Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Rekonstruksi Kritis Pendidikan Agama Kristen Berbasis Pela Gandong dalam Perspektif Pedagogi Kritis Paulo Freire: Penelitian Susana Rarsina; Andre Layan; Claudia Sahertian; Agustina Siahay
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6169

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan merekonstruksi model Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam konteks masyarakat multikultural dengan mengintegrasikan nilai kearifan lokal Pela Gandong dalam perspektif pedagogi kritis Paulo Freire. Penulisan ini didasarkan pada masih kuatnya kecenderungan pembelajaran PAK yang bersifat normatif, tekstual, dan berorientasi kognitif, sehingga belum mampu membentuk kesadaran kritis serta sikap toleransi peserta didik secara optimal. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian konseptual melalui analisis kritis terhadap praktik pendidikan agama dan pemikiran pedagogi kritis Freire. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pembelajaran PAK yang cenderung menyerupai banking education berimplikasi pada rendahnya internalisasi nilai toleransi dalam kehidupan sosial peserta didik. Dalam perspektif pedagogi kritis, pendidikan seharusnya menjadi praksis pembebasan yang menekankan dialog, refleksi kritis, dan tindakan nyata. Integrasi nilai Pela Gandong sebagai kearifan lokal Maluku terbukti memiliki potensi sebagai basis pedagogi kontekstual yang mampu memperkuat kesadaran sosial, empati, dan solidaritas lintas perbedaan. Penulisan ini merekomendasikan rekonstruksi model PAK yang bersifat dialogis, reflektif, dan transformatif dengan menjadikan pengalaman sosial peserta didik serta nilai budaya lokal sebagai sumber belajar. Dengan demikian, PAK tidak hanya berfungsi sebagai transmisi doktrin, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter inklusif dan kekuatan transformatif dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, damai, dan harmonis di tengah keberagaman.