Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dari Attention menuju Action: Peran Influencer Instagram terhadap Generasi Z Muslim pada Produk Glad2Glow Rosdiana Damayanti; Andrian Haro; Adnan Kasofi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9535

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran influencer Instagram terhadap respons konsumen Generasi Z Muslim menggunakan model AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) dengan studi kasus pada akun @glad2glow. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 10 informan wanita Muslim Generasi Z di DKI Jakarta yang merupakan pengikut aktif akun tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer berperan signifikan pada seluruh tahapan AIDA. Pada tahap Attention, konten review dengan product knowledge yang detail dan visual yang menarik mampu menghentikan perhatian audiens. Tahap Interest terbangun melalui kejelasan informasi, format konten yang variatif, dan relevansi personal dengan permasalahan kulit influencer. Desire muncul akibat penggunaan produk secara langsung oleh influencer yang jujur, kredibilitas yang tinggi, serta fenomena FOMO. Pada tahap Action, konten influencer menjadi pendorong utama keputusan pembelian, namun keputusan final turut dipengaruhi faktor harga, kesesuaian kandungan bahan, review pengguna lain, serta bagi sebagian kecil informan,  mempertimbangkan sertifikasi BPOM dan kehalalan. Kesesuaian produk dengan yang dipromosikan mendorong kepuasan dan pembelian ulang. Temuan ini mengonfirmasi bahwa model AIDA masih relevan untuk mengevaluasi pemasaran influencer di media sosial, dengan catatan bahwa transisi dari desire ke action memerlukan pertimbangan rasional tambahan, terutama bagi konsumen Muslim yang memiliki kesadaran kehalalan. Secara praktis, hasil ini merekomendasikan agar brand memperkuat konten informatif, menjaga autentisitas influencer, dan mengomunikasikan aspek kehalalan secara lebih eksplisit untuk meningkatkan konversi.