Agus Rifki Ridwan
Institut Agama Islam Al-QUr'an Al-Ittifaqiah Indralaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Klasifikasi Tafsir Berdasarkan Coraknya Agus Rifki Ridwan; M. Maulana Wahid Assiddiq; Pita Rupiani; Yuni Isnaini
Social, Educational, Learning and Language (SELL) Vol. 2 No. 2 (2024): Social, Educational, Learning and Language (SELL)
Publisher : Penerbit dan Percetakan, CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/sell.v2i2.162

Abstract

Penelitian ini ingin menunjukkan bagaimana corak-corak yang terdapat dalam penafsiran Al-Qur’an. Keragaman corak penafsiran ini dilandasi oleh latar belakang ilmu dan pengalaman yang dimiliki oleh mufassir ketika memberikan penjelasan pada ayat Al-Qur’an. Corak penafsiran ini segaligus menjadi ciri khas seorang mufassir dalam memaparkan penjelasan terkait ayat-ayat Al-Qur’an. Selanjutnya, corak tafsir dapat mengungkap latar belakang aliran, keahlian dam motif dari seorang mufassir. Dengan demikian para pembaca dapat memilih tafsir yang seperti apa yang ingin didalami.
Tafsir, Takwil, Dan Terjemah Agus Rifki Ridwan; Imelda Indriyani; Lija Kholilaty; Siti Zulaikha
Social, Educational, Learning and Language (SELL) Vol. 2 No. 2 (2024): Social, Educational, Learning and Language (SELL)
Publisher : Penerbit dan Percetakan, CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/sell.v2i2.163

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kitab Al-Qur’an yang merupakan kitab umat manusia yang ditulis menggunakan bahasa arab tetapi ayat-ayatnya masih bersifat global sehingga tidak hanya bisa dipahami melalui konsep tekstual, oleh sebab itu perlu penafsiran dan penerjemahan supaya lebih mudah dipahami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang tafsir, takwil, dan terjemah. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library reseacrh). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mencari data-data hanya dari bahan-bahan perpustakaan seperti buku, jurnal, artikel, dan sumber tertulis lainnya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir adalah penjelasan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang melibatkan penelitian lebih mendalam mengenai konteks sejarah, budaya, dan bahasa, serta menggunakan sumber-sumber seperti hadits dan pendapat ulama Islam. Takwil yaitu menafsirkan suatu pembicaraan (teks) dan menerangkan maknanya tanpa mempersoalkan apakah penafsiran dan keterangan itu sesuai dengan apa yang tersurat maupun tidak tersurat. Sedangkan terjemah memiliki arti memindahkan atau menerjemahkan bahasa arab dalam Al-Qur’an menjadi bahasa yang menjadi sasaran dan ditulis dalam bentuk naskah agar mempermudah umat manusia untuk memahami isi dan makna dari Al-Qur’an.
Klasifikasi Tafsir Berdasarkan Metod Ijmali Agus Rifky Ridwan; Susilawati Susilawati; Deviska Ayu Alpiani
Social, Educational, Learning and Language (SELL) Vol. 2 No. 2 (2024): Social, Educational, Learning and Language (SELL)
Publisher : Penerbit dan Percetakan, CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/sell.v2i2.173

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui definisi, contoh kitab, contoh penafsiran metode Ijmali. Penulis menggunakan metode penelitian studi pustaka. Yang mana teknik pengumpulan datanya melalui referensi yang berasal dari kepustakaan, seperti beberapa artikel, buku, jurnal, dan sumber lainnya yang relevan dengan klasifikasi tafsir berdasarkan metode (2): ijmali. Dari penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwasannya metode ijmali merupakan tafsir terhadap ayat-ayat al-qur’an yang penjelasannya bersifat umum. Secara istilah metode ijmali adalah cara mengungkapkan isi al-qur’an melalui pembahsan yang global (umum), yang tidak deskriptif, sedikit memberikan penjelasan yang panjang dan luas dan tidak dilakukan secara rinci, selain itu menjelaskan ayat-ayat al-qur’an dengan mengemukakan mekna-maknanya secara global, hal itu dengan cara dimana seorang mufassir membahas ayat-ayat al-qur’an sesuai dengan tertib (teratur) bacaan dan susunan yang ada dalam mushaf. Contoh kitab ijmali antara lain yaitu syarh Al-Suyuti li sunan an-nasaa’i karya jalal ad din as-suyuti, qut al-mughtazi ‘la jami’i al-turmudzi karya jalal as-suyuti, Aun al-ma’bud syarh sunan abi dawud karya muhammad bin ayrah bin ali haidar al-shiddiqi al-azim abadi, contoh tafsir ijmali terdapat di surah Al-Fatihah dan Al-Baqarah ayat 1-5, yang mana bisa dilihat di dalam kitab aslinya bahwa metode ijmali mufasir menjelaskan ayatnya secara garis besar saja dengan menambahkan kata-kata atau kalimat penghubung, sehingga memberikan kemudahan dalam memahaminya.
Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Agus Rifky Ridwan; Asmi Yuniarti; Arik Ariadi; Lisda Mulina
Social, Educational, Learning and Language (SELL) Vol. 2 No. 2 (2024): Social, Educational, Learning and Language (SELL)
Publisher : Penerbit dan Percetakan, CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/sell.v2i2.174

Abstract

Penafsiran al-Qur’an sudah terjadi pada saat zaman Nabi Muhammad masih hidup. Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah kemudian disampaikan kepada para sahabat, hal tersebut sama ketika Nabi Muhammad menyampaikan tafsir suatu ayat tertentu kepada para sahabat dan adapula sahabat yang menanyakan maksud dari suatu ayat tertentu, kemudian Nabi Muhammad menjawabnya. Setelah Nabi Muhammad wafat, perkembangan tafsir kemudian berlanjut pada masa sahabat, tabi’in dan seterusnya, dengan metode al-Qur’an, hadits dan ijtihad sahabat, karena sumber utamanya sudah tiada. Tafsir pada masa sahabat inilah mulai mengalami perkembangan yang signifikan, karena para sahabat mulai mencari penjelasan- penjelasan al-Qur’an berdasarkan penjelasan Nabi Muhammad, baik itu berasal dari al-Qur’an ataupun dari hadits-hadits, jika tidak ditemukan tafsirnya, maka para sahabat melakukan ijtihad. Perkembangan tafsir selanjutnya pada masa tabi’în, tabi’i al-tabi’în, ûlama salaf al-shãlihin, dan ûlama khãlãf (kontemporer) dengan berbagai metode, corak dan ciri khas tersendiri. Penelitian kami ini menggunakan metode pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian pustaka ini dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber seperti catatan, buku, ataupun artikel dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tafsir untuk dikaji dan dianalisis
Otoritas Penafsiran Al-Qur'an di Era Artificial Intelligence: Tantangan dan Peluang Agus Agus Rifki Ridwan; Aghnia Faradits; Ferry Heryadi; Muyasaroh Muyasaroh; Irmawati Irmawati
International Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 4 No. 2 (2026): International Journal of Social Sciences and Humanities
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/ijssh.v4i2.2680

Abstract

This study aims to analyse the authority of Qur’anic interpretation in the era of Artificial Intelligence (AI) and to identify the challenges and opportunities arising from the use of this technology in tafsir studies. This study employs a library research method with a qualitative-descriptive approach through the analysis of various literature related to Qur’anic exegesis, religious authority, and the development of artificial intelligence. The findings show that AI has expanded public access to tafsir information, increased the efficiency of searching for Islamic sources, and supported the wider dissemination of Qur’anic knowledge. However, the use of AI also presents challenges, including limitations in understanding the historical, linguistic, and methodological contexts of interpretation, as well as the potential for bias and information inaccuracy. This study concludes that AI cannot replace the authority of mufassirs in interpreting the Qur’an, but it can be used as a supporting instrument in learning and tafsir research. Therefore, AI must be used critically and responsibly while maintaining scholarly competence as the primary foundation of interpretation.