Fuji Zakiyatul Fikriyah
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pola Asuh Orang Tua Relevansinya terhadap Pendidikan Karakter Anak Perspektif Al-Qur’an Aas Siti Sholichah; Fuji Zakiyatul Fikriyah
GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 1 (2023): GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/p0wzg325

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakngi oleh rendahnya pendidikan karakter pada anak dan remaja. Salah satu penyebabnya adalah buruknya pengasuhan yang dilakukan orang tua terhadap anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran pola asuh berdasarkan Al-Qur’an untuk membentuk karakter anak. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu mencatat data-data yang diambil dari berbagai sumber dari bahan-bahan tertulis kemudian mengidentifikasi bukti-bukti kontekstual yaitu dengan mencari hubungan antara data dengan realitas yang penulis teliti. Pengolahan data dalam penelitian ini bersifat kualitatif maka dilakukan dengan analisis kritis, komparasi, serta interpretasi atas berbagai hasil penelusuran dari sumber-sumber primer dan sekunder. Al-Qur’an memberikan isyarat pengasuhan anak dengan cara berbuat dan berkata baik terhadap anak dan menjadi tauladan dalam setiap ucapan dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bentuk ibadah kepada Allah Swt. Lukman al-Hakim menjadi salah satu figur diabadikan dalam Al-Qur’an dalam pengasuhan untuk membentuk karakter anak. Upaya di lakukan adalah menumbuhkan ketauhidan dengan menjadikan Allah sebagai pelindung yang Maha Kuasa. Selanjutnya Lukman al-Hakim memberikan bimbingan melalui akhlak kepada orang tua. Upaya ini adalah bentuk dari rasa terima kasih anak kepada orang tua. Upaya lainnya adalah memerintahkan anak untuk berinadah baik wajib maupun sunah, sebagai betuk pengabdian kepada Allah Swt. Pola selanjutnya yang ditrapkan adalah menjaga hubungan baik dngan manusia, dan yang terakhir Lukman al-Hakim mengingatkan putra dan putrinya untuk tidak berlaku sombong ketika hidup di dunia.
BEHAVIORISTIC CONDITIONING IN PHILANTHROPIC TAHFIDZ EDUCATION: A CASE STUDY OF UNDERPRIVILEGED SANTRI AT PESANTREN HABIBURROHMAN BANDUNG Jamil Abdul Aziz; Ade Abdul Muqit; Fuji Zakiyatul Fikriyah; Ismi Rahmayanti
Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam Vol. 4 No. 3 (2026): JUNE
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/ri.v4i3.769

Abstract

This study investigates the implementation of behavioristic conditioning in tahfidz education within a philanthropic pesantren serving exclusively yatim (orphaned) and dhu’afa (economically disadvantaged) santri. It examines how philanthropic mechanisms function as enablers of learning readiness and how they interact with behavioristic principles in shaping memorization outcomes for underprivileged learners. Employing a qualitative single-case study design at Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (PPTQ) Habiburrohman, Bandung, data were collected through purposive sampling involving institutional leaders, tahfidz instructors, and santri. Instruments included semi-structured interviews, participant observation of ziyadah, muroja’ah, and daily activities, as well as analysis of institutional documents. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model with source, method, and time triangulation. Behavioristic conditioning is systematically applied through the ziyadah-muroja’ah system (Law of Exercise), reward and ta’zir mechanisms (operant conditioning), and fixed daily scheduling (classical conditioning). The full-scholarship philanthropic model effectively removes financial barriers, creates psychological readiness (Thorndike’s Law of Readiness), and fosters gratitude-based intrinsic motivation that complements external reinforcement. The single-site case study limits generalizability beyond similar philanthropic tahfidz institutions. The absence of longitudinal data on post-graduation hafalan retention further constrains the findings. This research is the first to examine behavioristic conditioning specifically in a philanthropic tahfidz setting for yatim and dhu’afa santri. It introduces the concept of “philanthropic readiness engineering,” highlighting Islamic philanthropy as a behavioral intervention that enhances conditioning effectiveness for vulnerable populations.