Enterococcus faecalis merupakan salah satu bakteri yang sering dikaitkan dengan infeksi endodontik persisten dan kegagalan perawatan saluran akar karena kemampuannya bertahan pada lingkungan ekstrem serta membentuk biofilm yang resisten. Natrium hipoklorit (NaOCl) masih menjadi bahan irigasi standar, tetapi keterbatasannya berupa sitotoksisitas dan risiko iritasi jaringan mendorong pencarian alternatif berbasis bahan alam. Literature review ini bertujuan menyintesis bukti terbaru mengenai efektivitas antibakteri bahan alam lokal atau bahan alam yang mudah ditemukan di Indonesia sebagai bahan irigasi saluran akar terhadap E. faecalis, dengan fokus pada nilai konsentrasi hambat minimum (KHM). Penelitian ini menggunakan desain literature review terstruktur. Artikel tahun 2019 2024 ditelusuri melalui PubMed/MEDLINE, Scopus, Google Scholar, serta basis data jurnal kedokteran gigi dan endodontik. Kriteria inklusi meliputi studi in vitro yang mengevaluasi bahan alam terhadap E. faecalis dan melaporkan nilai KHM/MIC atau data konsentrasi hambat yang sebanding. Studi yang hanya melaporkan zona hambat, luaran antibiofilm non-KHM, atau terbit di luar rentang tahun dikeluarkan. Delapan studi memenuhi kriteria utama. Nilai KHM terendah ditemukan pada fraksi heksana etil asetat Myrmecodia pendens dan fraksi heksana air Uncaria gambier, masing-masing sebesar 0,049 mg/mL. Teh hijau menunjukkan kisaran KHM lebih rendah dibanding neem dan kunyit, sedangkan Piper betle menunjukkan potensi antibakteri pada konsentrasi lebih tinggi. Bukti mengenai kulit manggis dalam rentang 2019 2024 belum memadai untuk sintesis berbasis KHM. Beberapa bahan alam, terutama Myrmecodia pendens, Uncaria gambier, teh hijau, dan Nigella sativa, memiliki potensi antibakteri terhadap E. faecalis. Namun, bukti saat ini belum cukup untuk menggantikan NaOCl secara klinis karena sebagian besar penelitian masih bersifat in vitro dan sangat heterogen secara metodologis.