kemu, Suparman zen
Badan kebijakan Fiskal

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERKEMBANGAN FDI KE INDONESIA DAN LANGKAH KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN kemu, Suparman zen
Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol 15, No 2 (2011)
Publisher : Badan kebijakan Fiskal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31685/kek.v15i2.92

Abstract

Foreign Direct Investment (FDI] plays an important role in Indonesia economy, since it brings not only capital but also technology and marketing network. Indonesian economy also transforms from the poor country to low middle income country since early 1970's. From the observation, writer recognized that in 2010, the FDI to Indonesia grows quite significant. Three sectors' namely manufacture, mining, and transportation are the important sector that attracted more foreign investor. However, other minor sectors such as electricity, energy, and clean water still record low value since they are still dominated by state own enterprises. To this extence, government of Indonesia has to relax the monopoly of SOE to these sectors and give the opportunity to FDI to involve in these businesses. This year, Government is processing the regulation regarding tax holiday incentives that expected to boost further FDI to Indonesia.
INDONESIA JAPAN ECONOMIC RELATIONS: (INVESTMENT AND TRADE) Kemu, Suparman Zen
Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol 14, No 4 (2010)
Publisher : Badan kebijakan Fiskal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31685/kek.v14i4.56

Abstract

Pra krisis ekonomi 1998, Indonesia merupakan Negara urutan ketiga dalam tujuan investasi langsung Jepang (FDIJ, dibawah China dan Amerika Serikat Namun, paska krisis ekonomi 1998 tersebut, posisi Indonesia turun ke ranking kedelapan dan telah dilewati oleh India, Thailand, Vietnam, Rusia, dan Brazil. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah: kondisi infrastruktur yang buruk di dalam negeri terutama masalah perlistrikan, kurangnya kepastian hukum, adanya pajak berganda, fluktuasi nilai tukar rupiah yang terlampau tajam, dan lemahnya hubungan antar industri (linkage) . Dalam perdagangan luar negeri Jepang merupakan partner dagang terbesar Indonesia. Pada tahun 2007, total perdagangan Indonesia Jepang mencapai nilai USD 23,6, merupakan yang terbesar di ASEAN dibandingkan perdagangan Negara anggota ASEAN lainnya terhadap Jepang. Namun jenis ekspor Indonesia ke Jepang di dominasi oleh komoditi dasar seperti minyak bumi, gas, bahan tambang, dan produk kayu. Sementara ekspor Negara anggota ASEAN yang lain ke Jepang seperti Singapura, Thailand dan Malaysia didominasi produk manufaktur berupa komponen yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi. Gejala lainnya adalah bahwa ada tendensi peningkatan nilai perdagangan Indonesia dengan dua Negara Asia Timur yaitu China dan Korea. Hal ini positif bagi Indonesia namun kurang baik bagi kelanjutan hubungan ekonomi Indonesia Jepang. Berbagai masalah ini perlu dibicarakan secara lebih serius oleh kedua Negara agar nilai perdagangan dan investasi Indonesia Jepang dapat lebih meningkat lagi.
THE PROSPECT OF INDONESIA CHINA ECONOMIC RELATION Kemu, Suparman Zen
Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol 14, No 3 (2010)
Publisher : Badan kebijakan Fiskal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31685/kek.v14i3.70

Abstract

Perkembangan hubungan ekonomi Indonesia China merupakan phenomena yang menarik untuk disimak, karena dua Negara ini merupakan Negara dengan jumlah penduduk yang besar, dan sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam (SDA), daya beli yang meningkat, dan meningkatnya daya saing sebagai Negara tujuan FDI. Beberapa kelemahan Indonesia antara lain buruknya kondisi investasi terutama berkaitan dengan buruknya kondisi infrastruktur (khususnya listrik), birokrasi yang cendrung korup, adanya resistensi dari sekelompok masyarakat terhadap kepemilikan asing, dan juga ekspor yang sangat bergantung pada komoditi primer. China disisi lain, sedang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi diiringi terjadinya peningkatan kebutuhannya akan barang impor termasuk dari Indonesia, sedang menggiatkan FDI ke luar negeri termasuk ke Indonesia, bersama Indonesia merupakan anggota ASEAN+3yang saling mengetahui kekurangan dan kehebatan masing-masing. Kalau beberapa kelebihan tadi bisa disinergikan, dan terhadap beberapa kelemahan yang ada dilakukan perbaikan, maka hubungan ekonomi Indonesia China ke depan akan dapat meningkat dengan lebih pesat