Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penguatan Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Darul Iman Aceh Tenggara dalam Upaya Pembentukan Karakter Santri Sembiring, Nurfitri
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 | IN PRESS
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i1.3466

Abstract

Bahasa sebagai alat komunikasi utama, menjadi kunci dalam menggali ilmu mengembangkan wawasan, dan memperluas cakrawala berpikir. Dalam penggunaannya bahasa memiliki tingkatan yang dipengaruhi oleh status sosial, lingkungan ataupun golongan. Di sinilah pentingnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai pembentukan karakter santri. Untuk memproleh data terhadap penelitian yang dilakukan di Pesantren Darul Iman Aceh Tenggara maka digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fonomenologi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, pertama pesantren merupakan tempat yang baik untuk menerapkan pendidikan karakter karena lebih kondusif dalam pembelajaran. Kegiatan sehari-hari siswa dalam segala ucapan, sikap, dan perilakunya mencerminkan karakter yang baik dengan tujuan menjadikan pesantren salah satu sumber daya yang penting untuk mengembangkan kurikulum yang memuat secara eksplisit tentang pendidikan karakter. Oleh karena itu, santri yang tinggal di pesantren memiliki kesempatan yang lebih luas dan leluasa untuk menempa diri dengan berbagai kegiatan literasi sastra. Pesantren Darul Iman Aceh Tenggara berupaya untuk membentuk tradisi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dengan melibatkan guru bahasa Indonesia. Penerepan penggunaan Bahasa Indoesia berlaku pada kegiatan kurikulum sekolah, kurikulum pesantren dan kegiatan ekstrakurikuler. Kedua, Kegiatan-kegiatan dalam kurikulum pesantren Darul Iman Aceh Tenggara menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, pada pendidikan kecakapan hidup hal-hal yang menjadi ciri pokoknya adalah kecakapan mengenai potensi diri, kecakapan berpikir, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan keterampilan. Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana yang diterapkan tersebutdengan mengaplikasikan pembelajaran padat jam dapat berguna bagipeserta didik untuk mampu bertahandalam kondisi sulit, tumbuh, dan berkembang sertamemiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan, baik secarindividu,kelompok dalam suatu sistem dengan kondisi dan situasi tertentu. Para santri diharapkan akan menyadari arti penting dan sedemikian urgensinya maknadan posisi iman dan takwa dalam kehidupan ini. Karena itu, mereka harus mempunyai sebuah pemahaman yang holistic pada keseluruhan dimensi kehidupan. Jadi, strategi utama dalam penguatan bahasa Indoneisa terhadap pembenetukan karakter santri dengan menekankan pada kegiatan pembelajaran, beribadah, kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan guru-guru yang didasarkan pada nilai-nilai pendidikan akhlak.
Rekonstruksi Pembelajaran Bahasa Indonesia di PGMI dalam Mengembangkan Kompetensi Literasi Abad 21 Sembiring, Nurfitri
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v4i4.679

Abstract

Beragam riset terdahulu tentang pembelajaran Bahasa Indonesia di Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) cenderung berfokus pada aspek metodologis konvensional tanpa mengintegrasikan secara holistik kompetensi literasi abad 21. Kesenjangan ini menciptakan jurang antara idealita kurikulum dan realitas kompetensi lulusan PGMI yang dituntut melek literasi digital, kritis, dan kreatif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi pola pembelajaran Bahasa Indonesia di PGMI berbasis kerangka literasi abad 21 yang mencakup literasi informasi, literasi digital, dan literasi kritis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di tiga PGMI perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen kurikulum. Hasil penelitian mengungkap tiga temuan utama: (1) kurikulum Bahasa Indonesia PGMI masih dominan berbasis hafalan dan resepsi pasif; (2) dosen belum sepenuhnya mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran; dan (3) rekonstruksi berbasis proyek literasi multimoda terbukti meningkatkan kompetensi literasi kritis mahasiswa secara signifikan. Implikasi penelitian ini mendorong reformasi kurikulum PGMI yang responsif terhadap tuntutan literasi abad 21, sekaligus memberikan model pedagogis yang dapat diadaptasi oleh program studi kependidikan Islam lainnya di Indonesia.