Penelitian ini mengeksplorasi fenomena buzzer politik sebagai aktor utama dalam merekayasa wacana publik dan dampaknya terhadap kohesi masyarakat majemuk. Masih terbatas studi yang menaruh perhatian pada mekanisme sosiologis spesifik tentang bagaimana narasi yang direkayasa oleh buzzer merusak hubungan antarkelompok di tingkat akar rumput di luar masa pemilihan umum. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk menyintesis mekanisme operasional buzzer politik dan menganalisis implikasi sosiologisnya terhadap kohesi komunal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membedah strategi operasional buzzer dan menganalisis implikasinya terhadap polarisasi sosial menggunakan kerangka Teori Identitas Sosial.Melalui metodologi tinjauan pustaka sistematis terhadap sumber-sumber akademik kontemporer, studi ini menemukan bahwa strategi manipulasi algoritmik dan disinformasi berbasis sentimen primordial sengaja dieksploitasi untuk memicu permusuhan antara kelompok pro dan kontra. Temuan utama mengonfirmasi bahwa intervensi destruktif ini tidak hanya mengikis spektrum moderat dalam opini publik, tetapi juga secara fatal mengoyak ikatan rasa saling percaya lintas komunitas di dunia nyata. Kesimpulan membuktikan bahwa buzzer politik merupakan ancaman langsung terhadap integritas demokrasi dan ketahanan sosial. Kebaruan artikel ini terletak pada sintesis sosiologisnya yang memetakan transmisi konflik dari ruang gema digital (digital echo chambers) menjadi gesekan di dunia nyata. Direkomendasikan untuk mengintegrasikan kurikulum literasi digital yang terstruktur dan mereformasi tata kelola platform media sosial guna melindungi masyarakat dari segregasi budaya yang berkelanjutan