Kawasan Puncak Andalas merupakan wilayah geostrategis di koridor tengah Sumatera yang menghubungkan Provinsi Jambi, Sumatera Barat, dan Bengkulu, dengan potensi ekonomi komplementer berbasis pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan, pariwisata, perdagangan, jasa, dan energi. Namun kawasan ini menghadapi tantangan berupa rendahnya nilai komoditas, keterbatasan konektivitas infrastruktur, tingginya biaya logistik, serta pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang belum optimal, yang mencerminkan transformasi struktural ekonomi dan rantai integrasi nilai antar wilayah yang masih terbatas. Makalah ini bertujuan merumuskan kebijakan pengembangan koridor ekonomi berbasis hilirisasi terintegrasi untuk mendorong transformasi ekonomi regional. Metode yang digunakan adalah analisis kebijakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan komparatif, melalui penyusunan alternatif kebijakan dan penilaian menggunakan metode Bardach. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan koridor hilirisasi terintegrasi berbasis infrastruktur infrastruktur dan optimalisasi EBT merupakan alternatif kebijakan yang paling efektif. Kebijakan ini menekankan integrasi rantai nilai, penguatan keterkaitan hulu-hilir, serta diversifikasi ekonomi melalui pembagian peran fungsional antar wilayah. Implementasinya berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas, menurunkan biaya logistik, memperkuat daya saing kawasan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kota Sungai Penuh diproyeksikan sebagai episentrum pertumbuhan baru dalam koridor ini. Studi ini berkontribusi pada pengembangan model integrasi multi-koridor berbasis hilirisasi industri dan energi baru terbarukan.