Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP BERITA KETAHANAN PANGAN INDONESIA DALAM KONTEKS KONFLIK TIMUR TENGAH: PERSPEKTIF NORMAN FAIRCLOUGH Andi Mulyadi, Ujang; Hamdani, Agus
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 10, No 1 (2026): JURNAL LITERASI APRIL 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/literasi.v10i1.24046

Abstract

Penelitian ini menganalisis secara kritis wacana media mengenai ketahanan pangan Indonesia dalam konteks ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Norman Fairclough yang mencakup dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Data penelitian berupa teks berita yang memuat pernyataan Zulkifli Hasan terkait kemandirian pangan nasional.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level teks, wacana dibangun melalui penggunaan diksi positif, repetisi, dan modalitas tinggi seperti “aman”, “surplus”, dan “tidak bergantung” untuk menciptakan narasi dominan tentang stabilitas dan ketahanan pangan nasional. Pada level praktik diskursif, media cenderung mereproduksi wacana resmi pemerintah dengan menempatkan negara sebagai aktor utama yang otoritatif, sementara aktor lain seperti pedagang hanya dimarginalkan sebagai pelengkap narasi. Pada level praktik sosial, wacana ini mencerminkan ideologi nasionalisme ekonomi dan stabilitas politik, serta berfungsi sebagai alat legitimasi kebijakan pemerintah di tengah ketidakpastian global.Namun demikian, analisis juga menemukan adanya kontradiksi antara narasi kemandirian pangan dengan realitas ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas tertentu seperti gandum dan kedelai. Hal ini menunjukkan bahwa wacana media tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga konstruktif dan ideologis, yang berperan dalam membentuk persepsi publik serta mempertahankan relasi kekuasaan antara negara dan masyarakat. Dengan demikian, media menjadi arena strategis dalam produksi dan reproduksi kekuasaan melalui bahasa.