Bencana alam Hidrometeorologi yang melanda lingkungan sekolah tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik dan terhentinya proses belajar mengajar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis serta cara memaknai hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna hidup yang muncul dalam konteks bencana yang melanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif melalui pengalaman siswa pada masa pascabencana dan sampel penelitian berjumlah 317 orang siswa SMA terdiri dari kelas X, XI dan XII. Data dikumpulkan menggunakan subskala Meaning in Life Questionare (MLQ) yang dikembangkan oleh Steger yang mengukur makna hidup melalui dua dimensi yaitu Presence of Meaning (kehadiran makna hidup) dan Search for Meaning (pencarian makna hidup). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa berada pada kategori cukup sesuai (31%), diikiti kategori tidak sesuai (26%) dan sesuai (20%). Berdasarkan analisis deskriptif, hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pada anak perempuan. Secara rinci, dianalisis bahwa (mean) anak laki-laki mencapai 15,08, sedangkan mean anak perempuan hanya 13,48. Hasil kajian menunjukkan bahwa bencana alam dapat menjadi momentum bagi warga sekolah untuk membangun makna hidup melalui sikap saling peduli, penerimaan terhadap kondisi yang tidak dapat dihindari, serta penguatan tujuan hidup yang berorientasi pada keberlanjutan pendidikan. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi peneliti dalam memahami peran dan pengaruh makna hidup siswa.