Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi pendidikan akidah di Ranting Muhammadiyah Pasteur Bandung. Fokus penelitian adalah pada dua kegiatan utama, yaitu Pengajian Bapak-Bapak Al-Huda dan Pengajian Ibu-Ibu Aisyiyah. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipan pasif, dan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa implementasi pendidikan akidah—khususnya materi inti Muhammadiyah berupa pemurnian dari Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC)—belum berjalan secara sistematis dan institusional. Pada pengajian bapak-bapak, materi tersebut tidak pernah diajarkan sebagai topik khusus dan hanya disinggung secara tidak mendalam. Sementara itu, inisiatif implementasi terlihat pada pengajian ibu-ibu melalui penyisipan nilai-nilai akidah dalam kajian tafsir, namun hal ini sangat bergantung pada kapasitas individu pengajar. Akar masalah utama adalah terputusnya rantai transmisi keilmuan dan pembinaan dari otoritas Majelis Tarjih dan Tajdid Pusat kepada para pengajar di tingkat ranting. Para pengajar lebih banyak mengandalkan latar belakang keilmuan pribadi yang beragam, sehingga materi dan metodologi yang disampaikan belum sepenuhnya selaras dengan manhaj dan penekanan spesifik Muhammadiyah. Ironisnya, kesadaran akan pentingnya pemahaman akidah dan TBC justru tinggi di kalangan anggota. Simpulan penelitian ini mengindikasikan bahwa untuk mengoptimalkan implementasi, diperlukan upaya sistematis dalam pembinaan pengajar dan penyusunan panduan materi akidah yang mengalir dari tingkat pusat hingga ke ranting.