perendaman dengan nilai p= 0,001 (p<0,05) dan dilanjut dengan uji LSD terdapat adanya perbedaan pengaruh perendaman (p<0,05) tetapi uji t-independen tidak terdapat pengaruh pelapisan edible coating terhadap stabilitas dimensi basis gigi tiruan RAPP antar seluruh kelompok (p>0,05). Simpulan: Pengaruh pelapisan edible coating tidak signifikan terhadap stabilitas dimensi basis gigi tiruan RAPP, namun nilainya masih dapat ditoleransi oleh kompresibilitas mukosa.
Aktivitas antibakteri ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap pertumbuhan Aggregatibacter actinomycetemcomitansAntibacterial activity of red betel (Piper crocatum) leaf extract on the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans Rosanita Firdausi Oktaviani; Pudji Astuti; Melok Aris Wahyukundari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.34833

Abstract

Pendahuluan: Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit inflamasi kronis yang menyerang periodonsium yang disebabkan oleh salah satu mikroorganisme yaitu Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Perawatan penyakit periodontal dapat dilakukan dengan bahan alam salah satunya daun sirih merah (Piper crocatum). Daun sirih merah memiliki aktivitas senyawa antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan A. actinomycetemcomitans. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap pertumbuhan A. actinomycetemcomitans. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode difusi cakram pada media MHA (Mueller Hinton Agar) dengan mengukur zona bening yang terbentuk menggunakan jangka sorong. Jenis penelitian yang digunakan eksperimental laboratoris dengan sampel sebanyak 30 sampel. Hasil: Daya hambat ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap A. actinomycetemcomitans terdapat pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 100%. Aktivitas antibakteri konsentrasi 25% dikategorikan sedang, konsentrasi 50% dan 100% dikategorikan kuat. Kelompok kontrol positif terdapat aktivitas daya hambat bakteri dengan nilai rerata diameter 23,42 mm, sedangkan kelompok kontrol negatif tidak menunjukkan adanya zona hambat. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa signifikansi (0,00) dengan p<0,05 dilanjutkan dengan uji Mann Whitney menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05) pada semua kelompok konsentrasi. Simpulan: Ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terdapat aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan A. actinomycetemcomitans dengan daya hambat yang terkecil pada konsentrasi 25% dan daya hambat ekstrak daun sirih merah yang terbesar pada konsentrasi 100%.Kata kunci: penyakit periodontal; daun sirih merah; Aggregatibacter actinomycetemcomitans ABSTRACTIntroduction: Periodontal disease is a chronic inflammatory disease of the periodontium caused by microorganisms such as Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Periodontal disease treatment can be carried out with natural ingredients such as red betel (Piper crocatum) leaf. Red betel leaf has an antibacterial activity which can inhibit the growth of A. actinomycetemcomitans. This study aimed to determine the antibacterial activity of red betel (Piper crocatum) leaf extract on the growth of A. actinomycetemcomitans. Methods: The study used the disc diffusion method on MHA (Mueller Hinton Agar) media by measuring the clear zone formed using a calliper. The type of study was an experimental laboratory conducted on 30 samples. Results: The inhibitory activity of red betel (Piper crocatum) leaf extract against A. actinomycetemcomitans was found in the treatment group of 25%, 50%, and 100%. The antibacterial activity in the concentration of 25% was categorised as moderate, while categorised as strong in the concentrations of 50% and 100%. The positive control group had a bacterial inhibitory activity with a mean diameter of 23.42 mm, while the negative control group showed no inhibition zone. The results of the Kruskal-Wallis test showed significant results (0.00; p<0.05), followed by the Mann-Whitney test, which also showed a significant value of less than 0.05 (p<0.05) in all concentration groups. Conclusion: Red betel leaf (Piper crocatum) extract has antibacterial activity against the growth of A. actinomycetemcomitans with the lowest inhibition at a concentration of 25% and the highest inhibitory activity at a concentration of 100%.Keywords: periodontal disease; red betel leaf; Aggregatibacter actinomycetemcomitans
Persepsi estetika senyum pada mahasiswa yang belum dan sedang dalam perawatan ortodontiPerception of smile aesthetics among dental students who have not and are in orthodontic treatment Lina Hadi; Zulfan Muttaqin; Tiffany Leomandra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.36617

Abstract

Pendahuluan: Estetika senyum seseorang merupakan faktor pendukung sangat penting dalam penampilan wajah karena saat sedang berbicara bukan hanya tertuju pada mata tetapi pada gerakan mulut. Pasien dengan estetika senyum yang sempurna dinilai lebih menarik dan dapat menerima hal-hal positif serta perilaku yang lebih baik.Estetika senyum yang buruk akan mengurangi kepercayaan diri pasien dan dianggap merugikan terutama dalam hal sosial dan pekerjaan. Faktor usia, jenis kelamin, dan pendidikan dalam penilaian terhadap senyum seringkali dipengaruhi oleh persepsi individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi estetika senyum pada mahasiswa yang belum dan sedang dalam perawatan ortodonti. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan analisis lip line, smile arc, kesimetrisan senyum, dan buccal corridor mengambil sudut pandang frontal, karena saat berbicara maupun melihat ekspresi wajah lebih cenderung dipandang frontal daripada side profile. Teknik pengambilan sampel pusposive sampling, jumlah responden adalah 36 orang dari semester II dan IV yang sesuai dengan kriteria inklusi. Responden mengisi kuesioner berisi 4 pertanyaan. Masing-masing pertanyaan menampilkan foto yang diambil dari referensi sesuai dengan teori estetika senyum.Jawaban yang dipilih responden, dihitung dengan menggunakan perhitungan Landis dan Koch. Hasil: Sebanyak 72,2% responden yang belum melakukan perawatan ortodonti memiliki persepsi estetika senyum yang baik dan sangat baik, dan 88,9% responden yang sedang melakukan perawatan ortodonti memiliki persepsi estetika senyum yang baik dan sangat baik. Simpulan: Persepsi estetika senyum pada mahasiswa yang belum dan sedang dalam perawatan ortodonti mayoritas baik dan sangat baik.Kata kunci: estetika senyum; persepsi; perawatan ortodonti ABSTRACTIntroduction: The smile aesthetics is an essential supporting factor in facial appearance because, in the middle of conservation, the focus will be laid on the eyes and the lips movement. Patients with perfect smile aesthetics are considered more attractive and can accept positive things and better behaviour. Poor smile aesthetics will reduce the patient’s confidence and be detrimental, especially in social and work terms. Individual perceptions often influence age, gender, and education factors in assessing a smile. This study aims to determine the perception of smile aesthetics among dental students who have not and are in orthodontic treatment. Methods: This research was descriptive observational with a cross-sectional design and used lip line analysis, smile arc, smile symmetry, and buccal corridor with a frontal point of view because when speaking or seeing facial expressions, people tend to be viewed frontally rather than side profile. The sampling technique was purposive sampling; the number of respondents was 36 people from the second and fourth semesters according to the inclusion criteria. Respondents filled out a questionnaire containing four questions. Each question displays a photo taken from a reference following the theory of smile aesthetics. The answer chosen by the respondent was calculated using Landis and Koch calculations. Results: 72.2% of respondents who have not had orthodontic treatment have a “good” and “very good” smile aesthetic perception, and 88.9% of respondents in orthodontic treatment have a “good” and “very good” smile aesthetic perception. Conclusion: The smile aesthetic perception among dental students who have not and are in orthodontic treatment are primarily “good” and “very good”.Keywords: smile aesthetics; perception; orthodontic treatment
Uji efektivitas waktu aplikasi gel bromelain konsentrasi 10% terhadap degradasi jaringan karies pada dentin menggunakan scanning electron microscope (SEM)The effectiveness test of application time of 10% bromelain gel on the degradation of carious tissue in dentin using a scanning electron microscope (SEM) Berlian Prihatiningrum; Indah Widyanti; Pudji Astuti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i1.34537

Abstract

Pendahuluan: Enzim bromelin dari bagian daging dan bonggol buah nanas (Ananas comosus (L.) Merr,) berpotensi sebagai bahan chemo-mechanical caries removal (CMCR) berbasisenzim yang aman dan ekonomis. Namun, belum ada penelitian yang membahas lebih lanjut mengenai waktu aplikasi yang efektif bagi enzim bromelin dalam melakukan degradasi jaringan karies pada dentin. Tujuan penelitian adalah menganalisis waktu aplikasi yang efektif bagi enzim bromelin konsentrasi 10% dalam mendegradasi jaringan karies pada dentin dengan waktu aplikasi selama 1, 2, dan 3 menit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratories menggunakan 36 sampel gigi premolar permanen rahang atas dengan kondisi karies klas I yang dibagi menjadi 9 kelompok penelitian. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian merupakan gel enzim bromelin konsentrasi 10% yang diperoleh melalui proses presipitasi menggunakan ammonium sulfat 60% dan dilanjutkan dengan proses sentrifugasi. Seluruh sampel diukur kedalaman degradasi jaringan karies yang terbentuk menggunakan SEM. Data yang diperoleh dilakukan uji statistic Kruskall Wallis kemudian dilanjutkan uji Mann Whitney. Hasil: Uji Kruskall Wallis menyatakan terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai p=0,002 (p<0,05) rerata kedalaman degradesi jaringan karies pada dentin berdasarkan kelompok perlakuan (kontrol, plasebo dan perlakuan aplikasi gel bromelin 10%). Uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antarkelompok dengan lama waktu aplikasi bahan 1 menit dengan nilai p=0,644 (p>0,05), sedangkan pada kelompok dengan waktu aplikasi 2 menit dan 3 menit terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Simpulan: Waktu aplikasi bahan gel bromelin konsentrasi 10% untuk memperoleh degradasi jaringan karies pada dentin yang efektif adalah 3 menit.Kata kunci: gel bromelain; chemo-mechanical caries removal; degradasi jaringan karies ABSTRACTIntroduction: Bromelain enzyme from the flesh and tubers of pineapple (Ananas comosus (L.) Merr.) has the potential as a safe and economical enzyme-based chemo-mechanical caries removal (CMCR) material. However, no further study discusses the effective application time of the bromelain enzyme in the degradation of carious tissue in dentin. Therefore, the study aimed to analyse the effective application time of 10% bromelain enzyme in degrading carious tissue in dentin with application times of 1, 2, and 3 minutes. Methods: This study was an experimental laboratory study using 36 samples of permanent maxillary premolars with class I caries conditions which were divided into 9 study groups. The test material used in this study was a bromelain enzyme gel with a concentration of 10% obtained through a precipitation process using 60% ammonium sulfate and followed by a centrifugation process. All samples have measured the depth of caries tissue degradation using SEM. The Kruskall-Wallis statistical test carried out the data obtained and then continued by the Mann-Whitney test. Results: Kruskall-Wallis test stated that there was a significant difference with a p-value=0.002 (p<0.05) in the mean depth of caries tissue degradation in dentin based on treatment groups (control, placebo and 10% bromelain gel application treatment). The Mann-Whitney test showed no statistically significant difference between groups with 1 minute of application time with p-value=0.644 (p>0.05), whereas, in the group with 2 minutes and 3 minutes of application time, there was a statistically significant difference with a value of p = 0.000 (p <0.05). Conclusion: The application time of 10% bromelain gel material to effectively degrade carious tissue in dentin is 3 minutes.Keywords: bromelain gel; chemo-mechanical caries removal; carious tissue degradation

Page 1 of 2 | Total Record : 12