Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pendekatan Deep Learning Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Dalam Pembelajaran Biologi Diah Ayu Nur Aviani; Silvia Anggraini; Susan Adinda Saputri
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 2 No. 2 (2026): Edisi Mei - Juni 2026
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v2i2.697

Abstract

Kemampuan berpikir kritis siswa SMA dalam pembelajaran biologi masih tergolong sedang hingga rendah, terutama ketika pembelajaran didominasi oleh hafalan. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan yang mendorong keterlibatan kognitif tingkat tinggi. Deep learning dalam penelitian ini merujuk pada pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konseptual, keterkaitan antar konsep, dan refleksi berpikir, bukan teknologi kecerdasan buatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendekatan deep learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian menggunakan metode meta-analisis terhadap 20 artikel eksperimen dan quasi-eksperimen tahun 2020–2026 yang diperoleh dari Google Scholar, ScienceDirect, ERIC, dan DOAJ. Artikel dipilih berdasarkan kesesuaian variabel, subjek siswa SMA, dan ketersediaan data kuantitatif. Analisis dilakukan menggunakan effect size serta mempertimbangkan variabel moderator. Hasil menunjukkan bahwa deep learning memberikan pengaruh kuat terhadap kemampuan berpikir kritis, dengan nilai effect size rata-rata sebesar ±1,35 yang termasuk dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi. Efektivitas tertinggi ditemukan pada siswa kelas XI (Δ = 1,48) dan pada materi biologi yang kompleks seperti sistem ekskresi (Δ = 1,52). Model pembelajaran seperti problem-based learning (Δ = 1,42) dan inquiry learning (Δ = 1,37) terbukti paling efektif dalam mendukung pendekatan deep learning. Kesimpulan menegaskan bahwa deep learning berpengaruh signifikan dalam meningkatkan berpikir kritis siswa SMA. Kebaruan penelitian terletak pada sintesis kuantitatif yang mengintegrasikan berbagai temuan serta mengidentifikasi faktor moderator. Implikasi praktis menunjukkan bahwa guru perlu menerapkan pembelajaran berbasis eksplorasi, diskusi, dan refleksi untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis.