Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PEREMPUAN SHALAT DI MASJID (Tinjauan Syarah Hadis Ibn Hajar dan Ibn Rajab) Ilham Mustafa
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2079.186 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i2.237

Abstract

Shalat merupakan ibadah yang wahib bagi umat islam. Shalat menjadi salah satu rukun Islam yang harus di tegakkan. Secara syar’i dalam melaksanakan ibadah shalat, dalam hadits dijelaskan bahwa shalat seorang bila dilakukan berjama’ah lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri, dan shalat berjamaah di masjid lebih baik dari pada shalat di rumah atau dipasar. Di tambah lagi bahwa shalat fardhu di masjid lebih utama dari pada di tempat lain. Namun hadits lain terkhusus untuk perempuan bahwa shalatnya di rumahnya lebih baik dari di masjid, dan shalat di kamarnya lebih baik dari di rumahya, dan shalat di kamar khususnya lebih baik lagi dari pada di rumahnya. Dari sini timbullah pertayaan bagaimana jika perempuan shalat di masjid. Apakah juga mendapatkan keutamaan, atau shalat dirumahnya yang lebih utama. Dalam tulisan ini akan dijelaskan perspektif secara umum di kutubus sittah dan akan dibahas komprehensif dalam pandangan ibn hajar dan Ibn Rajab dalam mensyarah hadis Bukhari tentang perempuan shalat di Masjid. Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perempuan dibolehkan untuk shalat di masjid setelah mendapatkan izin dari suaminya atau walinya dengan memperhatikan adab-adab yang diajarkan Rasulullah. Ini bertujuan untuk menjaga (baik laki-laki maupun perempuan) dari terjerumus kepada dosa. Hukum pembolehan ini akan berubah menjadi larangan apabila keluarnya perempuan berakibat terjadinya fitnah. Akan tetapi shalat mereka di rumah tetap lebih utama daripada shalat mereka di masjid. Sesuai dengan pendapat Ibn Rajab dan Ibn Hajar dalam syarahnya.
Tradisi Syaraful Anam dalam Kajian Living Hadis Ilham Mustafa; Ridwan Ridwan
Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya Vol 3, No 1 (2021): Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya
Publisher : IAIN Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.287 KB) | DOI: 10.31958/istinarah.v3i1.3625

Abstract

Tradisi Syaraful Anam ialah bentuk upaya merawat tradisi yang sudah dipraktekkan sebelumya dan juga cara mencintai Rasulullah dengan pujian dan shalawat. Arti Penting dari tradisi Syaraful Anam ini adalah praktek pengamalan hadis-hadis shalawat dalam tradisi tersebut, Pelaksanaannya masyarak Jorong Duo Koto memiliki makna tersendiri dan bias digambarkan dalam kehidupan keseharian dalam menjalankan sunnah Rasulullah. Sehingga Syaraful Anam bukan hanya dalam aspek sosial kemasyarakatan saja, tetapi juga berfungsi untuk meningkatkan keimanan masyarakat. Sehingga bisa mendorong kejernihan akhlak dan kelembutan hati dengan aneka sholawat-shalawat yang dibaca dalam Syaraful Anam. Tulisan ini berupaya menyajikan fenomena tradisi Syaraful Anam bagi Masyarakat malalo. Dimana aspek penting living hadis pada trasi Syaraful Anam yaitu aspek ibadah yang terus kokoh di masyarakat. Sehingga tradisi-tradisi seperti ini tetap ada di masyarakat.
PEREMPUAN SHALAT DI MASJID (Tinjauan Syarah Hadis Ibn Hajar dan Ibn Rajab) Ilham Mustafa
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2079.33 KB) | DOI: 10.30983/jh.v1i2.237

Abstract

Shalat merupakan ibadah yang wahib bagi umat islam. Shalat menjadi salah satu rukun Islam yang harus di tegakkan. Secara syar’i dalam melaksanakan ibadah shalat, dalam hadits dijelaskan bahwa shalat seorang bila dilakukan berjama’ah lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri, dan shalat berjamaah di masjid lebih baik dari pada shalat di rumah atau dipasar. Di tambah lagi bahwa shalat fardhu di masjid lebih utama dari pada di tempat lain. Namun hadits lain terkhusus untuk perempuan bahwa shalatnya di rumahnya lebih baik dari di masjid, dan shalat di kamarnya lebih baik dari di rumahya, dan shalat di kamar khususnya lebih baik lagi dari pada di rumahnya. Dari sini timbullah pertayaan bagaimana jika perempuan shalat di masjid. Apakah juga mendapatkan keutamaan, atau shalat dirumahnya yang lebih utama. Dalam tulisan ini akan dijelaskan perspektif secara umum di kutubus sittah dan akan dibahas komprehensif dalam pandangan ibn hajar dan Ibn Rajab dalam mensyarah hadis Bukhari tentang perempuan shalat di Masjid. Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perempuan dibolehkan untuk shalat di masjid setelah mendapatkan izin dari suaminya atau walinya dengan memperhatikan adab-adab yang diajarkan Rasulullah. Ini bertujuan untuk menjaga (baik laki-laki maupun perempuan) dari terjerumus kepada dosa. Hukum pembolehan ini akan berubah menjadi larangan apabila keluarnya perempuan berakibat terjadinya fitnah. Akan tetapi shalat mereka di rumah tetap lebih utama daripada shalat mereka di masjid. Sesuai dengan pendapat Ibn Rajab dan Ibn Hajar dalam syarahnya.
METODE PENAFSIRAN DR. HALO-N DALAM AL-FATHUN NAWA Ilham Mustafa
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : Jurnal Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v4i1.834

Abstract

Many methods have been developed by commentators in interpreting the Quran, resulting in diverse methods of interpreting the Quran. One of them is Dr. Halo-N, who created the concept of Quran interpretation in his book Al-Fathun Nawa. This research aims to examine the method of interpretation in the book Al-Fathun Nawa authored by Dr. Halo-N. The research uses a qualitative-descriptive method, while the type of research used is a study of figures. The results of the research show that Dr. Halo-N's method of interpretation is based on the concept of the Quran interpreting the Quran. It is a method and concept of interpreting and translating the verses of the Quran that he believes can explain the meaning of the verses and their logic without including other evidence and sources to avoid doubt. Meanwhile, the characteristic of his interpretation is scientific, as Dr. Halo-N discovered theories through correlation points he referred to as the 2D HMBC spectrum. The characteristic of Dr. Halo-N's interpretation is that the book Al-Fathun Nawa is a work that combines aspects of religion and science.
Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Idola Korea Perspektif Hadis Khansa Restu Mahadiya; Ilham Mustafa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.4773

Abstract

Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) merupakan bentuk kecemasan sosial yang muncul akibat ketakutan individu tertinggal dari informasi, tren, maupun aktivitas yang sedang berlangsung di media sosial. Dalam konteks penggemar idola Korea, FoMO tidak hanya mendorong individu untuk terus mengikuti perkembangan idolanya, tetapi juga memicu perilaku konsumtif, fanatisme berlebihan, hingga kecenderungan tasyabbuh. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi turut berdampak pada kehidupan sosial dan spiritual penggemar, seperti berkurangnya interaksi nyata, munculnya perilaku boros, serta kelalaian dalam menjalankan ibadah. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena FoMO terhadap idola Korea dalam perspektif hadis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer berupa kitab hadis, kitab syarah, dan kitab rijal al-hadis, sedangkan sumber sekunder meliputi buku, artikel ilmiah, berita daring, dan video YouTube yang relevan dengan kajian FoMO. Penelitian menggunakan metode maudhu’i konseptual, yaitu menghimpun hadis-hadis yang setema dengan objek kajian, menelusuri sumber hadis, serta menjelaskan kandungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku FoMO terhadap idola Korea memberikan dampak negatif berupa perilaku boros, fanatik, kurang bersosialisasi, melakukan hal tidak bermanfaat, dan melalaikan ibadah. Hadis-hadis Nabi SAW melarang perilaku tersebut sehingga FoMO yang mengarah pada dampak negatif tidak diperbolehkan. Penelitian ini juga menemukan lima hadis yang dapat dijadikan solusi dalam mengatasi perilaku FoMO pada penggemar idola Korea.
LINGUISTIK FORENSIK HADIS: STYLOMETRY DAN DETEKSI ANAKRONISME KEBAHASAAN DALAM UJI OTENTISITAS TEKS Ilham Mustafa; Ahmad Thib Raya
Afaquna: Jurnal Cakrawala Islam Vol. 1 No. 2 (2026): Afaquna: Jurnal Cakrawala Islam
Publisher : Faculty of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/qjepsm76

Abstract

Artikel ini mengkaji linguistik forensik hadis sebagai pendekatan bantu dalam uji otentisitas teks hadis, khususnya melalui stylometry dan deteksi anakronisme kebahasaan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya peredaran kutipan hadis di ruang digital dan kebutuhan untuk memperkuat kritik matn melalui analisis bahasa yang lebih sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan studi kasus teks terhadap riwayat “al-sultan zill Allah fi al-ard”. Data dianalisis melalui kritik hadis klasik, pembacaan stylometry secara konseptual, dan analisis linguistik historis terhadap istilah politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa linguistik forensik dapat membantu mengidentifikasi anomali gaya bahasa, kecenderungan ideologis, dan kemungkinan anakronisme penggunaan istilah politik dalam matn hadis. Namun, temuan kebahasaan tidak dapat berdiri sendiri sebagai penentu final status hadis. Ia harus diverifikasi melalui takhrij, kritik sanad, perbandingan varian matn, dan analisis sejarah istilah. Artikel ini menegaskan bahwa linguistik forensik hadis dapat memperkuat kritik matn dan berkontribusi bagi pengembangan Islamic digital humanities.
PEREMPUAN SHALAT DI MASJID (Tinjauan Syarah Hadis Ibn Hajar dan Ibn Rajab) Ilham Mustafa
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol. 1 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/jh.v1i2.237

Abstract

Shalat merupakan ibadah yang wahib bagi umat islam. Shalat menjadi salah satu rukun Islam yang harus di tegakkan. Secara syar’i dalam melaksanakan ibadah shalat, dalam hadits dijelaskan bahwa shalat seorang bila dilakukan berjama’ah lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri, dan shalat berjamaah di masjid lebih baik dari pada shalat di rumah atau dipasar. Di tambah lagi bahwa shalat fardhu di masjid lebih utama dari pada di tempat lain. Namun hadits lain terkhusus untuk perempuan bahwa shalatnya di rumahnya lebih baik dari di masjid, dan shalat di kamarnya lebih baik dari di rumahya, dan shalat di kamar khususnya lebih baik lagi dari pada di rumahnya. Dari sini timbullah pertayaan bagaimana jika perempuan shalat di masjid. Apakah juga mendapatkan keutamaan, atau shalat dirumahnya yang lebih utama. Dalam tulisan ini akan dijelaskan perspektif secara umum di kutubus sittah dan akan dibahas komprehensif dalam pandangan ibn hajar dan Ibn Rajab dalam mensyarah hadis Bukhari tentang perempuan shalat di Masjid. Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perempuan dibolehkan untuk shalat di masjid setelah mendapatkan izin dari suaminya atau walinya dengan memperhatikan adab-adab yang diajarkan Rasulullah. Ini bertujuan untuk menjaga (baik laki-laki maupun perempuan) dari terjerumus kepada dosa. Hukum pembolehan ini akan berubah menjadi larangan apabila keluarnya perempuan berakibat terjadinya fitnah. Akan tetapi shalat mereka di rumah tetap lebih utama daripada shalat mereka di masjid. Sesuai dengan pendapat Ibn Rajab dan Ibn Hajar dalam syarahnya.
ANALISIS HADIS KOPI: Studi Terhadap Hadis yang Diterima Sufi dari Nabi Muhammad Saw Melalui Mimpi Rani Sukma Dewi; Ilham Mustafa
DIRAYAH : Jurnal Ilmu Hadis Vol. 4 No. 02 (2024): DIRAYAH : Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Ar-Rahman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62359/dirayah.v4i2.265

Abstract

  Hadith is something attributed to the Prophet Muhammad SAW, whether in words, actions, approvals, or characteristics. However, there was an instance where a hadith received through a dream was then attributed to the Prophet Muhammad SAW. In the understanding of Sufis, this is considered a hadith of the Prophet SAW. One such hadith, believed by Sufis, is the hadith about coffee received by Sayyid Al-Qudaimi. This raises the question of the quality of the coffee hadith received by the Sufi from the Prophet Muhammad SAW through a dream. This research falls into the category of qualitative research, specifically library research, using the Hadith Criticism method, which is useful for examining the quality of the sanad (chain of narrators) and matan (content) of the hadith. The result of this research is that the coffee hadith received by the Sufi from the Prophet Muhammad SAW through a dream, in terms of sanad quality, is classified as a munqati’ hadith because of the broken chain of narrators. This hadith is also classified as maudhu’ or fabricated. Furthermore, in terms of matan quality, Al-Adlabi established four criteria for matan criticism. According to these four criteria, the coffee hadith received by the Sufi through a dream falls under the category of hadiths that contradict reason, sensory perception, and history, and it does not resemble prophetic speech. Therefore, it can be stated that the coffee hadith is not authentic.