Differences in religious practices, such as the tahlilan tradition, often trigger social tensions within a diverse society. This study stems from the case of a Muhammadiyah family in Kangenan Barat Village, Pamekasan Regency, who did not perform the tahlilan ritual whilst in mourning and subsequently became the target of criticism by some NU residents. This study employs a qualitative method using a case study approach, and utilises Social Identity Theory and the Contact Hypothesis to analyse the dynamics of the conflict and its potential resolution. The findings indicate that the verbal conflict that occurred was triggered by the reinforcement of group identity and the absence of spaces for interfaith communication. However, all three informants in this study—from both NU and Muhammadiyah—expressed support for solutions involving interfaith dialogue forums among religious leaders and community engagement in cross-group social activities. These findings underscore the importance of public figures’ roles and equal interaction in fostering practical religious moderation. Perbedaan praktik keagamaan seperti tradisi tahlilan seringkali menjadi pemicu ketegangan sosial dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini berangkat dari kasus keluarga Muhammadiyah di Kelurahan Kangenan Barat, Kabupaten Pamekasan, yang tidak melaksanakan tahlilan saat berduka dan kemudian menjadi sasaran sindiran oleh sebagian warga NU. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta memanfaatkan teori Social Identity dan Contact Hypothesis untuk menganalisis dinamika konflik dan potensi resolusinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik verbal yang terjadi dipicu oleh penguatan identitas kelompok dan tidak adanya ruang komunikasi lintas keyakinan. Namun, ketiga informan dalam penelitian ini baik dari NU maupun Muhammadiyah, menunjukkan dukungan terhadap solusi berupa forum dialog antar tokoh agama serta keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosial lintas kelompok. Temuan ini menegaskan pentingnya peran publik figur dan interaksi setara dalam membangun moderasi beragama secara aplikatif.