Pulmonary tuberculosis (PTB) and type 2 diabetes mellitus (T2DM) are major and increasingly overlapping public health problems in Indonesia. Evidence suggests that T2DM is associated with a higher risk of active PTB and less favorable treatment-related outcomes, yet Indonesian findings remain fragmented. This structured narrative review synthesized Indonesian studies published between 2020 and 2025 retrieved from Google Scholar and Garuda. Eligible studies examined the association of T2DM with PTB incidence or risk, glycemic control, bacteriological response, treatment duration, mortality, and related modifying factors. Of 442 records identified, 17 studies were included. Most of the included studies were observational and single-center, which limits causal inference and national representativeness. Across the reviewed evidence, T2DM was consistently associated with greater PTB occurrence, with several studies reporting an approximately two- to three-fold higher risk among people with diabetes. PTB incidence within a T2DM cohort was reported as 3.88%. Poor glycemic control, particularly elevated HbA1c, was associated with delayed sputum smear conversion, longer treatment duration, greater clinical severity, and higher mortality risk. Additional modifiers included smoking, poor nutritional status, low education, low income, and close contact with TB cases. In conclusion, in Indonesia, T2DM is strongly associated with increased PTB occurrence and poorer PTB prognosis. Integrated TB–DM screening, closer glycemic monitoring, and stronger continuity of care are needed to improve patient outcomes. ABSTRAK Tuberkulosis paru (TB paru) dan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan dua masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia yang semakin banyak muncul secara bersamaan. Bukti yang ada menunjukkan bahwa DMT2 berasosiasi dengan risiko TB paru aktif yang lebih tinggi serta luaran pengobatan yang kurang menguntungkan, namun temuan di Indonesia masih terfragmentasi. Tinjauan naratif terstruktur ini mensintesis studi-studi di Indonesia yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dan ditelusuri melalui Google Scholar serta Garuda. Studi yang memenuhi syarat menelaah hubungan DMT2 dengan insidensi atau risiko TB paru, kontrol glikemik, respons bakteriologis, durasi pengobatan, mortalitas, dan faktor-faktor pemodifikasi terkait. Dari 442 rekaman yang diidentifikasi, sebanyak 17 studi dimasukkan. Sebagian besar studi yang diikutkan bersifat observasional dan berasal dari satu pusat layanan, sehingga membatasi inferensi kausal dan keterwakilan nasional. Secara keseluruhan, bukti yang ditinjau menunjukkan bahwa DMT2 secara konsisten berasosiasi dengan kejadian TB paru yang lebih tinggi, dengan beberapa studi melaporkan risiko sekitar dua hingga tiga kali lipat lebih besar pada penderita diabetes. Insidensi TB paru dalam satu kohort DMT2 dilaporkan sebesar 3,88%. Kontrol glikemik yang buruk, terutama kadar HbA1c yang tinggi, berasosiasi dengan keterlambatan konversi sputum BTA, durasi pengobatan yang lebih panjang, keparahan klinis yang lebih tinggi, dan risiko kematian yang lebih besar. Faktor pemodifikasi lain meliputi merokok, status gizi yang buruk, pendidikan rendah, pendapatan rendah, dan riwayat kontak erat dengan pasien TB. Sebagai kesimpulan, di Indonesia, DMT2 berasosiasi kuat dengan meningkatnya kejadian TB paru dan prognosis TB paru yang lebih buruk. Skrining terpadu TB–DM, pemantauan glikemik yang lebih ketat, dan kesinambungan layanan yang lebih baik diperlukan untuk meningkatkan luaran pasien.