Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komodifikasi Agama Dan Identitas Keagamaan Dalam Budaya Global Sarti Yani Daulay; Imratul Sa’diah; Muhammad Fikri Syuhadak
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the practice of religious commodification and its influence on the formation of religious identity in contemporary global culture. The currents of globalization, operating alongside cultural capitalism, have shifted the position of religion. It is no longer understood solely as a system of belief and spiritual devotion, but also as an economic object and cultural symbol that is produced, circulated, and consumed through digital media, lifestyle industries, and global market mechanisms. Using a qualitative approach through critical literature review, this article analyzes the transformation in the meaning, function, and authority of religion as a result of commodification processes. The findings indicate that religious commodification presents two interconnected dimensions: on the one hand, it enhances the visibility of religion in the global public sphere and creates new spaces for the expression of religious identity; on the other hand, it has the potential to blur the sacred dimension of religion and shift religious authority from traditional institutions toward market forces and media power. In this context, religious identity is formed through an ongoing process of negotiation between spiritual values, economic interests, and the dynamics of global culture.
Jaringan Sufi Transregional dan Pertukaran Budaya Islam: Studi Kasus Naqshbandiyya antara Hijaz dan Dunia Melayu-Indonesia Muhammad Fikri Syuhadak; Sarti Yani Daulay; Ikhsan Aji Pamungkas
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menyelidiki peran jaringan Sufi transregional dalam memfasilitasi pertukaran dan adaptasi budaya Islam, dengan fokus pada hubungan antara Hijaz dan Asia Tenggara. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana Sufisme, khususnya melalui persaudaraan seperti Naqshbandiyya, berfungsi sebagai infrastruktur aktif dalam menyebarkan ritual, model pedagogis, dan budaya material di berbagai wilayah. Menggunakan pendekatan historis kualitatif dengan kerangka analitis transregional, penelitian ini mengacu pada sumber primer termasuk traktat Sufi, hagiografi, dan manuskrip untuk melacak aliran multidirectional dan adaptasi lokal praktik Islam. Temuan menunjukkan bahwa jaringan Sufi tidak hanya mentransfer doktrin spiritual, tetapi juga secara aktif memediasi hibridisasi budaya dan negosiasi dalam konteks lokal yang beragam. Jaringan ini memfasilitasi konvergensi nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal, menghasilkan ekspresi unik praktik Islam di seluruh dunia Muslim pra-modern. Studi ini menyimpulkan bahwa Sufisme memainkan peran sentral dan dinamis dalam mempertahankan konektivitas agama jarak jauh, keragaman budaya, dan pertukaran intelektual. Dengan merekonseptualisasi persaudaraan Sufi sebagai infrastruktur budaya yang berkelanjutan, artikel ini menawarkan wawasan baru tentang interaksi historis antara agama dan budaya serta berkontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang globalisasi pra-modern dan sifat pluralistik peradaban Islam.
Estetika Suara Feminin dan Konstruksi Maskulinitas Santri Pada Tradisi Sholawat Ngelik di Mlangi, Yogyakarta Ikhsan Aji Pamungkas; Sarti Yani Daulay; Muhammad Fikri Syuhdak
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna di balik penggunaan karakter suara feminin dalam tradisi Sholawat Ngelik di Masjid Pathok Negoro Mlangi serta menganalisis bagaimana fenomena tersebut memperkuat identitas kesantrian dan religiusitas lokal. Melalui pendekatan kualitatif dengan kerangka etnomusikologi dan fenomenologi agama, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik vokal head voice atau falsetto dengan cengkok menyerupai sinden oleh santri laki-laki merupakan manifestasi dari konsep "Laki-laki Jawa yang Alus". Karakter suara yang tinggi dan lembut ini bukan merupakan bentuk penyimpangan identitas gender atau gender fluidity sekuler, melainkan simbol kematangan spiritual, kontrol diri, dan ekspresi mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad yang berakar pada harmoni antara nilai Islam dan budaya Jawa. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Sholawat Ngelik mendekonstruksi biner maskulin-feminin dengan memposisikan kehalusan suara sebagai puncak kedewasaan spiritual laki-laki dalam bingkai Islam Nusantara