Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan, Indeks Pembangunan Manusia, dan proporsi Tenaga Kerja Formal terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia periode 2010–2025. Data time series tahunan diolah menggunakan EViews 12. Prosedur meliputi pemeriksaan stasioneritas, estimasi regresi linear berganda, uji asumsi klasik, serta uji signifikansi parsial dan simultan. Hasil menunjukkan ketiga variabel berpengaruh signifikan secara simultan (F-hitung = 166,1567 > F-tabel 3,490; p = 0,000, p < 0,05) dan bersama-sama menjelaskan 97,65% variasi tingkat kemiskinan (Adjusted R2 = 0,976492). Secara parsial, TPAK perempuan (β = 0,1145) memiliki t-hitung 2,652 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,0019 (< 0,05), sehingga berpengaruh positif signifikan, IPM (β = -0,6244) memiliki t-hitung 17,081 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,000 (< 0,05), sehingga berpengaruh negatif signifikan, Tenaga Kerja Formal (β = -0,1305) memiliki t-hitung 3,960 > t-tabel 2,17881 dan p = 0,000 (< 0,05), sehingga berpengaruh negatif signifikan. Interpretasi hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena added worker effect menyebabkan peningkatan TPAK Perempuan belum efektif menekan kemiskinan karena mayoritas terserap di sektor informal, sementara IPM terbukti sebagai instrumen terkuat dalam menurunkan kemiskinan secara struktural dan formalisasi tenaga kerja berperan menjaga stabilitas pendapatan rumah tangga. Oleh karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan yang efektif memerlukan kombinasi investasi pada pendidikan dan kesehatan, percepatan formalisasi tenaga kerja, serta pemberdayaan ekonomi perempuan yang menekankan kualitas pekerjaan demi tercapainya target SDGs 2030.