Studi ini mengkaji konsep penyucian emosi bagi guru berdasarkan pemikiran Imam Al-Ghazali dan relevansinya terhadap pendidikan modern. Keadaan emosional seorang guru sangat memengaruhi lingkungan belajar dan perkembangan peserta didik. Dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) melalui tiga tahapan: muhasabah (refleksi diri), muraqabah (kesadaran diri dalam pengawasan Tuhan), dan mujahadah (disiplin diri). Penelitian ini merupakan riset kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Temuan menunjukkan bahwa penyucian emosi yang berakar pada ajaran tasawuf dapat meningkatkan kecerdasan emosional, menumbuhkan sifat-sifat rabbaniyah seperti hikmah (kebijaksanaan), ‘ilm (ilmu), dan yaqin (keyakinan), serta mendukung stabilitas emosional guru. Penerapan nilai-nilai ini berkontribusi terhadap kesehatan mental guru dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih humanis. Studi ini merekomendasikan integrasi pelatihan spiritual berbasis tasawuf dalam program pengembangan guru guna membentuk pendidik yang seimbang dan cerdas secara emosional