Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

UPAYA PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH KELUARGA PEREMPUAN PEKERJA MIGRAN: PERSPEKTIF TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS (Studi di Desa Randegan Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas) Baehaqi, Wildan; Nur Vita Ristiana
Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram Vol. 18 No. 1 (2026): Juni (Inprogress)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/alihkam.v18i1.15424

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pergeseran peran struktural dalam keluarga akibat desakan ekonomi, di mana istri terpaksa bekerja ke luar negeri dan mengambil alih peran pencari nafkah utama. Pergeseran posisi yang melampaui ketentuan normatif tekstual hukum keluarga Islam ini memunculkan tantangan kerentanan disorganisasi keluarga, seperti kendala pengasuhan anak dan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis suami. Adapun pertanyaan penelitian difokuskan pada bagaimana dinamika adaptasi dan upaya pembentukan keluarga sakinah pada keluarga perempuan pekerja migran di Desa Randegan, Kabupaten Banyumas berlangsung. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif-analitik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan perangkat desa serta lima keluarga pekerja migran (suami dan istri), dan didukung oleh dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif induktif dengan menggunakan perspektif teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons melalui skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency). Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pembentukan keluarga sakinah berhasil diwujudkan melalui adaptasi fungsional yang rasional. Fungsi adaptation berupa ekonomi dijalankan oleh istri demi mencapai goal attainment berupa stabilitas finansial keluarga. Potensi disfungsi peran dikelola melalui transformasi pengasuhan oleh suami/kerabat, komunikasi intensif, yaitu integration, sembari tetap merawat komitmen kesetiaan yang berlandaskan ketaatan pada nilai-nilai hukum Islam yaitu latency. Secara sosiologis, praktik ini menegaskan bahwa ketahanan institusi keluarga tidak semata-mata bertumpu pada kepatuhan kaku terhadap struktur peran tradisional, melainkan menuntut keluwesan kompromi, komitmen interpersonal, dan transformasi peran yang adaptif guna mempertahankan rumah tangga.