Gagal ginjal kronik merupakan penyakit menahun yang menyebabkan kerusakan ginjal secara bertahap sehingga dapat mengganggu keseimbangan cairan maupun elektrolit dalam tubuh. Pasien CKD, terutama yang menjalani terapi hemodialisis, umumnya mengalami perubahan kualitas hidup akibat banyak faktor yang dapat memicu depresi, sehingga mereka dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi fisiknya. Pembiayaan untuk penyakit gagal ginjal kronik menempati urutan kedua terbesar dalam beban biaya BPJS Kesehatan, setelah penyakit jantung. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kualitas hidup dan biaya medis langsung pasien rawat inap gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin. Jenis penelitian ini berupa survei dengan menggunakan kuesioner dan penelitian observasional prospektif dengan menggunakan data rekam medik. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 26 sampel. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kualitas hidup pasien rawat inap gagal ginjal kronik dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, stadium CKD, durasi HD, frekuensi HD, dan komorbid pasien. Berdasarkan perbedaan biaya rill dan biaya tarif INA-CBGs yang memiliki perbedaan dapat disimpulkan bahwa biaya medis yang dikeluarkan rumah sakit untuk merawat pasien melebihi jumlah yang dibayar BPJS kesehatan berdasarkan tarif paket INA-CBGs. Hal ini dapat terjadi karena komorbid pasien yang butuh pemeriksaan, obat, atau prosedur tambahan lainnya mahal. Sedangkan, untuk pasien VIP harus membayar selisih biaya antara tarif INA CBGs dengan kelas BPJS kesehatan. Kata kunci : Biaya Medis Langsing, Penyakit Ginjal Kronik, Kualitas Hidup