cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024" : 16 Documents clear
Perbandingan efek antijamur ekstrak biji alpukat (Persea americana) dengan klorheksidin glukonat dan nistatin terhadap Candida albicans pada resin akrilik: studi eksperimental Tjingson, Natalia; Adrian, Nova; Binartha, Ciptadhi Tri Oka
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.54377

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Pertumbuhan Candida albicans yang lebih tinggi pada pengguna gigi tiruan meningkatkan kemungkinan terjadinya denture stomatitis jika tidak diiringi dengan pembersihan gigi tiruan yang adekuat. Agen anti jamur seperti klorheksidin glukonat (CHX) dan nistatin yang banyak digunakan memicu resistensi C. albicans pada penggunaan jangka panjang, sehingga dibutuhkan agen antijamur dari bahan alam. Ekstrak biji alpukat dapat menghambat pertumbuhan C.albicans, sehingga berpotensi menjadi pembersih gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek antijamur ekstrak biji alpukat dengan CHX dan nistatin terhadap C.albicans pada resin akrilik. Metode: Penelitian ini berjenis eksperimental laboratoris. Plat resin akrilik berukuran 9mm x 9mm x 3mm yang terkontaminasi C.albicans direndam ke dalam 8 larutan: ekstrak biji alpukat dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, CHX 0,2%, nistatin, dan akuades. Koloni kemudian dikultur dalam sabouraud dextrose agar (SDA) dan dihitung setelah 24 jam inkubasi dengan metode total plate count. Data dianalisis dengan uji One-way ANOVA dan Games-Howell. Hasil: Tidak ditemukan koloni pada perendaman sampel dengan CHX dan nistatin. Nilai rerata jumlah koloni C.albicans (x106 CFU/mL) pada ekstrak 100% adalah (1,71±0,59), ekstrak 50% (2,26±0,23), ekstrak 25% (2,92±0,14), ekstrak 12,5% (2,99±0,35), ekstrak 6,25% (3,54±0,33), dan akuades (6,45±1,47). Berdasarkan uji Games-Howell, terdapat perbedaan bermakna antara ekstrak biji alpukat dengan larutan uji lainnya. Simpulan: CHX dan nistatin mampu menghambat koloni jamur sepenuhnya. Penelitian ini juga menemukan adanya penurunan pertumbuhan C. albicans pada perendaman ekstrak biji alpukat dengan efektivitas tertinggi pada konsentrasi 100%. Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi ekstrak biji alpukat sebagai alternatif pembersih gigi tiruan dalam fungsinya untuk mengurangi koloni C.albicans. Comparison of antifungal activity between avocado seed extract with chlorhexidine gluconate and nystatin against Candida albicans on denture base resin: experimental study Introduction: The increased growth of Candida albicans among denture wearers raises the likelihood of developing denture stomatitis, especially if proper denture hygiene is not maintained. Common antifungal agents like Chlorhexidine gluconate (CHX) and nystatin, while widely used, can lead to candida albicans resistance with long-term use. Therefore, there is a need for antifungal agents derived from natural sources. Avocado seed extract (ASE) has shown potential in inhibiting the growth of C. albicans and could be a viable alternative for denture cleansing. This study aims to compare the antifungal effects of ASE with CHX and nystatin on C. albicans present on acrylic resin. Methods: This study is an experimental laboratory research. Acrylic resin plates measuring 9 mm x 9 mm x 3 mm contaminated with C. albicans were immersed in eight different solutions: 100%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, concentrations of ASE; 0.2% CHX, nystatin, and distilled water. The colonies were then cultured in Sabouraud dextrose agar (SDA) and counted after 24 hours of incubation using the total plate count method. The data were analyzed using a One-Way ANOVA and the Games-Howell tests. Results: No colonies were found in samples immersed in CHX and nystatin. The mean colonies count of C. albicans (x106 CFU/mL) for the 100% extract was (1.71 ± 0.59), 50% extract (2.26 ± 0.23), 25% extract (2.92 ± 0.14), 12.5% extract (2.99 ± 0.35), 6.25% extract (3.54 ± 0.33), and distilled water (6.45 ± 1.47). The Games-Howell test revealed significant differences between the ASE and other test solutions. Conclusion: CHX and nystatin were able to completely inhibit fungal colonies. The study also found a reduction in C. albicans growth with ASE, with the highest effectiveness observed at the 100% concentration. These findings suggest the potential of ASE as an alternative denture cleaner to reduce C.albicans colonies. 
Augmented reality SMILE Go dalam meningkatkan pengetahuan oral bad habits siswa sekolah dasar: studi eksperimental semu Maharani, Arivi Lathifah; Yandi, Satria; Anggestia, Wulan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.53585

Abstract

Pendahuluan: Oral bad habits merupakan kebiasaan yang terjadi pada rongga mulut yang dapat menyebabkan maloklusi. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut merupakan langkah awal dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Augmented reality SMILE Go adalah penggabungan antara objek virtual 3D dengan objek nyata. Augmented reality SMILE Go dapat membantu anak-anak semakin mudah dalam memahami dan mengerti terhadap pengetahuan yang didapatkan dengan animasi yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis augmented reality SMILE Go dalam meningkatkan pengetahuan oral bad habits pada siswa sekolah dasar. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental semu yang meliputi hanya satu kelompok atau kelas yang diberikan pra dan pasca uji dengan rancangan one-group pretest-posttest design. dimana peneliti melakukan pengukuran pertama (pretest) dengan kuesioner dan melakukan pemberian intervensi dalam bentuk demonstrasi langsung edukasi tentang Oral Bad Habits Anak serta melakukan pengukuran kedua (posttest). Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 104 minimal sampel yang diambil secara simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada siswa kelas V SDN 10 Sungai Sapih Padang, analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian diperoleh rata-rata pengetahuan sebelum dan setelah diberikan intervensi media augmented reality SMILE Go pengetahuan siswa meningkat dari 60,32% menjadi 80,28%. Penggunaan media augmented reality SMILE Go dapat meningkatkan pengetahuan mengenai oral bad habits pada siswa sekolah dasar(p=0,001). Simpulan: Augmented reality SMILE Go dapat meningkatkan pengetahuan mengenai oral bad habits siswa sekolah dasar.Augmented reality SMILE Go in improving knowledge of oral bad habits in elementary students: a cross sectional studyIntroduction: Oral bad habits refer to behaviors affecting the oral cavity that can lead to malocclusion. Dental and oral health education is a crucial first step in enhancing children's knowledge and awareness about maintaining oral health. The augmented reality app SMILE Go integrates 3D virtual objects with real-world elements to make learning more engaging and effective through captivating animations. This study aims to analyze the effectiveness of SMILE Go in improving knowledge about oral bad habits among elementary school students. Methods: This quasi-experimental study employed a one-group pretest-posttest design, involving a single class assessed before and after an educational intervention. An initial knowledge assessment (pretest) was conducted using a questionnaire, followed by a direct educational demonstration on oral bad habits using SMILE Go. A follow-up assessment (posttest) measured knowledge improvement. A minimum of 104 participants was selected via simple random sampling from fifth-grade students at SDN 10 Sungai Sapih, Padang. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The findings showed a significant increase in students' knowledge, from an average pretest score of 60.32% to a posttest score of 80.28% after using SMILE Go (p=0.001). Conclusion: The augmented reality app SMILE Go effectively enhances knowledge about oral bad habits among elementary school students.
Efektivitas penggunaan aplikasi digital dental calculator terhadap durasi waktu pengukuran gingival index : studi eksperimental Wulandari, Ayu; Arma, Utmi; Ningrum, Valendriyani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.52913

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah gingivitis yang ditandai dengan gusi bengkak dan mudah berdarah. Gingivitis merupakan inflamasi yang terjadi pada gingiva yang disebabkan karena adanya plak yang menempel pada tepi gingiva. Tingkat keparahan gingivitis dapat diukur dengan gingival index (GI) oleh Loe dan Silness dan untuk memonitoring keadaan ini seringkali dilakukan survei. Selama ini perhitungan hasil survei di Indonesia masih dilakukan secara manual menggunakan kertas dan pena, namun seiring dengan perkembangan teknologi telah dikembangkan digital dental calculator sebagai media yang digunakan untuk mengkalkulasikan hasil pengukuran GI secara cepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas durasi waktu pengukuran GI menggunakan aplikasi digital dental calculator. Metode: Penelitian ini bersifat quasi experiment dengan rancangan desain posttest only group design. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling dengan total 65 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 20 menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Rerata durasi waktu menggunakan kalkulasi manual adalah 260,74 detik dengan simpangan baku ±30,06, sementara durasi waktu dengan menggunakan aplikasi dental calculator lebih singkat yakni rerata 105,69 detik dengan simpangan baku ±20,85. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan adanya perbedaan durasi waktu yang signifikan p 0,000 (p<0,05) antara penggunaan aplikasi digital dental calculator dibandingkan dengan kalkulasi hasil survei secara manual dalam melakukan pengukuran GI. Simpulan: Penggunaan aplikasi digital dental calculator dapat mempersingkat  waktu pengukuran skor GI. The effectiveness of using a digital dental calculator application on the duration of calculating the gingival index: experiment Introduction: One of the common dental and oral health issues that often occurs in Indonesia is gingivitis, characterized by swollen easily bleeding gums. Gingivitis is an inflammation of the gingiva caused by plaque accumulation along the gingival margin. The severity of gingivitis can be measured using the Gingival index (GI) by Loe and Silness, and this condition is often monitored through surveys. Traditionally, survey results in Indonesia have been calculated manually using paper and pen. However, with technological developments, a digital dental calculator has been developed to quickly and accurately calculate GI measurements. This study aims to determine the effectiveness of the digital dental calculator in reducing the time required to measure GI. Methods: This research is a quasi-experiment with a post-test only group design. The sampling technique was carried out by convenience sampling with a total of 65 respondents who met the inclusion and exclusion criteria of the study. Data were analyzed using SPSS version 20 using the Mann Whitney test with a significance level of p <0.05. Results: The average time taken using manual calculation was 260.74 seconds with a standard deviation of ±30.06, while the time taken using the dental calculator application was significantly shorter, with an average of 105.69 seconds and a standard deviation of ±20.85. The Mann Whitney test results showed a significant difference in time duration p= 0.000 (p <0.05) between the use of the digital dental calculator and manual calculation in measuring GI. Conclusion: The use of digital dental calculator application significantly reduces the time required for GI score measurement.
Penilaian kualitas hidup pasien abses periapikal studi menggunakan WHOQOL-BREF: observasional deskriptif Millenia Pentury, Peggy Adriella; Santoso, Ivana Abigayl; Lesmana, Dian; Utami, Nikita Irzana; Ma'rup, Fathul Mauludy; Gempita, Enamorado Dara; Pradana, Tio
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55316

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Abses periapikal menyebabkan gigi berlubang mengalami infeksi, biasanya akibat karies gigi, trauma, atau kegagalan perawatan saluran akar gigi. Kualitas hidup merujuk pada kesejahteraan individu terkait Kesehatan secara holistik. Kondisi abses periapikal dapat memengaruhi fungsi keseharian individu termasuk fisik, psikologis, dan sosial. Tujuan penelitian yaitu menilai kualitas hidup pasien abses periapikal menggunakan kuesioner World Health Organization-BREF (WHOQOL-BREF) di BLUD UPTD Puskesmas Pataruman 3 Kota Banjar. Metode: Penelitian observasional deskriptif dilakukan pada 37 subyek menggunakan rumus slovin, teknik pengambilan sampel non-probability, accidental sampling. Kriteria inklusi yaitu pasien yang didiagnosis abses periapikal, berusia 17 tahun ke atas, dan dapat berkomunikasi dengan efektif. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang menolak untuk berpartisipasi atau tidak memberikan informed consent, individu yang mengisi kurang dari 20% dari kuesioner, dan individu dengan kondisi medis yang serius yang dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Penilaian kualitas hidup dinilai dengan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF yang memiliki 5 skala respon, yaitu sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik. Hasil: Kualitas hidup pasien abses periapikal di BLUD UPTD Puskesmas Pataruman 3 Kota Banjar, masuk dalam kategori: baik (8,11%), cukup (29,72%), dan buruk (62,16%). Domain kesehatan fisik dan hubungan sosial adalah domain yang paling sering dilaporkan sebagai cukup. Simpulan: Kualitas hidup pasien abses periapikal pada domain 1, 2, 3, dan 4 berada pada rentang skor rentang cukup buruk sampai baik. Namun apabila dilihat secara spesifik pada domain 1 (kesehatan fisik) dan domain 3 (hubungan sosial) berada pada rentang skor cukup buruk. Assessment of the quality of life of patients with periapical abscess: a study using whoqol-bref study: descriptive observational  Introduction: A periapical abscess causes infection in decayed teeth, usually resulting from dental caries, trauma, or failure root canal treatment. Quality of life encompasses the physical, psychological, and social well-being of individuals, which can be significantly impacted by periapical abscess. This study aims to assess the quality of life of periapical abscess patients using the World Health Organization-BREF (WHOQOL-BREF) questionnaire at the BLUD UPTD Pataruman 3 Health Center, Banjar City. Methods: This descriptive observational study included 37 subjects, selected using Slovin’s formula and non-probability accidental sampling. The inclusion criteria were patients diagnosed with periapical abscess, aged 17 years or older, and able to communicate effectively. Exclusion criteria included patients who refused to participate or did not provide informed consent, individuals who completed less than 20% of questionnaire, and those with serious medical conditions that could significantly affect their quality of life. Quality of life was assessed using the WHOQOL-BREF questionnaire, which uses a 5-point response scale: very poor, poor, fair, good, and very good. Results: The quality of life of periapical abscesses patients at BLUD UPTD Puskesmas Pataruman 3, Banjar City, was categorized as good (8.11%), fair (29.72%), and poor (62.16%). The physical health and social relationships domains were most frequently reported as fair. Conclusion: The quality of life of periapical abscess patients across domains 1, 2, 3, and 4 ranged from poor to good. However, when examined specifically, domain 1 (physical health) and domain 3 (social relationship) fell within the range of fair to poor.
Efek lama perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam ekstrak lidah buaya dan alkalin peroksida terhadap jumlah Candida albicans: studi eksperimental Pasaribu, Gabriel Gomgom Nicholas; Dahar, Eddy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55036

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Nilon termoplastik bersifat cenderung menyerap air yang akan meningkatkan kekasaran permukaan basis sehingga meningkatkan kontaminasi mikroba, seperti Candida albicans. Pembersihan gigi tiruan sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi, seperti denture stomatitis. Ekstrak lidah buaya dapat digunakan sebagai bahan pembersih alami dengan kandungan antrakuinon yang bersifat antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan lama perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam ekstrak lidah buaya 75% selama 15 menit, 4 jam, 6 jam, dan 8 jam serta alkalin peroksida selama 15 menit terhadap jumlah Candida albicans. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan sampel nilon termoplastik berbentuk cakram berukuran 10 x 2 mm sebanyak 24 sampel yang terbagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok akuades 8 jam (Kelompok A), ekstrak lidah buaya 75% 15 menit (Kelompok B), 4 jam (Kelompok C), 6 jam (Kelompok D), dan 8 jam (Kelompok E) serta alkaline peroksida 15 menit (Kelompok F). Jumlah Candida albicans pada masing-masing sampel dihitung menggunakan colony counter. Hasil: Berdasarkan uji univariat nilai rata-rata dan standar deviasi jumlah Candida albicans pada kelompok A adalah 429,75 ± 2,63 CFU/ml, kelompok B adalah 323,25 ± 3,30 CFU/ml, kelompok C adalah 196,00 ± 3,16 CFU/ml, kelompok D adalah 154,25 ± 3,30 CFU/ml, kelompok E adalah 53,75 ± 7,54 CFU/ml, dan kelompok F adalah 0,00 CFU/ml. Hasil uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p = 0,001 (p<0,05) dan uji Mann-Whitney diperoleh nilai p<0,05. Simpulan: lama perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam ekstrak lidah buaya dan alkalin peroksida berefek terhadap jumlah Candida albicans.Effect of immersion time thermoplastic nylon in Aloe vera extract and alkaline peroxide on Candida albicans: experimental studyIntroduction: Thermoplastic nylon has a tendency to absorb water, which can increase the surface roughness of the denture base, leading to increased microbial contamination, such as Candida albicans. Proper denture cleaning is crucial to prevent infection like denture stomatitis. Aloe vera extract, containing anthraquinone compound with antifungal properties, can be used as a natural cleaning agent. This study aims to determine the effect of different soaking durations of thermoplastic nylon denture bases in 75% aloe vera extract for 15 minutes, 4 hours, 6 hours, and 8 hours, as well as in alkaline peroxide for 15 minutes, on the amount of Candida albicans. Methods: This is an laboratory experimental study using 24 thermoplastic nylon disc-shaped samples measuring 10 x 2 mm, divided into six groups: Group A (8-hour soaking in distilled water), Group B (15-minute soaking in 75% aloe vera extract), Group C (4-hour soaking in 75% aloe vera extract), Group D (6-hour soaking in 75% aloe vera extract), Group E (8-hour soaking in 75% aloe vera extract), and group F (15-minute soaking in alkaline peroxide). The number of Candida albicans colonies on each sample was counted using a colony counter. Results: The univariate showed that the mean and standard deviation of Candida albicans counts were 429.75 ± 2.63 CFU / ml for Group A,  323.25 ± 3.30 CFU / ml for Group B, 196.00 ± 3.16 CFU / ml for Group C, 154.25 ± 3.30 CFU / ml for Group D, 53.75 ± 7.54 CFU / ml for Group E, and 0.00 CFU / ml for Group F. The Kruskal-Wallis test results obtained a p-value of  0.001 (p < 0.05), and The Mann-Whitney test also showed p < 0.05. Conclusion: The soaking duration of thermoplastic nylon denture bases in aloe vera extract and alkaline peroxide significantly affects the amount of Candida albicans.
The potential of propolis extract gel Kabanjahe Kelulut bee as an anti-inflammatory agent in periodontal treatment: eksperimental laboratory study Wulandari, Pitu; Maharani, Julia; Zulhendri, Felix; Lesmana, Ronny; Simanungkalit, Jayne Mary; Aulina, Datin Zahira
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.52694

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Periodontitis treatment includes scaling and root planing, which can be supplemented with additional therapy, such as the administration of propolis. Propolis, a potential local natural resource, contains active metabolites that act as anti-inflammatory agents in periodontal healing. This study aims to analyze the effectiveness of propolis extract gel from Kelulut (stingless bees) as an anti-inflammatory agent in periodontal treatment. Methods: This laboratory-based experimental research employed a post-test-only control group design, divided into five groups: 50%; 60%; 70% propolis extract gel; Metronidazole Gel and Placebo Gel. The anti-inflammatory test was conducted using 50 male Wistar rats induced with periodontitis through silk ligature and P.gingivalis bacteria. The rats were sacrificed on the third and seventh days after treatment, and macrophage cells count were performed under a microscope at 400x magnification using Haematoxylin-Eosin staining. Results: The ANOVA test results showed no significant differences in the macrophage cells counts among the treatment groups on day 3 and day 7 in the periodontitis-induced rat model (p>0.05). The anti-inflammatory test results indicated a decrease in the mean macrophage cells count in each group by day 7. Conclusion: The use of Kelulut propolis extract gel from Kabanjahe was effective in reducing the number of macrophages in periodontitis-induced rats, with the 70% propolis extract gel demonstrating the best anti-inflammatory effectiveness in periodontal treatment. Potensi gel ekstrak propolis lebah kelulut kabanjahe sebagai agen anti inflamasi pada perawatan periodontal: eksperimental laboratoris Pendahuluan: Perawatan periodontitis meliputi scaling dan root planing serta dapat didukung dengan terapi tambahan berupa pemberian propolis. Propolis merupakan salah satu sumber daya alam lokal yang potensial, mengandung metabolit aktif yang berperan sebagai zat anti-inflamasi dalam penyembuhan periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas gel ekstrak propolis dari lebah Kelulut (stingless bees) sebagai anti-inflamasi pada perawatan periodontal. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris ini memiliki desain post-test-only control group design yang dibagi ke dalam lima kelompok yaitu kelompok gel ekstrak propolis 50%; 60%; 70%, gel Metronidazole dan gel Placebo. Pengujian anti-inflamasi menggunakan 50 ekor tikus wistar jantan yang diinduksi periodontitis dengan ligatur Silk 3/0 dan bakteri P.gingivalis. Tikus dikorbankan pada hari ketiga dan hari ketujuh setelah perlakuan, kemudian dilakukan penghitungan sel makrofag dengan mikroskop pada perbesaran 400x dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin. Hasil: Hasil uji ANOVA, tidak terdapat perbedaan bermakna pada setiap kelompok perlakuan terhadap jumlah makrofag. sel pada hari ke-3 dan hari ke-7 pada model tikus periodontitis (p<0.05). Hasil uji anti-inflamasi menunjukkan adanya penurunan rerata jumlah sel makrofag pada masing-masing kelompok pada hari ke-7. Simpulan: Terdapat efektivitas penggunaan gel ekstrak propolis lebah Kelulut Kabanjahe terhadap jumlah makrofag pada tikus yang diinduksi periodontitis dan gel ekstrak propolis 70% memiliki efektivitas terbaik sebagai anti-inflamasi pada perawatan periodontal.
Perbedaan modulus elastisitas basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas pada penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit: studi eksperimental laboratoris Shauti, Fadhil Ramadhan; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55038

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas adalah bahan yang umum digunakan untuk basis gigi tiruan,. namun rentan patah karena memiliki modulus elastisitas yang rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan kekuatan bahan basis gigi tiruan adalah dengan menambahkan nanosilika yang berasal dari abu cangkang kelapa sawit. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan modulus elastisitas basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas pada penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium ini membagi sampel penelitian menjadi empat kelompok: tanpa nanosilika (kelompok A), dengan nanosilika 2% (kelompok B), nanosilika 5% (kelompok C), dan nanosilika 6% (kelompok D). Sebanyak 24 sampel berukuran 65x10x2,5 mm diuji menggunakan Universal Testing Machine untuk mengukur modulus elastisitas. Hasil: Nilai rata-rata modulus elastisitas adalah 2022,73 ± 479,89 MPa untuk kelompok A, 2261,46 ± 505,76 MPa untuk kelompok B, 3262,06 ± 435,71 MPa kelompok C, dan 2706,56 ± 617,24 MPa untuk kelompok D. Terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,005, terutama antara kelompok B dan kelompok C dengan nilai p=0,005. Simpulan: Terdapat perbedaan modulus elastisitas basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas pada penambahan nanosilika abu cangkang kelapa sawit konsentrasi 2%, 5%, dan 6%.Differences in elastic modulus of hot polymerized acrylic resin denture bases upon addition of palm shell ash nanosilica: a laboratory experimental studyIntroduction: Heat cure acrylic resin is commonly used for denture base, but it is prone to breakage due to its  low elastic modulus. One method to improve the strength of denture base material is by incorporating nanosilica derived from palm shell ash. This study aims to analyze the differences in the elastic modulus of hot polymerized acrylic resin denture bases with the addition of palm shell ash nanosilica. Methods: This research laboratory experimental study with research samples divided into four groups: without nanosilica (group A), with 2% nanosilica (group B), 5% nanosilica (group C), and 6% nanosilica (group D). A total of 24 samples, measuring 65x10x2.5 mm, were tested using a Universal Testing Machine to determine the modulus of elasticity. Results: The average modulus of elasticity was 2022.73 ± 479.89 MPa for group A,  2261.46 ± 505.76 MPa for group B,  3262.06 ± 435.71 MPa for group C, and 2706.56 ± 617.24 MPa for group D. A significant difference was found between the groups p=0.005, particularly between group B and group C with a p value=0.005. Conclusion: The addition of nanosilica palm shell ash at concentrations of 2%, 5%, and 6% significantly affects the modulus of elasticity of heat cure acrylic resin denture bases.
Korelasi pola asuh orang tua terhadap kejadian Early Childhood Caries pada anak usia 36 sampai 71 bulan: studi cross-sectional Murwanenda, Rachel; Budirahardjo, Roedy; Setyorini, Dyah; Prijatmoko, Dwi; Handayani, Ari Tri Wanodyo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.50330

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Karies gigi merupakan infeksi yang dapat merusak struktur jaringan keras gigi. Karies gigi atau kerusakan gigi pada anak-anak dikenal dengan sebutan Early Childhood Caries (ECC), yang memengaruhi permukaan gigi susu pada anak berusia kurang dari 71 bulan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ECC dipengaruhi secara signifikan oleh kebiasaan perawatan gigi anak dan pola asuh orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan ECC pada anak usia 36 sampai 71 bulan. Metode: Jenis penelitian studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan total sampel sebanyak 40 anak yang berusia antara 36 hingga 71 bulan dari lima fasilitas prasekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan foto klinis intraoral pada anak-anak dan kuesioner yang diisi oleh orang tua mereka. Analisis data menggunakan metode observasional analitik dilakukan untuk menilai hubungan antara pola asuh orang tua dan kejadian ECC pada anak-anak yang berusia 36 hingga 71 bulan. Hasil: Hasil Uji rank spearman menunjukkan nilai r=0,806 dengan nilai p=0,000. Nilai r menunjukkan hubungan yang sangat kuat, menunjukan adanya korelasi signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian ECC pada anak-anak yang berusia 36 hingga 71 bulan. Simpulan: Terdapat korelasi antara pola asuh orang tua dan kejadian ECC pada anak-anak yang berusia 36 hingga 71 bulan. The correlation between parenting style and early childhood caries in children aged 36-71 months: a study cross-sectional Introduction: Dental caries is an infection that can damage the structure of the hard tissues of the teeth. Dental caries or tooth decay in children is known as early childhood caries (ECC), affects the surface of milk teeth in children under 71 months. Several studies have shown that ECC is significantly influenced by children’s dental care habits and parenting styles. The aim of this research is to analyze the relationship between parenting patterns and ECC in children aged 36 to 71 months. Methods: This type of research is an observational analytical study with a cross-sectional approach, involving a total sample of 40 children aged 36 to 71 months from five preschool facilities. Data were collected through intraoral clinical photographs of the children and questionnaires filled out by their parents. Data analysis using analytical observational methods was carried out to assess the relationship between parenting style and the incidence of ECC in children aged 36 to 71 months. Results: The Spearman rank test results showed a correlation coefficient value of r=0,806 with a value of p=0,000. The r value indicates a very strong relationship, demonstrating a significant correlation between parenting style and the incidence of ECC in children aged 36 to 71 months. Conclusion: There is a correlation between parenting style and the incidence of ECC in children aged 36 to 71 months.
Potensi larutan teh hijau celup sebagai alternatif Hank’s Balanced Salt Solution mempertahankan viabilitas sel ligamen periodontal gigi avulsi: studi in vitro Zahratuljannah, Reshaina Dewi Azizah; Widodo, A. Haris Budi; Triani, Maulina; Ichsyani, Meylida; Rochmawati, Mutia
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i2.55391

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Avulsi gigi terjadi ketika gigi terlepas sepenuhnya dari soket alveolar akibat trauma. Perawatan awal yang dilakukan pada gigi avulsi/replantasi, yaitu menanamkan kembali gigi ke dalam soket dengan segera. Prognosis kesuksesan replantasi gigi sangat bergantung pada viabilitas sel ligamen periodontal sehingga memerlukan media penyimpanan yang sesuai dan manajemen waktu yang tepat. Penelitian bertujuan menganalisis potensi larutan teh hijau celup sebagai alternatif penggunaan Hank’s Balanced Salt Solution (HBSS) pada viabilitas sel ligamen periodontal pada gigi. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratoris in vitro menggunakan sampel sel ligamen periodontal pada 32 gigi insisivus maksila tikus Wistar. Sampel dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok yang direndam dalam larutan teh hijau celup dan kelompok kontrol positif pada HBSS selama 1, 3, 6, dan 24 jam. Metode analisis penghitungan persentase viabilitas sel ligamen periodontal dengan pewarnaan eksklusi trypan blue dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Analisis statistik menggunakan one way ANOVA untuk membandingkan persentase antar waktu pada teh hijau celup dan independent t-test untuk membandingkan teh hijau celup dan HBSS pada setiap waktu. Hasil: Hasil one way ANOVA p>0,05 yang menandakan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antar perendaman dalam larutan teh hijau celup. Hasil independent t-test pada jam ke 1 dan 3 p>0,05 yang menandakan tidak terdapat perbedaan signifikan dan pada jam ke 6 dan 24 p<0,05 menandakan adanya perbedaan signifikan antara perendaman dalam larutan teh hijau celup dan larutan kontrol positif HBSS. Simpulan: Larutan teh hijau celup dapat menjadi alternatif HBSS dalam mempertahankan viabilitas sel ligamen periodontal gigi avulsi.Potential of green tea bag solution as an alternative to Hank’s Balanced Salt Solution in maintaining periodontal ligament cell viability in Wistar rat avulsed teeth: in vitro study Introduction: Tooth avulsion occurs when the tooth is completely separated from the alveolar socket due to trauma. The initial treatment for an avulsed tooth is replantation, namely immediately implanting the tooth back into the socket. The prognosis for successful tooth replantation is highly dependent on the viability of periodontal ligament cells. Use of appropriate storage media and proper time management are critical to preserving periodontal ligament cells and the likelihood of successful replantation. This study aims to analyze potential of a green tea bag solution as an alternative to using Hank’s Balanced Salt Solution (HBSS) on periodontal ligament cell viability in avulsed teeth. Methods: The research was carried out experimentally in vitro using periodontal ligament cell samples from 32 maxillary incisors of Wistar rats. The samples were divided into 8 groups, namely the group soaked in green tea bag solution and the positive control group in HBSS for 1, 3, 6, and 24 hours. The analytical method is to calculate the percentage of periodontal ligament cell viability using trypan blue exclusion staining under a microscope with 100x magnification. Statistical analysis used one way ANOVA to compare percentages between times of bagged green tea and independent t-test to compare bagged green tea and HBSS at each time. Results: The results of one way ANOVA were p>0.05 which indicated that there was no significant difference between immersion in green tea bag solution. The results of the independent t-test at the 1st and 3rd hours were p>0.05 which indicated there was no significant difference and at the 6th and 24th hours p<0.05 which indicated there was a significant difference between immersion in the green tea bag solution and HBSS as the positive control solution. Conclusion: Green tea bag solution can be an alternative to HBSS in maintaining periodontal ligament cell viability in avulsed teeth.
Perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19The difference in knowledge of COVID-19 infection control among general dentists and specialists Pratama, Adellia Ninda; Nasia, Avina Anin; Purbaningrum, Diah Ajeng; Skripsa, Tira Hamdillah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.241981/jkg.v134i2.34202

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: COVID-19 merupakan penyakit dengan jenis baru yang belum pernah ditemukan dan diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Terjadinya penularan pada praktik kedokteran gigi dikarenakan adanya beberapa faktor dimana profesi dokter gigi umum dan spesialis merupakan salah satu profesi yang sangat rentan terhadap terjadinya penularan infeksi silang penyakit menular yang disebabkan adanya kontak pada cairan tubuh seperti saliva maupun darah sehingga diperlukan pengetahuan yang baik dalam pengendalian infeksi COVID-19. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross-sectional). Seluruh sampel berjumlah 130 orang terdiri dari dokter gigi umum sebanyak 80 orang dan dokter gigi spesialis sebanyak 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner online melalui platform google form untuk mengetahui karakteristik sampel dan tingkat pengetahuan terhadap pengendalian COVID-19 yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19 menggunakan uji Mann-Whitney dan dilanjutkan uji regresi logistik untuk mengetahui pengaruh karakteristik terhadap tingkat pengetahuan. Hasil: Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap pengendalian infeksi COVID-19 (p=0,018). Presentase dokter gigi spesialis yang memiliki pengetahuan sangat baik (88%) lebih besar dari kelompok dokter gigi umum (70%). Uji multivariat regresi logistik untuk menguji variabel yang berpengaruh terhadap pengetahuan menunjukkan bahwa dokter gigi spesialis cenderung berpengetahuan lebih baik daripada dokter gigi umum (OR=3,496, p=0,013). Simpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan dokter gigi umum dan spesialis terhadap COVID-19 dan karakteristik profesi memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan pengendalian COVID-19.Kata kunci: COVID-19; dokter gigi umum; dokter gigi spesialis; pengetahuan; pengendalian infeksi ABSTRACT Introduction: COVID-19 is a new type of disease that has never been previously discovered and identified in humans. The occurrence of transmission in dental practice is due to several factors where the general dentist and specialist profession is one of the professions that are very susceptible to cross- infection transmission in infectious diseases caused by contact with fluids in the body such as saliva or blood.Therefore good knowledge needed in the COVID-19 infection control. This study aimed to find the differences in the knowledge between general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection. Methods: This was an analytical observational research with a cross-sectional design. The total sample was 130 dentists, consisting of 80 general dental practitioners and 50 dental specialists. The sampling technique used quota sampling. Instrument in this research used an online questionnaire via google forms platform to know the characteristics of the sample and the level of knowledge regarding the control of COVID-19. The instrument had been tested for its validity and reliability. The statistical tests used to find the difference in the knowledge between general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection were the Mann-Whitney test and continued with logistic regression test to determine the effect of characteristics on the level of knowledge. Results: Mann-Whitney Test showed differences in the knowledge of general dental practitioners and dental specialists in controlling COVID-19 infection (p=0,018). Conclusion: There were differences in the knowledge of general dental practitioners and dental specialists in COVID-19. In addition, the profession’s characteristics affect knowledge level of COVID-19 control.Keywords: COVID-19; general dentist; specialist dentist; knowledge; infection control

Page 1 of 2 | Total Record : 16