This study aims to reveal the forms of social criticism contained in Dyah Prameswarie’s novel Dua Masa di Mata Fe using a sociological approach to literature. The research employed a descriptive qualitative method through content analysis of quotations and dialogues that represent social realities. The findings show four dominant forms of social criticism: ethnic discrimination, humanitarian crisis, social and economic inequality, and the weakness of the state and its apparatus. The novel portrays Indonesian society during the May 1998 riots, which were marked by violence, injustice, and the loss of human empathy. Therefore, Dua Masa di Mata Fe functions as a medium of social reflection that emphasizes the importance of justice, solidarity, and humanity in social life. Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk-bentuk kritik sosial dalam novel Dua Masa di Mata Fe karya Dyah Prameswarie dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif melalui analisis isi terhadap kutipan dan dialog yang merepresentasikan realitas sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat bentuk kritik sosial, yakni diskriminasi etnis, krisis kemanusiaan, ketimpangan sosial dan ekonomi, serta lemahnya peran aparat dan negara. Novel ini menampilkan potret masyarakat pada masa kerusuhan Mei 1998 yang diwarnai kekerasan, ketidakadilan, dan hilangnya empati kemanusiaan. Dengan demikian, Dua Masa di Mata Fe berfungsi sebagai media refleksi sosial yang menegaskan pentingnya keadilan, solidaritas, dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.