Kekurangan dokter spesialis di daerah terpencil merupakan permasalahan sistemik dan multidimensi yang dihadapi berbagai negara, baik berkembang maupun maju. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mensintesis publikasi ilmiah terkait kekurangan dokter spesialis di daerah, mencakup faktor penyebab mal-distribusi, spesialisasi yang paling terdampak, serta strategi penanganan yang telah diimplementasikan di berbagai negara. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect menggunakan kombinasi kata kunci terkait kekurangan dokter spesialis, mal-distribusi tenaga medis, daerah terpencil, dan strategi retensi tenaga kesehatan. Sebanyak 20 artikel yang dipublikasikan pada periode 2021–2025 memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa inti permasalahan bukan jumlah total spesialis, melainkan konsentrasi geografisnya di pusat kota. Di Indonesia, rasionya hanya 0,18 per 1.000 penduduk dengan 59% spesialis terkonsentrasi di Jawa. Spesialisasi paling kritis yang kekurangan di daerah meliputi OBGYN, bedah umum, anestesi, dan kedokteran darurat. Faktor penyebab bersifat multidimensi, mencakup rendahnya insentif finansial, keterbatasan fasilitas, ancaman medikolegal, terbatasnya karier pasangan, dan fenomena brain drain. Strategi paling efektif mencakup beasiswa ikatan dinas lokal, insentif multidimensi, pemanfaatan telemedis, dan optimalisasi peran tenaga non-dokter. Penanganan kekurangan dokter spesialis di daerah memerlukan pendekatan kebijakan yang komprehensif, kontekstual, dan berjangka panjang.