Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Storytelling Partisipan Tradisi Lisan “Buka Kampung” untuk Penguatan Literasi dan Identitas Budaya Remaja di Banda Naira Kasmawati Kasmawati; Sarita Adam; Nurullailah Burhima; Faradifa Rusdi; Isti Tehuayo; Lestari Sujan; Melati Waliwulu; Nurhayati Samaun; Abi Dahlan
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.21986

Abstract

Pelatihan storytelling partisipan yang melibatkan masyarakat khususnya remaja dalam cerita tentang Kebudayaan yang ada di Banda Naira. Tradisi lisan Buka Kampung sebagai bukti nyata peninggalan para leluhur sebagai bentuk penghormatan bagi tamu undangan dan selalu berhati-hati terhadap kejadian pada zaman penjajahan. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk terus melestarikan budaya yang ada di Banda Naira khususnya para remaja agar menjaga ketenteraman budaya pada saat perayaan-perayaan, baik perayaan kecil lebih-lebih perayaan besar. Kegiatan pengabdian ini melibatkan para remaja di Banda Naira untuk bercerita tentang asal mula muasal usul muasal dari Buka Kampung dari setiap desa, di antaranya Desa Kampung Baru, Desa Nusantara, Desa Waer, dan Desa Selamon. Melalui pendekatan storytelling yang dilakukan masing-masing remaja sebagai perwakilan maka dapat diketahui cerita rakyat berupa Buka Kampung yang berbeda-beda, namun memiliki persamaan. Hasil pengabdian kepada masyarakat Banda Naira khususnya para remaja menunjukkan adanya makna di setiap cerita rakyat pada saat Buka Kampung. Makna Buka Kampung Desa Kampung Baru mempererat hubungan sosial antarwarga negeri. Makna Buka Kampung Desa Nusantara sebagai ungkapan permohonan keselamatan. Makna Buka Kampung Desa Waer sebagai perjuangan dan untuk menghormati nenek moyang. Makna Buka Kampung Desa Selamon adalah kegigihan masyarakat adat Selamon dalam berkorban melawan penjajahan.
DISCOURSE, IDENTITY, AND RITUAL ROLES: PARTICIPANT DYNAMICS IN THE ANRONG BUNTING KARAENG WEDDING TRADITION OF JENEPONTO Kasmawati Kasmawati; Maknun Tajuddin; Bandung A.B Takko; Hasjim Munira
Jurnal Gramatika Vol 11, No 2 (2025): Autumn Issue (October–March)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2025.v11i2.10288

Abstract

This study investigates the role of participants in the Anrong Bunting Karaeng ritual speechwithin the Jeneponto community’s wedding processions in South Sulawesi, Indonesia. Using an ethnographic approach framed by Duranti’s anthropological linguistics, the research analyzes ritual texts and performances from five ceremonial stages: Akbakra (yellow powder), Appasili (bridal bath), Akkrontigi (girlfriend night), Appantama Baju (wearing the wedding dress), and Appabajikang (uniting). Findings indicate two leading participant roles: internal participants encoded in the ritual texts through pronouns (e.g., proclitics ku- ‘I’, enclitics -na ‘he/she’, -nu ‘you’), and external participants comprising families, relatives, and guests. Beyond the grammatical functions, these pronouns construct social roles, hierarchies, and symbolic authority, with Anrong Bunting Karaeng serving as both animator and mediator between human and spiritual realms. The study highlights that ritual speech encodes power relations and collective identity, positioning participants as actors and carriers of cultural values. However, the analysis remains primarily descriptive; further research should integrate multimodal data (gesture, intonation, performance) and explore generational changes in ritual interpretation. This research contributes to anthropolinguistics by showing how ritual discourse preserves cultural identity while adapting to modernity. It also emphasizes the importance of documenting and analyzing local rituals to sustain intangible cultural heritage in Indonesia and beyond.