Dewasa ini lembaga pendidikan Islam sudah banyak diburu oleh semua lapisan masyarakat. Untuk itu sangat perlu bagi lembaga pendidikan islam melakukan terobosan – terobosan yang mampu meningkatkat branding serta mutu dari lembanya tersebut. Di sisi lain muncul juga kekawatiran bahwa lembaga pendidikan Islam yang tidak mampu merespon kebutuhan masyarakat akan kehilangan kepercayaan bagi costumer. Perlu diketahui bahwa lingkungan yang ada sesungguhnya selalu bergerak, berubah, dan membawa pengaruh yang sangat besar bagi lembaga pendidikan. Perubahan inilah yang seharusnya diantisipasi oleh lembaga pendidikan dengan mempersiapkan strategi yang berorientasi pada peningkatan mutu dan kinerja lembaganya, sehingga diharapkan sebuah lembaga mampu mempertahankan eksistensi dan mampu meningkatkan daya saingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui teknik trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Formulasi benchmarking dalam meningkatkan kinerja di lembaga pendidikan Islam dilakukan secara komprehensif melalui: a) penyesuaian visi, misi, dan tujuan sekolah, b) analisis lingkungan strategis, c) menentukan topic benchmarking, d) menentukan lembaga unggul tujuan benchmarking, dan e) membentuk tim benchmarking. (2) Pelaksanaan studi benchmarking di lembaga tujuan menggunakan metode wawancara/diskusi, observasi, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data. Data hasil studi benchmarking tersebut selanjutnya diadaptasi dan diseleksi dengan mempertimbangkan beberapa faktor, di antaranya; culture, kapasitas sumber daya manusia dan budgeting dengan berpegang pada prinsip “Tetap memelihara hal hal yang lama yang baik dan mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik” (Al – muhafadhotu alal qodim as – shaleh, wal akhdzu bil jadid al - ashlah). (3) Pengendalian benchmarking dalam meningkatkan kinerja di lembaga pendidikan Islam dilakukan melalui komunikasi yang intens antara pimpinan, bawahan, dan seluruh stakeholders pendidikan dapat menjadikan penerapan strategi lebih efektif, karena mampu mendeteksi sedini mungkin berbagai kendala yang dihadapi para bawahan.