Saul merupakan raja Israel yang diurapi oleh Samuel. 1 Samuel 15: 1–35 menjelaskan kisah Saul yang ditolak sebagai raja setelah mengalahkan Agag, raja orang Amalek. Kisah inilah yang membuat Samuel menyesal telah mengurapi Saul menjadi Raja Israel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kepribadian Saul serta mengungkapkan implikasinya bagi kehidupan umat masa kini. Sumber data utama tulisan ini adalah teks Alkitab yang diproduksi oleh Lembaga Alkitab Indonesia(LAI)― rujukan utama pada teks 1 Samuel 15 : 1-35. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi behavioristik untuk menganalisis kepribadian atau perilaku Saul setelah menjadi raja Israel. Hasil dari penelitian ini menunjukan empat poin utama yakni― pertama, Saul memiliki tiga bentuk sifat yang mebanggambarkan kepribadiannya, yakni koleris sebagai seorang raja Israel, karena mampu mengambil resiko dalam keputusan besar termasuk berperang melawan orang Amalek, oportunistik karena mengahalalkan segala cara untuk meraih keuntungan bagi dirinya, dan narsistik, karena sifat percaya diri yang tinggi, sulit menerima kritik, dan sulit meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Kedua, cognitive dissonance dan kegagalan self-regulation dalam diri Saul. Ketiga, Sintesis dari tulisan ini menegaskan bahwa dinamika dan disintegrasi kepribadian Saul nampak jelas dalam teks. Keempat, teks ini akan menjadi alat ukur bagi kepemimpinan Kristen masa kini. Dengan demikian analisis kepribadian Saul akan memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu teologi yang merujuk padakepemimpinan Kristen masa kini.