Penelitian ini menganalisis lanskap linguistik di kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), khususnya di area Chinatown Pantjoran. Fokus penelitian meliputi praktik monolingualisme, bilingualisme, dan multilingualisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual. Sebanyak 38 tanda publik dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan kategori bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori bilingual mendominasi dengan persentase 65,79%. Kategori ini diikuti oleh monolingual sebesar 18,42% dan multilingual sebesar 15,79%. Kombinasi bahasa Inggris–Mandarin menjadi pasangan paling dominan, diikuti oleh Indonesia–Mandarin. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi. Bahasa juga berperan sebagai instrumen simbolik dan komodifikasi yang memperkuat identitas etnis, integrasi nasional, dan daya tarik komersial kawasan. Bahasa Mandarin merepresentasikan etnisitas Tionghoa, bahasa Inggris mencerminkan citra global, dan bahasa Indonesia berfungsi sebagai regulatif sekaligus integratif. Dengan demikian, lanskap linguistik di PIK 2 mencerminkan interaksi kompleks antara kepentingan lokal, etnis, nasional, dan global. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian linguistik, khususnya lanskap linguistik di kawasan wisata urban multikultural. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi pengelola kawasan dan pembuat kebijakan dalam menata ruang publik yang sensitif terhadap keberagaman bahasa. Linguistic Landscape in the Urban Tourism District of PIK 2 Chinatown, Tangerang This study analyzes the linguistic landscape in Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), particularly in the Chinatown Pantjoran area. It focuses on the practices of monolingualism, bilingualism, and multilingualism. This research employed a descriptive qualitative approach through field observations and visual documentation. A total of 38 public signs were collected and classified. The findings indicate that bilingual signs dominate at 65.79%, followed by monolingual signs at 18.42% and multilingual signs at 15.79%. The English–Mandarin combination is the most dominant, followed by Indonesian–Mandarin. The results highlight that language functions not only as a communication tool but also as a symbolic and commodified instrument. It reinforces ethnic identity, national integration, and the commercial appeal of the area. Mandarin represents Chinese ethnicity, English reflects global modernity, and Indonesian serves both regulatory and integrative roles. Thus, the linguistic landscape of PIK 2 reflects a complex interaction among local, ethnic, national, and global interests. Theoretically, this study contributes to linguistic landscape studies in multicultural urban tourism areas. Practically, it provides insights for urban planners and policymakers in managing public spaces that consider linguistic diversity.