Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak inflasi dan fluktuasi harga pangan terhadap tingkat kesejahteraan petani di Indonesia. Dalam konteks perekonomian nasional, sektor pertanian memiliki peran strategis tidak hanya sebagai penyedia bahan pangan, tetapi juga sebagai penopang kehidupan sebagian besar masyarakat pedesaan. Namun, volatilitas harga dan tekanan inflasi yang tinggi seringkali mengurangi daya beli petani serta menurunkan nilai riil pendapatan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel inflasi dan harga pangan terhadap indeks Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator kesejahteraan. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia selama periode 2010–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap kesejahteraan petani, di mana peningkatan inflasi sebesar 1% dapat menurunkan NTP secara nyata. Sementara itu, harga pangan memiliki pengaruh positif namun tidak selalu signifikan, tergantung pada jenis komoditas dan efektivitas rantai distribusi. Ketika harga pangan naik secara moderat dan diikuti peningkatan harga jual hasil pertanian, kesejahteraan petani dapat meningkat. Namun, jika kenaikan harga pangan lebih disebabkan oleh biaya produksi dan distribusi yang tinggi, maka dampaknya justru menekan kesejahteraan. Penelitian ini merekomendasikan kebijakan stabilisasi harga pangan, pengendalian inflasi berbasis sektor riil, serta penguatan peran lembaga pemasaran pertanian agar nilai tambah dapat dinikmati petani. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat akses petani terhadap input produksi yang terjangkau dan memperluas perlindungan sosial berbasis harga komoditas. Dengan demikian, kestabilan ekonomi makro dan kesejahteraan petani dapat terjaga secara berkelanjutan di tengah dinamika inflasi dan pasar global.