Penelitian ini mengkaji pemerolehan kalimat, makna kalimat, dan strategi tuturan pada anak tantrum usia 1–3 tahun. Tantrum adalah perilaku wajar pada anak yang sering kali muncul akibat keterbatasan kemampuan bahasa dalam menyampaikan perasaan atau keinginan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana anak tantrum menghasilkan kalimat, memahami makna kalimat, dan menggunakan strategi tuturan untuk mengekspresikan emosinya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis data berupa tuturan anak yang diambil dari video tantrum yang diunggah di akun Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerolehan kalimat anak berkembang seiring usia, dimulai dari kalimat minor berupa tangisan dan gumaman pada usia 1 tahun, menuju kalimat mayor sederhana pada usia 2 tahun, dan kalimat majemuk yang lebih kompleks pada usia 3 tahun. Makna kalimat yang dihasilkan mencakup makna literal, leksikal, dan kontekstual, serta ada perkembangan strategi tuturan yang dimulai dari nonverbal (tangisan) pada usia 1 tahun, menjadi strategi langsung pada usia 2 tahun, dan strategi dengan basa-basi pada usia 3 tahun. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi orang tua dan pendidik dalam memahami perkembangan bahasa anak dan merespons tantrum secara lebih tepat berdasarkan tahap perkembangan bahasa yang dilalui. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami cara anak-anak usia dini mengembangkan bahasa, terutama dalam konteks tantrum, yang dapat memengaruhi cara orang tua dan pendidik merespons dan menyediakan stimulus yang mendukung perkembangan bahasa anak.