Penggunaan media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan remaja dan berperan penting dalam pembentukan persepsi diri serta interaksi sosial. Paparan intens terhadap konten visual dan standar tubuh ideal mendorong terjadinya perbandingan sosial yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap perilaku body shaming. Body shaming merupakan bentuk perundungan verbal yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan media sosial dengan body shaming pada remaja sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain korelasional dengan pengumpulan data secara cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 238 remaja yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner penggunaan media sosial dan kuesioner body shaming yang disebarkan melalui googleform, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat penggunaan media sosial dan body shaming dalam kategori sedang. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan body shaming (p-value = 0,000; r = 0,297). Temuan ini mengindikasikan semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi kecenderungan remaja mengalami body shaming, sehingga diperlukan penguatan literasi digital dan integrasi promosi kesehatan mental di lingkungan sekolah sebagai upaya pencegahan dampak negatif interaksi media sosial pada remaja.