cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 1 (2024): April 2024" : 15 Documents clear
Efektivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun gambir (Uncaria gambir.roxb) dalam menurunkan jumlah sel inflamasi pada tikus Wistar yang mengalami gingivitis: eksperimental laboratoris Yuslianti, Euis Reni; Herryawan, Herryawan; Koswara, Teja; Pragita, Tria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.53293

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gingivitis merupakan penyakit inflamasi pada gingiva terjadi karena faktor lokal, konsumsi obat, dan malnutrisi. Inflamasi merupakan respons pertahanan tubuh dapat merugikan apabila terjadi berlebihan. Bahan alternatif obat antiinflamasi adalah daun gambir. Daun gambir mengandung katekin, tanin, dan gambirin. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektivitas ekstrak etanol daun gambir sebagai antiinflamasi dilihat dari jumlah sel inflamasi dan mengetahui efek antiinflamasi ekstrak etanol daun gambir dengan dosis 5%, 10%, dan 20% pada tikus jantan galur wistar yang mengalami gingivitis. Metode: Penelitian adalah eksperimental laboratoris menggunakan Post-test randomized control group design sebanyak 40 sampel tikus dibagi menjadi empat kelompok yaitu kontrol negatif (KN), tikus yang mengalami gingivitis diberikan ekstrak etanol daun gambir 5%(Do-1), tikus gingivitis diberikan ekstrak etanol daun gambir 10%(Do-2), dan tikus yang mengalami gingivitis diberikan ekstrak etanol daun gambir 20%(Do-3). Ekstrak bentuk sediaan pasta diberikan topikal di area gingiva gigi anterior rahang bawah tikus pada pagi dan sore hari selama lima hari. Jaringan diambil hari ke-1, ke-3, dan ke-5 setelah perlakuan, diwarnai dengan hematoxylin eosin. Data dianalisis dengan uji ANOVA dan uji Bonferroni (p<0,05). Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun gambir topikal memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap tikus galur Wistar gingivitis dilihat dari penurunan jumlah sel inflamasi yaitu sel neutrofil, eosinofil, makrofag, limfosit, dań sel mast (P=0,000). Konsentrasi ekstrak 5% tidak menunjukkan perbedaan efektivitas. Konsentrasi ekstrak yang paling efektif pada konsentrasi 10% dan 20%. Simpulan: Ekstrak etanol daun gambir topikal efektif menurunkan jumlah sel inflamasi tikus Wistar yang mengalami gingivitis. Konsentrasi ekstrak yang paling efektif adalah 10% dan 20%.KATA KUNCIekstrak etanol daun gambir, gingivitis, sel inflamasiThe effectiveness of ethanol extract of gambir leaves (Uncaria gambir.roxb) as an anti-inflammatory agent in reducing the number of inflammatory cells in Wistar strain gingivitis rats: experimental laboratoryIntroduction:Gingivitis is an inflammatory disease of gingiva that occurs due to local factors, medication consumption, and malnutrition. Inflammation is a body defense response that can be detrimental. An alternative anti-inflammatory drug is gambir leaf which contains catechins, tannins, and gambirin. The purpose of this study was to determine effectiveness of gambir leaf ethanol extract as an anti-inflammatory agent based on inflammatory cells number and to determine anti-inflammatory effect at doses of 5%,10%,and 20% in Wistar gingivitis rats. Methods: The study was an experimental laboratory using a Post-test randomized control group design with a total of 40 rat samples divided into four groups: negative control(NC), gingivitis rats treated with 5% gambir leaf ethanol extract(Do-1), gingivitis rats treated with 10% gambir leaf ethanol extract(Do-2), and gingivitis rats treated with 20% gambir leaf ethanol extract(Do-3). The paste form extract was applied topically to lower anterior teeth gingival area rats in the morning and evening for five days. Tissue samples were taken on days 1, 3, and 5 after treatment and stained with hematoxylin eosin. Data were analyzed using ANOVA and Bonferroni(p<0.05). Result: The study showed that topical ethanol extract of gambir leaves has anti-inflammatory activity against Wistar strain gingivitis rats seen from decrease in inflammatory cells number such as neutrophils, eosinophils, macrophages, lymphocytes, and mast cells(p=0.000). This effect likely due to catechin, tannin, and gambirin presence, which may inhibit arachidonic acid via cyclooxygenase and lipooxygenase pathways. Konsentrasi ekstrak 5% tidak menunjukkan perbedaan efektivitas. Konsentrasi ekstrak yang paling efektif pada konsentrasi 10% dan 20%. Conclusion: Ekstrak etanol daun gambir topikal efektif menurunkan jumlah sel inflamasi tikus Wistar yang mengalami gingivitis. Konsentrasi ekstrak yang paling efektif adalah 10% dan 20%KEYWORDGambir leaf ethanol extract, gingivitis, inflammatory cell
UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK BUAH OKRA HIJAU (Abelmoschus esculentus) KONSENTRASI 12,5%, 25%, 50% DAN 100% TERHADAP BAKTERI Streptococcus mitis: penelitian eksperimental Farizki, Helmy Affan; Lestari, Sri; Wulandari, Erawati; Fatmawati, Dwi Warna Aju; Rakhmadian, Ratih Delio; Nugroho, Raditya
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52835

Abstract

Pendahuluan: Nekrosis pulpa adalah kondisi terjadinya kematian sel di dalam rongga pulpa dan saluran akar sebagai akibat dari karies gigi. Bakteri yang berperan dalam karies gigi hingga nekrosis pulpa yaitu S. mitis yang merupakan spesies alfa-hemolitik mesofil Streptococcus yang berkembang dalam mulut manusia yang umum ditemukan di tenggorokan, nasofaring, dan mulut. Tujuan penelitian menganalisis antibakteri ekstrak buah okra hijau (Abelmoschus esculentus) dibandingkan dengan NaOCL dan EDTA terhadap S. mitis. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan pendekatan posttest only control group design. Terdapat 2 kelompok kontrol yaitu NaOCl 2,5% dan EDTA 17% serta 6 kelompok perlakuan yaitu ekstrak buah okra hijau konsentrasi 12,5, 25, 50 dan 100%. Buah okra hijau yang akan dikembangkan sebagai bahan irigasi diidentifikasi dan diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 96% hingga menghasilkan ekstrak kental konsentrasi 100%. Hasil: Terdapat peningkatan diameter zona hambat ekstrak buah okra hijau (Abelmoschus esculentus) terjadi mulai dari konsentrasi ekstrak 12,5, 25, 50% dan 100%. Rerata diameter zona hambat dari yang terkecil hingga terbesar yaitu ekstrak buah okra hijau konsentrasi 12,5% (10,51 mm), 25% (13,67 mm), 50% (15,15 mm), dan 100% (17,54 mm). Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, dan uji Kruskall-Wallis dengan hasil nilai p=0,000 atau p<0,05. Simpulan: Ekstrak buah okra hijau (Abelmoschus esculentus) dengan konsentrasi 12,5, 25, 50%, dan 100% memiliki daya antibakteri yang lebih kecil jika dibandingkan dengan NaOCl 2,5% dan EDTA 17% dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mitis.
Correlation between posterior tooth loss and temporomandibular joint disorders in elders: A cross-sectional study Tulak, Jemima Karynhapukh; Wibisono, Jane Amelia Vebriani; Sumantri, Dominica Dian Saraswati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.53439

Abstract

Introduction: Tooth loss is one of the essential factors of oral health status, which affects individual quality of life and social factors. It is also a common oral health problem in adults and elders. A prolonged period of tooth loss, followed by an immediate replacement with dentures, can cause changes in occlusion due to the teeth' unsustainability; tooth position shift followed by extrusion leads to occlusion pattern disruption, resulting in gingival movement difficulties. This research analyses the correlation between posterior tooth loss and temporomandibular joint disorders in elders. Methods: Analytic observational with cross-sectional study. The sampling technique was simple random sampling, identifying a population of 39 people aged 60 to 75, consisting of 12 males and 27 females. The sample size was determined by the overall population size, calculated through the minimum single sample size formula incorporating the correlation coefficient (r). The primary data was obtained by completing the questionnaires and the respondents' clinical examination with the Helkimo index. Results: The findings showed that most respondents were female, 27 compared to 12. In terms of dysfunctional index data for tooth loss, the "Mild symptoms" were found to be predominant over "No symptoms", with the (HG) ≤ 4; while the (HG) ≥ 4, showed that the "No symptoms" were less common. Similarly, in the anamnesis index data, the "Mild symptoms" were the most common, with the (HG) ≤ 4; while the (HG) ≥ 4 showed that the "No symptoms" was predominated, with fewer cases of the "Mild symptoms" and the "Severe symptoms". The Spearman Correlation Rank test analysis showed that the r (coefficient of correlation) = 0,944, with p = 0.000. Conclusion: There is a relationship between posterior tooth loss and temporomandibular joint disorders in elders.
Manajemen perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah: laporan kasus Nugroho, Juni Jekti; Mustainah, Sakiya; Natsir, Nurhayaty; Trilaksana, Aries Chandra; Hikmah, Noor; Dwiandhany, Wahyuni Suci
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.46858

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perawatan saluran akar (PSA) satu kali kunjungan harus memenuhi prinsip triad endodontic. Keuntungan PSA satu kali kunjungan adalah mengurangi resiko kontaminasi mikroorganisme, waktu lebih singkat tanpa mengurangi kualitas hasil perawatan. Tujuan laporan kasus ini adalah membahas PSA satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah dengan restorasi akhir inlay porselen. Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 20 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi geraham rahang bawah berlubang dan sering sakit. Tes vitalitas positif, palpasi negatif, perkusi negatif. Pemeriksaan radiografi terlihat karies sampai ruang pulpa, ligamen periodontal dalam batas normal. Dilakukan perawatan saluran akar satu kali kunjungan.  Prosedur awal adalah isolasi menggunakan rubber dam. Pembukaan akses dilakukan menggunakan endo access diamond bur. Panjang saluran kerja ditentukan menggunakan apex locator dan dikonfirmasi dengan radiografi. Cleaning dan shaping dilakukan dengan rotary file Protaper Next. Saluran akar diirgasi dengan larutan NaoCl 5,25%, EDTA 17%, dan Klorheksidin 2% yang diselingi dengan aquades. Ketiga saluran akar di obturasi dengan gutta percha dan sealer berbahan resin dengan metode single cone. Restorasi akhir dengan inlay porcelain. Simpulan: Perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah memperlihatkan keberhasilan yang memuaskan secara klinis dan radiografis pada kontrol 4 minggu setelah perawatan.Kata kunci: perawatan saluran akar satu kali kunjungan, molar pertama kanan rahang bawahManagement of one visit endodontic treatment of the right lower first molar: Case reportABSTRACTIntroduction: One visit endodontic treatment should comply with triad endodontic principles. The advantages of the treatment are the minimum microorganism contamination risk and time-saving without compromising the treatment outcome quality. The aim of this case is to discuss a one visit endodontic treatment of the right lower first molar with final restoration inlay porcelain. Case report : A 20-year-old female came to RSGM with a chief complaint of a toothache and pain in her right lower first molar. Objective examination showed vitality positive, palpation negative, percussion negative. Radiographic examination showed caries into the pulp chamber and the periodontal ligament was within normal limits. Performed one visit endodontic treatment.The initial procedure was isolating by rubber dam. Access opening using endo access diamond bur. Determining working length using apex locator and confirmed by radiography. Cleaning and shaping was done with rotary file Protape Next. Naocl 5,25, 17% EDTA, and Chlorhexidine 2% being used for irrigation. Obturation with gutta-percha and resin-based sealer by single cone method. Final restoration with inlay porcelain. Conclusion: One-time root canal treatment of the right lower first molar performed showed clinical and radiological success at the period control 4 weeks after treatment.Key words: One visit endodontic treatment, right lower first molar.
Correlation between blood international normalised ratio (INR) value and saliva prothrombin concentration in patients under warfarin therapy: An observational analytics study Pratama, Rachendra; Sjamsudin, Endang; Tasman Yuza, Abel; Wijaya, Indra; Arief Ichwan, Solachuddin Jauhari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52441

Abstract

Introduction: Oromaxillofacial surgery has a bleeding risk complication. Increasing bleeding risk can be caused by the use of blood clotting inhibitors, including warfarin. Warfarin is an anticoagulant that works by inhibiting coagulation factors in the cascade. International normalised ratio (INR) indicates warfarin monitoring and bleeding risk during surgical procedures. INR examination currently uses blood plasma. This research analyses the correlation between blood INR value and salivary prothrombin concentration. Methods: This research was an analytical observational with a correlational design on 19 samples examined using a human prothrombin reagent from Elabscience. The samples used were blood and saliva, and then ELISA tests were carried out on them. Data results were analysed with linear regression and correlation tests. Results: In this study, 19 samples were collected from 6 male and 13 female subjects. The average value of salivary prothrombin concentration in this study was 227.63 (ng/ml), and the blood INR value was 1.85. The normality test result showed that the data distribution was normal; therefore, the correlation and simple linear regression tests can be conducted. The correlation and regression tests showed a positive correlation between blood INR value and salivary prothrombin concentration with a correlation coefficient of r = 0.81 (p < 0.001). Conclusion: There is a positive relationship between blood INR value and salivary prothrombin concentration in oromaxillofacial patients under warfarin therapy.
Korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan dental health component dan aesthetic component dari IOTN dengan kesadaran mencari perawatan maloklusi: studi cross-sectional Angkotasan, Mutia Triyanti; Himawati, Marlin; Darwis, Rudi Satria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.51155

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi ketidakaturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya. Tingkat keparahan maloklusi akan diukur menggunakan Index of Orthodontic Need (IOTN) yang terdiri dari 2 komponen yaitu aesthetic component (AC) dan dental health component (DHC). Tujuan penelitian menganalisis korelasi tingkat keparahan maloklusi dental health component dan aesthetic component dari IOTN dan kesadaran mencari perawatan maloklusi. Metode: Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan simple random sampling yaitu akan dilakukan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak pada siswa-siswi SMA Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan sebanyak 650 orang. Berdasarkan perhitungan besar sampel didapatkan jumlah responden adalah 100 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online dan dilakukan pengambilan foto intraoral menggunakan google form. Analisis yang digunakan adalah uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan kesadaran siswa-siswi mencari perawatan maloklusi. Hasil: Tingkat keparahan maloklusi berdasarkan aesthetic component dari IOTN adalah mayoritas subyek tidak perlu perawatan atau perawatan ringan sebanyak 94 orang (94,0%). Hasil dari tingkat keparahan maloklusi berdasarkan dental health component dari IOTN didapatkan mayoritas subyek kebutuhan perawatan ringan sebanyak 49 orang (49,0%). Hasil dari penilaian tingkat kesadaran maloklusi didapatkan mayoritas subyek dengan kriteria baik sebanyak 59 orang (59,0%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan AC dengan tingkat kesadaran mencari perawatan (p=0,767) dan tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan DHC dengan tingkat kesadaran mencari perawatan (p=0,782). Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan AC dan DHC dari IOTN dengan tingkat kesadaran mencari perawatan. Kata kunci index, orthodontic treatment, need, aesthetic, dental health, kesadaran, maloklusi The relationship between the severity of malocclusion and malocclusion awareness of seeking treatment: a cross-sectional study ABSTRACT Introduction: Malocclusion is a condition that deviates from normal occlusion, including irregularities of the teeth in the arch, such as crowding, protrusion, malposition, or an inharmonious relationship with the antagonist’s teeth. The severity of malocclusion will be measured using the Index of Orthodontic Need (IOTN), which consists of 2 components, namely the aesthetic component and the dental health component. This study aims to analyze the correlation between the severity of malocclusion (dental health component and aesthetic component of IOTN) and the awareness of seeking malocclusion treatment Methods: The type of design-based analytical research is cross sectional.  This research used a simple random sampling method. A random sampling procedure was carried out on a total of 650 students from SMA Negeri 1 Tidore Islands City. Based on sample size calculations, the number of respondents was 100 people. This research was carried out by distributing questionnaires online, and the intraoral photographs were taken using Google Forms. The Spearman correlation test was used to analyze the relationship between the severity of malocclusion and students' awareness in seeking malocclusion treatment. Results: According to the AC from IOTN regarding the severity of malocclusion ,most of the subjects, 94 people (94.0%), did not require treatment or light treatment .The results of the severity of malocclusion based on DHC from IOTN found that the majority of subjects needed light care for as many as 49 people (49.0%). The assessment results for the level of awareness of malocclusion revealed that the majority of subjects with good criteria were 59 people (59.0%). The results of the analysis showed that there was no correlation between the severity of malocclusion based on AC and the level of awareness of seeking care (p=0.767) and there was no correlation between the level of severity of malocclusion based on DHC and the level of awareness of seeking medical attention (p=0.782).Conclusion: There is no correlation between the severity of malocclusion, based on AC and DHC from IOTN, and the level of awareness about seeking treatment Keywords index, orthodontic treatment, need, aesthetic, dental health, awareness, malocclusion 
Hubungan karakteristik responden, perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut lansia di kawasan pertambangan kapur: studi cross-sectional Wahyukundari, Melok Aris; Misrohmasari, Elyda Akhya Afida; Dwi Saputro, Agung Erdiyanto Anindito; Hamzah, Zahreni; Daat Arin, Yuliana Mahdiyah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.50120

Abstract

Hubungan karakteristik responden, perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut lansia di kawasan pertambangan kapur: studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok berisiko dengan masalah kesehatan. Masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering ditemukan pada lansia berkaitan dengan kebersihan rongga mulut yang buruk, yang dapat menimbulkan penyakit periodontal. Masalah periodontal berdampak pada kualitas hidup lansia. Kawasan pertambangan kapur merupakan wilayah yang kaya mineral, yang dapat memengaruhi kandungan mineral saliva dan berkaitan dengan pembentukan plak dan kalkulus.. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan karakteristik responden, perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut pada lansia di lingkungan sekitar pertambangan kapur. Metode: Jenis penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel pada penelitian menggunakan Slovin, jumlah sampel minimal 96 orang. Sampel diambil secara purposive sampling dan didapatkan 125 lansia. teknik pengambilan data menggunakan kuesioner karakteristik responden dan perilaku kesehatan gigi dan mulut serta status kebersihan rongga mulut (indeks OHI-S). Data analisis menggunakan Uji chi-square. Hasil: Status kebersihan rongga mulut lansia tergolong buruk yaitu 110 orang (88,0%), Uji chi-square didapatkan hasil signifikan dengan karakteristik responden adalah pendidikan terakhir, dan faktor perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut yang signifikan adalah frekuensi, ketepatan waktu menyikat gigi, kunjungan ke dokter gigi, kebiasaan merokok setiap hari, dan sumber air (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara status kebersihan rongga mulut lansia di kawasan pertambangan kapur dengan karakteristik responden di tingkat pendidikan dan  terdapat hubungan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut pada perilaku frekuensi, ketepatan waktu menyikat gigi, kunjungan ke dokter gigi, kebiasaan merokok setiap hari, dan sumber air. Kata kunci lansia, pertambangan kapur, kebersihan rongga mulut The relationship of the respondent characteristics, oral health behaviors and oral hygiene of the elderly in the limestone mining area: cross-sectional study ABSTRACTIntroduction: The elderly are a risk group with health problems. Oral health problems often found in the elderly are related to oral hygiene. Poor oral hygiene can lead to periodontal disease. Periodontal problems can result in premature tooth loss, which impacts the quality of life of the elderly. Limestone mining areas are rich in minerals, which can affect the mineral content of saliva and are related to plaque and calculus formation in the oral cavity. This study aims to analyze the relationship between respondent characteristics, oral health behaviors, and oral hygiene of the elderly in the limestone mining area. Methods: This study is a cross-sectional study. Based on the Slovin formula, a minimum sample size of 96 people was obtained. Samples were taken using purposive sampling, and 125 elderly people were involved in this research. Questionnaires on respondent characteristics and oral health behavior were given to the respondents, and an examination of oral hygiene status using the OHI-S index was carried out on respondents. The chi-square test was carried out in this study. Results: The majority of older people's oral hygiene status was classified as poor, namely 110 people (88.0%). The Chi-Square test showed a significant relationship between respondent characteristics, namely levels of education, oral health behaviors, including frequency of brushing teeth, timeliness of brushing teeth, visits to the doctor, smoking, and water sources, and oral hygiene of the elderly (p<0.05). Conclusion: There is a relationship between oral hygiene status of the elderly in the limestone mining area and respondent characteristics, which is levels of education and oral health behaviors, including frequency of brushing teeth, timeliness of brushing teeth, visits to the doctor, smoking, and water sources. Keywordselderly, limestone mining area, oral hygiene
Pengaruh penambahan pati beras ketan putih pada bahan cetak alginat terhadap stabilitas dimensi hasil cetakan Wijaya, Eko; Putranti, Dwi Tjahyaning
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.52720

Abstract

pendahuluan: Bahan cetak alginat merupakan bahan cetak yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi dan dapat mengalami perubahan dimensi akibat proses sineresis dan imbibisi yang dapat menyebabkan distorsi hasil cetakan. Untuk mencegah terjadinya perubahan dimensi, maka dilakukan penambahan bahan alami seperti pati beras ketan putih pada bahan cetak alginat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efek penambahan pati beras ketan putih konsentrasi 40%, 50%, dan 60% pada bahan cetak alginat setelah 5, 10 dan 15 menit pencetakan terhadap stabilitas dimensi hasil cetakan alginat. Metode: Rancangan penelitian ini yaitu eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan adalah hasil cetakan alginat yang diisi gipsum tipe III yang diperoleh dari model induk cincin dengan ukuran diameter dalam 12,55 mm dan tinggi 19 mm. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 60 sampel yang terdiri dari 12 kelompok perlakuan. Sampel diukur menggunakan kaliper digital kemudian dianalisis dengan uji Anova satu arah dan dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significance Difference). Hasil: Hasil uji Anova satu arah menunjukkan ada pengaruh (p<0,05)  penambahan pati beras ketan putih konsentrasi 40, 50, dan 60% setelah 5 menit pencetakan (A1,  B1.1, B1.2, B1.3) dengan nilai p=0,043 ,setelah 10 menit pencetakan (A2, B2.1, B2.2, B2.3) dengan nilai p=0,0001, dan setelah 15 menit pencetakan (A3, B3.1, B3.2, B3.3) dengan nilai p=0,011. Hasil uji LSD menunjukkan ada perbedaan pengaruh signifikan pada seluruh kelompok dengan nilai (p<0,05). Simpulan: Penambahan pati beras ketan putih konsentrasi 40, 50, dan 60% pada bahan cetak alginat memiliki pengaruh terhadap stabilitas dimensi hasil cetakan dan penambahan pati beras ketan putih 50% menghasilkan stabilitas dimensi hasil cetakan terbaik.
Efektivitas Sediaan Pasta Gigi Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.) dan Peppermint (Mentha piperita L.) terhadap Indeks Plak dan pH Saliva Manurung, Mian Maranata Br; Sugiaman, Vinna Kurniawati; Widowati, Wahyu
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.53001

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Plak merupakan lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan bakteri yang tumbuh pada permukaan gigi. Pertumbuhan plak dapat berhubungan dengan saliva, sehingga untuk menjaga pH saliva rongga mulut tetap normal perlu dilakukan kontrol plak. Produk herbal seperti pasta gigi yang mengandung teh hijau dan peppermint dapat berpengaruh dalam pencegahan pembentukan plak dan pH saliva. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sediaan pasta gigi ekstrak teh hijau (Camellia sinensis L.) dan peppermint (Mentha piperita L.) terhadap indeks plak dan pH saliva. Metode: Jenis penelitian berupa eksperimental dengan desain pretest dan post test. Subjek sebanyak 32 orang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok (n=16) secara random. Kelompok pertama menyikat gigi menggunakan pasta gigi ekstrak teh hijau, peppermint dan kelompok kedua menyikat gigi menggunakan pasta gigi pembanding. pH saliva kedua kelompok diukur menggunakan pH meter dan skor plak gigi menggunakan metode O’Leary. Metode analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil: Kelompok pertama dan kedua menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada pH saliva (p=0,068 dan p=0,729) namun terdapat perubahan signifikan pada indeks plak (p=0,000 dan p=0,033). Simpulan: Menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang mengandung ekstrak teh hijau (Camellia Sinensis L.) dan peppermint (Mentha piperita L.) memiliki efektivitas dalam menurunkan indeks plak serta menjaga pH saliva tetap dalam keadaan normal. Kata kunci indeks plak, pasta gigi, peppermint, pH saliva, teh hijau  Effectiveness of green tea (Camellia sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) toothpaste extracts on plaque index and saliva pH: a laboratory experiment ABSTRACT Introduction: Plaque is a soft layer consisting of a collection of bacteria that grows on the surface of the teeth. Plaque growth can be related to saliva, so to maintain the pH of oral saliva remaining normal, it is necessary to control plaque. Herbal products such as toothpaste containing green tea and peppermint can prevent plaque and salivary pH. This research was conducted to determine the effectiveness of green tea (Camellia sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) toothpaste preparations on plaque index and salivary pH. Methods: The research design is experimental with a pretest-posttest design. A total of 32 subjects were recovered based on inclusion and exclusion criteria and then divided into two groups (n=16) randomly. The first group brushed their teeth using green tea extract toothpaste, peppermint and the second group brushed their teeth using CT toothpaste. The saliva pH of both groups was measured using a pH meter and dental plaque scores using the O'Leary method. The data analysis method used is the Wilcoxon test.  Results: The results of the first and second groups of research showed that there was no significant change in saliva pH (p=0.068 and p=0.729) but there was a significant change in the plaque index (p=0.000 and p=0.033). Conclusion: Brushing teeth using toothpaste containing green tea (Camellia Sinensis L.) and peppermint (Mentha piperita L.) extracts is effective in reducing the plaque index and maintaining saliva pH within normal conditions. Keywords green tea, peppermint, plaque index, saliva pH, toothpaste
Pengaruh Penambahan Nano Hidroksiapatit Cangkang Kerang Kepah Pada Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Terhadap Kekuatan Transversal : Eksperimental Laboratoris Putranti, Dwi Tjahyaning; Angelica, Angelica
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.51113

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan, namun bahan ini memiliki kekuatan transversal yang rendah sehingga mudah terjadi fraktur. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan kekuatan resin akrilik salah satunya dengan penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah sebagai bahan penguat. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan pada sampel basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah dan dengan penambahan nano hidroksiapatit cangkang kerang kepah 2%, 5% dan 8% dengan ukuran 65×10×2,5 mm sebanyak 24 sampel, dan diuji menggunakan Universal Testing Machine. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai kekuatan transversal tertinggi diperoleh pada penambahan nano hidroksiapatit sebanyak 5% dengan nilai rerata sebesar 125,862 Mpa. Simpulan: Penambahan nano HA cangkang kerang kepah pada konsenterasi 2% dan 5% pada bahan basis gigi tiruan RAPP direkomendasikan sebagai bahan penguat karena menunjukkan nilai kekuatan transversal yang meningkat. Kata kunci Basis gigi tiruan, resin akrilik polimerisasi panas, nano hidroksiapatit, cangkang kerang kepah, kekuatan transversal  The Effect of Addition of Nano Hydroxyapatite Kepah Clam Shells (Pollymesoda erosa) To The Transverse Strength On Heat-Cured Acrylic Resin Denture Base Material: Experimental Laboratory ABSTRACT Introduction: Heat cured acrylic resin is a material that commonly used as denture base, but this material has low mechanical strength so it fractures easily. This can be overcome by increasing the transverse strength by adding of kepah clam shells nano hydroxyapatite as reinforcing material. Methods: Type of this research was experimental laboratory. This study was conducted on heat cured acrylic resin denture base without the addition of nano hydroxyapatite kepah clam shells and with the addition of nano hydroxyapatite kepah clam shells at concentrations of 2%, 5% and 8% with size of samples is 65×10×2.5 mm and total 24 samples. Samples are tested with Universal Testing Machine. Results: The results showed that the highest transverse strength was obtained by adding 5% nano hydroxyapatite with an average value of 125,862 MPa. Conclusion: The addition of HA nano shells at concentrations of 2% and 5% to the RAPP denture base material is recommended as a reinforcing material because it shows an increased value of transverse strength. Keywords Heat cured acrylic denture base resin, nano hydroxyapatite, kepah clam shells, transverse strength 

Page 1 of 2 | Total Record : 15