Transisi energi di kawasan perkotaan Indonesia membutuhkan kajian lokasional yang spesifik, mengingat kondisi iklim dan karakteristik bangunan yang beragam antar kota. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi teknis dan kelayakan ekonomi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang memiliki karakteristik radiasi matahari tinggi namun belum dieksplorasi secara komprehensif dalam literatur yang ada. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan studi kelayakan (feasibility study), mencakup analisis radiasi matahari berbasis data NASA POWER (2021–2025), perhitungan kapasitas sistem menggunakan persamaan fotovoltaik standar, serta analisis finansial meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Empat kategori bangunan dikaji: rumah tangga (3 kWp), komersial kecil (10 kWp), perkantoran (30 kWp), dan sekolah (20 kWp). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata radiasi matahari Kota Palu sebesar 5,43 kWh/m²/hari, melampaui rata-rata nasional (4,8 kWh/m²/hari). Seluruh kategori bangunan menghasilkan nilai NPV positif (Rp64,2 juta hingga Rp658,3 juta), IRR di atas 12%, dan Payback Period berkisar 5,1–6,3 tahun — jauh di bawah umur teknis panel surya (25 tahun). Temuan ini mengonfirmasi bahwa Kota Palu merupakan lokasi yang sangat prospektif untuk implementasi PLTS atap, dengan potensi reduksi emisi CO₂ sebesar 2,4–8,9 ton per sistem per tahun. Penelitian ini menyumbangkan data dasar yang dapat digunakan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan insentif PLTS atap yang lebih tertarget.