Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Performa Operasional Pelabuhan Cirebon Berdasarkan Nilai BOR, YOR, dan Produktivitas Bongkar Muat Jenny Saputra; Nurullah Budisiswanto
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 10 No. 1 (2026): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v10i1.17578

Abstract

Kinerja operasional Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan nonpetikemas menunjukkan dinamika yang dipengaruhi oleh peningkatan arus kargo dan keterbatasan efisiensi operasional. Penelitian sebelumnya cenderung bersifat parsial dan lebih banyak berfokus pada terminal petikemas, sehingga kajian komprehensif yang mengintegrasikan indikator utama kinerja pada pelabuhan nonpetikemas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa operasional Pelabuhan Cirebon melalui integrasi indikator Berth Occupancy Ratio (BOR), Yard Occupancy Ratio (YOR), dan produktivitas bongkar muat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data primer melalui wawancara serta data sekunder berupa laporan operasional pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai BOR berkisar antara 33,33%–59,09%, dengan nilai tertinggi masih berada dalam kategori optimal, sehingga dermaga belum mencapai kondisi jenuh. Kapasitas dermaga sepanjang 1.124 meter mampu melayani hingga ±11 kapal secara simultan tanpa terjadi kelebihan kapasitas. Dari sisi pemanfaatan fasilitas, YOR pada closed storage mencapai 78,26% (optimal), sedangkan open storage sebesar 48% yang menunjukkan masih tersedianya ruang peningkatan utilisasi. Produktivitas bongkar muat tergolong baik, dengan capaian hingga ±40 ton/jam untuk general cargo dan ±200 ton/jam untuk curah kering, melampaui standar regional. Secara keseluruhan, kinerja operasional pelabuhan tergoloong stabil dan memenuhi standar teknis. Namun demikian, efisiensi masih dapat ditingkatkan hingga ±20–25% melalui pengurangan waktu tidak operasional (Not Operating Time), peningkatan koordinasi antarpemangku kepentingan, serta optimalisasi sistem digital. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja pelabuhan nonpetikemas lebih efektif dilakukan melalui optimalisasi operasional dibandingkan ekspansi infrastruktur fisik.