Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERKIRAAN POSISI DAN KEDALAMAN TITIK CURIE PANAS BUMI BERDASARKAN DATA MAGNETIK SATELIT MENGGUNAKAN METODE ANALISIS SPEKTRAL 2D DI SEKITAR GUNUNG LAWU Widiaji, Fatah Rizki; Sari, Yosi Aprian
Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Ilmu Fisika dan Terapannya (JIFTA)
Publisher : Prodi Fisika, Departemen Pendidikan Fisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jifta.v13i1.27145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kedalaman titik Curie untuk mengestimasi panas bumi di sekitar Gunung Lawu pada koordinat -7,309o LS sampai -8,035o LS dan 110,793o BT sampai 111,562o BT dengan luas sekitar 85 km x 81 km, dengan menggunakan metode Analisis Spektral 2D berbasis data magnetik. Gunung Lawu merupakan lokasi yang memiliki potensi panas bumi yang menarik untuk diteliti dengan potensi diperkirakan sekitar 137 MW dengan cadangan terduga sebesar 195 MW. Kedalaman titik Curie dan Heatflow merupakan indikator penting untuk identifikasi panas bumi, karena dapat mengetahui kondisi termal dan distribusi panas di bawah permukaan. Data yang digunakan berupa data anomali medan magnet satelit yang berasal dari Web EMAG2 v3 dengan resolusi 2 arc- minute. Analisis Spektral 2D dilakukan untuk memperoleh kedalaman atas, kedalaman pusat, kedalaman titik Curie, dan Heatflow pada tiap bagian dari data sebaran variasi anomali magentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman titik Curie di wilayah studi berkisar antara 30,814 km hingga 62,514 km dengan nilai rata-rata 45,541 km sedangakn nilai Heatflow berkisar antara 23,194 mWm-2 hingga 47,055 mWm-2 dengan nilai rata-rata 33,477 mWm-2. Wilayah sekitar Gunung Lawu memiliki kedalaman titik Curie yang relatif dalam dan Heatflow yang rendah yang mengindikasikan potensi panas bumi yang rendah. Sebaliknya, di wilayah sebelah Utara dan Barat Gunung Lawu dengan jarak 10-30 km dari Gunung Lawu menunjukkan kedalaman yang lebih dangkal dan Heatflow lebih tinggi. Dengan demikian, metode yang digunakan terbukti efektif dalam mengidentifikasi dan mengestimasi zona prospektif panas bumi berdasarkan distribusi kedalaman titik Curie dan Heatflow.