Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Modal Sendiri dan Volume Usaha Terhadap Sisa Hasil Usaha Koperasi di Provinsi Pulau Sumatera Periode 2019-2023 Khairani Alawiyah Matondang; Agnes Monica Sianipar; Enjel Widia Sari Gea; Respa Mellia Sirait
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modal sendiri dan volume usaha terhadap Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi pada 10 provinsi di Pulau Sumatera periode 2019–2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif asosiatif dengan orientasi kausalitas, data sekunder panel diperoleh dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah serta Badan Pusat Statistik. Analisis data dilakukan dengan metode regresi data panel menggunakan perangkat lunak EViews 12.0. Pemilihan spesifikasi model dilakukan melalui Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier yang menunjukkan bahwa Common Effect Model (CEM) merupakan model terbaik. Selanjutnya, uji asumsi klasik membuktikan bahwa model bebas dari gejala multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, modal sendiri berpengaruh positif dan signifikan terhadap SHU (t hitung = 2,817 > t tabel = 2,011; p = 0,007 < 0,05). Demikian pula volume usaha juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap SHU (t hitung = 5,743 > t tabel = 2,011; p = 0,000 < 0,05). Secara simultan, kedua variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap SHU (F hitung = 172,95 > F tabel = 3,195; p = 0,000 < 0,05). Nilai Adjusted R² sebesar 0,8753 mengindikasikan bahwa 87,53% variasi Sisa Hasil Usaha dapat dijelaskan oleh modal sendiri dan volume usaha, sedangkan sisanya sebesar 12,47% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan koperasi di wilayah Sumatera melalui penguatan modal internal dan peningkatan volume usaha.
Pengaruh TPAK Perempuan, Human Development Index, Tenaga Kerja Formal terhadap Tingkat Kemiskinan di Indonesia Periode 2010-2025 Agnes Monica Sianipar; Enjel Widia Sari Gea; Respa Mellia Sirait; Bonaraja Purba
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9548

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan, Indeks Pembangunan Manusia, dan proporsi Tenaga Kerja Formal terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia periode 2010–2025. Data time series tahunan diolah menggunakan EViews 12. Prosedur meliputi pemeriksaan stasioneritas, estimasi regresi linear berganda, uji asumsi klasik, serta uji signifikansi parsial dan simultan. Hasil menunjukkan ketiga variabel berpengaruh signifikan secara simultan (F-hitung = 166,1567 > F-tabel 3,490; p = 0,000, p < 0,05) dan bersama-sama menjelaskan 97,65% variasi tingkat kemiskinan (Adjusted R2 = 0,976492). Secara parsial, TPAK perempuan (β = 0,1145) memiliki t-hitung 2,652 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,0019 (< 0,05), sehingga berpengaruh positif signifikan, IPM (β = -0,6244) memiliki t-hitung 17,081 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,000 (< 0,05), sehingga berpengaruh negatif signifikan, Tenaga Kerja Formal (β = -0,1305) memiliki t-hitung 3,960 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,000 (< 0,05), sehingga berpengaruh negatif signifikan. Interpretasi hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena added worker effect menyebabkan peningkatan TPAK Perempuan belum efektif menekan kemiskinan karena mayoritas terserap di sektor informal, sementara IPM terbukti sebagai instrumen terkuat dalam menurunkan kemiskinan secara struktural dan formalisasi tenaga kerja berperan menjaga stabilitas pendapatan rumah tangga. Oleh karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan yang efektif memerlukan kombinasi investasi pada pendidikan dan kesehatan, percepatan formalisasi tenaga kerja, serta pemberdayaan ekonomi perempuan yang menekankan kualitas pekerjaan demi tercapainya target SDGs 2030.