Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK Sahat Parulian
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2488

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk akhlak mulia peserta didik melalui pendekatan studi kepustakaan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena degradasi moral di kalangan peserta didik yang menunjukkan perlunya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis studi literatur (library research), yaitu dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. Teknik analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI memiliki peran strategis dan multidimensional, yaitu sebagai pendidik (educator), pembimbing (counselor), teladan (role model), motivator, serta evaluator dalam membentuk karakter peserta didik. Implementasi pembentukan akhlak mulia dilakukan melalui integrasi nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran, pemberian keteladanan, pembiasaan perilaku positif, serta penciptaan lingkungan pendidikan yang religius dan kondusif. Selain itu, keberhasilan pembentukan akhlak juga dipengaruhi oleh sinergi antara guru, keluarga, dan lingkungan sosial. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa penguatan peran guru PAI tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, tetapi juga harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik peserta didik secara holistik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kompetensi guru PAI secara berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan pendidikan karakter di era modern. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak mulia.
MODEL PENYUSUNAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERDASARKAN PROPORSI TINGKAT KESUKARAN Nila Wahyuni Nasution; Saiful Salim Marbun; Sahat Parulian; Syafnan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.53982

Abstract

The development of a proper assessment instrument is an essential factor in measuring the achievement of learning objectives in Islamic Religious Education (IRE). A high-quality test instrument should be designed based on a clear test blueprint, measurable indicators, and an appropriate level of item difficulty to comprehensively assess students’ abilities. This article aims to describe a model for developing test blueprints, learning indicators, and test items in Islamic Religious Education based on a proportional distribution of item difficulty levels. The method employed is a library research approach through the examination of various literature related to educational evaluation, test instrument development, and learning assessment in Islamic education. The findings indicate that the preparation of a test blueprint should align with learning outcomes, competencies to be measured, subject matter, indicators, item formats, and the number of questions. The development of indicators is based on the competencies to be achieved, serving as guidelines for constructing test items. Furthermore, test items are developed by considering a proportional distribution of difficulty levels, consisting of 20% easy items, 60% moderate items, and 20% difficult items. This distribution enables the test instrument to possess good discriminating power and effectively measure students’ abilities across different proficiency levels. Therefore, a systematic model for developing test blueprints, indicators, and test items can enhance the validity and reliability of assessment instruments in Islamic Religious Education learning.
PENDEKATAN MULTIDISIPLINER DALAM STUDI ISLAM: INTEGRASI PENDIDIKAN, PSIKOLOGI, DAN TEKNOLOGI DI ERA DIGITAL Oki Oktapiani Siregar; Muhammad Iqbal Simanjuntak; Sahat Parulian; Mirsal Angga Sosa Nasution; Mohd Rafiq
TARBIYAH DARUSSALAM: JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN Vol. 10 No. 02 (2026): Tarbiyah Darussalam : Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan (In Progress)
Publisher : Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58791/tadrs.v10i02.827

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendekatan multidisipliner dalam studi Islam melalui integrasi pendidikan, psikologi, dan teknologi di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis literatur berupa buku, jurnal ilmiah, dan dokumen akademik relevan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendekatan multidisipliner mampu memperluas ruang lingkup studi Islam melalui integrasi lintas disiplin ilmu sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih konstektual terhadap kebutuhan masyarakat modern. Integrasi pendidikan berperan penting dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam secara sistematis dan berkelanjutan. Sementara itu, perspektif psikologi memberikan kontribusi signifikan dalam memahami karagteristik kognitif, emosional, serta perkembangan spiritual peserta didik yang memungkinkan terciptanya proses pembelajaran humanis dan adaptif. Peran teknologi menjadi krusial sebagai instrumen yang mendukung inovasi pembelajaran, penelitian, dan dakwah Islam melalui pemanfaatan platform digital dan kecerdasan buatan. Meskipun menawarkan peluang besar seperti peningkatan akses informasi, implementasi ini menghadapi tantangan nyata berupa rendahnya literasi digital, penyebaran informasi keagamaan tidak terverifikasi, serta dampak psikologis penggunaan teknologi yang berlebihan. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa diperlukan sinergi yang kuat antara pendidikan, psikologi, dan teknologi agar studi Islam dapat terus berkembang secara adaptif dan inovatif tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Model integratif ini diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, serta kemampuan digital dalam menjawab tantangan abad ke-21. Implementasi strategi multidisipliner kolaboratif menjadi kunci utama keberhasilan transformasi pendidikan Islam kontemporer yang relevan di masa depan.